Jalan pantura Situbondo merupakan satu-satunya jalan yang menghubungkan antara dua kabupaten di ujung timur pulau Jawa, Situbondo dan Banyuwangi. Selayaknya jalan pantura, jalur ini sering sekali dilewati pengendara dengan tujuan yang berbeda-beda. Pada biasanya rute utama ini sangat ramai dilewati jika hari-hari besar mulai tiba, seperti menjelang hari raya, tahun baru dan lain-lain.
Sebagai rute utama, seharusnya jalan pantura Situbondo menjadi perhatian besar Pemkab Situbondo dengan menciptakan jalan yang aman dan nyaman bagi pengendara dari berbagai daerah. Namun sampai saat ini, kondisi jalan pantura Situbondo masih perlu diwaspadai dan harus ekstra berhati-hati jika kalian ingin melintasinya.
Pencahayaan jalan pantura Situbondo yang sangat minim
Saya awalnya bahagia saat mendengar ada program pemasangan dan perbaikan lampu pada beberapa titik di jalan pantura Situbondo. Program ini terbukti dan direalisasikan secara riil pada tahun 2024. Dan itu dirasakan oleh pengendara.
Tapi, entah mengapa pada 2025-2026 lampu yang awalnya menerangi jalan, sudah tidak layak dan rusak. Sehingga pada malam hari membuat pengendara merasa kesulitan. Tak ayal, akibat kekurangan penerangan ini banyak terjadi laka lantas yang menelan banyak korban.
Saya tetap berharap program perbaikan dan pemasangan lampu di jalur pantura ini dijalankan kembali. Tentu dengan aksi nyata pastinya. Yang juga menjadi catatan adalah, pemerintah juga harus selalu memantau lampu-lampu yang terpasang itu. Karena saya juga merasa khawatir ada penduduk yang memang secara sengaja merusak atau mencuri lampu penerangan.
Kami selaku masyarakat yang melewati jalur tersebut sangat berterima kasih jika Pemkab terus memantau perkembangan penerangan yang ada di jalan pantura Situbondo.
Pengendara ugal-ugalan
Sisi gelap jalur pantura Situbondo selanjutnya adalah banyaknya pengendara yang ugal-ugalan. Fenomena ini bukan hanya tertuju kepada pengendara motor, truk dan bus juga terlibat. Saya meyakini fenomena tersebut dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, kurangnya pengawasan oleh pihak terkait. Kedua, kurangnya edukasi masyarakat tentang etika berkendara.
Belum lagi aksi balap liar gerombolan pemuda yang sampai saat ini menjadi perbincangan di tengah masyarakat juga menambah pekerjaan rumah yang harus segera diatasi. Padahal kalau mau dipikir-pikir, aktivitas demikian jelas-jelas melanggar hukum sekaligus membahayakan pengendara lain. Akibatnya tidak main-main, banyak kecelakaan berat terjadi.
Ya, saya hanya bisa berharap ke depannya tidak ada aktivitas ugal-ugalan maupun balap liar di jalan pantura Situbondo ini.
Banjir, persoalan tahunan yang sudah menjadi tradisi
Banjir di jalan pantura Situbondo telah menjadi persoalan tahunan yang sampai saat ini masih belum bisa ditangani. Apalagi jika intensitas hujan sangat tinggi yang memicu luapan air dari kawasan hulu. Banjir ini memicu kemacetan yang bikin perjalanan terganggu.
Saya sendiri pernah melihat pengendara motor terseret air karena nekat menerobos genangan air hujan. Ya, hujannya memang separah itu.
Penyelesaiannya sebenarnya klise: perbaiki drainase, bersihkan sampah, dan sejenisnya, dan sejenisnya. Tapi tentu saja kita nggak perlu bilang. Pemda sudah tahu, yang penting tuh satu: aksi.
Jalan Pantura Situbondo penuh lubang
Pada dasarnya jalan pantura Situbondo memiliki daya pikat tersendiri dengan hamparan hutan yang sangat indah. Tak jarang, banyak wisatawan yang menjulukinya sebagai Africa van Java. Tapi bagi saya, julukan hanya nyaman didengar, tidak dirasakan. Ketika saya melewati jalan pantura Situbondo, masih banyak jalan-jalan berlubang yang membuat kami sebagai pengendara harus ekstra berhati-hati.
Saya cukup mengapresiasi kepada Pemkab yang sudah berusaha untuk memperbaiki jalan berlubang di berbagai titik. Tetapi itu masih sebagian kecil saja. Yang saya rasakan masih banyak jalan berlubang maut yang berpotensi menyebabkan kecelakaan bagi pengendara.
Itulah beberapa sisi gelap yang ada di jalan pantura Situbondo yang barang kali harus diperhatikan. Ke depannya sih, gangguan-gangguan ini sebaiknya diatasi. Ini jalur vital lho, masak perhatiannya nggak total sih?
Penulis: Muhammad Aldi Listayono
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












