Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
8 April 2026
A A
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalian jangan mengaku orang sabar kalau sehari-hari tidak melewati Jalan Godean, terutama di waktu berangkat dan pulang kerja. Sudah sejak lama jalan ini menguji mental dan kesabaran pengguna jalan yang kebanyakan tinggal di Sleman sisi barat seperti saya. 

Saya tinggal di Gamping. Secara geografis, ini posisi yang unik, cukup dekat ke pusat kota Jogja, tapi terasa jauh karena jalur-jalurnya yang menguji kesabaran. Ya, salah satunya Jalan Godean yang bak neraka versi lokal. Ini bukan hiperbola, ini observasi.

ADVERTISEMENT

Lampu Merah Demak Ijo-Perempatan Pingit butuh kesabaran

Mari kita mulai dari pengalaman perjalanan dari arah barat ke timur paling sederhana, yakni lampu merah Demak Ijo-Perempatan Pingit. Saya pernah iseng menghitung. Jarak dua titik itu sekitar 8-9 kilometer. Secara teori, dengan kecepatan santai 40 km/jam, harusnya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10–15 menit. 

Kenyataannya? Saya butuh hampir 25 menit. Artinya apa? Kecepatan rata-rata saya di situ sekitar 12 km/jam. Itu bukan kecepatan kendaraan bermotor. Itu kecepatan orang jogging santai yang lagi mikir hidupnya mau dibawa ke mana.

Di titik ini, ada dua kemungkinan, entah saya yang terlalu dramatis, atau memang ada yang salah dengan ritme Jalan Godean. Dan, kalau kita jujur, kemungkinan kedua lebih masuk akal.

Jalan Godean itu memang unik. Dia bukan sekadar jalan penghubung dari barat ke pusat kota. Dia seperti magnet raksasa yang menarik semua jenis kendaraan, dari motor matic yang knalpotnya lebih berisik dari isi pikirannya, sampai truk yang seolah sedang membawa beban hidup seluruh warga Sleman Barat. Semua kumpul di situ. Semua punya tujuan. Tapi, semuanya harus rela berjalan pelan-pelan, seperti sedang ikut pawai kesabaran.

Belum lagi faktor ruko. Di sepanjang Jalan Godean, ruko bukan lagi sekadar bangunan komersial, tapi sudah jadi ekosistem. Ada tempat makan, bengkel, laundry, klinik, minimarket, toko bangunan, semuanya ada. Secara ekonomi, ini bagus. Artinya aktivitas hidup. Tapi secara lalu lintas? Ini seperti menaruh magnet tambahan di jalur yang sudah penuh.

Setiap ruko itu menciptakan potensi berhenti mendadak. Orang masuk tanpa sein. Orang keluar tanpa melihat. Parkir di pinggir jalan yang secara teknis “sebentar doang”, tapi secara dampak bisa bikin antrean sepanjang 200 meter. Dan, semua orang di belakangnya cuma bisa bilang dalam hati “Ya sudah, mungkin ini bagian dari ujian hidup saya.”

Baca Juga:

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Sleman semakin mahal, tetapi narasi kota mahasiswa murah tetap dipelihara

Perempatan paling lama se-Jogja

Lalu kita sampai di Perempatan Pingit. Ini titik yang menurut saya punya aura tersendiri. Lampu merahnya lama. Sangat lama. Kadang saya merasa lampu merah di situ punya waktu sendiri yang tidak sinkron dengan waktu manusia biasa. Ketika Anda berhenti di sana, Anda punya cukup waktu untuk mengevaluasi hidup, mengingat kesalahan masa lalu, bahkan mungkin merencanakan masa depan.

Dan, yang menarik, semua orang menerimanya. Tidak ada yang turun dari motor lalu protes ke lampu lalu lintas. Tidak ada yang teriak, “Ini nggak adil!” Semua diam. Semua menunggu. Semua sabar. Di sini saya mulai yakin orang-orang yang lewat Jalan Godean setiap hari itu bukan orang biasa. Mereka adalah praktisi kesabaran tingkat lanjut.

Akan tetapi, mari kita uji sedikit asumsi ini. Apakah mereka benar-benar sabar, atau sebenarnya tidak punya pilihan lain? Karena kalau dipikir-pikir, bisa jadi ini bukan soal karakter, tapi soal keterpaksaan. Jalan Godean adalah salah satu jalur utama. Alternatifnya tidak banyak. Mau muter? Bisa, tapi lebih jauh. Mau berangkat lebih pagi? Bisa, tapi tetap saja ramai. Mau pindah kerja? Nah, ini sudah masuk level keputusan hidup. Jadi mungkin, yang kita lihat sebagai “kesabaran” itu sebenarnya adalah adaptasi. Manusia itu makhluk yang luar biasa dalam menyesuaikan diri. Dikasih kondisi macet setiap hari, lama-lama ya terbiasa. Bukan karena suka, tapi karena tidak ada opsi yang lebih masuk akal.

Tiap hari menghadapi kemacetan 

Di sisi lain, saya juga tidak bisa menolak bahwa ada kualitas mental tertentu yang terbentuk dari rutinitas lewat Jalan Godean. Anda bayangkan, setiap hari menghadapi kemacetan, ketidakpastian, perilaku pengendara lain yang kadang sulit dipahami, tapi tetap berangkat, tetap pulang, tetap menjalani hari. 

Itu semua butuh daya tahan. Dan mungkin, di situlah letak “kesabaran” yang saya maksud. Bukan sabar yang pasif, tapi sabar yang aktif. Sabar yang tetap bergerak, meskipun pelan. Sabar yang tidak meledak, meskipun punya alasan untuk itu.

Saya sendiri kadang gagal di titik ini. Ada momen di mana saya merasa, “Ini kenapa sih semua orang kayak janjian lewat sini?” Rasanya absurd. Seolah-olah seluruh warga Sleman Barat bangun pagi, lalu sepakat tanpa komunikasi “Hari ini kita lewat Jalan Godean, ya.” Tapi, tentu saja itu bukan konspirasi. Itu hanya hasil dari desain kota, distribusi aktivitas, dan pilihan-pilihan individu yang saling bertemu di satu jalur yang sama.

Dan, mungkin, di sinilah kritik kecilnya, kita sering menyalahkan orang “kenapa sih pada lewat sini?” padahal masalahnya lebih struktural. Infrastruktur tidak berkembang secepat kebutuhan. Ruang jalan tidak cukup untuk volume kendaraan. Tata guna lahan mendorong aktivitas menumpuk di satu koridor. Jadi kalau ada yang perlu disalahkan, mungkin bukan orang-orangnya. Tapi sistemnya. 

Salut pada mereka yang sehari-hari lewat Jalan Godean

Meski begitu, saya tetap ingin memberikan kredit pada mereka yang setiap hari melewati Jalan Godean tanpa kehilangan akal sehat. Karena jujur saja, itu pencapaian.

Bayangkan, Anda berangkat kerja, sudah tahu akan macet. Anda pulang kerja, sudah tahu akan macet lagi. Tapi, Anda tetap menjalani hari, bisa ketawa, bisa ngobrol, tetap bisa hidup. Kalau itu bukan bentuk kesabaran, saya tidak tahu lagi apa namanya.

Jalan Godean, dengan segala kekacauannya, secara tidak langsung mengajarkan bahwa hidup memang tidak selalu bisa dipercepat. Kadang kita harus menerima ritme yang lambat, yang tidak kita pilih, tapi harus kita jalani.

Dan, di tengah itu semua, orang-orang tetap bergerak. Pelan, tapi pasti. Jadi, lain kali kalau Anda merasa hidup Anda penuh tekanan, coba sekali-sekali lewat Jalan Godean di jam sibuk. Bukan untuk mencari solusi, tapi untuk mendapatkan perspektif.

Siapa tahu, setelah itu Anda akan sadar ternyata Anda belum se-sabar itu. Dan mungkin, Anda akan mulai menghargai mereka yang setiap hari menjadikan jalan itu sebagai bagian dari hidupnya. Karena di Sleman Barat, ukuran kesabaran bukan lagi seberapa lama Anda bisa menunggu. Tapi, seberapa sering Anda mau tetap lewat Jalan Godean… tanpa kehilangan kewarasan.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh

Tags: jalan godeanjalan godean slemanjalan slemanSleman
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Pertigaan Mbesi Jalan Kaliurang Sleman, Pertigaan Penuh Ancaman (Unsplash)

Pertigaan Jalan Besi Sleman: Salah Satu Pertigaan di Jalan Kaliurang yang Makin Berbahaya bagi Pengendara Motor

10 Januari 2025
Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul Mojok.co

Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul

11 Oktober 2025
PSS Sleman Naik Kasta, Bayaran Terbaik Atas Loyalitas Tanpa Batas: Super League, Kami Datang!

PSS Sleman Naik Kasta, Bayaran Terbaik Atas Loyalitas Tanpa Batas: Super League, Kami Datang!

4 Mei 2026
Sisi Gelap Gamping Sleman yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Gamping Sleman yang Jarang Dibicarakan Orang

14 Mei 2025
Klebengan Sleman Surganya Kos-kosan Mewah dengan Harga Murah Mojok.co

Klebengan Sleman Surganya Kos-kosan Mewah dengan Harga Murah

1 Juli 2024
Lupakan Kaesang Pangarep, Otong Koil Sosok Paling Ideal Memimpin Sleman! (Unsplash)

Lupakan Kaesang Pangarep, Otong Koil Sosok Paling Ideal Memimpin Sleman!

9 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

18 Juli 2026
4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

16 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026
Review Mie Gacoan Bangkalan Madura, Cabang yang Anomali karena Tidak Perlu Antre Mojok.co

Mie Gacoan Bangkalan Madura bisa tutup kalau 3 hal ini tidak diperbaiki

18 Juli 2026
Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.