SNMPTN Lolos Terus Ngerasa Jenius? Sombhong Amat, Kalian Cuma Beruntung – Terminal Mojok

SNMPTN Lolos Terus Ngerasa Jenius? Sombhong Amat, Kalian Cuma Beruntung

Artikel

Aly Reza

Setelah dag dig dug ser menanti, akhirnya Rabu (8/4) lalu persis pukul 13:00 WIB Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) secera resmi mengumumkan nama-nama peserta didik SMA/SMK/sederajat yang berhasil lolos SNMPTN untuk masuk ke perguruan tinggi yang diminati.

Dilansir dari Kumparan, sebanyak 96.496 siswa dinyatakan lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) dari total 489.601 pendaftar di masing-masing universitas. Wah selamat ya, tentunya bangga banget bisa keterima di perguruan tinggi yang diidam-idamkan.

Saya ucapkan congratulation juga khusus buat adik-adik yang bisa tembus Uinversitas Brawijaya. Tahun ini, unversitas negeri di Malang itu tercatat sebagai perguruan tinggi negeri dengan jumlah peminat terbanyak, yakni di angka 30.932 pelamar. Kalian yang dinyatakan lulus masuk UB, kalian keren karena telah bersaing dengan peserta sebombastis tersebut dan membuktikan bahwa kalianlah yang terbaik. Ah ralat, lebih tepatnya terberuntung.

Yap, seluruh siswa yang diterima di perguruan tinggi bergengsi, lebih-lebih di jurusan dengan integritas unggulan saya harapkan tidak langsung mencak-mencak dan mendadak nggak tahu diri. Sebab pada dasarnya nih, mau diakui atau tidak, yang namanya SNMPTN ini nggak ubahnya seperti bertaruh di atas meja judi, di mana keberuntungan menjadi faktor penentu paling dominan.

Dari kasus-kasus yang saya amati, rata-rata (meski nggak seluruhnya) siswa yang mengantongi tiket masuk PTN ternama impian akan beranggapan dirinyalah siswa pilihan dengan kapasitas kecerdasan tak diragukan.

Maka nggak heran kalau ada di antara mereka yang selanjutnya bikin statement macem-macem seputar apa yang telah mereka capai pada detik itu. Semisal, merasa menjadi orang yang paling rajin berdoa, ngerasa jadi orang yang paling tekun belajar, dan pada gilirannya meremehkan siswa-siswa lain yang gagal tembus seleksi seolah mereka nggak serius belajar.

Seperti dalam unggahan salah satu pengguna Twitter @Kucingvictory yang memperlihatkan foto laman web berisi keterangan kalau dia keterima di jurusan teknik elektro. Foto tersebut disertai dengan caption provokatif: “Alhamdulillah lulus, kalian yang nggak lulus snmptn, ngapain aja selama 3 tahun? aduuuuuh.” Twit itu sekarang udah hilang, nggak tahu deh diumpetin atau dihapus.

Baca Juga:  Yakin Sudah Merdeka? Nyinyiran Tetangga dan Kenangan Mantan Saja Masih Sering Menjajah

Per pagi ini unggahan tersebut telah menuai 3.899 komentar yang hampir semuanya bernada kecaman. Salah satu yang menarik adalah respons akun @notnorgaard. Dia adalah satu dari sekian ribu siswa yang ditolak PTN dambaan. Apakah karena dia nggak pernah belajar? Apakah mungkin dia bukan termasuk siswa berprestasi? Ternyata nggak demikian juga parameternya.

Alih-alih fluktuatif (alias naik turun), si pemilik akun mengaku selama tiga tahun di SMA nilainya stabil di angka 89, malah cenderung naik setiap semesternya. Dua sertifikat lomba tingkat provinsi yang masing-masing juara satu juga sudah pernah ditorehkan. Lah terus kok bisa nggak tembus? Karena SNMPTN dari dulu memang nggak pernah jelas indikator penentu kelulusannya kayak apa.

Dan bener kata Cania di atas, pemerintah dari dulu nggak pernah transparan tentang kriteria lolos SNMPTN. Ada desas-desus bahwa diterima/tidaknya peserta seleski ditinjau dari seberapa elit SMA tempat siswa berasal. Ada juga kasak-kusuk yang mengungkap, prestasi kakak kelas yang berada di kampus tertentu akan sangat berpengaruh dalam membuka akses terhadap adik-adiknya.

Sederhananya gini, misal Universitas Anu pada tahun ajaran sebelumnya telah menerima sekian siswa dari SMA Itu. Jika alumni SMA Itu yang sudah menempuh pendidikan lanjutan di Kampus Anu terindikasi sangat potensial, berdaya guna, dan sangat parsitipatif bagi pemajuan akreditas dan popularitas kampus, pada tahun ajaran selanjutnya pihak Kampus Anu akan dengan senang hati membuka diri untuk para alumni dari SMA Itu lagi. Artinya, persentase kelolosan siswa-siswa SMA Itu untuk Kampus Anu lumayah besar.

Baca Juga:  Betapa Berat Hubungan Friendzone ala Budi dan Wati, Terus Ditambah Sistem Zonasi Sisan

Juga sebaliknya, jika ada alumni SMA yang tidak kontributif atau punya track record siswanya udah diterima tapi malah kuliah di kampus lain, SMA itu bisa di-black list di kampus dan selanjutnya, kuota mahasiswa dari SMA tersebut makin kecil.

Kalau gosip ini bener, artinya nggak semua yang lulus SNMPTN adalah anak-anak cerdas cerdik cendekia. Banyak kok yang semasa SMA selalu jadi bintang kelas tapi akhirnya terluntas-lunta pas mau masuk universitas.

Dengan ini saya ingin menyampaikan kepada siapa pun di luar sana, kalau kebetulan kalian lulus SNMPTN, stop berlagak seolah kalian yang terbaik. Kalian hanya sedang beruntung, dan keberuntungan nggak pernah ada sangkut pautnya dengan kecerdesan. Untuk adik-adik yang gagal masuk PTN idaman, usah risau lah, Dik. Kalian bukannya nggak layak, ini gara-gara panitia seleksi dan instansi terkait di belakangnya nggak becus aja bikin regulasi penilaian. Dan percayalah, menolak kalian yang notabene berprestasi adalah kesalahan fatal yang bakal mereka sesali.

Semoga ini juga menjadi catatan buat para guru agar nggak silau dengan hal-hal remeh semacam ini. Sejauh yang pernah saya alami, anak-anak yang lolos PTN elit mendadak menjadi primadona di seisi ruang guru bahkan kantor kepala sekolah. Kelolosan mereka akan dirayakan dengan penuh gairah. Mereka akan dielu-elukan bak pahlawan yang telah membawa nama baik. Selanjutnya, nama-nama mereka akan dicetak di banner berukuran besar dan dipajang di depan gerbang utama. Profil-profil mereka akan ditampilkan di layar-layar video, agar semua orang tahu sekolah mereka adalah salah satu sekolah ternama di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan tes tertulis masuk PTN?

Saya ada pengalaman soal ini. Nggak seperti kebanyakan orang, saya hampir nggak punya persiapan apa pun buat mengikuti tes seleksi. Belajar secara mandiri saja nggak, boro-boro ikut bimbel yang harus menggelontorkan uang. Saya nyaris menyongsong hari yang seolah adalah satu-satunya pintu ke masa depan itu dengan rileks, santai, dan nggak mau ambil pusing. Sebab jika belajar dari kegagalan di SNMPTN sebelumnya, saya sudah menduga sepertinya tes tertulis pun bakal berlaku hal yang serupa. Kata kuncinya tetep satu: keberuntungan.

Baca Juga:  Alasan Mengapa Menjadi Mahasiswa Kupu-Kupu Itu Baik

Benar saja, dari hampir 100 soal yang disodorkan kepada saya, hanya beberapa bidang ilmu pengetahuan saja yang saya kerjakan. Pokoknya yang saya bisa, itu saja. Seingat saya satu-satunya yang saya jawab penuh hanya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Selebihnya nyaris kosong. Apalagi soal hitung-menghitung, satu pun nggak ada yang saya sentuh.

Jika memakai logika orang rasional, dan seandainya memang seleksi ini sangat ketat dalam urusan penjurian, sangat bisa dipastikan kalau saya nggak mungkin lulus masuk kampus negeri. Nilai saya jelas terlalu rendah untuk memenuhi syarat ke jenjang pendidikan lanjutan.

Tapi di luar dugaan, saya lolos. Lain nasibnya dengan beberapa kawan saya yang ternyata harus gugur di medan ini. Padahal kawan-kawan saya ini sudah mengantongi bekal pengetahuan yang cukup matang untuk menuntaskan 100 soal yang disuguhkan. “Ada yang sulit, beberapa thok sih. Selebihnya easy, og,” begitu testimoni dari kawan saya selepas berhasil menuntaskan ujian. Pertanyaannya, bagaimana bisa mereka yang mengaku mampu menuntaskan tes dengan mudah dan bekal cukup bisa nggak keterima? Sementara saya yang kelewat santuy dan bahkan hanya mengerjakan beberapa soal saja bisa melenggang meninggalkan mereka.

Maka jelas sudah kalau memang sistemnya saja yang dari dulu emang nggak beres. Dan satu lagi, hari itu kebetulan saja keberuntungan sedang di pihak yang lolos. Nggak lebih.

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Menyikapi Orang yang Minta Sumbangan tapi Malah Kayak Nodong dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
49


Komentar

Comments are closed.