#2 Mahasiswa membludak, tapi kursi kantin UNS cuma sedikit
Kuliah di kampus negeri ternama memang bikin bangga. Tapi bangga itu cepat pudar ketika jam istirahat tiba dan kita harus berburu tempat duduk di kantin. Mahasiswa UNS jumlahnya ribuan, tapi kursi kantinnya? Jangan ditanya.
Memang sih setiap fakultas punya kantin sendiri. Tapi tetap saja, jumlah tempat duduknya nggak sebanding dengan mahasiswa yang makan di sana. Apalagi kalau jam makan siang, kantin langsung penuh sesak. Kami harus rebutan kursi seperti di pasar tradisional saat jelang Lebaran.
Akhirnya, banyak mahasiswa yang memilih duduk di tangga atau bahkan di emperan gedung. Ada juga yang menyerah dan memilih beli makanan buat dibawa ke kelas. Padahal rasanya pengin juga ngobrol santai sambil makan di kantin seperti di film-film. Tapi ya sudahlah, namanya juga mahasiswa, harus tetap kreatif mencari solusi.
#3 Penerangan malam minim, apalagi di sekitar Fakultas Hukum dan Kedokteran UNS
Kalau bicara soal keamanan kampus, salah satu yang paling penting adalah penerangan. Sayangnya, UNS sepertinya lupa akan hal itu, terutama di area fakultas tertentu. Mahasiswa yang kuliah malam atau pulang telat jadi waswas karena jalanan kampus gelap gulita.
Area sekitar Fakultas Hukum dan Kedokteran terkenal sebagai zona paling gelap. Lampu jalan yang menyala cuma seuprit, jarak antartiang lampu pun berjauhan. Apalagi kalau lampu rusak dan belum diperbaiki, suasananya jadi kayak jalan di kampung hantu.
Mahasiswa perempuan seperti saya yang pulang malam jadi khawatir. Kami terpaksa jalan bareng teman atau mengandalkan penerangan dari HP. Padahal seharusnya kampus sebesar UNS bisa menyediakan penerangan yang memadai untuk menjaga keamanan mahasiswa. Tapi ya begitulah, kami cuma bisa berharap semoga kampus segera berbenah.
#4 Kampus cabang anak tiri, fasilitas dan informasi selalu telat
UNS punya banyak kampus cabang yang tersebar di berbagai lokasi, seperti di Manahan, Jebres, Kleco, Pabelan, bahkan sampai Madiun dan Kebumen. Mahasiswa yang kuliah di kampus cabang sering merasa seperti anak tiri yang dilupakan.
Informasi dari kampus pusat di Kentingan sering telat sampai ke kampus cabang. Contohnya, pengumuman tentang keringanan UKT yang baru sampai sehari sebelum deadline. Alhasil, mahasiswa jadi kewalahan mengurus berkas dalam waktu singkat. Banyak yang akhirnya mengurungkan niat karena waktunya terlalu mepet.
Belum lagi soal fasilitas. Kampus pusat punya gedung megah, ruang kelas nyaman, dan laboratorium lengkap. Sementara kampus cabang? Seadanya. Perpustakaan kecil, laboratorium terbatas, dan kantin yang bahkan lebih sempit dari yang di kampus pusat. Mahasiswa kampus cabang cuma bisa gigit jari sambil berharap suatu hari diperlakukan setara dengan mahasiswa kampus utama.
#5 Kebijakan yang bikin mahasiswa bingung: pindah faskes ke klinik kampus
Awal tahun 2025, UNS membuat kebijakan baru yang cukup kontroversial. Semua mahasiswa diwajibkan memindahkan fasilitas kesehatan BPJS mereka ke Klinik Pratama UNS Medical Center. Kalau nggak pindah, mahasiswa nggak bisa mengisi KRS. Kebijakan ini langsung menuai protes di media sosial.
Masalahnya, klinik kampus ini nggak buka 24 jam dan tutup di akhir pekan. Terus kalau mahasiswa sakit malam-malam atau di hari libur, gimana dong? Gerbang kampus juga nggak buka 24 jam. Jadi mahasiswa yang sakit mendadak di luar jam operasional klinik jadi bingung harus ke mana.
Kampus bilang ini demi kemudahan akses layanan kesehatan mahasiswa. Tapi kenyataannya, kebijakan ini justru bikin mahasiswa repot. Apalagi bagi yang sudah punya faskes langganan dekat kos atau rumah. Mereka jadi terpaksa pindah faskes meskipun nggak nyaman. Mahasiswa cuma bisa pasrah dan berharap kebijakan ini segera dievaluasi ulang.
Itulah sisi gelap kuliah di UNS yang jarang terekspos. Meski punya gedung megah dan nama besar, ternyata kampus ini masih punya banyak PR dalam urusan fasilitas dan pelayanan mahasiswa. Tapi meski begitu, saya tetap berusaha bersabar dan bersyukur. Saya tetap percaya, UNS bisa berbenah dan menjadi kampus yang lebih baik lagi di masa depan.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















