Saya Gen Z dan Bukan Bagian dari Generasi Cashless Society

Featured

Avatar

Usia saya 22 tahun, yang jika saya cek di Google masih termasuk dalam kategori gen Z a.k.a generasi Z. Artinya saya tergolong kawula muda kekinian yang sering dituduh generasi baby boomer sebagai generasi serba instan dan anti ribet. Sebenarnya saya tidak merasa instan-instan amat. Kecurigaan ini muncul karena di antara beberapa teman sebaya saya, hanya saya yang bukan pengguna metode pembayaran cashless. Saya dinilai gen Z kudet. Baiq… baiq….

Setelah di-bully kudet, kesulitan lain pun saya alami di beberapa kesempatan. Saya yang masih mengandalkan sistem cash money harus berhadapan dengan tongkrongan yang bersistem pembayaran cashless. Tongkrongan dengan sistem cashless money ini benar-benar menyulitkan dan sama sekali tidak ramah konsumen dengan pembayaran konvensional macam saya. Lha gimana, wong mereka kekurangan uang cash buat kembalian. Ya mau nggak mau saya ngalah.

Selanjutnya adalah saya batal beli, atau kalau kebetulan saya dengan teman pengguna cashless money saya pinjam uangnya via aplikasi cashless money itu. Benar-benar bikin saya nggak berdaya! Padahal tidak menjadi bagian dari generasi cashless society mempunyai keuntungan tersendiri bagi saya. Buat kalian yang suka mem-bully mereka yang masih menggunakan sistem pembayaran cash money, beberapa hal ini perlu kalian ketahui.

Pertama: cash money mengajarkan kita tentang pengelolaan uang secara tepat

Meskipun cashless money menjadi tren karena alasan praktis, bagi saya belajar mengelola keuangan dari sistem pembayaran cash money itu lebih berarti. Kita bisa menghitung nominal uang secara real dan aktual melalui cash money setelah melakukan sebuah transaksi. Kita akan tahu seberapa besar pengeluaran kita tiap bulan jika kita menggunakan cash money.

Misalnya, dalam satu bulan kita membuat budgeting sebanyak 500 ribu berupa cash money. Setiap transaksi yang kita lakukan menggunakan cash money bisa kita catat dengan detail Catatan Pengeluaran itu menjadi evaluasi keuangan per bulan supaya menjadi kendali kita untuk mengontrol keuangan.

Baca Juga:  Mempertimbangkan Percaya Pada Roy Kiyoshi Setelah 4 Ramalannya Betulan Kejadian

Menggunakan cashless money yang bikin kalap karena promo diskonan, secara tidak langsung akan membuat pengeluaran sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Pertengahan bulan harus top-up lagi emangnya mau? Saya sih ogah!

Kedua: cash money mengajarkan kita menjadi pribadi yang hemat

Tau kan rasanya awal gajian? Apalagi kalau gajian berupa cash and fresh money. Uang ada di tangan setelah kerja keras selama satu bulan. Melihat uang hasil jerih payah selama satu bulan secara nyata terkadang akan menimbulkan perasaan eman alias sayang jika digunakan untuk hal-hal yang berbau hedon. Kalimat ugalnya sih, eman digawe njajan. Dari situ juga akan timbul keinginan untuk menabung.

Dorongan untuk menabung setiap bulan akhirnya akan menjadi kebiasaan setiap bulan setelah menerima gaji cash money. Ingat ya gais, membiasakan diri untuk menabung itu perlu. Tabunglah uangmu di tempat yang tepat. Boleh celengan ayam, boleh dompet emak, boleh banget kalau nabungnya di bank. Serius deh, setahun kemudian bisa jadi kita punya uang cadangan untuk pengeluaran tidak terduga.

Ketiga: cash money melatih kedisiplinan kita

Menjadi bagian dari generasi cashless society karena alasan keamanan memang sama sekali tidak salah. Tapi bagi saya, melakukan transaksi dengan sistem cashless money sama saja mempermudah uang melayang begitu saja. Kok bisa? Ya kan uangnya hilang karena ada promo diskon makanan. Jadi, letak keamanannya di mana? Jelas ada di kedisplinan kita sendiri gais.

Dengan cash money mau tidak mau kita merasa bertanggung jawab penuh terhadap semua pecahan uang. Cash money bisa membuat kita lebih waspada dan lebih menjaga dompet di tempat umum. Sederhananya begini, ketika kita memegang uang tunai, rasa waspada itu akan memicu kedisiplinan kita tanpa disadari. Kita bisa lebih mawas diri dengan adanya cash money.

Keempat: cash money adalah cara untuk melestarikan gaya transaksi konvensional dan meningkatkan interaksi sosial

Tau kan awal mula dari kegiatan jual beli? Yap, barter! Soal barter, bukan berarti saya menyarankan transaksi jual beli seharusnya kembali ke zaman lampau di mana barter masih nge-hits. Bukan berarti juga saya menolak perubahan gaya transkasi karena arus modernisasi.

Baca Juga:  Dari Pengalaman Saya, Ada yang Lebih Penting dari Menyekolahkan Anak di Sekolah Mahal

Cashless money adalah salah satu cara untuk tetap melestarikan gaya transaksi konvensional. Bayangin aja, kita hidup tanpa ada tawar menawar. Semua berlangsung begitu saja tanpa ada interaksi lebih lanjut antara penjual dan pembeli. Meskipun saya bukan pribadi yang ahli dalam hal tawar-menawar, tapi esensi dari pasar dan transaksi jual-beli justru terletak pada negoisasi. Di mana akan terjadi interaksi yang baik antara pedagang dan pembeli.

Jadi sekali lagi. Kalian gen Z yang bukan bagian dari generasi cashless society, itu sama sekali bukan kalian. Sebaliknya, kesalahan terletak pada mereka yang membuka usaha namun tidak ramah pada semua jenis konsumen terutama konsumen tanpa cashless money macam kita. Eh saya ding~

BACA JUGA Menciptakan Keribetan bagi Masyarakat Cashless atau tulisan Ade Vika Nanda Yuniwan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
5


Komentar

Comments are closed.