Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes!

Abul Muamar oleh Abul Muamar
17 Desember 2020
A A
Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes! terminal mojok.co

Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes! terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

 Sudah enam bulan lebih aku kembali ke Sumatera Utara setelah menjalani hidup di Jogja selama kurang lebih empat tahun. Menjajal banyak tempat, mulai dari yang di kota sampai yang di pelosok. Satu pertanyaan yang sering aku terima dari kawan-kawan sekembalinya dari daerah yang acap disebut istimewa itu adalah, “Hampir semua hal di Jogja serbamurah, ya?”

Semua yang bertanya demikian sudah aku kasih jawaban dengan penjelasan panjang lebar. Aku tidak ingin mereka salah kaprah menilai Jogja. Lebih-lebih lagi, aku tidak ingin mereka melancong ke Jogja dengan bekal kesalahkaprahan yang ada di kepala mereka.

Jawaban ringkas yang biasanya kuberikan adalah, bila kau ke Jogja dengan kemampuan rata-rata ekonomimu sebagai orang Sumatera Utara, atau katakanlah dengan besaran gajimu yang sesuai UMR Medan, dan kau hanya menghabiskan waktu di sana barang tiga atau empat hari, atau sebut sajalah dua minggu, tentu saja Jogja akan terasa serbamurah bagimu. Tapi, aku tak tega kalau cuma memberi jawaban seperti itu.

Bicara soal Jogja serbamurah, aku bisa menebak bahwa yang dimaksud kawan-kawan yang bertanya pastilah tak jauh-jauh dari makanan atau kuliner. Namun, supaya pembahasan soal “Jogja serbamurah” di sini tampak seolah-olah komprehensif, aku anggap saja mereka juga penasaran soal biaya indekos dan harga sewa rumah atau toko.

Baiklah, kita bahas satu per satu sedetail mungkin. Pertama, makanan. Ini yang paling sering ditangkap secara salah kaprah oleh orang-orang luar Jogja, lebih-lebih luar Pulau Jawa, termasuk kawan-kawanku di Sumatera Utara. Kawan-kawanku mendengar cerita dari orang-orang, yang mana orang-orang itu juga mendengar cerita dari orang-orang bahwa di Jogja, modal Rp10 ribu saja sudah bikin kenyang. Terus terang, ini menggelikan. Mereka kayak tidak sadar atau lupa bahwa di Sumatera Utara, termasuk di Kota Medan yang metropolitan, Rp10 ribu juga sudah bisa bikin kenyang.

Biar lebih jelas, mari kita sorot dua ikon makanan di Jogja yang paling sering dianggap murah, yaitu nasi kucing dan soto. Pertama nasi kucing. Selama aku tinggal di Jogja (2016-2020), harganya rata-rata Rp2.500. Di beberapa tempat ada yang masih menjual dengan harga Rp2.000, tapi itu sudah sangat langka. Yang ada, malah banyak yang menjualnya seharga Rp3.000, termasuk di pinggiran Sleman seperti Seyegan atau Godean. Bahkan di titik-titik di mana wisatawan ramai berkumpul, bisa lebih dari itu harganya.

Bagaimana dengan isi dan takarannya? Yang belum pernah ke Jogja pun aku rasa sudah bisa menebaknya, segumpal nasi yang kira-kira setara dengan tiga atau empat sendok makan, dengan lauk yang aduhai mahasedikit. Lauk ikan teri, contohnya, ikan terinya mudah dihitung dengan jari. Kalau tidak dua, ya, tiga biji. Yang lauknya orek tempe pun tak jauh-jauh beda. 

Artinya, dengan standar perut orang Indonesia pada umumnya, seseorang baru akan kenyang atau puas bila menghabiskan empat bungkus nasi kucing itu. Empat dikali Rp2.500, bukankah sama dengan Rp10 ribu, yang kalau di Medan, paling tidak di wilayah Jalan Pacing dekat kampus Unimed atau di sekitaran Padang Bulan dekat USU, cukup buat membeli sebungkus nasi padang dengan lauk ayam?

Baca Juga:

5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan 

Kemudian kita bahas soto di Jogja yang harganya “cuma” Rp7 ribu itu (ada yang Rp6 ribu meski ada pula yang Rp8 ribu, Rp10 ribu, dan seterusnya, tergantung kualitas rasa dan bahan). Murah kau bilang? Tunggu dulu.

Perhatikan betul-betul mangkuk soto yang kau pesan bila suatu hari kau melancong ke Jogja. Perhatikan ukuran dan jumlah suwiran dagingnya, entah itu daging ayam atau yang lain. Kau kujamin akan membatin, ukuran suwirannya tak lebih besar dari tahi gigimu dan jumlahnya tak lebih banyak dari jumlah jarimu. 

Lalu perhatikan pula porsi nasinya. Juga perhatikan takaran rajangan kolnya. Setelah itu semua kau perhatikan, insaflah kau betapa kelirunya kau menganggapnya murah. Di Sumatera Utara, kalau kau tinggal di Deli Serdang, Serdang Bedagai, Siantar, Tebing Tinggi, Langkat, Binjai, atau di daerah-daerah lain. Kalau soto kayak gitu ada yang menjual, mungkin harganya juga segitu, atau mungkin bisa lebih murah.

Jadi, kesimpulan untuk kesalahkaprahan soal makanan ini adalah, makanan yang murah-murah di Jogja itu bukan MURAH, tetapi memang LAYAK MURAH.

Bagaimana dengan makanan-makanan yang lain? Mungkin kau akan bertanya begitu karena masih belum yakin kalau kau salah kaprah.

Gorengan? Jangan terkejut bila kau membeli pisang goreng, pisangnya cuma pisang kepok pula, harganya Rp2.000. Kau pikir Rp2.000 dapat tiga seperti di Tembung atau di Perbaungan? Salah kau! Kau cuma akan dapat satu! Bagaimana dengan ukurannya? Kujamin ukurannya tak lebih besar dari pisang raja goreng seharga Rp2.000 yang biasa kau beli di Simpang Kabupaten arah ke Berastagi atau sekitaran Jalan Baru dekat Asrama Haji.

Kau pasti heran kenapa bisa semahal itu. Oke, aku jelaskan. Sebenarnya wajar kalau tukang gorengan di Jogja menjual pisang goreng kepoknya seharga Rp2.000 per biji. Sebab, dari mentahnya pun memang sudah mahal. Harga sesisir pisang kepok di Jogja, yang konon UMR-nya jauh di bawah UMR Medan, rata-rata mencapai Rp15-20 ribu. Itu yang ukuran kecil sampai sedang dan belinya di pasar tradisional. Yang ukuran besar, bisa mencapai Rp35-40 ribu. 

Di supermarket, harganya bisa lebih mahal dari itu. Jangan kau pikir harga segitu cuma berlaku di wilayah Jogja kota atau Sleman kota. Salah kau! Harga yang sama juga berlaku di pelosok-pelosok wilayah Provinsi DIY dan wilayah Jawa Mataraman lainnya. Kalaupun lebih murah, ya, selisihnya sangat tipis. Tipis kali pun! Jadi, mata rantai harga mahal itu sudah terjadi sejak dari hulunya.

Bagaimana dengan buah-buahan? Ini lebih parah. Jangan harap kau bisa dapat alpukat sekilo kalau cuma bawa duit Rp15 ribu ke pasar kayak biasa kau beli di pajak-pajak di Medan. Jangan harap kau bisa makan nangka yang satu tusuk berisi empat biji seharga Rp3.000. Jangan harap kau bisa beli cempedak dengan modal Rp10 ribu di kantong. Apalagi, jangan pernah sekalipun kau berharap bisa makan durian dengan puas kalau cuma punya duit Rp100 ribu.

Di wilayah Provinsi DIY (aku tegaskan DIY, bukan cuma Jogja dan Sleman), harga alpukat di pasar tradisional rata-rata Rp25-30 ribu sekilo. Ketika sedang tidak musim, harganya jauh lebih mahal dari itu. Begitu pula nangka dan cempedak.

Empat tahun aku merasakan tinggal di Jogja, termasuk di pelosok Sleman, belum pernah aku bisa makan nangka atau cempedak dengan modal Rp10 ribu. Apalagi durian. Untuk ukuran yang biasanya bisa kau peroleh seharga Rp20 ribu di Medan, di Jogja harganya bisa sampai Rp50 ribu bahkan lebih. Bahkan sekalipun kau datang langsung ke daerah penghasilnya, semisal di Salaman atau Kepil (perbatasan Purworejo-Wonosobo) atau di Patuk (Gunungkidul) saat sedang musim, harganya tetap saja tak semurah di Sumatera Utara yang, sekali lagi, UMR-nya jauh di atas UMR DIY.

Bagaimana dengan kos-kosan dan biaya sewa rumah atau toko? Ini lebih “gila” lagi.

Seiring bertambahnya kesadaran para pelaku bisnis kos-kosan atau sewa rumah bahwa hampir semua mahasiswa di Jogja adalah pendatang (yang mana kemudian mereka menganggap bahwa pendatang, apalagi dari luar pulau, pastilah orang “berada” atau orang mampu), biaya kos atau sewa rumah di wilayah DIY makin ke sini makin menyerupai biaya kos-kosan atau sewa rumah di kota metropolitan macam Medan, Bandung, atau Surabaya. Jika bukan sudah menyamai. Ini baru kos-kosan atau rumah sewa “biasa”, belum kos-kosan elite yang banyak dihuni anak-anak pejabat atau saudagar kaya dari daerah.

Seorang teman saya bahkan sampai harus membayar Rp20 juta per tahun untuk rumah yang ia sewa di sebuah kompleks perumahan di bilangan Jalan Palagan yang sejatinya cukup jauh dari kota. Hal yang sama juga berlaku bagi biaya sewa ruko atau toko. Para pemilik indekos atau rumah sewa sadar betul bahwa potensi bisnis di Jogja menjanjikan sehingga tak takut mematok tarif tinggi.

Jadi begitulah, kira-kira. Kalau masih ada yang bilang samamu bahwa di Jogja serbamurah, kau tabok aja mulutnya pakai selop.

BACA JUGA Asal-Usul Mengapa Hukum Tebang Pilih dan tulisan Abul Muammar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2020 oleh

Tags: jogja istimewaKuliner
Abul Muamar

Abul Muamar

Seorang wartawan. Memiliki pengalaman lebih dari 12 tahun di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor di beberapa media nasional. Alumnus Ilmu Filsafat dari Universitas Gadjah Mada dan Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Memiliki minat kuat pada isu-isu ketimpangan struktural dan ketidakadilan sistemik.

ArtikelTerkait

3 Modifikasi Makanan yang Nggak Masuk Akal di Bandung batagor bandros lotek jajanan bandung terminal mojok.co

3 Modifikasi Makanan yang Nggak Masuk Akal di Bandung

9 September 2020
Kasta Mi Pangsit di Surabaya, Kuliner dengan Keragaman yang Luar Biasa

Kasta Mi Pangsit di Surabaya, Kuliner dengan Keragaman yang Luar Biasa

4 Maret 2022
Memandang Keanekaragaman Indonesia dari Semangkuk Soto

Memandang Keanekaragaman Indonesia dari Semangkuk Soto

18 Februari 2020
Emotional Eating yang Menjadikan Makan sebagai Pelarian Stres Itu Tidak Baik terminal mojok.co

Emotional Eating: Menjadikan Makan sebagai Pelarian Stres Itu Tidak Baik

18 Februari 2021
indomie goreng aceh mojok

Indomie Goreng Aceh, Varian Mi Instan Pedas yang Paling Enak

5 September 2021
5 Hal yang Bikin Pendatang Melongo Saat di Solo

5 Kuliner Khas Solo yang Terancam Punah

11 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beat Deluxe, Saksi Kejayaan Bos Warung Madura dari Pamekasan (Shutterstock)

Sejak 2020 Hingga Kini, Honda Beat Deluxe Merah-Hitam Jadi Saksi Kejayaan Warga Pamekasan dalam Membangun Bisnis Warung Madura

20 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026
Jawaban untuk Pertanyaan Kenapa Kutoarjo Punya Alun-alun Sendiri padahal Masuk Purworejo

Jawaban untuk Pertanyaan Kenapa Kutoarjo Punya Alun-alun Sendiri padahal Masuk Purworejo

19 Januari 2026
Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.