Saya Memainkan Game Dinosaurus Google Chrome selama Dua Jam, Inilah yang Terjadi – Terminal Mojok

Saya Memainkan Game Dinosaurus Google Chrome selama Dua Jam, Inilah yang Terjadi

Artikel

Avatar

Dikarenakan gabut dan kehabisan kuota, saya iseng mainan game Dinosaurus Google Chrome selama kurang lebih dua jam. Sungguh, dulu saya begitu mahir memainkan game ini dan rekor tertinggi saya adalah menyentuh 50 ribu poin. Bayangkan, 50 ribu poin. Itu kalo dikonversi ke poin menulis artikel di Terminal Mojok sudah foya-foya saya.

Berbekal rasa penasaran apakah saya masih sejago dulu, mulailah sata membuka laptop dan membuka browser yang bukan andalan saya—browser andalan saya adalah Mozila Firefox—karena di sanalah permainan seru ini hadir. Dengan grafik yang sungguh sederhana dan misi yang sederhana pula, larutlah saya ke dalam nostalgia lama bak lirik lagu KLa Project berjudul “Yogyakarta” itu—ya, kota yang sama dengan yang saya tinggali lebih dari lima tahun. Mulailah petualangan saya dengan T-Rex yang saya namai “Lek Jo” ini. Jangan tanya kenapa saya menamainya begitu, pokoknya si T-Rex saya sebut demikian.

Saya mengendalikan Lek Jo sesuka saya. Dan saat saya bilang saya memainkan game ini selama dua jam, bukan berarti selama dua jam itu saya main terus tanpa nabrak kaktus maupun dinosaurus terbang yang saya nggak tahu namanya. Saya main dua jam tapi ya gitu, ngulang-ngulang terus karena ternyata kemampuan saya mengendalikan Lek Jo tidak sejago dulu.

Tetapi dari pengalaman saya menghabiskan waktu dua jam bersama Lek Jo, saya jadi tahu beberapa fakta menarik dari game ini. Beberapa di antaranya seperti… fase bulan di game ini ada enam—atau tiga bolak balik, yaitu bulan sabit awal bulan, kemudian bulan separo menuju purnama, kemudian purnama penuh, kemudian fase bulan separo sehabis purnama, kemudian fase bulan sabit menuju hilangnya bulan. Sungguh, pengembang game ini sangat mementingkan aspek astronomi rupanya.

Selain fakta tentang bulan, ada pula fakta yang saya ketahui: bahwa malam hari pertama menjumpai saya dan Lek Jo ketika saya berhasil membawa Lek Jo ke poin 700. Sebelum itu, Lek Jo harus susah payah lari dan lompat-lompat di siang hari yang sungguh terik tanpa rimbun pepohonan, kadang ketemu burung purba yang baru muncul setelah Lek Jo sampai ke poin 300-an (kadang lebih awal) dan kadang pula nabrak kaktus sialan yang ternyata sungguh mematikan.

Nah, selain beberapa fakta tadi, ada fakta lain yang saya pelajari lebih dalam dan membuat saya rela lebih lama bermain bersama Lek Jo. Berikut adalah fakta lain dari game Lek Jo lompat setelah saya memainkannya selama dua jam.

Baca Juga:  Challenge di Football Manager Biar Nggak Bosan dengan Karier yang Datar-datar Aja

Fakta game Dinosaurus Google Chrome offline #1 Menit pertama adalah yang paling berat bagi Lek Jo

Yang paling membuat saya dan Lek Jo menderita adalah awal permainan. Aneh memang, padahal awal permainan pergerakan kaktus-kaktus jahat masih sangat pelan, pun Lek Jo seharusnya bisa lompat dengan gesit. Namun, entah saya yang ingin ngerjain Lek Jo atau gimana, di awal-awal permainan saya justru sering nabrak kaktus.

Barangkali saya memang ingin iseng kepada Lek Jo, tetapi pada kenyataannya yang menjadi penyebab adalah karena saya dan Lek Jo lebih senang dengan kaktus yang jalannya cepat. Gini, awal-awal permainan itu adalah masa adaptasi saya bersama Lek Jo dengan tempo yang lambat dan semakin tingi poinnya bakal semakin cepat. Karena masa transisi itulah saya sering kepeleset dan salah hitungan. Biasanya kalo di fase cepat, ada kaktus nongol saya akan memerintahkan Lek Jo lompat dan kaktus-kaktus akan terlewati. Tetapi jika di awal-awal permainan kadang saya lupa bahwa jalannya kaktus itu masih lambat. Jadi ya, saya nyuruh Lek Jo lompat, hasilnya beliau malah nyungsep ke kaktus tadi.

Perlu kalian ketahui bahwa kaktus dan burung-burung purba itu akan bergerak semakin cepat seiring bertambahnya poin. Ini yang menyebalkan karena membuat saya sering salah perhitungan, tetapi begitu kaktus dan burung semakin cepat, gerakan Lek Jo akan seirama dengan gerakan jari saya dan semakin lincah. Intinya, semakin cepet malah semakin gampang, dan perlu diketahui juga bahwa kecepatan kaktus dan burung-burung itu mentok saat menyentuh poin dua ribuan. Setelah itu kecepatannya akan sama terus sampai poin berapa pun yang mampu digapai. Dan ya, saat kecepatannya nggak nambah lagi—artinya sudah nyentuh level cepet banget—justru semakin gampang memprediksi kapan Lek Jo harus lompat dan kapan Lek Jo harus merunduk.

Perlu diketahui juga bahwa semakin cepat pergerakan kaktus dan burung, lompatan Lek Jo bakal semakin jauh. Di sanalah kelincahan jari saya diuji. Saat Lek Jo sedang di udara, saya bisa menekan tombol panah ke bawah biar Lek Jo langsung mendarat. Dan satu lagi, lompatan Lek Jo ini nggak main-main tingginya. Sebenarnya semua rintangan bisa diselesaikan dengan lompatan karena setinggi-tingginya burung terbang masih kalah tinggi sama lompatan Lek Jo.

Fakta game Dinosaurus Google Chrome offline #2 Hanya ada tiga makhluk di game ini

Hanya ada Lek Jo sang T-rex pengembara, kaktus-kaktus jahat, dan burung-burung pembawa malapetaka. Nggak akan ada yang lain. Mau poin kalian nyentuh seratus ribu, nggak bakal ada gajah raksasa, barisan tentara, tank, pesawat Star Wars, Thanos, Dementor, Voldemort, atau Donald Trump sekalian. Asli, nggak akan ada rintangan-rintangan aneh macam itu. Mentok hanya ada Lek Jo, kaktus, dan burung-burung.

Baca Juga:  Mengenal Realita Kehidupan Bareng Harvest Moon: Back To Nature

Fakta game Dinosaurus Google Chrome offline #3 Lek Jo adalah T-rex yang ringkih

Saat T-rex di luar sana digambarkan sebagai predator mengerikan dan menduduki rantai makanan paling atas, sungguh berbeda dengan Lek Jo. Beliao adalah T-rex yang kesepian, sendiri, merana, nggak punya pasangan, dan gampang jatuh saat nabrak kaktus. Sungguh, di balik desainnya yang mengerikan, beliau adalah pribadi yang lemah lembut.

Fakta game Dinosaurus Google Chrome offline #4 Musuh terbesar Lek jo adalah jari saya yang kepeleset

Musuh Lek Jo sang T-rex merana ini bukanlah kaktus maupun burung-burung, tetapi jari saya yang kepeleset atau rasanya gatel pingin ngetuk-ngetuk keyboard. Asli, saat kecepatan sudah maksimal dan nggak mungkin nambah lagi, dan poin sudah di atas dua puluh ribu, jari saya pasti gatel pingin nyoba ini itu. Pingin nyoba ganti posisi, pingin ganti ngeklik pake jempol, pingin ganti ngeklik pake jari kaki, macem-macem. Nah, inovasi-inovasi dan kekreatifan saya itulah yang justru berujung petaka untuk Lek Jo.

Fakta game Dinosaurus Google Chrome offline #5 Lek Jo bisa berevolusi menjadi Godzilla

Ketahuilah, jika kalian bisa menembus poin di atas 100 ribu, Lek Jo atau apa pun kalian menamai T-rex kesayangan kalian, bakal bisa berevolusi menjadi Godzilla. Iya, monster laut raksasa yang bisa nyemburin laser lewat mulutnya itu.

Nggak ding, bercanda.

Lek Jo akan tetap menjadi Lek Jo sang T-rex merana sekalipun ratusan ribu poin yang diperoleh. Kadang saya merasa iba dengan beliay. Ingin rasanya di akhir perjalanannya ada dinosaurus lain—T-rex betina, misalnya—yang ditemui Lek Jo, sehingga beliau memiliki pelipur lara.

Ah, malang sekali engkau, Lek Jo.

BACA JUGA Duh, Barista Sekarang kok Banyak yang Arogan ya? dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
17


Komentar

Comments are closed.