SimpleMan Cinematic Universe

Mengapa karya SimpleMan layak? Setidaknya ada beberapa pola yang penulis temukan di cerita-cerita SimpleMan yang merupakan kekhasan tersendiri.

Artikel

Avatar

Genre film horor sudah menjadi bagian dari dongeng masyarakat modern. Dahulu kala, cerita seputar mahluk gaib—digunakan sebagai penjelas terhadap fenomena-fenomena alam yang tak dapat dimengerti dan dikendalikan manusia.

Kini, film horor tetap menemukan tempatnya di era globalisasi. Film horor dengan segala irasionalitasnya, menjadi eskapisme dari mereka yang jenuh pada anasir-anasir negatif yang ditawarkan oleh modernitas.

Sejarah mencatat, masa keemasan film horor dan perfilman Indonesia pada umumnya, dimulai dengan film Beranak dalam Kubur. Diikuti film-film horror berikutnya yang banyak mengambil materi cerita dari folklore, terutama Jawa, dengan ikonografi hantu yang lokalitasnya sangat khas. Lahirlah karakter-karakter hantu seperti Sundel Bolong, Kuntilanak, Tuyul, Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, dan yang agak lebih modern yaitu Si Manis Jembatan Ancol. Kesuksesan film Beranak dalam Kubur membawa, Suzanna, pemeran hantu dalam film itu menjadi ratu horor Indonesia.

Memasuki akhir abad ke 20, film horor Indonesia mulai meredup. Namun, kebangkitan film horor di Indonesia dimulai kembali ketika Jose Purnomo dan Rizal Mantovani merilis film Jelangkung (2001) dan Dimas Djayadiningrat merilis Tusuk Jelangkung. Kemudian, belum lama. Joko Anwar merilis remake dari film ‘Pengabdi Setan’ yang cukup digemari publik.

Namun jujur, Pengabdi Setan, karena kelemahan dalam pembangunan labirin cerita dan kronologis yang tumpang tindah belum pantas disebut sebagai “mahakarya” (masterpiece) ataupun “breakthrough” dalam industri film horor tanah air. Film ini ‘hanya’ berhasil bergerak sedikit lebih jauh dari film horor-seksual besutan KK Dheraj seperti Pocong Mandi Goyang Pinggul, Rintihan Kuntilanak Perawan dan Hantu Binal Jembatan Semanggi.

Nah, saat ini warganet di Jagat Mayantara tengah dibuat tercekam oleh sebuah cerita horor berjudul KKN di Desa Penari yang konon katanya benar-benar terjadi pada medio 2009 di Banyuwangi, Jawa Timur. Kisah tersebut awalnya viral di media sosial Twitter.

Mengisahkan tentang praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang berakhir tragis, krn dua dari enam orang anggotanya, terpaksa menjadi tumbal akibat orkestrasi maut yang dirancang oleh Siluman Ular Hijau, bernama Badarawuhi.

Pembaca mampu terpikat oleh cerita ini bukan hanya karena penulis yang memakai nama samaran ‘SimpleMan’ mengklaim kisah ini nyata, namun juga karena menyuguhkan kombinasi yang apik antara kengerian lokasi yang terisolir, kemunculan pelbagai varian mahluk halus, polemik renjana birahi kawula muda dan kerumitan konspirasi yang diciptakan tokoh antagonis supranatural.

Oleh karenanya, tak hanya cerita tersebut mampu menjadi magnet yang menarik atensi publik, tak sedikit warganet yang menghendaki agar kisah itu diangkat ke layar lebar oleh para sineas, menjadi sebuah film. KKN di Desa Penari, dianggap mampu mennginisasi terbitnya fajar baru kebangkitan film horor Indonesia.

Penulis setuju sekali dengan pendapat demikian. Tak hanya itu, penulis rasa kita memang butuh versi kearifan lokal dari Conjuring Cinematic Universe. Para penikmat film horror pasti sudah hafal dengan film-film di jagat sinema tersebut, seperti : Conjuring Trilogy, Annabelle Trilogy, dan the Nun.

Di sini penulis tak hanya berpendapat bahwa KKN di Desa Penari dapat membuka cakrawala dari Horror Cinematic Universe rasa lokal. Namun hendaknya karya-karya SimpleMan yang lain juga penulis rasa cukup berpotensi untuk menyedot penonton di bioskop, apabila di eksekusi oleh para sineas yang terampil. Kita sebut saja jagat sinema ini sebagai SimpleMan Cinematic Universe.

Baca Juga:  Hantu Ulek-Ulek: Hantu Paling Hits Sekawasan Industri

Mengapa karya SimpleMan layak? Setidaknya ada beberapa pola yang penulis temukan di cerita-cerita SimpleMan yang merupakan kekhasan tersendiri. Pertama, sering adanya karakter yang ahli merancang konspirasi. Kedua, sering adanya plot twist yang sukar ditebak. Ketiga, adanya beragam mahluk gaib di satu lokasi yang kerap berebut teritori.

Adapun karya-karya SimpleMan, selain KKN di Desa Penari yang penulis rasa cukup potensial sebagai film, antara lain:

1. Para Penghuni Pabrik Gula

Mengisahkan masa kecil SimpleMan sebagai anak badung yang gemar mencuri buah di sekitar areal pabrik gula di desa tempat ia tinggal. Ternyata, pabrik gula ini merupakan Kerajaan Lelembut yang dihuni oleh Naga, Kuntilanak Bule, Nenek Berkaki Kuda, Pasukan Pocong, Gerandong,dll. Penulis rasa, para sineas bisa menambahkan membagi cerita ini menjadi sebuah trilogi, dengan menambahkan beberapa unsur cerita tambahan sebagai bumbu penyedap.

2. Sewu Dino (1000 Hari)

Mengisahkan tentang seorang pembantu bernama Sri yang terjebak dalam adu santet antara Keluarga Atmojo dan Keluarga Kuncoro. Awalnya Keluarga Kuncoro membangkang pada keluarga Atmojo, lalu keluarga Atmojo balas menyantet Keluarga Kuncoro. Kemudian Keluarga Kuncoro berniat menghabisi seluruh Keluarga Atmojo. Lucunya, dukun santet yang terlibat dalam perseteruan ini adalah satu orang, jadi ia mendapat untung dari kedua pihak. Latar rumah tua di hutan terpencil dan karakter putri keluarga Atmojo yang kerasukan roh jahat sehingga sanggup mengigit daun telinga manusia hingga putus. Itu sudah cukup seram.

3. Rumah Rombe

Penulis rasa, kisah ini bisa menjadi Amityville Horror versi Indonesia. Ceritanya, Rumah di depan rumahnya SimpleMan itu angker. Selama ribuan purnama, tanah itu dihuni oleh Kuntilanak Merah. Akhirnya ada wanita bernama Mbah Putri tinggal disini, Mbah Putri tak bisa punya anak karena dia ada banyak pasukan Jin. Akhirnya dia dapat Pusaka Bertuah yang bikin dia makin terhormat.

Mbak Kunti pun ngalah sambil bersungut-sungut, tinggal di pohon jambu. Lama Kemudian, Rumah itu dihuni oleh orang Dayak bernama Bu Rombe dan anaknya Rachel. Bu Rombe ini, walau Dayak tapi Iman kristennya kuat, dia percaya sekali pada Kuasa Tuhan. Dia, sudah diganggu Pasukan Jin dan Kuntilanak merah, tapi tetep kalem. Udah diminta sama Dukun supaya dibantu, tapi dia tetap bersikukuh pada Iman Kristennya. Eh, dia kena Santet. Mati lah dia. Terus Jin Santetnya nyamar jadi dia dan mengklaim kamar miliknya

Sesudah Bu Rombe, rumah ini dihuni sama Pria Cina Katolik namanya Pak Albert, istrinya yg bernama tante Eli, terus ada anak sulung yg bernama Stefanus, dan anak bungsu agak keterbelakangan mental bernama Eeng. Nah Pak Albert ini sadar sama eksistensi mahluk jejadian dan dia tetap tenang. Tapi istrinya diganggu terus, sampai minggat. Usut punya usut ternyata Pak Albert mengincar pusakanya Mbah Putri dengan syarat menumbalkan anak bungsunya. AKhirnya berhasil, Eeng wafat dan gentayangan disitu sedangkan Pak Albert sukses dapat Pusaka.

Baca Juga:  Membandingkan Burger King dan McDonald's Tidaklah Sulit: Jelas Lebih Enak Burger King, Lah!

4. Pesan dari Mereka

Kisah tentang anak kecil yang iseng menabur perasan jeruk nipis diatas darah korban kecelakaan. Ia kemudian diteror oleh Kuntilanak Sulastri. Agar bisa laku di pasaran, cerita ini perlu dimodifikasi dan dibuat berakhir tragis.

5. Mbarep Tunggal

Menceritakan masa kecil SimpleMan sebagai anak Indigo ‘terpilih’ yang dikelilingi oleh pelbagai mahluk halus. Cerita ini berpeluang mengangkat budaya asli Jawa Timur, tempat asal SimpleMan sembari mengejutkan penonton dengan kemunculan mahluk-mahluk gaib.

6. Tiang Kembar (Dia bukan nenekku)

Bisa dibilang ‘Exorcist’ versi Indonesia. Tentang Nenek yang kesurupan Kuntilanak setengah kerbau. Cerita yang mengandung pesan moral tentang pengorbanan, kasih sayang, nilai kekeluargaan dan juga peringatan agar tidak serakah.

7. Ekspedisi Malam Jumat Kliwon

Serombongan pecinta alam yang naik gunung di malam jumat Kliwon lalu bertemu pelbagai mahluk halus. Cerita ini bisa potensial, jika ceritanya dimodifikasi dan efek visualnya dibuat seperti The Forest, yang mengisahkan tentang Hutan Aokigahara. Tentu, perlu ada yang meninggal di film ini, jika tidak, tidak seru.

 

Selain 6 kisah diatas, ada pula beberapa cerita yang ditulis SimpleMan yang sebaiknya tak diangkat sebagai film di Bioskop, karena potensinya teralu kecil

1. Desa Gondo Mayit

Cerita tentang dua pemuda yang nyasar di gunung lalu buah zakarnya membengkak karena disentil dedemit. Mereka juga tersesat ke desa milik pawang pocong, dikejar legiun pocong, lalu mereka juga diikuti Kuntilanak yang tak melakukan hal penting. Jujur, teralu membosankan.

2. Sang Abdi (Sesajen)

Tak banyak mahluk halus yang berperan disini. Cuma mengisahkan pesugihan yang dilakukan keluarga kaya. Okelah, kalau hanya sebagai sinetron.

3. Nyawa yang Tergadaikan

Intinya, kisah Azab Pelaku Pesugihan Kambing Baphomet. Yah, mirip seperti sinetron Azab, Hidayah, Rahasia Ilahi. Tinggal ditambahkan saja jasadnya masuk gilingan semen dan makamnya ditimpa Asteroid.

4. Serba-serbi Horor di Pabrik

Curhatan SimpleMan yang diteror oleh arwah teman kerjanya yang gosong dan juga dikejutkan oleh kuntilanak ngesot. Terlalu singkat, tak mengandung pesan penting, dan terlalu sederhana

5. Pocong Mbok Sum

Cerita SimpleMan yang bertemu hantu pocong tukang pecel bernama Mbok Sum. Sebenarnya tak ada bedanya dengan Pocong Mumun yang sudah lebih dulu terkenal itu.

 

Akan tetapi, semua ini hanya penilaian penulis semata yang sifatnya subjektif. Apakah kisah-kisah tersebut benar-benar layak untuk diangkat sebagai film atau tidak, penulis kembalikan kepada para sineas. (*)

BACA JUGA Panduan Mengikuti Festival Midsommar: Spoiler Alert! atau tulisan Hanafi Wibowo lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
2.655 kali dilihat

16

Komentar

Comments are closed.