Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
8 Maret 2026
A A
Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang! (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap menjelang hari raya, ada satu hal yang hampir selalu terjadi di banyak keluarga: orang-orang mulai berburu uang baru. Entah itu ke bank, tempat penukaran uang di pinggir jalan, atau bahkan lewat jasa calo yang sengaja menyediakan paket dengan berbagai nominal. Alasannya sederhana, untuk dibagikan kepada anak-anak, keponakan, atau kerabat yang lebih muda saat silaturahmi hari raya.

Namun jujur saja, saya sering bertanya dalam hati: sebenarnya siapa yang pertama kali memulai tradisi ini? Siapa yang membuat seolah-olah uang yang dibagikan saat hari raya harus selalu dalam kondisi baru, rapi, dan belum pernah dipakai?

Awalnya mungkin tradisi ini dimaksudkan sebagai sesuatu yang baik. Memberikan uang baru bisa dianggap simbol kebahagiaan, keberkahan, atau awal yang baru setelah menjalani bulan suci. Anak-anak juga biasanya senang menerima uang yang masih kaku dan bersih karena terlihat lebih istimewa dibandingkan uang lama yang sudah lecek.

Tapi lama-lama, tradisi ini terasa berubah menjadi semacam kewajiban sosial yang cukup merepotkan. Bukan lagi sekadar berbagi rezeki, melainkan harus memenuhi standar tertentu: uangnya harus baru. Kalau tidak baru, rasanya seperti ada yang kurang. Bahkan kadang ada perasaan tidak enak jika memberikan yang sudah agak lusuh.

Kok pada serius amat ya

Yang membuat saya semakin heran adalah betapa seriusnya orang-orang berburu uang baru menjelang hari raya. Antrean di bank bisa panjang hanya untuk menukar uang. Di beberapa tempat bahkan ada orang yang sengaja menjual jasa penukaran dengan mengambil keuntungan. Misalnya menukar seratus ribu rupiah dengan paket yang jumlahnya lebih sedikit karena sudah dipotong biaya jasa.

Jika dipikir-pikir, situasi ini terasa agak lucu sekaligus mengesalkan. Sama-sama uang, nilainya juga sama, tetapi karena tidak dalam kondisi baru, seolah-olah menjadi kurang layak untuk dibagikan saat hari raya. Padahal tujuan utamanya adalah berbagi kebahagiaan, bukan memamerkan seberapa baru uang yang diberikan.

Kadang saya juga merasa tradisi ini secara tidak langsung menambah beban bagi sebagian orang. Tidak semua orang punya waktu atau kesempatan untuk menukar uang baru di bank. Belum lagi jika jumlah yang dibutuhkan cukup banyak. Akhirnya orang harus mengeluarkan tenaga ekstra hanya demi memenuhi ekspektasi yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Bagi anak-anak mungkin uang baru memang terlihat lebih menarik. Warnanya cerah, masih kaku, dan terasa spesial. Tetapi jika dipikir lebih dalam, yang membuat mereka senang sebenarnya bukan karena uangnya baru, melainkan karena mereka mendapat perhatian dan hadiah saat hari raya. Yang lama pun sebenarnya tidak akan mengurangi nilai kebahagiaan itu.

Baca Juga:

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

Bandung Setelah Lebaran Adalah Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk bagi Warlok

BACA JUGA: Fenomena Menukar Uang Cetakan Baru Menjelang Lebaran Masih Relevan Nggak, sih?

Yang mulai tradisi uang baru ini siapa sih?

Fenomena ini membuat saya semakin penasaran: apakah benar tradisi ini berasal dari budaya lama, atau sebenarnya hanya kebiasaan yang berkembang belakangan karena ikut-ikutan? Bisa jadi awalnya hanya kebetulan ada orang yang membagikan uang baru, lalu lama-lama dianggap sebagai standar yang harus diikuti semua orang.

Padahal jika kita kembali ke makna hari raya, inti utamanya adalah silaturahmi, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan. Bukan soal harus baru atau tidak. Bahkan bagi sebagian orang, sekadar bisa berkumpul dengan keluarga saja sudah menjadi kebahagiaan yang tidak tergantikan.

Saya pribadi kadang merasa tradisi uang baru ini terlalu dibesar-besarkan. Bukan berarti berbagi itu salah, tetapi rasanya tidak perlu sampai memaksakan diri hanya demi mendapatkan uang yang masih baru dari bank. Jika yang tersedia adalah versi yang lama, seharusnya itu juga tidak masalah.

Mungkin sudah saatnya kita melihat kembali kebiasaan ini dengan lebih santai. Memberi uang saat hari raya tetap bisa dilakukan tanpa harus terobsesi dengan uang baru. Yang lebih penting adalah niat berbagi dan kebahagiaan yang ingin diberikan kepada orang lain.

Pertanyaan tentang siapa yang pertama kali memulai tradisi ini saat hari raya mungkin tidak akan pernah benar-benar terjawab. Namun satu hal yang pasti, tradisi ini terus berjalan karena banyak orang merasa harus mengikutinya. Padahal sebenarnya, kita juga punya pilihan untuk tidak terlalu terikat pada kebiasaan tersebut.

Kebahagiaan hari raya tidak ditentukan oleh seberapa baru uang yang kita berikan, melainkan oleh kehangatan hubungan dan kebersamaan yang kita rasakan bersama keluarga dan orang-orang terdekat.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat

Terakhir diperbarui pada 8 Maret 2026 oleh

Tags: cara tukar uang baru di bankLebaranuang baruuang baru lebaran
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Ritual Memutari Ring Road Jogja, Wahana Pelepas Galau ala Muda-mudi Setempat terminal mojok.co

Jurus Nyidat Menghindari Kemacetan Saat Lebaran

12 Juni 2019
5 Tanda Lebaran Sudah Dekat di Cikarang Terminal Mojok

5 Tanda Lebaran Sudah Dekat di Cikarang

26 April 2022
wonogiri

Merayakan Hari yang Fitri di Wonogiri

5 Juni 2019
Alasan Makan Bakso Menggoda Sekaligus Dicari Saat Lebaran terminal mojok.co

Alasan Makan Bakso Menggoda Sekaligus Dicari Saat Lebaran

16 Mei 2021
Susahnya Orang Gemuk Cari Baju di Hari Raya dan Tips Mengatasinya

Susahnya Orang Gemuk Cari Baju di Hari Raya dan Tips Mengatasinya

23 Mei 2020
outfit

Pertanyaan Berapa Harga Outfit Lu dan Alangkah Duniawinya Kita

7 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Leuwigajah, Kelurahan Paling Mentereng Se-Kota Cimahi

Cimahi Selatan, Sebuah Anomali di “Kota Tentara”: Menjaga Kedaulatan Ekonomi dan Keberlangsungan Hidup Warga Cimahi

7 Juli 2026
Sebagai Warga Jogja, Pantai Bantul Lebih Menarik untuk Dikunjungi Dibanding Pantai Gunungkidul

Sebagai warga Jogja, pantai Bantul lebih menarik untuk dikunjungi dibanding pantai Gunungkidul

9 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

10 Juli 2026
Sakit gigi penyakit yang terdengar remeh, tapi aslinya sangat menyiksa Mojok.co

Sakit gigi penyakit yang terdengar remeh, tapi aslinya sangat menyiksa

9 Juli 2026
Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

8 Juli 2026
Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

11 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.