Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Tugas Akhir Jurnal sebagai Pengganti Skripsi Bukan Solusi kalau Budaya Riset Kampus Masih Setengah Hati

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
1 Juli 2026
A A
Unpopular Opinion: Skripsi Adalah Matkul Favorit Saya Sampai Rela Kuliah 7 Tahun Mojok.co jurnal

Unpopular Opinion: Skripsi Adalah Matkul Favorit Saya Sampai Rela Kuliah 7 Tahun (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika kampus saya membuka pilihan tugas akhir berupa artikel jurnal sebagai pengganti skripsi, saya termasuk mahasiswa yang langsung tertarik. Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, saya merasa bentuk ini lebih dekat dengan dunia akademik yang nanti akan saya hadapi.

Saya juga berpikir, daripada menulis naskah skripsi yang setelah sidang hanya menjadi penghuni rak perpustakaan, bukankah lebih baik menghasilkan artikel yang bisa dibaca lebih banyak orang?

ADVERTISEMENT

Namun, semakin saya menjalani prosesnya, saya menyadari satu hal bahwa jurnal bukanlah jalan pintas menuju kelulusan. Justru, saya baru benar-benar merasakan betapa menulis artikel ilmiah membutuhkan bekal yang seharusnya dibangun sejak awal kuliah.

Masalahnya bukan karena jurnal lebih sulit daripada skripsi. Masalahnya adalah banyak mahasiswa baru benar-benar akrab dengan budaya riset ketika sudah memasuki semester akhir. Saya merasakan itu.

BACA JUGA: Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

Kebiasaan tidak terbentuk

Selama kuliah, membaca jurnal memang pernah menjadi tugas. Namun, jujur saja, intensitasnya tidak cukup untuk membentuk kebiasaan. Saya lebih sering bergelut dengan buku, materi kuliah, dan tugas-tugas biasa. Ketika akhirnya memilih jalur artikel ilmiah, saya mendadak harus memahami struktur penulisan jurnal, gaya sitasi, mencari celah penelitian, menyesuaikan dengan template jurnal, sampai memikirkan bagaimana tulisan saya layak dipublikasikan. Rasanya seperti diminta berlari maraton setelah bertahun-tahun hanya berlatih jogging.

Saya tidak sedang mengatakan semua kampus seperti ini. Saya juga tidak sedang menyalahkan dosen. Banyak dosen justru sangat terbuka membantu mahasiswa. Persoalannya lebih besar daripada itu. Yang saya rasakan adalah ekosistem riset di banyak kampus belum sepenuhnya dibangun sebagai budaya, melainkan masih muncul sebagai kebutuhan menjelang tugas akhir.

Akibatnya, jurnal pengganti skripsi terdengar sebagai inovasi, tetapi mahasiswa tetap menghadapi kebingungan yang sama. Ironisnya, dosen dituntut aktif meneliti dan mempublikasikan karya ilmiah. Kampus juga berlomba meningkatkan jumlah publikasi.

Baca Juga:

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

Namun, mahasiswa sering kali belum banyak dilibatkan dalam proses itu. Tidak sedikit yang baru memahami bagaimana sebuah artikel ilmiah lahir ketika mereka sendiri harus menulisnya.

Padahal, kemampuan menulis artikel ilmiah tidak muncul dalam semalam. Mahasiswa perlu dibiasakan membaca jurnal sejak awal kuliah, bukan hanya ketika menyusun proposal penelitian. Mahasiswa juga perlu diajak berdiskusi tentang metode penelitian, dilibatkan dalam proyek riset dosen jika memungkinkan, dan diberi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Dengan begitu, menulis artikel ilmiah bukan lagi menjadi sesuatu yang asing saat semester akhir.

Ganti skripsi dengan jurnal bukanlah solusi

Karena itu, menurut saya, mengganti skripsi dengan jurnal bukanlah solusi jika perubahan itu hanya berhenti pada bentuk tugas akhirnya. Yang perlu berubah adalah prosesnya.

Kalau selama tujuh semester mahasiswa tidak benar-benar dibiasakan hidup dalam budaya akademik yang aktif, semester kedelapan tidak akan cukup untuk mengubah semuanya. Mengganti sampul “skripsi” menjadi “artikel jurnal” tidak otomatis membuat mahasiswa lebih siap menjadi peneliti.

Saya tetap mendukung adanya pilihan jurnal sebagai tugas akhir. Bahkan, saya memilih jalur itu karena saya percaya publikasi ilmiah memiliki manfaat yang lebih luas. Artikel yang terbit bisa menjadi bagian dari percakapan akademik, dikutip peneliti lain, dan menjadi rekam jejak ilmiah bagi penulisnya.

Namun, pilihan itu akan benar-benar bermakna jika kampus juga membangun ekosistem yang mendukungnya. Jangan sampai mahasiswa baru benar-benar belajar meneliti ketika tenggat kelulusan sudah di depan mata. Jangan sampai budaya membaca jurnal hanya hadir karena kewajiban tugas akhir. Dan jangan sampai publikasi ilmiah dipandang sekadar syarat administratif untuk lulus.

Sebab, persoalannya bukan memilih skripsi atau jurnal. Persoalannya adalah apakah kampus benar-benar sedang menyiapkan mahasiswa menjadi peneliti, atau hanya menyiapkan mereka memenuhi syarat kelulusan. Kalau jawabannya masih yang kedua, mengganti skripsi dengan jurnal hanyalah memindahkan bentuk bebannya. Bukan menyelesaikan akar persoalannya.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Juli 2026 oleh

Tags: jurnalSkripsitugas akhir mahasiswa
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Alternatif Tugas Akhir Pilihan Pengganti Skripsi bagi Sobat Ambyar

Alternatif Tugas Akhir Pilihan Pengganti Skripsi bagi Sobat Ambyar

8 November 2019
5 Situs Penyedia Jurnal Ilmiah Gratis yang Wajib Diketahui Pejuang Skripsi terminal mojok.co

5 Situs Penyedia Jurnal Ilmiah Gratis yang Wajib Diketahui Pejuang Skripsi

27 Januari 2022
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

9 Desember 2023
Dosen Pembimbing Bersifat Buruk, Skripsi dan Lulus Jadi Lama! (Unsplash) berkas kelulusan jasa edit skripsi

Mengganti Tugas Akhir Skripsi dengan Magang Itu Pendapat yang Naif dan Nggak Berpikir Panjang

3 Agustus 2025
5 Penyebab Laptop Rusak pada Masa Skripsi jasa joki skripsi

5 Penyebab Laptop Rusak pada Masa Skripsi

22 Februari 2022
Emang Ngasih Ucapan Happy Semprotulation itu Penting?

Dilema Mahasiswa Rantau Ekonomi Pas-pasan di Tengah Gempuran Semprotulation

20 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.