Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Sisi Gelap KA Feeder Whoosh, Fasilitas Gratis yang Bikin Penumpang Whoosh Merasa Miris

Dodik Suprayogi oleh Dodik Suprayogi
1 Maret 2026
A A
Pengalaman Naik Whoosh Pertama Kali, Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang Bikin Mental Orang Kabupaten Jiper Mojok.co KA Feeder Whoosh

Pengalaman Naik Whoosh Pertama Kali, Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang Bikin Mental Orang Kabupaten Jiper (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Membicarakan KA Feeder Whoosh Padalarang-Bandung adalah membicarakan sebuah anomali transportasi modern di Indonesia. Di satu sisi, menjadi penyelamat bagi penumpang Whoosh yang enggan terjebak kemacetan di Pasteur atau Cimahi. Namun di sisi lain, menyimpan sebuah ironi yang sering kali luput dari kata-kata marketing, sebuah kompetisi fisik yang tak terelakkan bernama berebut kursi.

“Yah namanya juga gratis, pasti kualitasnya menyesuaikan”, ucap kata teman saya.

ADVERTISEMENT

Padahal adanya KA Feeder Whoosh ini cukup membantu dari sisi kecepatan dan biaya transportasi. Coba bayangin kalau nggak ada KA Feeder, harus naik transportasi umum atau kendaraan online yang harganya lumayan tinggi untuk sampai ke Stasiun Bandung. Harusnya kenyamanan KA Feeder juga diperhatikan.

Gengsi yang terputus di Peron Padalarang

Pengalaman naik Whoosh adalah pengalaman kelas atas. Kita duduk di kursi ergonomis dengan ruang kaki yang luas, melaju 350 km/jam secara perlahan-lahan, dan merasa menjadi bagian dari masa depan. Namun, begitu pintu kereta cepat terbuka di Stasiun Padalarang, suasana seketika berubah.

Kekurangan paling nyata dari sistem ini adalah ketimpangan kapasitas. Satu rangkaian Whoosh sanggup membawa ratusan penumpang dalam sekali angkut. Sementara itu, rangkaian KA Feeder yang menunggu di peron sebelah memiliki kapasitas tempat duduk yang jauh lebih terbatas. Akibatnya jelas, siapa yang kakinya lebih cepat melangkah di peron, dialah yang berhak duduk manis hingga Stasiun Bandung.

Dan saya, selalu kalah cepat atau mengalah dari rombongan ibu-ibu piknik yang nyerobot masuk lebih dahulu.

BACA JUGA: Proyek Kereta Cepat Whoosh Terlalu Eksklusif, Cuman bikin KAI dan Rakyat Menderita

Ironi layanan gratis KA Feeder Whoosh

Secara teknis, layanan KA Feeder ini memang gratis bagi pemegang tiket Whoosh. Namun, sejujurnya label gratis sering kali menjadi pembenaran atas penurunan kualitas kenyamanan. Ada semacam pemakluman bahwa karena tidak bayar lagi, maka berdiri pun tidak apa-apa.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Padahal, penumpang tidak membayar untuk sebuah pengalaman yang terputus. Mereka membayar untuk sebuah perjalanan dari lokasi asal ke lokasi tujuan dengan standar kenyamanan yang seharusnya konsisten. Ketika harus berdiri berdesakan di KA Feeder setelah sebelumnya dimanjakan di Whoosh, ada rasa antiklimaks yang sulit disembunyikan. Nanggung euy!

Logistik yang menguras tenaga

Bagi penumpang yang membawa bagasi besar atau koper kabin, berebut kursi di KA Feeder Whoosh adalah mimpi buruk tersendiri. Di dalam gerbong yang penuh sesak, ruang untuk menaruh barang menjadi sangat terbatas. Belum lagi jika kita melihat akses keluar di Stasiun Bandung yang menuntut langkah kaki cukup jauh menuju area penjemputan.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Kenyamanan dan kecepatan yang ditawarkan KA Feeder seolah-olah harus dibayar dengan keringat dan kewaspadaan tinggi. Kita nggak bisa benar-benar bersantai, karena pikiran sudah terfokus pada strategi bagaimana caranya menjadi orang pertama yang masuk ke pintu kereta penyambung tersebut.

KA Feeder Whoosh memang solusi yang cerdas secara waktu, tetapi masih memiliki rapor merah secara distribusi kenyamanan. Selama rasio antara penumpang Whoosh dan ketersediaan kursi di Feeder belum seimbang, maka predikat nyaman mungkin hanyalah sebuah keberuntungan, bukan sebuah standar layanan yang pasti.

Pada akhirnya, secepat apa pun teknologi yang kita miliki, kita tetap dipaksa kembali ke insting dasar, berebut tempat demi sebuah kenyamanan singkat selama 19 menit.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Dari Bogor ke Bandung Naik Whoosh Adalah Hal Terbodoh dalam Hidup yang Pernah Saya Lakukan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2026 oleh

Tags: fasilitas kereta api whooshKA feeder whooshkereta api whoosh
Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Penggiat pertanian yang sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti Jakarta.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak Terminal

Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak

6 Juli 2026
7 macam soto paling nyeleneh yang nggak ada salahnya dicicipi sekali seumur hidup Terminal

7 macam soto paling nyeleneh yang nggak ada salahnya dicicipi sekali seumur hidup

10 Juli 2026
Sakit gigi penyakit yang terdengar remeh, tapi aslinya sangat menyiksa Mojok.co

Sakit gigi penyakit yang terdengar remeh, tapi aslinya sangat menyiksa

9 Juli 2026
Sebagai Warga Jogja, Pantai Bantul Lebih Menarik untuk Dikunjungi Dibanding Pantai Gunungkidul

Sebagai warga Jogja, pantai Bantul lebih menarik untuk dikunjungi dibanding pantai Gunungkidul

9 Juli 2026
Orang Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang Mojok.co

Nasib Alumni Universitas Trunojoyo Madura: Balik ke Rumah Menanggung Ekspektasi Orang Sekampung, Merantau Malah Jadi Insecure

7 Juli 2026
Universitas Terbuka, Kampus Negeri yang UKT-nya Tidak Kenal Sistem Golongan, Banyak Beasiswa Pula! Mojok.co

Universitas Terbuka, kampus negeri yang UKT-nya tidak kenal sistem golongan, banyak beasiswa pula!

9 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.