Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

Rendi oleh Rendi
14 November 2025
A A
QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di satu sisi, penggunaan QRIS semakin masif di era sekarang karena praktis. Tetapi di sisi lain, pedagang kecil mengalami kebingungan.

Pernah nggak sih kalian berdiri di depan sebuah warung kelontong, atau mungkin kedai kopi hidden gem yang baru viral di TikTok, dengan sebotol minuman dingin di tangan, lalu ketika sampai di meja kasir, terjadi sebuah dialog yang paling menentukan nasib peradaban umat manusia modern.

Dialog itu biasanya dimulai dengan pertanyaan polos dari si pembeli yang notabene adalah Gen Z, “Bisa QRIS, Kak?”

Lalu dijawab oleh si penjual, biasanya dengan nada sedikit merasa bersalah tapi juga pasrah, “Maaf, Dek, cash aja.”

Hening.

Dalam keheningan sepersekian detik itu, kita bisa melihat sebuah proses loading yang intens di mata si Gen Z. Otaknya berputar cepat. Dia sedang menimbang-nimbang. Antara menaruh kembali minuman itu ke kulkas sambil bilang “Oh, ya udah Kak, nggak jadi,” atau dia harus melakukan sebuah aktivitas purbakala yang sangat merepotkan yang bernama… mencari mesin ATM terdekat.

Generasi cashless

Inilah potret generasi kita hari ini. Sebuah generasi yang menjadikan smartphone sebagai organ tubuh tambahan. Sebuah generasi yang dompetnya mungkin masih ada, tapi fungsinya lebih banyak buat nyimpen KTP, SIM, sama kartu member Kopi Kenangan yang udah nggak pernah dipakai lagi. Uang tunai bagi mereka adalah sebuah konsep yang merepotkan. Sesuatu yang kotor, penuh kuman, gampang hilang, dan yang paling parah dari semuanya, butuh kembalian.

Ya, Tuhanku. Kembalian. Nggak ada yang lebih bikin cemas seorang Gen Z selain bayar kopi harga Rp20 ribu pakai uang Rp100 ribu di pagi hari. Rasa bersalahnya mengalahkan rasa bersalah pas lupa matiin lampu kamar mandi. Mereka merasa telah membebani si Mas Barista, seolah meminta uang kembalian Rp80 ribu itu adalah sebuah dosa sosial yang tak terampuni.

Baca Juga:

Surat untuk Pedagang yang Masih Minta Biaya Admin QRIS, Bertobatlah Kalian, Cari Untung Nggak Gini-gini Amat!

QRIS Memang Memudahkan, tapi Pembayaran Tunai Tetap Sah dan Tidak Boleh Ditolak!

Fenomena kemalasan kolektif inilah yang kemudian melahirkan sebuah tuntutan baru. Sebuah tekanan sosial yang halus, namun brutal bagi para pemilik usaha. Terutama mereka yang ada di segmen warung, toko kelontong, tukang bakso, atau ibu-ibu penjual gado-gado.

Siap-siap kehilangan pelanggan kalau tidak sedia opsi pembayaran dengan QRIS

Dulu, syarat buka warung itu gampang. Cukup punya tempat, punya barang dagangan, dan punya kalkulator buat menghitung. Sekarang? Nggak cukup. Konsumen baru yang didominasi oleh anak-anak muda ini punya syarat tambahan yang nggak bisa ditawar tawar. Warung Anda harus punya selembar kertas atau akrilik kecil bergambar kotak kotak hitam putih. Ya, QRIS.

Kalau warung Anda belum punya benda sakti itu, bersiaplah kehilangan pelanggan. Bersiaplah melihat calon pembeli yang udah di depan pintu, tiba-tiba memutar badan cuma karena mereka malas merogoh saku celana. Mereka lebih rela jalan kaki 500 meter lebih jauh ke Indomaret sebelah, yang harganya mungkin sedikit lebih mahal, cuma karena di Indomaret mereka bisa bayar pakai scan.

Ini bukan lagi soal efisiensi. Ini sudah jadi soal prinsip hidup. Prinsip hidup kaum rebahan yang menganggap segala sesuatu yang melibatkan aktivitas fisik lebih dari tiga klik adalah sebuah penderitaan.

Di satu sisi, kita nggak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Hidup di era digital memang memanjakan kita dengan kemudahan yang luar biasa. Mau makan tinggal pencet, mau transportasi tinggal geser, atau bayar tagihan tinggal tap. Semuanya serba instan. Uang tunai terasa seperti sebuah teknologi usang, seperti pager atau disket di zaman cloud storage.

Mencoba melihat fenomena “bayar pakai QRIS” dari kacamata pedagang kecil

Akan tetapi di sisi lain, coba kita lihat dari kacamata pedagang kecil. Sebut saja Ibu Valen yang sudah 20 tahun jualan pecel lele di pinggir jalan. Baginya, uang adalah lembaran kertas yang dia terima dari pelanggan, lalu detik itu juga dia pakai buat beli bahan baku ke pasar besok pagi. Uang adalah sesuatu yang berputar cepat, tunai, dan nyata.

Lalu datanglah teknologi QRIS ini. Ibu Valen mungkin tertarik, tapi dia bingung.

Pertama, dia harus punya smartphone. Oke, mungkin dia punya. Tapi smartphone itu harus terkoneksi internet. Kedua, dia harus daftar ke bank atau penyedia layanan. Itu butuh KTP, NPWP, dan serangkaian birokrasi yang mungkin bikin pusing. Ketiga, dan ini yang paling krusial, ada yang namanya MDR atau Merchant Discount Rate.

Bayangkan, Ibu Valen jual pecel lele Rp20 ribu. Kalau ada yang bayar pakai QRIS, uang yang masuk ke rekeningnya mungkin nggak utuh Rp20 ribu. Ada potongan sekian persen. Buat perusahaan besar, potongan itu receh. Tapi buat Ibu Valen yang untungnya mungkin cuma Rp3 ribu per porsi, potongan itu adalah harga bawang merah yang bisa dia beli.

Belum lagi soal pencairan dana. Uang yang di-scan hari ini, nggak selalu langsung masuk hari ini juga. Kadang butuh H+1. Lha, Ibu Valen mau belanja ke pasar subuh subuh pakai apa? Pakai screenshot transaksi berhasil? Tentu tidak, Ferguso. Tukang sayur di pasar maunya uang tunai yang bisa langsung dipakai beli bensin motor.

Maka, terjadilah perang batin. Warung warung dan toko toko kecil ini berada di persimpangan jalan yang dilematis. Mereka dipaksa beradaptasi oleh tuntutan Gen Z yang makin hari makin cashless. Tapi di saat yang sama, ekosistem digital ini belum sepenuhnya ramah sama model bisnis mereka yang butuh perputaran uang super cepat.

Tidak menyediakan opsi pembayaran QRIS = kuno

Gen Z menuntut kemudahan tanpa mau tahu keribetan di baliknya. Mereka cuma tahu scan, saldo terpotong, dan urusan selesai. Mereka nggak peduli soal MDR, soal H+1, soal Ibu Valen yang harus belajar internet banking di usia senja.

Akibatnya apa? Warung yang menolak menyediakan QRIS akan dicap kuno, ketinggalan zaman, dan nggak customer friendly. Mereka harus rela kehilangan segmen pasar yang paling konsumtif ini. Mereka harus pasrah ketika warung sebelah yang baru buka kemarin sore, yang jualannya biasa aja tapi udah pasang QRIS, tiba tiba lebih ramai.

Ini adalah sebuah evolusi paksa. Sebuah modernisasi yang didorong bukan oleh kesadaran si pemilik usaha, tapi oleh kemalasan kolektif konsumennya.

Pada akhirnya, suka atau tidak suka, uang tunai memang sedang menuju senjakalanya. Warung atau toko yang bersikeras hanya menerima cash mungkin masih bisa bertahan, tapi mereka akan berjuang sendirian di tengah gempuran zaman. Mereka harus menyediakan alternatif selain cash, bukan karena mereka mau, tapi karena mereka harus.

Karena di dunia yang serba digital ini, yang paling menakutkan bagi sebuah usaha bukanlah rugi. Yang paling menakutkan adalah menjadi tidak relevan. Dan paksaan untuk menyediakan QRIS, adalah cara paling brutal dari zaman ini untuk bilang, “Berubah, atau kamu selesai.”

Penulis: Rendi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3 Hal Merepotkan di Balik Pembayaran QRIS yang Nggak Disadari Banyak Orang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 November 2025 oleh

Tags: cashlesscashless societypedagangpembayaran QRISQRISwarung
Rendi

Rendi

Mahasiswa yang lebih percaya diskusi spontan di warung kopi daripada sidang pleno yang isinya saling cari muka dan lupa tujuan awal.

ArtikelTerkait

3 Risiko yang Akan Ditanggung Pedagang Judes

3 Risiko yang Akan Ditanggung Pedagang Judes

15 Januari 2024
Warung Soto Red Flag yang Sebaiknya Dihindari Pembeli Mojok.co

Warung Soto Red Flag yang Sebaiknya Dihindari Pembeli

3 Agustus 2024
Bertobatlah Wahai Kalian yang Mengucapkan QRIS Jadi Kyuris!

Bertobatlah Wahai Kalian yang Mengucapkan QRIS Jadi Kyuris!

7 Februari 2023
Tegal Tempat Merantau Paling Cocok untuk Orang Jogja, Banyak Kemiripannya! Mojok.co

3 Harapan Saya untuk Calon Wali Kota Tegal: Tertibkan Gelandangan, Bangkitkan Persegal!

15 September 2024
Cara Agar Dagangan Cepat Laris Gunakan Strategi Psikologis Ini Terminal Mojok

Cara Agar Dagangan Laris: Gunakan Strategi Psikologis Ini

26 Agustus 2022
Pedagang Tahu Tek yang Menaburkan Kerupuk sampai Menumpuk Punya Masalah Apa, sih? Bikin Orang Susah Makan Aja

Pedagang Tahu Tek yang Menaburkan Kerupuk sampai Menumpuk Punya Masalah Apa, sih? Bikin Orang Susah Makan Aja

4 November 2023
Muat Lebih Banyak
Tinggalkan Komentar

Terpopuler Sepekan

Derita Users Android, Nggak Pakai iPhone Terbaru eh Dikucilkan (Unsplash)

Android Bikin Saya Jadi Minoritas dan Dikucilkan, tapi Saya Bersyukur Bebas Utang dengan Tidak Memaksakan Diri Membeli iPhone

8 Desember 2025
Alasan Saya Bertahan dengan Mesin Cuci 2 Tabung di Tengah Gempuran Mesin Cuci yang Lebih Modern Mojok.co

Alasan Saya Bertahan dengan Mesin Cuci 2 Tabung di Tengah Gempuran Mesin Cuci yang Lebih Modern 

5 Desember 2025
5 Hal yang Mungkin Terjadi Setelah Netflix Resmi Mengakuisisi Warner Bros

5 Hal yang Mungkin Terjadi Setelah Netflix Resmi Mengakuisisi Warner Bros

8 Desember 2025
Bertanya dengan Nada Lembut pada Pengendara Motor yang Belok Dulu Baru Nyalain Lampu Sein, Kalian Ini Mikir Nggak Sih?

Bertanya dengan Nada Lembut pada Pengendara Motor yang Belok Dulu Baru Nyalain Lampu Sein, Kalian Ini Mikir Nggak Sih?

8 Desember 2025
3 Hal yang Jarang Orang Bicarakan Soal Rembang

3 Hal yang Jarang Orang Bicarakan Soal Rembang

6 Desember 2025
Pengalaman Nonton di CGV J-Walk Jogja: Murah tapi Bikin Capek

Pengalaman Nonton di CGV J-Walk Jogja: Murah tapi Bikin Capek

4 Desember 2025

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=HZ0GdSP_c1s

DARI MOJOK

  • Korupsi, Pangkal Penderitaan Buruh dan Penghambat Penciptaan Lapangan Kerja
  • Pengalaman Saya Menjadi Mahasiswa yang Jago Bertahan Hidup di UB, lalu Tiba-tiba Menjadi Pintar ketika Kuliah di UGM
  • Sepekan Lebih Warga di Bener Meriah Aceh Berjuang dengan Beras 1 Kilogram dan Harga BBM yang Selangit
  • Sayonara, JogjaROCKarta
  • Pentingnya Cadangan Pangan Beras di Daerah agar Para Pimpinannya Nggak Cengeng Saat Darurat Bencana
  • Liburan Menyenangkan di Obelix Hills Jogja, Nikmati Sunset Sambil Ngopi hingga Live Music di Akhir Pekan


Summer Sale Banner
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.