Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Kenapa Mahasiswa Jurusan Sastra Justru Jarang Jadi Penulis?

Izza Nadiya Hikma oleh Izza Nadiya Hikma
25 Oktober 2025
A A
Mahasiswa Jurusan Sastra Adalah Sengenes-ngenesnya Mahasiswa, Kerap Direndahkan hingga Disuruh Pindah Jurusan

Mahasiswa Jurusan Sastra Adalah Sengenes-ngenesnya Mahasiswa, Kerap Direndahkan hingga Disuruh Pindah Jurusan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Teruntuk kalian para pembaca buku yang budiman, pasti sadar bahwa jarang sekali ada penulis—apalagi yang terkenal—yang berasal dari lulusan Sastra Indonesia (atau sastra apalah itu). Padahal, secara logika, mestinya kamilah, anak jurusan Sastra Indonesia yang paling siap menulis karena sudah kenyang teori, analisis, dan diksi.

Tapi kenyataannya, penulis-penulis besar banyak datang dari jurusan lain: teknik, hukum, ekonomi, filsafat, atau bahkan kedokteran.

Sebagai salah satu lulusan Sastra Indonesia dari sebuah PTN lumayan beken di negeri ini, izinkan saya mewakili teman-teman Sasindo (singkatan untuk Sastra Indonesia) lain untuk mengutarakan beberapa alasan mengapa hal itu bisa terjadi.

Tidak semua anak Sastra itu suka nulis

Aneh tapi nyata. Banyak dari kami masuk jurusan sastra bukan karena cinta menulis, tapi karena… nyasar saat daftar kuliah.

Ada yang niatnya masuk komunikasi, eh salah klik waktu isi SNMPTN atau SBMPTN. Ada juga yang sering menjadikan jurusan Sastra Indonesia ini pilihan kedua. Katanya sih biar cari aman, yang penting universitasnya bagus. Ada pula yang mikir “kuliah sastra pasti banyak baca novel”. Eh malah ternyata yang dibaca malah teori strukturalisme dan semiotika yang bikin kepala ngebul.

Bahkan ada yang suka sastra tapi alergi menulis. Mereka lebih nyaman membedah karya orang lain daripada menulis karya sendiri. Contohnya ya saya sendiri hehehe.

Kami tidak dididik menjadi seorang penulis

Jurusan sastra itu tidak sama dengan sekolah menulis. Kami belajar teori sastra, linguistik, dan kritik, bukan teknik storytelling atau pengembangan karakter. Yang kami kuasai justru analisis karya, bukan produksi karya. Bahkan mata perkuliahan kepenulisan pun hanya ada satu yaitu Penulisan Kreatif, itupun termasuk matkul peminatan, bukan matkul wajib yang harus diikuti semua mahasiswa.

Ibarat belajar masak, kami tahu bumbu dan proses kimianya, tapi jarang dikasih kesempatan buat benar-benar turun ke dapur. Jadinya, ketika disuruh bikin karya sendiri, banyak yang bingung mulai dari mana.

Baca Juga:

Menyesal Masuk Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia? Wajar, tapi Saya Yakin Kamu Akan Berubah Pikiran Setelah Membaca Ini

Derita Fresh Graduate Sastra Indonesia: Kenapa Lowongan Kerja Seolah Cuma Cari Anak IT?

Terlalu banyak pertimbangan, tulisan jadi nggak kelar-kelar

Saking seringnya membedah karya orang lain, kami jadi terlalu sadar soal unsur-unsur teknis yaitu diksi, gaya bahasa, alur, sudut pandang, sampai wacana gender. Akhirnya setiap kali menulis, otak kami otomatis aktif jadi editor. Belum satu paragraf, sudah backspace lima kali.

Penulis yang dari luar jurusan Sastra Indonesia (dan sastra lain) mungkin langsung menulis dengan lancar, sementara kami masih berdebat dengan diri sendiri: “Kalimat ini sudah efisien belum, ya? Ini metaforanya terlalu patriarkis nggak?” Akhirnya tulisan yang harusnya jadi cerpen romantis malah berubah jadi makalah analisis wacana.

Anak sastra hidup di dunia yang penuh kesadaran bahasa. Kami tahu kata bisa jadi alat perlawanan, tapi juga alat penindasan. Jadi setiap menulis, kami seperti sedang membawa bom makna yang bisa meledak ke mana saja.

Kesadaran ini memang keren, tapi efek sampingnya: kami jadi takut salah. Takut menyinggung, takut dianggap bias, takut belum cukup tajam. Dan ketakutan ini sering kali membunuh spontanitas menulis.

Dunia kerja anak sastra sering nyasar ke arah lain

Setelah lulus, banyak dari kami yang bekerja di bidang yang tidak ada hubungannya dengan sastra. Ada yang jadi content writer, admin media sosial, staf HRD, guru les anak SD, design grafis, staf administrasi, atau bahkan yang paling umum adalah pegawai bank. Kami memang diajari membaca dan mengkritisi suatu tulisan, tapi realitas hidup mengajarkan bahwa listrik dan cicilan tidak bisa dibayar dengan puisi.

Lama-lama, kemampuan menulis sastra pun bergeser jadi kemampuan menulis copywriting, jadi content writer, reporter, dan lain sebagainya. Tetap menulis, sih, tapi bukan yang dulu kami bayangkan.

Kebanyakan baca, tapi jarang berani terbit

Anak sastra itu pembaca ulung. Tapi justru karena banyak baca, kami tahu betapa bagusnya tulisan orang lain dan itu bikin minder. Kami sadar tulisan sendiri belum selevel Pram, Leila S. Chudori, atau Eka Kurniawan.

Akhirnya setiap kali mau kirim naskah, muncul pikiran, “Nanti dibilang norak nggak, ya?” Sementara orang di luar sastra yang nggak mikir sejauh itu, malah dengan berani mengirim dan eh malah diterbitkan. Kadang, keberanian memang lebih penting daripada teori naratologi.

Jadi, kalau kamu bertanya kenapa banyak sastrawan lahir bukan dari jurusan Sastra, jawabannya sederhana: kami, anak-anak sastra, terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara menulis yang benar, sementara mereka yang bukan anak sastra sudah lebih dulu menulis.

Dan pada akhirnya, dunia menulis tidak peduli kamu lulusan apa. Yang penting ya kamu menulis. Dah, itu aja.

Penulis: Izza Nadiya Hikma
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jurusan Sastra Bisa Kerja di Mana Saja, dan Tersesat Kerja di Mana Saja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2025 oleh

Tags: jurusan sastrakemampuan menulis mahasiswa sastraPenulispenulis besar di indonesiaSastra Indonesia
Izza Nadiya Hikma

Izza Nadiya Hikma

Lulusan Sastra Indonesia UNDIP. Saat ini bekerja di Mojok.co sebagai staf Event Activation. Suka kucing dan membaca.

ArtikelTerkait

5 Hal Dasar yang Perlu Diperhatikan supaya Tulisan Kalian Bisa Tembus Terminal Mojok Mojok.co

5 Tips supaya Tulisan Kalian Bisa Tembus Terminal Mojok

5 November 2024
Sisi Gelap Penulis Novel Online: Syaratnya Gila-gilaan, Persaingan Makin Ketat

Sisi Gelap Penulis Novel Online: Syaratnya Gila-gilaan, Persaingan Makin Ketat

3 Agustus 2023
Jurusan Sastra Indonesia: Fakta dan Stereotip Goblok yang Disematkan kepada Mahasiswa Sasindo

Jurusan Sastra Indonesia: Fakta dan Stereotip Goblok yang Disematkan kepada Mahasiswa Sasindo

23 Oktober 2023
Memasuki Era Penulis Serba Ada dan Serba Bisa MOJOK.CO

Memasuki Era Penulis Serba Ada dan Serba Bisa

23 Juli 2020
warung kopi

Ke Warung Kopi: Pamitnya Ngopi, Tapi Pesannya Teh Jumbo

28 Mei 2019
Derita Mahasiswa yang Masuk Jurusan Sastra Indonesia sebagai Pilihan Kedua, Selalu Dipandang Sebelah Mata Mojok.co

Lulusan Sastra Indonesia Dianggap Susah Dapat Kerja? Ah, Nggak Juga, kok

25 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stop Geber-Geber Mesin di Pagi Hari! Itu Hal Konyol dan Malah Bikin Mesin Rusak, Ini Cara Memanaskan Motor yang Benar

Stop Geber-geber Mesin di Pagi Hari! Itu Hal Konyol dan Malah Bikin Mesin Rusak, Ini Cara Memanaskan Motor yang Benar

18 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

16 April 2026
4 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan ke Mahasiswa Universitas Terbuka mahasiswa UT kuliah di UT

Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

20 April 2026
Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Itu Maju ya, Gaes, Bukan Desa Tertinggal dan Tak Tersentuh Peradaban seperti yang Ada di Pikiran Kalian!

17 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.