Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Krisis Eksistensialis dan Nestapa Kehidupan Sarjana Sastra Inggris, Dikatain Mending Kursus Aja Udah Cukup ketimbang Kuliah

Mellyna Putri Diniar oleh Mellyna Putri Diniar
12 Januari 2024
A A
Sarjana Sastra Inggris Percuma Kuliah, Kursus Aja Udah Cukup (Unsplash)

Sarjana Sastra Inggris Percuma Kuliah, Kursus Aja Udah Cukup (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Begitu saya membuka mulut tentang latar belakang pendidikan, yaitu Sastra Inggris, tatapan menghakimi langsung muncul. Tatapan menyebalkan itu seolah berkata, “Ngapain, sih, mahal-mahal kuliah Bahasa dan Sastra Inggris kalau bisa kursus saja?” Menghujam dengan tajam.

Jujur, saya tidak mau ambil pusing. Kadang, saya hanya membalas dengan senyum dan mengafirmasi tanggapan mereka, “Iya, hehehe.”

Pamor orang yang literate (memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis) di Indonesia memang kerap disepelekan. Sejak bangku sekolah saja saya sudah sering mendengar ajakan untuk meningkatkan literasi, pentingnya literasi, dan menguasai literasi. 

Namun, ketika ingin melanjutkan pendidikan tinggi dan mengambil jurusan sastra, saya justru mendapatkan tatapan yang menghakimi. Tatapan itu seolah-olah menyiratkan bahwa saya sebaiknya memilih jurusan lain yang memiliki prospek kerja lebih bagus.

Ironisnya, poster dan spanduk tentang pentingnya literasi justru seolah hanya menjadi pajangan tanpa implementasi. 

Krisis eksistensialisme sarjana Sastra Inggris yang menyerang tanpa permisi

Saya tidak pernah menyesal memilih jurusan Sastra Inggris dan belajar selama 4 tahun tentang literatur. Kecintaan saya terhadap karya sastra menjadi motivasi. Selain itu, sebagai mantan jurusan IPA yang nilai Matematika-nya selalu di bawah KKM saat SMA, Bahasa dan Sastra Inggris menjadi penolong untuk menaikkan nilai rata-rata rapor agar tetap menyentuh angka di atas 85. Hal ini semakin membuat saya mantap dengan pilihan saya.

Tetapi jangan salah, melihat teman seperjuangan yang mengisi jurusan dengan prospek kerja tinggi dan langsung tergambar jelas jalan karirnya, membuat saya merasa gelisah tentang pilihan, makna, dan kebebasan hidup saya. Singkatnya fenomena itu adalah krisis eksistensial pertama saya dalam mempertanyakan pilihan yang sudah saya buat.

Tetapi, namanya jiwa muda, ya gas saja pikir saya waktu itu. Toh, fakta bahwa saya memilih jurusan berdasarkan bidang yang saya sukai akan membawa saya pada perjalanan yang tidak akan terlalu menderita. Motivasi karena mencintai Sastra Inggris sudah termasuk alasan kuat untuk saya agar tetap gas pol.

Baca Juga:

Kenapa Mahasiswa Jurusan Sastra Justru Jarang Jadi Penulis?

5 Tips supaya Tulisan Kalian Bisa Tembus Terminal Mojok

Ternyata tidak sesuai ekspektasi

Tahu tidak? Saya pikir dengan masuk ke jurusan Sastra Inggris, saya akan berada di lingkungan yang sama antusiasnya dengan karya sastra. Namun, ekspektasi saya yang idealis itu terpatahkan. Tidak sedikit kolega yang terpaksa kuliah di jurusan ini karena tidak diterima di pilihan pertama.

Jujur, saya merasa kecil hati. Saya tidak lagi merasa sebahagia saat tahu diterima lewat jalur SBMPTN. Namun, itu hanya sekedar fase. Setelahnya, saya jadi tahu bahwa manusia memang berbeda-beda. Tidak bisa dong saya mengharapkan semua orang harus antusias dan senang saya saat diterima di jurusan Sastra Inggris.

Menjadi mahasiswa Sastra Inggris dari kacamata seorang yang memang sudah mencintai sastra akan berbeda cerita dengan mahasiswa yang terpaksa. Bagi saya, karya sastra itu penting untuk dibaca, dipelajari, dan diselami isinya sampai timbulah diskusi tentang karya tersebut. 

Melihat sebuah karya dalam bentuk prosa, puisi, lagu, film, bahkan teatrikal drama membuat saya seolah bertransformasi menjadi tokoh utama di dalamnya. Hal itu membuat saya merasa… hidup. Memang terkesan lebay, tapi itulah adanya.

Terus pas lulus jadi apa?

Saat kelulusan tiba saya dilepas di “hutan belantara” untuk melakukan perburuan liar mencari mangsa (dunia kerja). Fase itu saya lalui dengan penuh makna. Bagi saya, tidak ada kebetulan di dunia ini. Jika sesuatu sudah ditakdirkan untuk kita, maka itu akan terjadi, meskipun kita hanya berdiam diri sambil bengong. 

Pola pikir inilah yang akhirnya membuat saya mencoba berbagai jenis pekerjaan. Mulai dari menyadur cerita, menerjemah, mencari kandidat, mengevaluasi media sosial, hingga menjadi konsultan pendidikan. Meskipun saya tidak memiliki latar belakang pendidikan, saya percaya bahwa saya bisa belajar dan berkembang.

Usaha dan latar belakang Sastra Inggris yang mengantarkan saya untuk mencicipi semua itu, bukan orang dalam. Semua rezeki dan kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan terjadi atas kuasa Tuhan dan usaha saya sendiri. 

Menjadi lulusan serba bisa

Namun, desas-desus tentang ketidakbahagiaan orang akan selalu sampai ke telinga kita. Ada yang sampai blak-blakan mengutuk dan bingung, “Dengan gelar sarjana Sastra Inggris, saya tidak tahu akan membawanya ke mana selain untuk mengapresiasi film dan novel.” Pernyataan itu membuat saya kadang merasa relate, namun juga kurang setuju.

Kenapa? Bukan hanya teori, saat kuliah kita juga dituntut serba bisa dalam penguasaan teknologi untuk memperkaya portofolio. Dari teori subaltern Spivak hingga business writing, kami didesain untuk menjadi lulusan yang adaptif tanpa melupakan inti utama, yakni menghargai dan mengapresiasi sebuah karya seni, dalam bentuk apa pun. 

Jadi, apapun bidang kita, entah penerjemah, interpreter, penulis, atau bahkan jauh dari keilmuan kesastraan, kita diharap untuk tidak melupakan pentingnya mengapresiasi dan duduk sejenak menikmati karya sastra.

Seperti kutipan P.T. Barnum yang berbunyi, “Literature is one of the most interesting and significant expressions of humanity.” Yang artinya sastra adalah salah satu ekspresi kemanusiaan yang paling menarik dan signifikan. Hal ini semakin mengafirmasi keyakinan saya bahwa manusia terobsesi dengan mewujudkan imajinasinya lewat karya, salah satunya lewat karya sastra.

Tahukah Anda bagaimana nenek moyang kita dari zaman batu memproduksi karya tulisan dan lukisan yang mereka gambar di dinding-dinding gua? Hal ini membuktikan bahwa manusia telah melakukan segalanya untuk membuat imajinasinya semakin nyata selama berabad-abad, dari lukisan gua hingga Imax. 

Mungkin, kata obsesi dapat menggambarkan keadaan ini. Namun, menurut saya, bukan obsesi, melainkan lebih kepada naluri alami manusia untuk berekspresi. Apapun perwujudannya, pasti ada minimal satu orang yang terkoneksi dan mengetahui pesan di balik diciptakannya sebuah karya sastra, termasuk lulusan Sastra Inggris

Penulis: Mellyna Putri Diniar

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 3 Pandangan Umum yang Keliru tentang Jurusan Sastra Inggris

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2024 oleh

Tags: bahasa dan sastrabahasa dan sastra inggrisjurusan sastra inggrispenerjemahPenulisprofesi lulusan sastraprofesi lulusan sastra inggrissarjana sastraSastrasastra inggrisstigma sarjana sastra
Mellyna Putri Diniar

Mellyna Putri Diniar

Menulis sejak 2019, content writer ndakik-ndakik ini hidup dari skeptisisme dan riset lewat baca, baca, dan baca. Menulis di irisan pop kultur digital absurd, dengan prinsip no sugarcoat, no bullshit. Percaya bahwa menulis adalah bentuk perlawanan paling nyata.

ArtikelTerkait

Derita Mahasiswa yang Masuk Jurusan Sastra Indonesia sebagai Pilihan Kedua, Selalu Dipandang Sebelah Mata Mojok.co

Lulusan Sastra Indonesia Dianggap Susah Dapat Kerja? Ah, Nggak Juga, kok

25 Juli 2024
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Itu Luas, Nggak Melulu Bikin Puisi, Pantun, apalagi Quotes! Mojok.co

Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Itu Luas. Nggak Melulu Bikin Puisi, Pantun, apalagi Quotes!

7 Desember 2023
Skripsi souvenir informan Perhatikan 5 Hal Ini Kalau Nggak Mau Ditolak Responden Penelitian terminal mojok.co

4 Alasan Kenapa Mahasiswa Sastra Mudah Punya Pacar

3 Mei 2019
Unpopular Opinion: Belajar Bahasa Inggris lewat Lagu Itu Nggak Recommended

Unpopular Opinion: Belajar Bahasa Inggris lewat Lagu Itu Nggak Recommended

12 Agustus 2022
grammar yang baik code switching skor toefl 550 aplikasi belajar bahasa inggris grammar toefl bahasa inggris cara belajar bahasa inggris mojok.co

Meski Akses Banyak, Tetap Saja Dapat Skor TOEFL 550 Itu Susah

22 Mei 2021
Kerja Sampingan Jadi Penulis Boleh Saja, tapi Jangan Kerja Sembarangan

Kerja Sampingan Jadi Penulis Boleh Saja, tapi Jangan Kerja Sembarangan

23 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.