Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Sensus Ekonomi 2026 Cuma Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap “Intel Pajak” oleh Warga

Duwi Anggraini oleh Duwi Anggraini
5 Juli 2026
A A
Sensus Ekonomi 2026 Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap Intel (Unsplash)

Sensus Ekonomi 2026 Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap Intel (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Petugas Sensus Ekonomi 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS) kini tengah turun ke jalan. Mereka menyisir gang-gang sempit hingga kawasan elite. 

Berbekal surat tugas dan kuesioner, mereka memikul misi besar negara. Namun, realitas di lapangan justru berbicara lain. 

Alih-alih mendapat sambutan dengan tangan terbuka, para petugas BPS mendapat sambutan yang begitu dingin. Pintu selalu tertutup, tatapan penuh curiga, bahkan penolakan secara terang-terangan dari masyarakat dan pelaku usaha menjadi makanan sehari-hari.

Kegagalan Sensus Ekonomi 2026 ini berakar dari dua kombinasi utama. Pertama, trauma regulasi fiskal yang menjerat, kedua, kejenuhan publik terhadap intervensi data yang terlalu mengusik privasi.

Namun, alasan terbesar di balik keengganan masyarakat menyambut petugas BPS adalah ketakutan yang akut terhadap instansi perpajakan. Bagi pelaku UMKM yang menurut data historis menyusun lebih dari 98% total unit usaha di Indonesia, kedatangan petugas BPS yang menanyakan omzet, aset, dan jumlah karyawan terasa seperti kedatangan intel pajak yang menyamar.

Mereka menganggap petugas Sensus Ekonomi 2026 sebagai “intel pajak” dan ini bukan paranoia tanpa alasan. Ini adalah dampak psikologis dari kebijakan fiskal negara yang selama terlalu agresif dalam mengejar target pendapatan. 

Namun, yang sering terjadi, kurang berpihak pada perlindungan usaha kecil. Sensus Ekonomi akhirnya menjadi instrumen pengawasan yang mengintimidasi.

Kenapa, sih, warga males ketemu petugas BPS dan ngisi Sensus Ekonomi 2026?

Apakah data ini benar-benar aman, atau justru akan disetor ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk menaikkan target setoran pajak mereka? Begitulah petugas BPS mendapat kekhawatiran.

Baca Juga:

Dear Warga, Petugas Sensus Cuma Kerja Cari Nafkah, Jangan Jahat-Jahat sama Mereka

Beratnya Jadi Petugas Sensus, Dicurigai Mau Minta Sumbangan hingga Data yang Tidak Relevan

Meskipun petugas BPS berulang kali menyitir Pasal 21 UU No.16 Tahun 1997 tentang Statistik yang menjamin kerahasiaan data responden, publik terlanjur skeptis. Mereka udah males banget sama Sensus Ekonomi 2026.

Warga itu merasa bersikap jujur di depan petugas BPS sama saja dengan “menyerahkan leher” untuk disembelih secara fiskal. Akibatnya, alih-alih mendapatkan data yang valid, petugas BPS mendapat angka-angka omzet yang sudah disusutkan (underreported) demi keamanan dompet pemilik usaha.

Selain faktor pajak, resistensi masyarakat dipicu oleh materi pertanyaan dalam kuesioner Sensus Ekonomi 2026 yang dirasa sudah melewati batas privasi individu maupun bisnis. 

Pertanyaan-pertanyaan yang menguliti detail pengeluaran rumah tangga, margin keuntungan, kepemilikan aset pribadi, hingga struktur permodalan dinilai terlalu sensitif dan intimidatif. Mbok ya rada slow gitu.

Bagi masyarakat perkotaan dan pelaku usaha di kawasan komersial, pertanyaan dari petugas BPS tidak terasa seperti pengumpulan data statistik untuk pembangunan. Ini malah kayak interogasi finansial yang mengusik kenyamanan. 

Di tengah maraknya kasus kebocoran data nasional, wajar jika publik menjadi sangat protektif. Mereka berhak bertanya: “Jika saya memberikan seluruh detail keuangan, siapa yang bisa menjamin data ini tidak bocor dan disalahgunakan?” 

Jaminan keamanan siber pemerintah itu masih buruk banget. Makanya, opsi paling aman adalah menghindari petugas BPS dan Sensus Ekonomi 2026sejak awal. Ini tugas pemerintah untuk ngasih bukti kalau mereka mampu melindungi data masyarakat dari kriminalitas digital.

Petugas BPS dan Sensus Ekonomi 2026 cuma dapat sampah

Pendekatan petugas BPS untuk sensus “pintu ke pintu” itu sudah usang dan memaksakan kehendak. Negara malah kayak menelanjangi kondisi finansial warga. Sudah begitu, warga nggak merasakan kontribusi negara di dalam kehidupannya.

Kritik keras juga datang dari aspek efisiensi biaya. Ngapain bikin Sensus Ekonomi 2026 yang habis duit banyak yang akhirnya cuma dapat data palsu atau penolakan? 

Pemerintah tuh harusnya punya sistem Online Single Submission (OSS), kan? Di sana udah terintegrasi data perbankan dan data administrasi warga. Ngapain nggak dimaksimalkan dulu?

Memaksa warga ngisi kuesioner Sensus Ekonomi 2026 yang panjang secara manual di depan petugas BPS itu nggak nyaman. Ini mencerminkan kemunduran dalam tata kelola e-government dan hanya membuang-buang anggaran. Akhirnya cuma dapat sampah statistik. Datanya aja nggak akurat. Mau buat apa?

Sudah begitu, data yang sama sekali nggak akurat ini mau dipakai untuk bikin kebijakan? Ini jelas bahaya karena arah kebijakan ekonomi ke depan pasti akan salah sasaran.

Nggak cuma ke petugas BPS, warga udah nggak percaya sama negara

Penolakan ini bukan karena kami tidak nasionalis atau benci petugas BPS, melainkan nggak percaya aja sama negara. Jika BPS tetap melanjutkan Sensus Ekonomi 2026 ya cuma menumpuk sampah statistik. Udah habis duit pajak rakyat, hasilnya sampah.

Pemerintah harus segera mengubah strategi. Pertama, hilangkan kesan intimidatif dalam kuesioner Sensus Ekonomi 2026 yang dibawah petugas BPS. Sederhanakan pertanyaan untuk sektor informal dan UMKM agar tidak memicu kecurigaan fiskal. 

Kedua, lakukan jaminan nota kesepahaman (MoU) yang transparan dan dipublikasikan secara masif bahwa data Sensus Ekonomi 2026 sama sekali tidak bisa dan tidak akan pernah digunakan sebagai dasar penetapan atau pemeriksaan pajak individu/UMKM secara hukum.

Tanpa adanya langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan publik dan menghormati privasi warga, Sensus Ekonomi 2026 tidak akan menjadi kompas kebijakan. Sensus ini cuma jadi sampah pemborosan anggaran dan warga makin kesal sama petugas BPS.

Penulis: Duwi Anggraini

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Beratnya Jadi Petugas Sensus, Dicurigai Mau Minta Sumbangan hingga Data yang Tidak Relevan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Juli 2026 oleh

Tags: BPSpajakpetugas BPSSE 2026sensusSensus Ekonomi 2026umkm
Duwi Anggraini

Duwi Anggraini

Mahasiswa semester 2 prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Darul 'Ulum.

ArtikelTerkait

pajak pendidikan SPT Tahunan PPH orang Pribadi perpajakan Orang Pribadi influencer pajak npwp mojok.co

Skill yang Harus Kamu Miliki sebagai Staff dan Mahasiswa Perpajakan

6 Agustus 2020
Kesal dengan Teman yang Jualan di Akun Instagram Pribadi. Norak Sumpah terminal mojok.co

Kesal dengan Teman yang Jualan di Akun Instagram Pribadinya. Norak Sumpah

17 Oktober 2020
Toko Kelontong Bukan Tempat Penukaran Uang, Tolong Kesadarannya, Hyung warung kelontong mitra tokopedia grosir online terminal mojok.co

Grosir Online Naikkan Omzet Warung Kelontong Selama Pandemi

7 Desember 2021
Sempat Tersusul, Tokopedia Kembali Jadi Marketplace No. 1, Kok Bisa_ terminal mojok

Sempat Tersusul, Tokopedia Kembali Jadi Marketplace No. 1, Kok Bisa?

12 September 2021
jomblo bahagia

Jomblo Lebih Bahagia, Setidaknya Itu Kata BPS

29 Juni 2019
Derita yang Saya Rasakan Saat Jadi Petugas Sensus Regsosek Terminal Mojok

Derita yang Saya Rasakan Saat Jadi Petugas Sensus Regsosek

1 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di Bangkalan Madura Bikin Saya Sadar, Nggak Semua Orang Bakal Cocok Tinggal di Sini Mojok.co

Jangan Keluyuran ke Bangkalan Madura, Niat Menenangkan Pikiran Malah Dibuat Menyesal karena Perjalanan yang Melelahkan

5 Juli 2026
Layanan Perpusda Kota Malang Payah, Bikin Pengunjung Kecewa dan Nggak Nyaman Mojok.co

Layanan Perpustakaan Kota Malang Payah, Bikin Pengunjung Kecewa dan Nggak Nyaman

3 Juli 2026
Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari Terminal

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari

30 Juni 2026
Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup Terminal

Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup 

4 Juli 2026
3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang Mojok.co

3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang

5 Juli 2026
Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

Larangan Bawa Tumbler di Perpustakaan Daerah Itu Aneh, Minum Saja Dipersulit, Gimana Orang Mau ke Perpustakaan?

4 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.