Sebagai orang Madura, saya agak iri dengan orang Sumatera yang lebih solid dan bebas dalam menjadi dirinya sendiri
Membaca artikel Cak Abdur Rohman yang membagikan tips & trick bagi mahasiswa Madura yang kuliah di Surabaya agar tak jadi bahan ejekan dan tertawaan, saya sangat setuju. Ingat betul bagaimana saya berusaha untuk menghilangkan jejak kemaduraan saya di Jogja, entah dalam penampilan atau dalam percakapan.
Tapi, itu tiga tahun yang lalu, saat lidah saya masih kaku ketika ditanya orang asal mana. Jawa Timur menjadi dua kata yang selalu keluar dari mulut saya untuk tidak menyebut kata Madura, tanpa berbohong. Beberapa orang tidak bertanya lebih lanjut, namun beberapa yang lain bertanya lebih spesifik dan berakhir dengan jawaban sembarang, mulai dari Surabaya, Gresik, Jember, Bondowoso, dsb.
Satu sirkel dengan anak-anak Sumatera
Saya benar-benar tidak mau orang lain tahu bahwa saya adalah orang Madura. bukan karena benci, bukan pula tidak bangga. Saya begitu bangga dengan Madura sebagai tanah kelahiran. Bangga betul. Tapi, karena stigma jelek dan sering direndahkan, entah kenapa saya malu.
Di Jogja, saya meminimalisir untuk bergaul dengan sesama anak Madura. Hanya pada orang-orang yang dekat dan akrab saja, saya nongkrong dan berbincang ria. Karena bagi saya, selain menyembunyikan identitas, berteman dengan orang-orang luar Madura atau luar Jawa, dapat memperluas teman, jaringan, dan koneksi.
Ketemulah saya dengan anak-anak dari pulau Sumatera, Kalimantan, dan Lombok. Nah, yang dari Sumatera inilah yang paling dominan dan setiap hari nongkrong ke sana ke mari. Karena setiap hari banyak ngobrol dengan mereka, akhirnya logat saya sedikit nyangkut, bahkan beberapa diksi pun terpakai.
Saya tidak berbohong. Saya punya bukti. Dalam beberapa kesempatan, orang-orang mengira saya orang Sumatera karena cara ngomong saya. Bahkan yang secara pas menebak orang Madura, ya karena yang nebak orang Madura sendiri. Katanya, logatnya masih kerasa. Haha.
Alih-alih menyembunyikan, mereka malah bangga dengan identitasnya, tak seperti orang Madura
Hampir tiga tahun lamanya saya bersembunyi di balik teman-teman Sumatera, dan selama itu pula saya mulai berenung dan lambat laun akhirnya mulai sadar diri. Nyaris saya lupa pada asal dan identitas saya sendiri.
Kesadaran itu bermula dari maraknya kasus-kasus yang menyeret suku Madura, khususnya yang terjadi di Surabaya. Selain itu, saya juga mulai sering membaca postingan-postingan cendikiawan, aktivis, dan pemuda-pemuda Madura yang aktif membicarakan isu-isu tentang Madura.
Dalam benak saya merenung, mengapa saya malah “kabur”, bahkan sungkan mengakui asal saya. “Jika peduli, maka jadilah seperti mereka,” begitu kira-kira yang selalu tebersit di pikiran.
Ditambah lagi, teman-teman Sumatera saya sesekali sering “bercanda” yang menurut saya itu tetap rasis. Tentu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh mereka, saya harus menjelaskannya dengan baik dan benar. Agar Madura di mata mereka jadi baik dan benar.
Di situ, saya pun sadar, betapa mereka tetap bangga dengan identitas mereka. Meskipun kasus-kasus serupa di Madura juga tak luput terjadi di daerah mereka, tapi mereka tetap berbicara dengan logat mereka. Mereka tetap lantang menyebut asal mereka.
Jika mereka bisa, mengapa saya tidak. Walaupun saya dengan mereka cukup beda bebannya, sih. Stereotipe pada Madura lebih besar dibanding kepada mereka. Jadi, wajar saja jika tantangan saya lebih besar. Bagi anak Madura yang tak tahan, tentu akan memilih bersembunyi seperti saya.
Orang Sumatera di Jogja lebih solid dan saling pengertian, ketimbang orang Madura
Satu hal yang mungkin jadi tantangan juga bagi orang-orang Madura, yaitu solidaritas. Solidaritas bukan cuma berwujud kompak dalam satu komunitas tertentu, membuat ragam acara, menjadwal banyak daftar kegiatan. Tidak. Solidaritas bagi saya adalah rasa persaudaraan yang tinggi, saling pengertian, dan sama rasa.
Dalam hal ini, saya cuma ingin menyinggung sedikit berdasarkan apa yang saya alami saja. Saya menyebut persaudaraan orang-orang Sumatera sepertinya lebih tinggi dari orang-orang Madura, bukan berarti rasa persaudaraan orang Madura tidak ada sama sekali.
Begini, selama hampir tiga tahun saya hidup dengan teman-teman Sumatera, saya beberapa kali dihadapkan dengan fakta bahwa saat mereka tahu bahwa mereka sesama orang Sumatera, semua hal jadi mudah dan murah.
Misal, saya pernah mengajak teman Sumatera saya beli celana ke tempat thrifting. Karena kebetulan yang jual orang Sumatera, dia mendapat diskon. Dan akhirnya saya kecipratan juga. Pernah juga beberapa kali saya ikut makan dengan mereka ke rumah makan Padang, saya juga kecipratan murahnya. Meski di satu kesempatan saya dikecualikan. Tapi, di situlah saya merasakan kedalaman rasa persaudaraan itu.
Sebaliknya, saya tak pernah satu kalipun mendapat perlakuan seperti itu, meskipun saya tak berharap begitu, saat beli di warung Madura atau di pedagang-pedagang lainnya. Bahkan berharap untuk tak usah bayar biaya admin QRIS, dengan cara menunjukkan identitas kemaduraan saya, sama sekali tak bekerja. Aihhh.
Jujurrr, saya sedikit cemburu
Saya sempat berpikir, andai solidaritas persaudaraan kita seperti mereka, paling tidak itu akan membantu menghapus dosa-dosa kelakuan buruk oknum orang-orang kita. Maksudnya, misal saya dan teman Sumatera saya sedang beli rokok di warung Madura, karena saya menunjukkan kemaduraan otomatis, kasih diskon gitu. Seperti mereka ke saya. Hahaha.
Bagi orang-orang Madura yang membaca ini, plis jangan baper, ya. Ini pengalaman saya saja. Saya akan tetap bangga dengan tanah Madura dan kelak saya akan mati lalu dikubur di tanah itu. Jujurrr, saya cuma sedikit semburu.
Penulis: Abd. Muhaimin
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













