Sarjana Pendidikan Ikan: Ketika Sarjana Perikanan Ambil Pendidikan Profesi Guru – Terminal Mojok

Sarjana Pendidikan Ikan: Ketika Sarjana Perikanan Ambil Pendidikan Profesi Guru

Featured

Satu tahun yang lalu tepatnya pada bulan November 2018 saya mendapatkan rezeki untuk melanjutkan studi pascasarjana. Bukan S2 apalagi S3 (red: estri a.k istri), melainkan pendidikan profesi guru. Sebagian orang bingung dengan bidang yang saya ambil, karena melihat basic pendidikan strata satu saya dibidang perikanan dengan kosentrasi jurusan Akuakultur.

Mengingat selama ini belum ada sejarahnya ilmu tentang perikanan ada lanjutan studi profesinya, saya sebagai pelaku takdir ini pun juga sempat merasa bingung. Apakah pendidikan profesi guru yang saya ambil betulan ada dalam jenjang pendidikan, atau saya sedang masuk jebakan batman lagi? Mengingat dulu sempat merasa salah jurusan saat ambil perikanan hehehe.

Profesi guru di bidang perikanan masih terdengar asing di kalangan masyarakat, bahkan dalam golongan orang perikanan itu sendiri. Pendidikan pascasarjana yang satu ini memang fokus di bidang pendidikan dan jauh sekali membahas tentang para ikan. Ya, kecuali kalau namanya sudah disandingkan dengan perikanan menjadi Profesi Guru Perikanan.

Dulu saat masa Majapahit, eh nggak ding, maksudnya saat belum ada program studi Pendidikan Profesi Guru, orang-orang yang memiliki basic pendidikan ilmu murni yang ingin menjadi guru harus mengikuti pendidikan Akta IV. Melalui Akta IV inilah mereka bisa disetarakan dengan sarjana pendidikan. Namun, setelah tahun 2013 Akta IV tidak digunakan lagi sebagai sertifikat mengajar dan digantilah dengan Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Setelah lulus PPG, saya banyak terlibat dengan berbagai perbincangan menarik dengan gelar yang saya dapat. Tepat dibagian belakang gelar sarjana, saya mendapatkan tambahan huruf Gr. sebutan untuk profesi guru. Jadi, yang semulanya hanya S.Pi saja menjadi S.Pi.,Gr. Alangkah menggemaskan gelar ini karena kata-kata Gr. serasa tidak lepas dengan citra kosakata ge-er alias gede rasa.

Baca Juga:  Ketika Kebijakan P3K Membuat Sarjana Pendidikan Patah Hati

Terlalu jarangnya gelar ini diketahui oleh masyarakat membuat orang-orang suka ngide mengartikannya. Pernah suatu ketika saya terlibat pembicaraan dengan seorang bapak-bapak di stasiun, spontan beliau  mengatakan kepanjangan dari S.Pi.,Gr itu bisa jadi adalah Sarjana Pendidikan Ikan. Respon awal yang bisa saya tunjukan hanya bengong, masih berusaha berpikir. Baru setelah beberapa menit saya tertawa menyadari memang sepertinya Sarjana Pendidikan Ikan lebih pas dari pada Profesi Guru sarjana perikanan. Terlihat lebih sederhana dan mudah diingat.

Lalu mau ngapain dengan tambahan gelar profesi guru di bidang perikanan? Mau ngajarin ikan-ikan berenang? Alih-alih mengajarkan ikan berenang, di bidang ini malah akan mendalami bagaimana cara menghidupkan ikan, alias membuat ia bertumbuh, berkembang dan beranak pinak yang menghasilkan cuan.

Sesuai sebutannya sebagai guru, lulusan ini dipersiapkan untuk memberikan pendidikan di bidang perikanan atau sebagai guru SMK perikanan. Sekarang sudah bisa diambil benang merah antara PPG dan sarjana perikanan. Pendidikan strata satu dibidang perikanan menjadi landasan utama dalam menguasai bidang perikanan secara profesional. Sedangkan PPG akan mem-backup pengetahuan seseorang terhadap segala tetek bengek persoalan pendidikan. Entah, secara administrasi dan yang jelas keprofesian dalam mengajar anak-anak.

Adanya PPG Perikanan ini sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan guru produktif di tingkat SMK. Mengingat program studi pendidikan perikanan masih sangat jarang di buka oleh universitas di Indonesia. Mau tidak mau guru perikanan harus direkrut dari non-pendidikan/ilmu murni, sedangkan dalam jurusan tersebut tidak pernah diajarkan tentang cara mengajar di depan kelas. Yang ada kami membuat skema pengajaran pada ikan-ikan untuk tumbuh subur dan makmur.

Baca Juga:  Mari Merayakan Valentine dengan Memberi Hadiah pada Diri Sendiri

Setelah mengikuti PPG saya baru sadar ternyata menjadi seorang guru itu bukan sekedar datang, memberi materi, ngasih tugas dan menilai sesuai mood, layaknya jadi asisten dosen dulu dengan mengobservasi kira-kira nih anak rajin apa sebaliknya, bisa dijadiin gebetan atau nggak, eh!

Jauh dari bayangan itu semua, sob! Tidak tanggung-tanggung seorang guru harus memiliki empat kemampuan dalam menjalani profesinya. Pertama, kemampuan pendagogik merupakan keahlian seorang guru dalam mengembangkan kurikulum serta, manajemen kelas yang berkaitan dengan kegiatan proses belajar mengajar.

Kedua, kompetensi kepribadian yaitu guru harus bisa menjadi tauladan. Mampu menampilakan diri sebagai orang yang mengayomi, dewasa, arif dan bijaksana. Itu mengapa ada istilah guru itu adalah orang yang digugu dan ditiru.

Ketiga, kompetensi sosial yaitu seorang guru mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan, dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang tua murid maupun siswa itu sendiri. Dan yang paling penting yaitu tidak membedakan-bedakan siswa baik secara ras, jenis kelamin, agama dan lain-lain.

Keempat, yaitu kemampuan profersional. Bagi lulusan ilmu murni tidak perlu diragukan lagi soal ini, ibaratnya mereka pasti sudah menjadi profersional dibidangnya masing-masing.

Empat kompetensi guru itulah yang membuat para lulusan S.Pi.,Gr mampu melaksanakan tugasnya sebagai guru profersional. Sehingga mereka tidak hanya sekedar mengajar atau istilahnya mentransfer ilmu saja, melainkan juga mendidik siswa dalam membangun karakter dan kepribadian anak.

Apalagi yang dihadapi para guru produktif ini adalah anak SMK yang memiliki karakter cukup istimewa. Membuat para guru harus mampu berinovasi dan kreatif dalam membangun atmosfer semangat belajar. Ya, meskipun tidak semua anak SMK memiliki image “sesuatu” yang sudah tersebar di mata masyarakat, bagi saya siswa SMK tetaplah berbeda karena berkaitan dengan kegiatan pembelajarannya yang didominasi dengan praktik.

Baca Juga:  Mempertanyakan Alasan Ngeteh yang Seolah Kalah Pamor dari Ngopi

Anak-anak yang sudah memilih mendalami ilmu perikanan sejak dibangku sekolah menengah, juga memiliki hak untuk mendapatkan pengajaran dari guru yang berkualitas. Tidak hanya berkompeten dibidang profersional, tetapi juga mampu dalam mendidik. Jiwanya harus dibangun agar kuat dalam mengarungi bahtera kerasnya kehidupan duniawi ini. Pengetahuan mereka harus berkembang selain kemampuan memahami kegiatan penangkapan, budidaya, pengolahan serta bisnis perikanan belaka. Namun, bisa menjadi manusia unggulan berkarakter yang lahir dari guru-guru profersional pula. Mengingat masa depan Indonesia terlihat pada potensi laut, maka yang perlu dibangun terlebih dahulu yaitu sumberdaya manusianya. Agar tercipta yang namanya harmonisasi dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Sedaaaap….

Sebutan sarjana pendidikan ikan untuk S.Pi.,Gr tetap akan mengajar manusia dan menghasilkan sumberdaya manusia yang baru. Layaknya para pemilik gelar Gr. lainnya. Namun, istimewanya selain menghasilkan manusia, lulusan ini juga mampu menghasilkan manusia yang memproduksi jenis ikan-ikanan juga.

BACA JUGA Prodi Budidaya Perairan Itu Budidaya Ikan, Bukan Air atau tulisan Nurita Wahyuni lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.