Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sisipan Iklan di Sinetron Indonesia Bikin Alur Cerita Jadi Nggak Nyambung

Siti Halwah oleh Siti Halwah
22 September 2020
A A
Menerka Alasan Alur Cerita Sinetron di Indonesia Banyak yang Absurd terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Dulu, tiap kali nonton sinetron Indonesia, saya paling malas ketika sampai di bagian iklan. Biasanya bakalan lama banget. Tayangan sinetronnya hanya main lima sampai sepuluh menit, iklannya bisa sepuluh sampai lima belas menit. Makanya, tiap iklan saya lebih milih ganti stasiun TV, meskipun ujung-ujungnya malah kelupaan sama sinetron sebelumnya.

Baru-baru ini, tayangan iklan di sinetron Indonesia makin variatif, meskipun tetap sama menyebalkannya sih. Iklannya nggak lagi disiarkan bergantian saat jeda tayangan, melainkan disisipkan ke adegan.

Dari situlah masalah ini dimulai.

Iklan-iklan ini biasanya muncul di saat yang nggak tepat dan sering mengacaukan jalan cerita yang sedang berlangsung. Pokoknya, ganggu banget dan bikin illfeel. Bayangkan, saya pernah melihat tayangan sinetron yang tokoh suaminya baru saja ketahuan selingkuh lalu bertengkar hebat dengan istrinya. Ujug-ujug mereka duduk berdua di meja makan. Si istri dengan mesranya menawarkan sang suami minum teh bersama (yang berasal dari sponsor). Apa nggak aneh tuh?

Setelahnya, alur cerita kembali lagi pada konflik awal saat mereka bertengkar dan saling teriak. Seolah-olah adegan minum teh dari sponsor tadi nggak pernah ada. Ya ampun, saya yang menonton tayangan tersebut seketika bingung. Maksudnya gimana, ya?

Kali lain, saya menemukan pengalaman yang lebih tragis. Salah seorang tokoh dalam sinetron Indonesia yang saya tonton baru saja mengalami kejadian traumatis. Saking tertekannya, ia memilih mengurung diri di kamar dan menolak berbicara dengan kakaknya. Dalam tayangan tersebut, disorot muka sang tokoh yang sedang menangis dan depresi. Pokoknya, adegannya amatlah tegang dan mengaduk perasaan. Penonton melankolis macam saya ini udah mau menangis rasanya.

Saat hanpir ngelap ingus, tiba-tiba adegan lain muncul. Tokoh kakak dan adiknya (iya, adiknya yang tadi depresi dan nangis-nangis itu) sudah duduk di meja makan. Sang kakak mengeluh capek dan lapar. Lalu, si adik menawarkan si kakak untuk makan mi buatannya yang merupakan salah satu merek sponsor di sinetron tersebut.

Cerita makin absurd ketika mereka berdua lalu makan bersama sambil tertawa-tawa setelah sebelumnya si adik dengan sangat fasih menjelaskan manfaat dan kandungan mi itu. Lah, bukannya tadi adegannya emosional? Kok tiba-tiba ngelawak?

Baca Juga:

Iklan Universitas Terbuka (UT) Tayang di Bioskop: Keren, tapi Ironis. Sebelum Tampil di Layar Besar, Perbaiki Dulu Layar Kecil Mahasiswa biar Nggak Nge-lag!

Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi 

Saya nggak tahu, dari mana para sutradara dan produser dapat ilham menyisipkan iklan ke adegan sinetron. Mungkinkah terinspirasi film luar negeri? Dari drama-drama Korea? Sebagai ide cari cuan, strategi ini memang jos. Mau nggak mau, suka nggak suka, penonton bakalan melihat iklan tersebut.

Yang menyebalkan adalah eksekusinya. Seakan nggak bisa lebih kreatif, iklan-iklan tersebut muncul di tengah konflik hingga menjelang klimaks. Hasilnya: cerita yang lagi ditonton jadi nggak nyambung. Terkadang, malah muncul tokoh-tokoh figuran—yang sebelumnya sama sekali nggak ada di sinetron tersebut—hanya demi menjelaskan produk sponsornya. Pffft.

Kalau mau meniru drakor mah harusnya adegan yang disisipi iklan tersebut harus bisa lebih realistis. Kemunculan si iklan juga mesti di saat yang tepat, nggak memotong adegan penting atau konflik yang sedang berlangsung. Saya ingat pernah menonton drama Korea The Doctors yang diperankan oleh Park Shin-hye. Dalam satu episode, Shin- hye merasa kelelahan sehabis bertugas di rumah sakit. Ia lalu memutuskan keramas. Nah, di sinilah produk-produk sponsor muncul. Halus, pas.

Yang juga perlu dicatat, Shin-hye memakai sampo yang produknya hanya disorot sekilas. Iya, cuma sekilas dan nggak semena-mena merampok atensi saya sebagai penonton. Kemudian, secara implisit dirinya berbincang-bincang dengan seorang teman tentang rambutnya yang berubah jadi wangi, lembut, dan blablabla. Setelah itu percakapan dilanjutkan dengan permasalahan yang dihadapi Shin-hye. Kerasa kan gimana sisipan promosi bisa terjadi secara natural tanpa merusak alur.

Contoh lain. Di drakor Descendants of the Sun, saya menemukan produk sponsor yang muncul di saat konflik sedang berlangsung. Tapi, hebatnya, sisipan ini sama sekali nggak mengganggu alur cerita yang sedang terjadi. Habis, produk tersebut emang diperlukan dalam adegan itu. Pokoknya keren banget. Nggak ada kesan hard sell sama sekali.

Ke depannya, saya pikir sisipan produk-produk sponsor di sinetron Indonesia kudu lah dibikin lebih halus. Nggak perlu lagi merusak alur cerita. Udah cukup sinetron-sinetron selama ini bikin penonton macam saya berubah mood. Yang tadinya udah mau nangis jadi ngakak sendiri.

BACA JUGA 8 Hal yang Biasanya Sering Kena Razia di Sekolah dan tulisan Siti Halwah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2020 oleh

Tags: IklanSinetron
Siti Halwah

Siti Halwah

menulis untuk eksis

ArtikelTerkait

5 Alasan Penonton Sinetron Adalah Kelompok Marjinal yang Perlu Dibantu terminal mojok.co

Penonton Sinetron, Sebenar-benarnya Kelompok Marjinal

30 November 2020
Iklan Khong Guan ala Anime Jepang Bukti Semua Akan Wibu pada Waktunya

Iklan Khong Guan ala Anime Jepang Bukti Semua Akan Wibu pada Waktunya

23 Mei 2020
Iklan di Spotify Adalah Iklan Terbaik yang Pernah Saya Dengar terminal mojok.co

Iklan di Spotify Adalah Iklan Terbaik yang Pernah Saya Dengar

30 Desember 2020
Badai Kritik karena Iklan yang Bikin Cringe di Drama The King: Eternal Monarch lee min ho

Badai Kritik karena Iklan yang Bikin Cringe di Drama The King: Eternal Monarch

21 Mei 2020
Perjalanan Mencari Sosok Mas Aldebaran di Dunia Nyata terminal mojok.co

Perjalanan Mencari Sosok Mas Aldebaran di Dunia Nyata

23 Januari 2021
shopee iklan tokopedia milo topicana slim mojok

Iklan Shopee Adalah Iklan Paling Menyebalkan

11 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.