Bagi orang Tegal, rujak teplak adalah makanan yang wajar dan familiar. Ia hadir di pagi hari, dijajakan di pinggir jalan, disantap dengan khidmat sambil duduk di bangku plastik yang kakinya kadung miring sebelah. Namun bagi saya sebagai warga Blora—dan mungkin beberapa wilayah Mataraman lainnya—rujak teplak adalah sebuah anomali kuliner yang butuh waktu panjang untuk diterima, atau setidaknya dipahami.
Saya pertama kali bertemu rujak teplak saat berkunjung ke kampung halaman istri. Dari tampilannya saya mengira menu ini adalah saudaranya pecel karena berisi sayuran rebus. Kangkung, daun singkong, tauge, disiram sambal encer berwarna kecoklatan, diberi kerupuk, lalu disajikan selagi masih hangat. Tapi namanya rujak,c bukan pecel. Pada titik itulah otak saya mulai dibuat bingung.
Di Blora rujak identik dengan buah
Di Blora, kata rujak nyaris selalu merujuk pada buah-buahan. Mangga muda, bengkoang, nanas, atau timun dipotong seadanya, lalu disiram sambal pedas-manis yang segar dan menyengat. Rujak dimakan dalam keadaan dingin, sering kali sambil berteduh di bawah pohon atau di teras rumah, sebagai cara paling masuk akal untuk melawan panas dan rasa gerah. Rujak, bagi orang Blora, adalah perayaan kesegaran. Bukan makanan berat, apalagi pengganjal lapar di pagi hari.
Kalau urusannya sayuran rebus yang bertemu sambal kacang, warga Blora punya kategori sendiri: pecel. Dan pecel adalah perkara sambal yang serius. Sambalnya harus kental, padat, dan terasa “niat”, bukan encer dan setengah-setengah. Sambal pecel tidak boleh tampak seperti adonan gagal yang kebanyakan air, apalagi sampai berwarna cokelat cair. Pecel menuntut kekuatan rasa, bukan kompromi. Karena itulah, ketika sayuran rebus disiram sambal kacang encer dan tetap disebut rujak, kebingungan kuliner pun tak terelakkan.
Rujak teplak menabrak semua pakem itu sekaligus
Rujak teplak seolah sengaja datang untuk menabrak semua pakem yang selama ini diyakini. Bahkan dari namanya saja sudah memancing kebingungan. Kata “teplak” terdengar asing di telinga saya, nyaris tanpa petunjuk makna. Konon, istilah itu berasal dari bunyi “teplak” ketika sambal yang baru selesai diulek dilumurkan ke sayuran rebus atau kulupan. Sebuah penamaan yang sangat teknis, nyaris tanpa usaha menjelaskan rasa atau bentuk. Seolah rujak ini tidak butuh pengantar apa pun selain kebiasaan orang-orang yang sudah terbiasa memakannya.
Kejutan tidak berhenti di situ. Sambal rujak teplak ternyata tidak bertumpu pada kacang tanah, melainkan singkong. Iya, saya paham betul bahwa kacang dan singkong sama-sama masuk kategori polo pendem, sama-sama tumbuh di bawah tanah. Tapi menyamakan keduanya dalam urusan sambal jelas perkara lain. Singkong menghadirkan rasa dan tekstur yang berbeda, lebih ringan, lebih samar, dan jauh dari karakter sambal kacang yang selama ini saya kenal.
Di titik inilah rujak teplak semakin terasa seperti makanan yang menolak untuk didefinisikan dengan standar kuliner Blora.
Makanan yang jujur
Rujak teplak tampaknya memang tidak berusaha menyenangkan semua orang. Ia tidak peduli pada standar perujakan pada umumnya. Rujak teplak adalah makanan yang tumbuh dari sejarah panjang. Ia lahir dari dapur rakyat yang terjalin dari berbagai pengalaman cita rasa penduduk setempat.
Dan perlahan, sebagai warga Blora, saya mulai paham. Rujak teplak tidak perlu dan tak harus dibandingkan dengan pecel atau rujak buah. Ia berdiri di jalurnya sendiri. Ia adalah makanan transisi. Antara rujak dan sayur, antara camilan dan sarapan, antara membingungkan dan mengenyangkan. Toh, cita rasa makanan suatu daerah memang diciptakan untuk senantiasa berbeda dan orisinil, agar orang luar daerah belajar menerima dan memberi pengalaman baru dalam menikmati kuliner khas daerah tersebut.
Kalau pun warga Blora seperti saya ini tidak bisa langsung jatuh cinta dengan rujak teplak, setidaknya saya belajar satu hal: tidak semua yang terasa aneh itu salah. Beberapa hanya butuh waktu. Dan mungkin, saya hanya butuh tinggal lebih lama di Tegal dan menjadikannya santapan wajib saat sarapan.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Rujak Buah Jawa Timur Pakai Tahu Tempe: Nggak Masuk Akal, tapi Enak
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















