Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

Dimas Junian Fadillah oleh Dimas Junian Fadillah
9 Januari 2026
A A
Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi orang Tegal, rujak teplak adalah makanan yang wajar dan familiar. Ia hadir di pagi hari, dijajakan di pinggir jalan, disantap dengan khidmat sambil duduk di bangku plastik yang kakinya kadung miring sebelah. Namun bagi saya sebagai warga Blora—dan mungkin beberapa wilayah Mataraman lainnya—rujak teplak adalah sebuah anomali kuliner yang butuh waktu panjang untuk diterima, atau setidaknya dipahami.

Saya pertama kali bertemu rujak teplak saat berkunjung ke kampung halaman istri. Dari tampilannya saya mengira menu ini adalah saudaranya pecel karena berisi sayuran rebus. Kangkung, daun singkong, tauge, disiram sambal encer berwarna kecoklatan, diberi kerupuk, lalu disajikan selagi masih hangat. Tapi namanya rujak,c bukan pecel. Pada titik itulah otak saya mulai dibuat bingung.

Di Blora rujak identik dengan buah

Di Blora, kata rujak nyaris selalu merujuk pada buah-buahan. Mangga muda, bengkoang, nanas, atau timun dipotong seadanya, lalu disiram sambal pedas-manis yang segar dan menyengat. Rujak dimakan dalam keadaan dingin, sering kali sambil berteduh di bawah pohon atau di teras rumah, sebagai cara paling masuk akal untuk melawan panas dan rasa gerah. Rujak, bagi orang Blora, adalah perayaan kesegaran. Bukan makanan berat, apalagi pengganjal lapar di pagi hari.

Kalau urusannya sayuran rebus yang bertemu sambal kacang, warga Blora punya kategori sendiri: pecel. Dan pecel adalah perkara sambal yang serius. Sambalnya harus kental, padat, dan terasa “niat”, bukan encer dan setengah-setengah. Sambal pecel tidak boleh tampak seperti adonan gagal yang kebanyakan air, apalagi sampai berwarna cokelat cair. Pecel menuntut kekuatan rasa, bukan kompromi. Karena itulah, ketika sayuran rebus disiram sambal kacang encer dan tetap disebut rujak, kebingungan kuliner pun tak terelakkan.

Rujak teplak menabrak semua pakem itu sekaligus

Rujak teplak seolah sengaja datang untuk menabrak semua pakem yang selama ini diyakini. Bahkan dari namanya saja sudah memancing kebingungan. Kata “teplak” terdengar asing di telinga saya, nyaris tanpa petunjuk makna. Konon, istilah itu berasal dari bunyi “teplak” ketika sambal yang baru selesai diulek dilumurkan ke sayuran rebus atau kulupan. Sebuah penamaan yang sangat teknis, nyaris tanpa usaha menjelaskan rasa atau bentuk. Seolah rujak ini tidak butuh pengantar apa pun selain kebiasaan orang-orang yang sudah terbiasa memakannya.

Kejutan tidak berhenti di situ. Sambal rujak teplak ternyata tidak bertumpu pada kacang tanah, melainkan singkong. Iya, saya paham betul bahwa kacang dan singkong sama-sama masuk kategori polo pendem, sama-sama tumbuh di bawah tanah. Tapi menyamakan keduanya dalam urusan sambal jelas perkara lain. Singkong menghadirkan rasa dan tekstur yang berbeda, lebih ringan, lebih samar, dan jauh dari karakter sambal kacang yang selama ini saya kenal.

Di titik inilah rujak teplak semakin terasa seperti makanan yang menolak untuk didefinisikan dengan standar kuliner Blora.

Makanan yang jujur

Rujak teplak tampaknya memang tidak berusaha menyenangkan semua orang. Ia tidak peduli pada standar perujakan pada umumnya. Rujak teplak adalah makanan yang tumbuh dari sejarah panjang. Ia lahir dari dapur rakyat yang terjalin dari berbagai pengalaman cita rasa penduduk setempat.

Baca Juga:

Mewakili Warga Tegal, Saya Ingin Menyampaikan Permintaan Maaf kepada Pemudik

Bupati Blora, Kontenmu Nggak Akan Mampu Menutupi Bobroknya Kinerja Pemkab!

Dan perlahan, sebagai warga Blora, saya mulai paham. Rujak teplak tidak perlu dan tak harus dibandingkan dengan pecel atau rujak buah. Ia berdiri di jalurnya sendiri. Ia adalah makanan transisi. Antara rujak dan sayur, antara camilan dan sarapan, antara membingungkan dan mengenyangkan. Toh, cita rasa makanan suatu daerah memang diciptakan untuk senantiasa berbeda dan orisinil, agar orang luar daerah belajar menerima dan memberi pengalaman baru dalam menikmati kuliner khas daerah tersebut.

Kalau pun warga Blora seperti saya ini tidak bisa langsung jatuh cinta dengan rujak teplak, setidaknya saya belajar satu hal: tidak semua yang terasa aneh itu salah. Beberapa hanya butuh waktu. Dan mungkin, saya hanya butuh tinggal lebih lama di Tegal dan menjadikannya santapan wajib saat sarapan.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Rujak Buah Jawa Timur Pakai Tahu Tempe: Nggak Masuk Akal, tapi Enak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Januari 2026 oleh

Tags: bloramakanan khas tegalpecelRujak Buahrujak teplak tegal
Dimas Junian Fadillah

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.

ArtikelTerkait

Jangan Menir: Kuliner Blora dengan Mitos Aneh yang Bikin Orang Nggak Jadi Makan walau Sudah Matang

Jangan Menir: Kuliner Blora dengan Mitos Aneh yang Bikin Orang Nggak Jadi Makan walau Sudah Matang

4 Juli 2025
Saya Asli Bojonegoro, tapi Bangga Menjadi Warga Blora karena 3 Hal Ini Tidak Akan Ditemukan di Bojonegoro

Saya Asli Bojonegoro, tapi Bangga Menjadi Warga Blora karena 3 Hal Ini Tidak Akan Ditemukan di Bojonegoro

16 Maret 2025
5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Blora Selain Predikat Kota Tersepi

5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Blora selain Predikat Kota Tersepi

18 Maret 2022
4 Keistimewaan Bojonegoro di Mata Orang Blora yang Memantik Rasa Iri

4 Keistimewaan Bojonegoro di Mata Orang Blora yang Memantik Rasa Iri

19 Oktober 2025
Tidak Semua Orang Doyan Makan Nasi Pecel GOR Satria Purwokerto yang Menyalahi Kodrat, Sebaiknya Pikir Ulang Sebelum Mencicipinya Mojok.co

Tidak Semua Orang Doyan Pecel di GOR Satria Purwokerto yang Menyalahi Kodrat, Sebaiknya Pikir Ulang Sebelum Mencicipinya

11 Juli 2025
Bandara Ngloram di Kecamatan Cepu Blora Dipaksa Mati Suri Berkali-kali

Bandara Ngloram di Kecamatan Cepu Blora Dipaksa Mati Suri Berkali-kali

20 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli

28 Maret 2026
Pengalaman Naik Whoosh Pertama Kali, Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang Bikin Mental Orang Kabupaten Jiper Mojok.co KA Feeder Whoosh

Pengalaman Menyenangkan Naik Kereta Whoosh, Kereta Cepat yang Jauh Lebih Baik ketimbang Kereta Cepat Taiwan

26 Maret 2026
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

Mewakili Warga Tegal, Saya Ingin Menyampaikan Permintaan Maaf kepada Pemudik

28 Maret 2026
Universitas Trunojoyo Madura Banyak Mahasiswa Abadi Gara-Gara Dosen Sering Ngilang Mojok.co

Reputasi Universitas Trunojoyo Madura Makin Menurun, bahkan Orang Madura Sendiri Mikir Dua Kali untuk Kuliah di Kampus Ini

26 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.