Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah skripsi dari seorang lulusan kampus saya dulu. Kurang lebih topiknya tentang studi kasus sebuah usaha. Judulnya memang terlihat akademik. Ada “studi kasus”, ada objek usahanya, diksinya juga mengarah pada analisis, dan tentu formatnya selayaknya skripsi, bab satu sampai lima, daftar pustaka, dan lampiran.
Saya kemudian membacanya, melihat isi, dan bagaimana metodenya. Saya kemudian berkesimpulan bahwa yang ini lebih layak disebut laporan usaha, bukan hasil riset. Isinya lebih seperti laporan tentang kelayakan usaha, deskripsi bisnisnya, ada perhitungan sederhana di dalamnya, disisipkan nilai-nilai syariahnya (karena skripsi ini soal nilai syariah dalam usaha), dan diakhiri dengan kesimpulan bahwa usaha ini sesuai syariah dan layak atau tidak.
Sangat miskin analisis yang kritis, sangat miskin referensi dari artikel yang bereputasi. Tidak ada kerangka berpikir yang kokoh. Dan yang paling kentara, tidak jelas posisi penelitian ini terhadap penelitian lain. Jadi kayak laporan usaha, bahkan malah laporan praktikum.
Saya tidak bermaksud merendahkan atau meremehkan mahasiswa yang menyusunnya. Tapi perlu dipahami bahwa inilah yang terjadi ketika skripsi disusun dengan kondisi dan ekosistem kampus yang nggak memadai. Dan ironisnya, banyak kampus tetap memaksakan diri menjadikan skripsi satu-satunya syarat kelulusan meski sadar bahwa ekosistem mereka nggak berbasis pada riset.
Skripsi memang latihan yang ideal, tapi…
Sebagai orang yang saat ini sedang menjalani pendidikan magister, saya sepakat bahwa skripsi menjadi latihan yang ideal. Otak dipaksa berpikir sistematis, menelan banyak literatur, mengolah data, dan membangun sebuah argumen. Dasar dari semua keterampilan itu sangat dibutuhkan oleh orang seperti saya yang sedang menjalani pendidikan magister.
Tapi menempatkan skripsi sebagai satu-satunya syarat lulus tanpa benar-benar mengintrospeksi kapasitas dari tiap kampus dan mahasiswa sama saja kayak ikan yang dengan pedenya memaksa diri untuk terbang. Akhirnya, yang ada skripsi hanya jadi ritual administratif sebelum wisuda. Kemudian jadi tumpukan sampah pemikiran yang benar-benar dibiarkan terbengkalai.
Alasan mengapa saya bisa berargumen seperti ini pertama adalah soal budaya riset di banyak kampus belum mengakar kuat. Akui saja soal itu. Kalau di kelas, mahasiswa memang diberi tugas membuat makalah sejak awal masuk kuliah. Namun, apakah makalah yang mereka susun benar-benar melatih kemampuan menganalisis?
Realitasnya, banyak mahasiswa hanya menyalin dari beberapa sumber, menggabungkannya, lalu dipresentasikan di kelas. Setelah itu selesai, tidak ada praktik untuk mengolah argumen, membandingkan teori atau definisi, dan membuat framework berpikir. Lebih parahnya, sumber yang dipakai untuk menyusun makalah hanya itu-itu saja.
Ekosistem kampus tak siap, kok mahasiswanya diharap lancar ngerjain skripsi
Mereka akhirnya terkungkung pada teori-teori usang yang sering kali udah nggak relevan. Tentu kondisi ini bukan salah mahasiswanya, tapi datang dari kekeliruan metode belajar dan ekosistem kampus yang memang belum siap.
Dosennya hanya duduk, mendengarkan mahasiswanya presentasi, ngasih materi lima menit, terus sudah. Dan ngasih materinya pun satu arah, nggak interaktif jadi rasanya begitu boring. Di kampus saya dulu, masih ada mahasiswa yang bahkan tidak tahu apa itu jurnal ilmiah. Kondisi ini terjadi karena mereka nggak dikenalkan dari awal oleh dosen.
Harusnya setiap kali mata kuliah, ada satu jurnal bereputasi yang dibedah untuk mengetahui bagaimana sebuah penelitian itu bisa disebut kredibel, bereputasi, dan berdampak. Tapi mau bagaimana lagi, akses terhadap jurnal bereputasi di beberapa kampus sangatlah terbatas. Banyak kampus yang hanya membiarkan mahasiswanya kebingungan mencari referensi artikel jurnal yang bagus.
Baru belajar menulis setelah skripsi
Makin parah ketika banyak mahasiswa yang baru benar-benar belajar menulis ketika sudah mulai masuk penyusunan skripsi. Akhirnya, skripsi jadi sarana pertama mereka untuk menulis dan riset, sekaligus yang terakhir. Itu bikin hasil skripsi hanya jadi tumbuhak sampah yang tidak punya dampak apa-apa.
Kembali lagi, kebiasaan ini tumbuh karena budaya, sistem, dan ekosistem menulis dan risetnya tidak dibentuk sejak awal kepada mereka.
Masalah kedua adalah tentang akses dan literasi terhadap sumber referensi ilmiah yang timpang. Yakinlah, mahasiswa S1 di banyak kampus tidak tahu cara mencari artikel ilmiah yang bereputasi. Mereka nggak tahu istilah jurnal, jurnal bereputasi, atau istilah Scopus macam Q1, Q2, DOI, indexing, atau literature review sistematis.
Bahkan, saya jamin, mereka nggak bisa membedakan antara jurnal sinta 1, 2, 3, 4, 5, bahkan 6.
Mengapa saya bisa bilang begini, karena saya dulu merasakan hal itu. Adik saya dan beberapa adik teman saya pun mengalaminya kok. Istilah macam scopus, benar-benar terdengar asing. Atau mungkin mereka pernah dengar, tapi ya nggak tahu itu apa. Seolah-olah itu hanya sesuatu yang relevan dibahas oleh dosen, mahasiswa pascasarjana, atau kampus-kampus top tier.
Memahami sumber ilmiah itu bekal dasar
Padahal, kalau memang skripsi dijadikan syarat utama kelulusan, kemampuan mengetahui, memahami, dan mencari sumber ilmiah dari jurnal itu jadi bekal dasar. Tanpa itu, akhirnya skripsi yang dihasilkan hanya berpatokan pada referensi itu lagi, itu lagi. Kalau kuliahnya ekonomi, referensinya buku Sadono terus. Kayak nggak ada yang lain.
Artikel yang digunakan pun tidak jelas kualitasnya karena hanya modal nyari di Google. Jadi artikel yang dipilih pun dinilai dari mudah ditemukan, bukan dari relevansi dan kualitasnya. Akhirnya mereka jadi nggak terbiasa membaca artikel berbahasa inggris, memahami abstrak dan metodologi, kemudian memahami bagaimana cara memposisikan sebuah isu dalam skripsinya.
Kampus yang ekosistem risetnya jelek akan kelihatan dari mahasiswanya. Contoh paling mudah, ketika bikin skripsi, yang dicari judul dulu, bukan masalah dulu. Padahal, skripsi itu soal ngomongin soal masalah, bukan soal mencari judul. Nah kayak gini sering ditemukan.
Terpaku pada alat, bukan penalaran
Masalah ketiga adalah metode pengajaran yang terpaku pada alat, bukan pada penalaran. Di banyak kampus, contohnya kampus S1 saya dulu, mahasiswa lebih sering diajari cara menggunakan alat olah data seperti SPSS dan EViews, tapi tidak cukup diajari soal logika di balik tiap metode yang dipakai. Jadi mereka nggak bisa bedain tuh, alat analisis dengan metode analisis.
Mereka hanya tahu tombol-tombol yang ditekan, tapi nggak paham maksud dari angka-angka yang muncul secara komprehensif. Tahunya cuma signifikan atau tidak. Selebihnya, seperti soal mengapa metode regresi yang digunakan, apa arti dari nilai koefisiennya, apa beda kausalitas dan korelasi, benar-benar tidak dipahami.
Akhirnya, metode penelitiannya berubah jadi hal yang teknis. Kalau datanya begini, maka tekan yang ini. Kalau hasilnya tidak signifikan, bingung harus bagaimana. Dan risetnya pun hanya berkutat pada software aplikasinya, alih-alih soal bagaimana angka itu dibaca, dipahami, ditafsirkan, dan disampaikan dengan logis.
Tidak layak dijadikan satu-satunya syarat
Berangkat dari tiga alasan di atas, saya berpendapat bahwa skripsi tidak layak dijadikan satu-satunya syarat kelulusan. Yang perlu diperhatikan adalah soal kompetensinya. Mahasiswa harus bisa membuktikan diri sebagai individu yang kritis, argumentative, dan problem solving didasarkan pada ekosistem tempat dia berkuliah.
Opsi lainnya, mahasiswa bisa diarahkan untuk memenuhi tugas akhir sebagai syarat lulus melalui proyek yang dikerjakannya, portofolio, karya ilmiah, rancangan bisnis, karya terapan, policy brief, atau hal lain yang bisa diuji secara serius dan ilmiah.
Intinya, skripsi tidak perlu dipaksakan jadi satu-satunya jembatan untuk kelulusan. Sebab penilaian paling adil dan layak untuk kelulusan adalah tentang berpikir kritis, jernih, analitis, sistematis, dan bertanggung jawab. Jangan sampai, lulusan S1 negara ini hanya paham menyusun sampai bab 5, tapi tidak tahu isi dan masalah dari apa yang dia susun.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













