Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Saya Gen Z dan Bukan Bagian dari Generasi Cashless Society

Ade Vika Nanda Yuniwan oleh Ade Vika Nanda Yuniwan
7 Maret 2020
A A
Saya Gen Z dan Bukan Bagian dari Generasi Cashless Society
Share on FacebookShare on Twitter

Usia saya 22 tahun, yang jika saya cek di Google masih termasuk dalam kategori gen Z a.k.a generasi Z. Artinya, saya tergolong kawula muda kekinian yang sering dituduh generasi baby boomer sebagai generasi serba instan dan anti ribet. Sebenarnya, saya tidak merasa instan-instan amat. Kecurigaan ini muncul karena di antara beberapa teman sebaya saya, hanya saya yang bukan pengguna metode pembayaran cashless. Saya dinilai gen Z kudet. Baiq… baiq….

Setelah di-bully kudet, kesulitan lain pun saya alami di beberapa kesempatan. Saya yang masih mengandalkan sistem cash money harus berhadapan dengan tongkrongan yang bersistem pembayaran cashless. Tongkrongan dengan sistem cashless money ini benar-benar menyulitkan dan sama sekali tidak ramah konsumen dengan pembayaran konvensional macam saya. Lha gimana, wong kalau mereka kekurangan uang cash buat kembalian, mau nggak mau saya ngalah.

Selanjutnya adalah saya batal beli, atau kalau kebetulan saya dengan teman pengguna cashless money saya pinjam uangnya via aplikasi cashless money itu. Benar-benar bikin saya nggak berdaya! Padahal tidak menjadi bagian dari generasi cashless society mempunyai keuntungan tersendiri bagi saya. Buat kalian yang suka mem-bully mereka yang masih menggunakan sistem pembayaran cash money, beberapa hal ini perlu kalian ketahui.

#1 Cash money mengajarkan kita tentang pengelolaan uang secara tepat

Meskipun cashless money menjadi tren karena alasan praktis, bagi saya belajar mengelola keuangan dari sistem pembayaran cash money itu lebih berarti. Kita bisa menghitung nominal uang secara real dan aktual melalui cash money setelah melakukan sebuah transaksi. Kita akan tahu seberapa besar pengeluaran kita tiap bulan jika kita menggunakan cash money.

Misalnya, dalam satu bulan kita membuat budgeting sebanyak Rp500 ribu berupa cash money. Setiap transaksi yang kita lakukan menggunakan cash money bisa kita catat dengan detail Catatan Pengeluaran itu menjadi evaluasi keuangan per bulan supaya menjadi kendali kita untuk mengontrol keuangan.

Menggunakan cashless money yang bikin kalap karena promo diskonan, secara tidak langsung akan membuat pengeluaran sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Pertengahan bulan harus top-up lagi emangnya mau? Saya, sih ogah!

#2 Cash money mengajarkan kita menjadi pribadi yang hemat

Tau kan rasanya awal gajian? Apalagi kalau gajian berupa cash and fresh money. Uang ada di tangan setelah kerja keras selama satu bulan. Melihat uang hasil jerih payah selama satu bulan secara nyata terkadang akan menimbulkan perasaan eman alias sayang jika digunakan untuk hal-hal yang berbau hedon. Kalimat ugalnya sih, eman digawe njajan. Dari situ juga akan timbul keinginan untuk menabung.

Dorongan untuk menabung setiap bulan akhirnya akan menjadi kebiasaan setiap bulan setelah menerima gaji cash money. Ingat ya, Gaes, membiasakan diri untuk menabung itu perlu. Tabunglah uangmu di tempat yang tepat. Boleh celengan ayam, boleh dompet emak, boleh banget kalau nabungnya di bank. Serius deh, setahun kemudian bisa jadi kita punya uang cadangan untuk pengeluaran tidak terduga.

Baca Juga:

Toko Masih Terima Pembayaran Tunai di Zaman Serba Scan Bukan karena Cuci Uang, tapi karena Alasan Ini

Rasanya Sangat Sedih ketika Nenek Saya Dituduh Nggak Mau Bayar Roti Terkenal karena Nggak Bisa Pakai QRIS

#3 Cash money melatih kedisiplinan kita

Menjadi bagian dari generasi cashless society karena alasan keamanan memang sama sekali tidak salah. Tapi bagi saya, melakukan transaksi dengan sistem cashless money sama saja mempermudah uang melayang begitu saja. Kok bisa? Ya, kan uangnya hilang karena ada promo diskon makanan. Jadi, letak keamanannya di mana? Jelas ada di kedisplinan kita sendiri.

Dengan cash money, mau tidak mau kita merasa bertanggung jawab penuh terhadap semua pecahan uang. Cash money bisa membuat kita lebih waspada dan lebih menjaga dompet di tempat umum. Sederhananya begini, ketika kita memegang uang tunai, rasa waspada itu akan memicu kedisiplinan kita tanpa disadari. Kita bisa lebih mawas diri dengan adanya cash money.

#4 Cash money adalah cara untuk melestarikan gaya transaksi konvensional dan meningkatkan interaksi sosial

Tau kan awal mula dari kegiatan jual beli? Yap, barter! Soal barter, bukan berarti saya menyarankan transaksi jual beli seharusnya kembali ke zaman lampau di mana barter masih nge-hits. Bukan berarti juga saya menolak perubahan gaya transkasi karena arus modernisasi.

Cashless money adalah salah satu cara untuk tetap melestarikan gaya transaksi konvensional. Bayangin aja, kita hidup tanpa ada tawar menawar. Semua berlangsung begitu saja tanpa ada interaksi lebih lanjut antara penjual dan pembeli. Meskipun saya bukan pribadi yang ahli dalam hal tawar-menawar, tapi esensi dari pasar dan transaksi jual-beli justru terletak pada negoisasi. Di mana akan terjadi interaksi yang baik antara pedagang dan pembeli.

Jadi sekali lagi. Kalian gen Z yang bukan bagian dari generasi cashless society, itu sama sekali bukan kalian. Sebaliknya, kesalahan terletak pada mereka yang membuka usaha, tapi tidak ramah pada semua jenis konsumen terutama konsumen tanpa cashless money macam kita. Eh, saya, ding~

BACA JUGA Menciptakan Keribetan bagi Masyarakat Cashless atau tulisan Ade Vika Nanda Yuniwan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2021 oleh

Tags: cashless moneycashless societyuang tunai
Ade Vika Nanda Yuniwan

Ade Vika Nanda Yuniwan

Pekerja literasi yang mencintai buku, anak-anak, dan pendidikan. Suka berdiskusi sambil nulis ringan untuk isu-isu yang di sekelilingnya.

ArtikelTerkait

QRIS Cross-Border Memudahkan, Sekaligus Menyimpan Bahaya (Unsplash)

QRIS Cross-Border Pembayaran Lintas negara yang Memangkas Banyak Keribetan tapi Menyimpan Bahaya Jika Kamu Nggak Hati-hati

14 November 2025
Nggak Punya QRIS, Nenek Dituduh Nggak Mau Bayar Roti (Unsplash)

Rasanya Sangat Sedih ketika Nenek Saya Dituduh Nggak Mau Bayar Roti Terkenal karena Nggak Bisa Pakai QRIS

21 Desember 2025
Cashless Society, Kaum Ogah Ribet yang Bikin Orang Lain Ribet Terminal Mojok

Cashless Society, Kaum Ogah Ribet yang Bikin Orang Lain Ribet

17 September 2022
Toko Masih Terima Pembayaran Tunai di Zaman Serba Scan Bukan karena Cuci Uang, tapi karena Alasan Ini

Toko Masih Terima Pembayaran Tunai di Zaman Serba Scan Bukan karena Cuci Uang, tapi karena Alasan Ini

25 Januari 2026
QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

14 November 2025
Penipuan Pembayaran Melalui QRIS Semakin Banyak, Kenali Modus dan Pencegahannya

Penipuan Pembayaran Melalui QRIS Semakin Banyak, Kenali Modus dan Pencegahannya

23 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons)

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

19 Maret 2026
Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.