Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sejarah dan Alasan Laki-laki Madura Suka Pakai Sarung

Akbar Mawlana oleh Akbar Mawlana
31 Mei 2023
A A
5 Rekomendasi Merek Sarung buat Kamu yang Hipster Abiezzz madura

No sarung murah club (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sarung seakan menjadi identitas yang sudah melekat bagi laki-laki Madura. Di berbagai waktu dan tempat, laki-laki Madura akan tetap menggunakan sarung. Bukan berarti tidak ada yang menggunakan celana, tapi sarung tetaplah jadi pilihan utama.

Bahkan, di channel YouTube Tretan Universe, ada bagian video ketika Tretan Muslim mengatakan kalau orang Madura suka pakai sarung. Tretan Muslim mengatakannya karena banyak melihat laki-laki  menggunakan sarung di jalanan saat dirinya berkunjung ke Bangkalan.

Riset dari Ardhie Raditya juga memperlihatkan bahwa sekalipun laki-laki Madura sudah dirasuki dengan budaya populer, mereka tidak akan pernah melepaskan sarung di kehidupan sehari-harinya. Baik di rumah, maupun di ruang publik, sarung bagi laki-laki Madura telah menjadi pakaian yang tidak boleh dilupakan. 

Lantas, kenapa laki-laki Madura senang menggunakan sarung?

Cerita tentang Aryo Menak

Bisa dikatakan kalau pemakaian sarung di Madura sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak masa lampau. Ini bisa ditilik dari kehidupan Madura saat pemerintahannya masih menggunakan sistem kerajaan. 

Pada suatu waktu, Aryo Menak, anak dari Adipati Palembang, berkeinginan untuk mengunjungi pamannya yang bernama Lembu Peteng di Pamekasan. Setelah menempuh perjalanan jauh dan penuh cobaan, Aryo Menak sampai di Pamekasan. Sesampainya di Pamekasan, Aryo Menak disambut baik oleh Lembu Peteng, bahkan memintanya untuk menginap.

Aryo Menak yang kagum dengan Madura, menolak tawaran menginap dari Lembu Peteng. Dia memutuskan untuk berpetualang. 

Aryo Menak berjalan ke arah barat. Dan sampai di desa Karang Anyar, Aryo Menak diminta untuk memperbaiki sumber air di sana yang sering banjir. Akhirnya, Aryo Menak berhasil menanggulangi sumber air yang sering banjir. Sehingga, memutuskan menetap di Karang Anyar sebagai bentuk penghormatan pada masyarakat. 

Baca Juga:

Reputasi Universitas Trunojoyo Madura Makin Menurun, bahkan Orang Madura Sendiri Mikir Dua Kali untuk Kuliah di Kampus Ini

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

Singkat cerita, Aryo Menak menikah dengan seorang bidadari setelah selendangnya dicuri oleh Aryo Menak. Aryo Menak dan istrinya hidup bahagia di  Karang Anyar. Selama hidup di Karang Anyar, Aryo Menak hanya melilitkan tubuhnya dengan kain yang disebut “sarung”. Sama dengan istrinya yang melilitkan kain ke badannya dan disebut dengan “samper”. 

Maka, cara berpakaian Aryo Menak dan istrinya ditiru oleh masyarakat sekitar. Sehingga, lambat laun, sarung dan samper menjadi cara berpakaian yang terus menyebar dan dipertahankan oleh masyarakat Madura hingga sekarang. 

Pro dan kontra

Banyak masyarakat yang percaya jika sarung pertama kali diperkenalkan oleh Aryo Menak. Namun, ada juga yang menolaknya. Argumennya adalah sarung yang digunakan Aryo Menak berbeda dengan sarung yang biasa digunakan untuk salat. 

Terlepas dari perdebatan masyarakat yang setuju dan tidak setuju terkait sejarah pemakaian sarung pertama kali di Madura. Alasan lain laki-laki Madura senang menggunakan sarung karena dimaknai sebagai pembawa keberkahan. 

Arti sarung bagi lak-laki Madura

Laki-laki Madura yang bukan pekerja kantoran, saat bekerja lebih memilih untuk memakai sarung. Mereka memaknai sarung sebagai pakaian yang memberi keberkahan karena juga digunakan saat beribadah pada Allah. Sehingga, Allah akan memberkahi jika bekerja menggunakan sarung. 

Memang secara rasional, tidak masuk akal. Cuman saya beberapa kali berbincang dengan laki-laki Madura yang bekerja sebagai pedagang. Mereka bercerita kalau pernah mencoba berjualan dengan menggunakan celana biasa. Tetapi, saat menggunakan celana biasa, dagangannya tidak laku. Alhasil, kembali lagi memakai sarung. Dan dagangannya lebih banyak dibeli oleh orang. 

Saya juga pernah berbincang dengan seorang petani. Dia bercerita kalau sedang bercocok tanam di tegal, harus menggunakan sarung. “Kenapa begitu, Pak?” tanya saya.

“Soalnya, kalau tidak pakai sarung ada saja musibahnya. Kadang kaki kena duri, tangan dipatok ular, bahkan hasil panennya tidak bagus. Sedangkan, kalau bercocok tanam pakai sarung, saya selalu dilindungi oleh marabahaya dan hasil panen lebih bagus,” jawab bapaknya.

Pemaknaan terhadap keberkahan sarung, bukan hanya dimaknai sebagai pembawa berkah ketika bekerja. Keberkahan sarung juga dimaknai saat mengendarai kendaraan. Kalau berkunjung ke Madura, baik pengguna sepeda motor dan mobil, kebanyakan akan menggunakan sarung. 

Kenapa? Baginya, sarung bukan sekadar penutup aurat ketika di jalan, melainkan pelindung dari petaka. Masyarakat percaya kalau Allah akan meridai selama berada di perjalanan. Jadi, jangan heran kalau ke Madura, menemukan pengendara sepeda motor tidak pakai helm, atau pengendara mobil tidak menggunakan sabuk pengaman. Helm dan sabuk pengaman, tidak ada artinya jika Allah tidak meridainya. 

Sarung itu praktis

Alasan lain yang menjadikan laki-laki Madura senang menggunakan sarung karena lebih nyaman dipakai daripada memakai celana. Penggunaan sarung lebih fleksibel, sehingga membuat penggunanya lebih nyaman bergerak. Terlebih lagi, sirkulasi angin lebih mudah masuk ke sarung daripada celana. Itu akan membuat laki-laki Madura menjadi lebih nyaman di tengah kondisi suhu Madura yang panas. 

Kenyamanan lain dari menggunakan sarung adalah ketika membelinya. Membeli sarung tidak begitu rumit daripada membeli celana. Apabila membeli sarung, tidak perlu pusing mencari ukuran yang sesuai. Intinya, kalau sudah ada yang cocok dengan hati, langsung sikat ke kasir untuk membayarnya.

Dengan kenyamanan dan nilai keilahiannya, tidak heran kalau laki-laki Madura suka memakai sarung. Bisa dikatakan, sarung telah menjadi peradaban kebudayaan orang Madura melalui peristiwa yang panjang, bukan dari ruang hampa.

Jadi, jangan heran sekalipun banyak budaya asing menghujani Madura, sarung tidak akan pernah hilang dari peradaban. Sebab, sejarah yang menjelma sebagai kebudayaan masyarakat akan menjadi akar kehidupan. 

Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Surat Edaran tentang Penggunaan Sarung di Kampus Madura Adalah Langkah yang Tepat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Mei 2023 oleh

Tags: aryo menakmaduraSarung
Akbar Mawlana

Akbar Mawlana

Alumni S1 Sosiologi dan sekarang menjadi pegiat literasi. Suka menulis isu sosial.

ArtikelTerkait

Bahasa Jemberan: Mulai dari ‘Siah Mak Iyo Rakah’ Sampai ‘Sengak Kamu ya’ yang Bikin Pusing Kepala

9 Juni 2021
Pamekasan Madura Katanya Kabupaten Layak Anak, tapi Taman Bermainnya Nggak Ramah Anak karena Diisi Muda-mudi Mesum

Pamekasan Madura Katanya Kabupaten Layak Anak, tapi Taman Bermainnya Nggak Ramah Anak karena Diisi Muda-mudi Mesum

7 Februari 2024
Bagi Saya, Budaya Yok-Ayok di Madura Saat Melayat Orang Meninggal Sangat Meresahkan, Mending Dihilangkan karena Sudah Kebablasan

Bagi Saya, Budaya “Yok-Ayok” di Madura Saat Melayat Orang Meninggal Sangat Meresahkan. Mending Dihilangkan karena Sudah Kebablasan

11 Juli 2024
Madura Tidak Akan Muncul sebagai Kandidat Ibu Kota Jawa Timur, Dilirik Saja Tidak toko buku

Madura Tidak Akan Muncul sebagai Kandidat Ibu Kota Jawa Timur, Dilirik Saja Tidak

6 April 2023
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Jaringan Bisnis Mail dalam Serial Upin Ipin kalau Benaran Tumbuh di Madura Mojok.co

Jaringan Bisnis Mail dalam Serial Upin Ipin kalau Benaran Tumbuh di Madura

18 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.