Interpreter dan Translator, Serupa tapi Tak Sama – Terminal Mojok

Interpreter dan Translator, Serupa tapi Tak Sama

Artikel

Nggak perlu saya jelaskan, kita pasti tahu apa itu penerjemah. Namun, yang kadang orang tidak tahu adalah penerjemah itu ada jenisnya lagi. Penerjemah sendiri terbagi menjadi dua yaitu penerjemah tulisan atau translator yang hanya menerjemahkan tulisan/ teks dalam suatu dokumen dan penerjemah lisan atau interpreter yang menerjemahkan secara lisan. Penerjemah lisan biasanya lebih memerlukan banyak konsentrasi dan keahlian bahasa yang akan diterjemahkan.

Oleh karena waktu untuk menerjemahkannya sangatlah pendek, interpreter mendengar perkataan dari narasumber dengan seksama, lalu kemudian pada saat itu juga memproses terjemahannya dan mengatakannya kepada orang yang membutuhkan terjemahan. Oleh karena itu, biasanya penghasilan yang didapatkan interpreter jauh lebih besar dibanding penghasilan translator.

Kesulitan penerjemahan lisan adalah terkait dengan kecepatan si narasumber dalam berbicara. Bahkan jika berdasarkan banyaknya bahasa yang diterjemahkan, penerjemah tulisan tentu masih bisa melakukan penerjemahan dengan baik, karena waktu yang diberikan lebih lama.

Seorang penerjemah lisan yang terlalu lama dalam menerjemahkan suatu bahasa akan menimbulkan kegelisahan bagi si narasumber, karena kata-kata yang keluar atau penjelasan yang harusnya langsung sampai ke audiens menjadi tersendat. Apalagi jika si penerjemah lisan ini salah menerjemahkan suatu perkataan si narasumber. Akan timbul ketidakpercayaan si narasumber pada penerjemah. Ia dianggap tidak profesional dan kurang mumpuni serta tidak bertanggung jawab.

Berbeda dengan penerjemah tulisan atau translator yang tentu saja jika berbuat kesalahan tulisan akan bisa langsung diperbaiki atau diedit. Sebab, tulisan masih bisa dilihat kembali dan dapat dicari bagian mana yang salah dan perlu diperbaiki. Untuk lebih jelasnya bagaimana bentuk terjemahan tulisan dan lisan. Berikut ini adalah penjelasannya.

Pernah nggak kita melihat tulisan di bawah layar film yang merupakan bentuk terjemahan dari bahasa yang digunakan dalam film tersebut. Nah, tulisan itu adalah subtitle. Ketika nonton drama Korea atau film barat yang ada di laptop, ada tulisan bahasa Inggris atau bahasa Korea ditambah dengan arti bahasa Indonesianya, atau langsung bahasa terjemahannya saja misalnya bahasa Indonesianya.

Kalian pasti bertanya-tanya atau mungkin kagum sama orang-orang di balik layar dengan kemampuan bahasanya itu mampu membuat terjemahan yang begitu banyak dan pastinya sulit. Kita saja yang kalau disuruh nerjemahin sesuatu itu pakai aplikasi atau lihat kamus, butuh waktu yang sangat lama atau bisa dibilang nggak terlalu akurat.

Gimana dengan mereka yang mampu menerjemahkan suatu bahasa di film yang berdurasi ngga sebentar ini ke dalam bahasa Indonesia dengan akurat. Apalagi kalau itu drama Korea, nggak kebayang gimana mereka menerjemahkan setiap bahasa Korea di setiap episodenya, yang setiap satu episode saja bisa banyak banget kalimat yang harus diterjemahkan.

Sebenarnya bukan berarti si translator ini nggak pakai aplikasi atau kamus sih, mereka juga mungkin menggunakan aplikasi penerjemah. Tapi, menggunakan alat tentu saja nggak akan sebagus terjemahan manusia karena tingkat keakuratan belum tentu benar.

Misalnya saja perkataan dalam bahasa Inggris di film Harry Potter dan ekspresi yang ditampilkan pemain di film harus selaras. Terjemahan harus mendeskripsikan kata-kata yang dilontarkan si pemain film tanpa menghilangkan bagian-bagian penting dari percakapan tersebut. Selain itu tidak boleh terlalu panjang atau terlalu pendek, intinya harus sesuai dan cocok dengan adegan percakapan di film tersebut.

Sebagai contoh kalau kalian sering nonton film yang ada tulisan diterjemahkan oleh “Lebah Ganteng” atau “Pein Akatsuki” atau penerjemah lainnya. Nah, itu lah mereka yang ada di balik layar terjemahan suatu film. Kita biasanya bisa melihat hasil kerja keras mereka dalam menerjemahkan suatu bahasa di beberapa film luar ke dalam bahasa Indonesia.

Tentu saja masih banyak translator lainnya yang juga berbakat dalam hal penerjemahan. Tapi, keduanya yang mungkin paling kita kenal kiprahnya. Kalau translator kita punya nama-nama yang terkenal walaupun sosoknya nggak diketahui. Beda halnya dengan interpreter yang mungkin jarang terekspos oleh pemberitaan atau masyarakat luas.

Interpreter adalah seseorang yang wajib ada ketika acara yang melibatkan artis luar negeri. Oleh karena sifat acara yang penting, maka penggunaan interpreter jadi vital dalam acara ini. Misal acara yang mengundang artis luar negeri dan disiarkan lewat stasiun TV lokal, mau tidak mau butuh penerjemah agar kepentingan dan pesan dari kedua pihak terakomodir.

Apalagi banyak artis Korea yang mengadakan konser atau acara lainnya di Indonesia karena dinilai jadi tempat pemasaran yang menguntungkan. Sebut saja konser Super Junior, SMTown, BTS, NCT Dream, AB6IX, Stray Kids atau Fan Meeting Park Ji Hoon, Ji Chang Wook, dan masih banyak lagi. Tidak hanya bertemu, kalian bahkan bisa berbicara dan berfoto dengan mereka.

Kalau ingin melihat bagaimana interpreter bertugas, kamu bisa nonton film The Interpreter (2005) yang dibintangi aktris cantik Nicole Kidman. Dalam film itu, Kidman memerankan karakter Sylvia Broome, seorang interpreter untuk institusi internasional di PBB. Dari film tersebut kita bisa belajar bagaimana kerja seorang Interpreter.

Profesi sebagai interpreter bukanlah seperti penerjemah tulisan yang punya tenggat waktu longgar, bisa buka kamus, internet ,atau bertanya. Mereka harus bekerja cepat, mendengarkan si narasumber lalu menyampaikan apa yang dikatakannya kepada pendengar. Para interpreter membutuhkan waktu untuk mempelajari materi, bahan pertanyaan atau jawaban yang akan diucapkan oleh si narasumber dalam suatu acara.

Pekerjaan ini juga memiliki kode etik dan aturan. Tugas si penerjemah hanya menerjemahkan dan akan melupakan isi materinya setelah tugas mereka selesai. Artinya kita tidak boleh menyimpan materi terjemahan dan memberitahukan kepada orang lain, cukup untuk diri kita sendiri. Tidak boleh memotong pembicaraan si narasumber, dan tahu kapan narasumber berhenti bicara, jadi kita tidak boleh hilang fokus.

Secara singkat perbedaan keduanya terletak pada materi yang diterjemahkan. Translator identik dengan menerjemahkan file, data, maupun bahasa ke dalam format yang diinginkan klien atau perusahaan dimana dia bekerja. Sedangkan interpreter menerjemahkan secara lisan atau langsung ucapan seorang dari kedubes asing, interpreter artis dari berbagai negara, dan wawancara dalam premier film asing. Bisa diartikan bahwa interpreter adalah seorang yang berhubungan dengan politik dan kekuasaan lewat bahasa. Ngeri.

Susah senangnya menjadi seorang translator atau interpreter pasti ada, tetapi semua itu akan berjalan seimbang dengan apa yang dikerjakan, misalnya saja tidak hanya mendapatkan bayaran yang lumayan. Seorang penerjemah bisa jadi orang yang percaya diri, karena hanya kalian yang mengerti bahasanya, jadi hanya kalian yang dapat mengutarakan kepentingan narasumber. Tak melulu soal bayaran, ketika kita menyukai pekerjaan tersebut, rasa lelah dan kesulitan yang dialami pasti akan berlalu begitu saja.

BACA JUGA Pesan Positif dalam Lagu BTS Jadi Tren Baik untuk Generasi Muda dan tulisan Shifa Kurniati Putri lainnya.

Baca Juga:  Dalam Politik, Jangan Percaya Dukun 100% jika Tidak Mau Kecewa
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.