Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sleman semakin mahal, tetapi narasi kota mahasiswa murah tetap dipelihara

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
15 Juli 2026
A A
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu kalimat yang masih sering saya dengar ketika ada adik kelas atau teman dari luar daerah hendak kuliah di Yogyakarta. “Tenang saja, kuliah di Jogja (khususnya Sleman) itu murah.”

Nah, kalimat itu mungkin benar sepuluh atau lima belas tahun lalu. Masalahnya, banyak orang masih mengucapkannya hari ini, seolah waktu berhenti bergerak. Padahal, siapa pun yang benar-benar tinggal di Sleman tahu kenyataannya berbeda. Sleman memang masih dipenuhi kampus, tetapi pelan-pelan ia berhenti menjadi tempat yang ramah bagi kantong mahasiswa.

ADVERTISEMENT

Cobalah datang ke kawasan sekitar UGM, UNY, UPN Veteran Yogyakarta, UII, atau UIN Sunan Kalijaga. Yang pertama mencolok bukan lagi deretan warung makan murah, melainkan kafe, kos eksklusif, apartemen, hotel, dan bangunan-bangunan baru yang terus tumbuh. Setiap tahun ada gedung baru berdiri, tetapi ekonomi masih di titik yang sama. Kemewahan baru terus muncul, mahasiswa malah makin tenggelam.

Harga kos menjadi contoh paling mudah. Dulu, mencari kos dengan tarif Rp400 ribu hingga Rp600 ribu bukan perkara sulit. Sekarang, angka itu semakin langka di kawasan yang dekat kampus. Yang bermunculan justru kos dengan tarif lebih dari satu juta rupiah per bulan, lengkap dengan embel-embel “eksklusif”, AC, kamar mandi dalam, hingga parkir luas.

Tidak ada yang salah dengan kos mahal. Yang menjadi soal adalah ketika pilihan kos terjangkau semakin sedikit, sementara mahasiswa tidak otomatis datang dari keluarga berada.

Harga makanan di Sleman nyatanya memang mahal

Cerita serupa terjadi pada makanan. Orang masih membanggakan Jogja sebagai kota dengan makan murah. Padahal, menemukan seporsi makan dengan harga belasan ribu rupiah yang porsinya layak kini semakin sulit di sekitar kampus. Belum lagi biaya laundry, parkir, fotokopi, internet, hingga ongkos transportasi yang ikut merangkak naik. Pengeluaran mahasiswa tidak lagi berhenti pada biaya kuliah dan uang kos.

Ironisnya, narasi “Jogja kota mahasiswa murah” tetap dipelihara. Seolah-olah cukup dengan mengulang kalimat itu, kenyataan ikut berubah. Padahal mahasiswa baru biasanya baru sadar setelah sebulan tinggal di Sleman. Mereka datang membawa bayangan hidup hemat, lalu pelan-pelan menyadari bahwa uang bulanan yang dulu terasa cukup kini habis sebelum akhir bulan.

Di titik ini, saya justru ingin bertanya kepada Pemerintah Kabupaten Sleman, apakah benar masih ada keberpihakan kepada mahasiswa sebagai kelompok yang selama puluhan tahun ikut menghidupkan ekonomi daerah ini?

Baca Juga:

Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak

Bahaya yang Saya Lihat di Gamping Sleman: Ketika Anak Muda Pesimis dengan Kondisi Ekonomi dan Lari ke Judol Sebagai Pelampiasan

Sleman menikmati keuntungan besar karena menjadi rumah bagi banyak perguruan tinggi. Mahasiswa menyewa kos, membeli makan, menggunakan transportasi, berbelanja kebutuhan harian, hingga menggerakkan ribuan usaha kecil. Mereka bukan sekadar penumpang. Mereka adalah salah satu roda ekonomi Sleman.

Namun, keberadaan mereka seperti hanya dipandang sebagai pasar. Selama masih ada mahasiswa yang datang setiap tahun, pembangunan terus berjalan tanpa banyak memikirkan dampaknya terhadap biaya hidup. Sawah berubah menjadi perumahan. Lahan kosong berubah menjadi kos premium. Bangunan bertingkat terus bermunculan. Harga tanah melonjak, dan efek dominonya merembet ke mana-mana.

Tidak semua pembangunan itu buruk. Persoalannya adalah arah pembangunan yang lebih sibuk mengejar nilai ekonomi daripada menjaga keterjangkauan hidup. Akibatnya, mahasiswa yang menjadi alasan mengapa Sleman berkembang justru semakin sulit menikmati hasil pembangunan tersebut.

Masih ada yang percaya (?)

Yang lebih mengherankan, masih banyak orang di luar Jogja yang percaya bahwa hidup di Sleman pasti murah. Mereka mungkin pernah tinggal di sini belasan tahun lalu, lalu menjadikan pengalaman itu sebagai patokan untuk kondisi hari ini. Padahal, Sleman yang mereka kenal sudah berubah.

Bullshit kalau masih ada yang bilang semua kebutuhan mahasiswa di Sleman murah. Murah untuk siapa? Untuk orang yang sudah bekerja dengan gaji tetap, mungkin iya. Untuk mahasiswa yang hidup dari kiriman orang tua dengan anggaran terbatas, ceritanya berbeda. Kenaikan seratus atau dua ratus ribu rupiah dalam biaya kos saja bisa berarti harus mengurangi jatah makan, menunda membeli buku, atau mencari pekerjaan sambilan agar tetap bisa bertahan.

Benar, hampir semua daerah mengalami hal serupa. Masalahnya adalah citra yang tertinggal jauh di belakang realitas. Sleman masih dijual dalam imajinasi lama, sementara kehidupan sehari-harinya sudah berubah. Orang datang dengan ekspektasi kota mahasiswa murah, tetapi yang mereka temui adalah biaya hidup yang semakin menyerupai kota besar.

Kalau Pemerintah Kabupaten Sleman benar-benar bangga menyebut daerahnya sebagai pusat pendidikan, kebanggaan itu seharusnya tidak berhenti pada jumlah kampus atau banyaknya mahasiswa baru setiap tahun. Kebanggaan itu harus diwujudkan dalam kebijakan yang membuat mahasiswa tetap mampu hidup dengan layak.

Mengendalikan alih fungsi lahan, menjaga ruang usaha kecil tetap hidup, memperbaiki transportasi publik, hingga memastikan kawasan sekitar kampus tidak sepenuhnya dikuasai bisnis yang menyasar kelas menengah atas adalah beberapa langkah yang lebih bermakna daripada sekadar slogan.

Sebab kota mahasiswa bukan hanya kota yang memiliki kampus. Kota mahasiswa adalah kota yang memungkinkan mahasiswa bertahan hidup tanpa harus terus-menerus cemas menghitung sisa uang di rekeningnya.

Selama itu belum terjadi, rasanya sudah saatnya kita berhenti mengulang kalimat, “Jogja, khususnya Sleman, masih kota mahasiswa yang murah.” Karena kalimat itu bukan lagi kenyataan. Ia tinggal mitos yang terus diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2026 oleh

Tags: biaya hidup di slemanharga kos di slemankampus di sleman jogjakartaSleman
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Kemacetan Jalan Pintas Monjali ke Jalan Palagan Sleman, Bukti Nyata Jogja Salah Urus

Kemacetan Jalan Pintas Monjali ke Jalan Palagan Sleman, Bukti Nyata Jogja Salah Urus

28 Februari 2024
Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang (Foto milik Hammam Izzudin)

Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang karena Fenomena Ndeso Itu Mewah Tidak Bisa Ditiru

26 Januari 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Tinggal di Kos-kosan Adalah Kesempatan Mewah bagi Warga Asli Bantul seperti Saya Mojok.co

Tinggal di Kos-kosan Adalah Kesempatan Mewah bagi Warga Bantul seperti Saya

4 Januari 2025
3 Rekomendasi Wisata di Gamping Sleman yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

3 Rekomendasi Wisata di Gamping Sleman yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

31 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berhentilah Percaya Stigma Buruk Jalur Pantura Subang, Kawasan Ini Bukan Cuma soal Warung Remang-remang

Berhentilah percaya stigma buruk jalur pantura Subang, kawasan ini bukan cuma soal warung remang-remang

13 Juli 2026
Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Potensi Besar, Hasil Dipertanyakan: 3 Alasan Warga Situbondo Wajib Kecewa dengan Daerahnya yang Gitu-gitu Aja

13 Juli 2026
Pelajaran mahal bisnis rumahan di Surabaya biar cepet balik modal (Unsplash)

Pelajaran mahal buat kamu yang ingin buka usaha rumahan berupa warung makan di Surabaya supaya cepat balik modal

13 Juli 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Sleman semakin mahal, tetapi narasi kota mahasiswa murah tetap dipelihara

15 Juli 2026
Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI Mojok.co

Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI 

13 Juli 2026
Ketika arah mata angin jadi masalah buat orang Jogja di Jakarta (Unsplash)

Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja

11 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.