Seandainya Elite Politik Negeri Adalah Kenshin Himura, Betapa Indahnya Negeri Ini

Featured

Aliurridha

Kata apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar frasa elite politik? Korup, serakah, licik, picik, manipulator, dinasti, dan privilese mungkin itulah beberapa kata yang dianggap layak dilekatkan kepada mayoritas elite politik Indonesia. Saya katakan mayoritas karena memang tidak semua politisi seburuk itu. Namun ketika sudah masuk ke sistem, mengutip ucapan Mahfud MD yang mengatakan, malaikat saja bisa jadi iblis jika masuk ke sistem politik Indonesia.

Entah karena sistemnya yang memang buruk atau politisinya saja yang memang sudah buruk dari sananya. Jadi ketika dia masuk ke dalam sistem, wajah privat yang selalu ia sembunyikan sesekali muncul di publik. Butuh riset lebih mendalam untuk mengetahui mana yang benar. Meski begitu saya rasa sistem seburuk apa pun tidak akan mempengaruhi jika para elite politik bisa belajar dari Kenshin Himura.

Kenshin Himura adalah seorang tokoh fiksi dari manga berjudul Rurouni Kenshin (るろうに剣心) sebelum berubah menjadi Samurai X setelah versi animenya tayang di Amerika. Kisah ini menceritakan pengembaraan Kenshin seorang samurai yang punya masa lalu sebagai pembunuh dalam pasukan revolusi periode awal zaman Meiji. Banyak dari kisah-kisah Kenshin bisa diambil jadi pelajaran untuk pendidikan karakter, terutama untuk para penguasa tamak yang berebut ingin berbagi kue kekuasaan.

Saya masih ingat sebuah adegan yang paling berkesan dalam serial Samurai X pada episode tiga season satu serial anime. Ketika itu Kenshin menolak tawaran Yamagata Aritomo, seorang petinggi militer yang dulunya berjuang bahu membahu membangun zaman baru, mengajaknya bergabung di pemerintahan. Ia menolak diajak bergabung untuk menduduki posisi elite pemerintahan di mana para kamerad pada saat revolusi telah menunggunya. Yamagata dan para kamerad telah mencari Kenshin selama 10 tahun berkeliling Jepang tapi jawaban Kenshin tetap sama.

Dia menolak untuk jabatan elite yang seharusnya merupakan balasan dari jerih payah dan pengorbanannya. Dia menolak menjadi elite pemerintahan sebagai balasan dari tugasnya membunuh semua musuh pasukan revolusi. Bahkan ketika Yamagata mengatakan bahwa itu merupakan tindakan mulia untuk memenangkan perang revolusi dan jika ada yang protes akan dibungkamnya dengan kuasa yang dimilikinya.

Baca Juga:  Tidak Ada yang Salah dengan Keraton Agung Sejagat

Kita dulu pernah berjuang untuk sebuah ide menggunakan pedang kita. Tidak untuk kekuasan, tidak untuk kejayaan, tapi untuk menciptakan dunia yang damai di mana setiap orang bisa hidup tanpa rasa takut.”

Luar biasa kamerad, di mana kita bisa cari figur seperti ini di negeri ini. Jauh banget kalau dibandingkan dengan elite politik negeri ini yang berebut kekuasaan, mengatasnamakan rakyat, dan ketika sudah berkuasa membungkam suara-suara yang menyentil-nyentil kursi kekuasaannya.

Di saat rakyat beramai-ramai mendatangi gedung-gedung para wakilnya untuk menyatakan aspirasi bahwa reformasi telah dikorupsi. Mereka dibungkam, ada barikade yang menjaga jarak antara rakyat dan elite, ada pentungan dan gas air mata untuk mengusirnya, dan peluru yang menembus tubuh-tubuh para pemuda. Reformasi tidak dikorupsi karena reformasi memang hanya revolusi palsu yang memindahkan kekuasaan dari elite yang terlihat ke tangan elite-elite yang menyamar.

Pada adegan lain ditunjukkan ketika ia menyelamatkan seorang bocah bernama Eijhi Mashima dari usahanya untuk membalaskan dendam. Ia tidak ingin Eijhi kecil mengotori tangannya dengan membunuh orang yang bertanggung jawab kematian kedua orang tuanya dan kakaknya. Mayat orang tua Eijhi digantung untuk menakuti dan juga peringatan bagi warga desa yang mencoba untuk memberikan informasi kepada pemerintah tentang kejahatan kelompok Sishio.

Tidak seorang pun warga desa menolong ketika kejadian naas yang menimpa orang tua Eijhi, tidak juga ada berani menurunkan mayat orang tua Eijhi karena ancaman dari kelompok Sishio. Dan ketika Kenshin memenangkan pertarungan melawan prajurit Sishio yang menggantung orang tua dan membunuh kakak Eijhi. Eijhi memanfaatkan kesempatan untuk membunuhnya. Kenshin mencegahnya dalam suatu adegan menyentuh Kenshin menasehati Eijhi kecil tentang tumbuh menjadi dewasa.

Waktu akan berlalu, kamu akan menjadi dewasa dan tangan kecilmu ini akan tumbuh. Ketika waktu itu datang jangan menjadi orang-orang jahat yang menggunakan kekuasaan untuk mengintimidasi yang lain. Jangan menjadi penakut untuk berjuang pada apa yang dirasa benar seperti warga. Jadilah orang dewasa seperti kakakmu yang terus berjuang sampai akhir hayatnya. Jika kau melakukan itu saya percaya hidupmu akan bahagia karena yang mati tidak menuntut balas dendam tapi kebahagiaan dari yang ditinggalkan.”

Seandainya pejabat elite negeri ini adalah Kenshin maka peristiwa berdarah 1965-1966 yang memakan begitu banyak korban. Rakyat yang saat itu ketakutan akibat penggorengan isu pemberontakan partai komunis bukannya ditenangkan, tapi dibiarkan bertindak dan menjadi pemeran dalam plot paling berdarah. Elite negara tidak muncul untuk menenangkan situasi dan menjembatani konflik, mereka malah diam dan terkesan membiarkan kejadian yang memakan korban sampai dua juta orang dan menjadi sejarah kelam yang bahkan tidak tidak selesai sampai hari ini.

Baca Juga:  Tan Malaka Bakal Misuh Jancuk Kalau Baca Draf Omnibus Law

Adegan lain yang membuat saya berharap bahwa politisi Indonesia belajar dari Kenshin adalah ketika ia memenangkan pertarungan dengan kelompok Sishio. Yahiko yang bisa dikatakan sebagai murid ideologi Kenshin bertanya padanya. Kita menangkan, jadi kita yang benar? Kenshin tidak lantas membenarkan jawaban itu dan berkata,

Kalau kebenaran bisa ditentukan oleh siapa yang menang dalam pertarungan maka kita tidak ada bedanya dengan Sishio. Kebenaran hanya bisa dijawab oleh orang-orang yang hidup setelah kita.”

Jawaban ini mungkin akan sangat berbeda ketika disampaikan oleh para penyambung lidah istana. Bagi mereka-mereka yang berada di kekuasaan mereka selalu benar dan rakyat tidak tahu apa-apa. Karena keyakinan bahwa mereka lebih tahu tentang kebutuhan rakyatnya ketimbang rakyatnya itu sendiri maka muncullah undang-undang yang seolah-olah menelanjangi kelas pekerja seperti Omnibus Law. Muncul juga RUU Ketahanan Keluarga yang tidak hanya membuat ranjang rakyat jadi mainan tapi juga membuat mimpi buruh upah UMK meniqa ambyar. Ah seandainya para elite negeri ini adalah Kenshin Himura, alangkah indah dan damai negeri ini.

BACA JUGA AZ Omnibus Law: Panduan Memahami Omnibus Law Secara Sederhana atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
21


Komentar

Comments are closed.