Seandainya Sherlock Holmes Tinggal di Indonesia dan Ikut Melawan Omnibus Law – Terminal Mojok

Seandainya Sherlock Holmes Tinggal di Indonesia dan Ikut Melawan Omnibus Law

Artikel

Pada pagi hari, tanggal 6 Oktober 2020, Sherlock Holmes sedang duduk santai sambil menikmati cerutu dan melihat lini masa Twitter melalui hape pintarnya. Ia tidak merasa heran dengan banyaknya tagar bermunculan bertemakan penolakan serta makian terhadap Omnibus Law yang baru saja disahkan sehari sebelumnya. Terang saja, sebab, hal tersebut betul-betul timpang dan menyengsarakan kaum pekerja dan buruh.

Sebagai detektif swasta ternama dengan deduksi yang paripurna, Sherlock Holmes tergerak untuk melakukan sesuatu agar kebijakan nyeleneh ini bisa dibatalkan atau tidak diimplementasikan dalam waktu mendatang.

Bukan Sherlock Holmes namanya jika tidak banyak akal. Ia segera menghubungi Mycroft Holmes yang memang bekerja dan aktif di pemerintahan. Mycroft sendiri dikenal sebagai orang yang tegas dan tidak gentar membela orang yang lemah.

Sebagai seseorang yang punya tingkat kecerdasan melebihi adiknya, Sherlock, Mycroft lebih memilih untuk bekerja di sektor pemerintahan. Tujuannya sederhana, untuk melakukan monitoring terhadap segala kebijakan yang dibuat agar tidak melenceng dan menyusahkan rakyat. Namun, sayang, ternyata Mycroft yang cerdas pun akhirnya terkecoh oleh jadwal pengesahan Omnibus Law yang kabarnya akan dilangsungkan pada 8 Oktober 2020, menjadi 5 Oktober 2020.

Mycroft Holmes kecolongan. Ia mengaku bersalah kepada Sherlock karena gagal mencegah pengesahan Omnibus Law.

Akhirnya mereka berdua bergegas menelusuri isu yang terjadi sebelumnya. Apakah James Moriarty terlibat dalam hal ini atau bahkan tidak sama sekali. Wajar saja Sherlock menaruh curiga. Pasalnya, Moriarty adalah penjahat yang sangat licik dan banyak akal. Selain menjadi dosen, Moriarty adalah salah seorang pengusaha yang kaya.

Sherlock akhirnya bergegas merangkai benang merah antara Omnibus Law, kebijakan yang lebih menguntungkan pengusaha dan investor asing dibanding para pekerja, juga apakah ada keterlibatan Moriarty atas kebijakan sampah ini.

Hal pertama yang ditelusuri oleh Sherlock adalah sidang anggota DPR yang betul-betul menyebalkan. Sanggahan dari fraksi partai lain tidak diperbolehkan. Selain suara rakyat, ternyata suara rekan sesama politisi pun dibungkam saat ingin memberi interupsi dengan cara mematikan microphone. Hal ini membuat Sherlock merasa janggal dengan istilah demokrasi yang sering diagungkan di negeri ini. Apakah masih ada? Atau hanya sebatas wacana?

Hal kedua adalah terkait perubahan jadwal sidang yang mendadak diubah dari yang sebelumnya tanggal 8 Oktober menjadi 5 Oktober. Apakah Omnibus Law betul-betul semendesak itu? Wajar jika Sherlock langsung memikirkan tentang apa agenda dibalik hal tersebut. Padahal, saat ini kasus penyebaran Covid-19 masih belum bisa diselesaikan dengan baik. Urgensinya apa, Wahai pemimpin?

Sherlock tahu bahwa demo di beberapa titik akan terjadi dan sulit dihindari. Maka dari itu, ia meminta tolong sahabat terbaiknya sekaligus seorang dokter ternama, John Hamish Watson, untuk bersiap menangani hal tersebut. Selain untuk berjaga-jaga dan mengawasi, tentu saja agar kesehatan para demonstran terjamin. Antisipasi jika ada hal yang tidak menyenangkan terjadi.

Koordinasi antara Mycroft, Sherlock, dan Watson terus dilakukan melalui grup WhatsApp sementara yang baru saja mereka buat dengan diberi nama “#OmnibusLawSampah”. Mereka saling mengirim foto terkini dan mengumpulkan bukti yang ada.

Tidak lama, Sherlock mendapat pesan melalui WhatsApp dari Prof. Moriarty.

“P”

“P”

“P”

“Halo, Sherlock. Saya tahu, Anda mencurigai saya sebagai dalang dibalik pengesahan Omnibus Law sampah ini. Tapi, ketahuilah, saya pun menjadi korban atas kebijakan ini. Salah satu profesi saya memang pengusaha ternama. Kaya raya. Akan tetapi, ketahuilah, bukan berarti saya meraup keuntungan atas hal yang betul-betul bajingan ini.  95% karyawan saya mengancam untuk tidak masuk kerja selama dua minggu ke depan. Bahkan ada isu untuk resign massal. Artinya, saya akan kehilangan profit yang sangat besar. Mungkin ini terdengar gila, tapi percayalah, saya ada di pihak Anda untuk membatalkan kebijakan ini dan mencari tahu apa urgensinya!”

Sherlock merenung. Akhirnya, agar bisa melakukan observasi gestur dan mimik wajah Moriarty untuk mengetahui bahwa musuh bebuyutannya bohong atau tidak, ia memutuskan untuk melanjutkan perbincangan via video call.

Dalam percakapan video call, Sherlock Holmes mengetahui bahwa mereka ada di pihak yang sama. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengatur strategi bersama. Sebab, sudah jelas bahwa aspirasi rakyat lebih penting dibandingkan kekuasaan sementara.

Tidak lama setelahnya, Moriarty dimasukkan ke dalam grup WhatsApp #OmnibusLawSampah oleh Sherlock Holmes dan mulai menyusun rencana bersama dengan Mycroft yang sedang fokus mengawasi pemerintah. Lantas, apa yang akhirnya mereka temukan dalam penyelidikan tersebut? Jadi, siapa dalang dari semua ini?

BACA JUGA Menertawakan Buzzer Pendukung UU Cipta Kerja Adalah Kemewahan Terakhir Kita Bersama dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Tolak Demo dengan Demo Adalah Wujud Istimewanya Aspirasi yang Offside

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.