Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Sebat

Rokok Kapitalis VS Rokok Pergerakan: Analisis Satir Perbedaan Filosofi Tembakau

M. Fakhruddin Al-Razi oleh M. Fakhruddin Al-Razi
7 Juni 2019
A A
rokok

rokok

Share on FacebookShare on Twitter

Untuk masalah kecil semisal rokok pun manusia masih ribet cari-cari filosofinya. Seperti halnya kopi, yang selalu disandingkan dengan filosofi, rokok juga patut dipikirkan seperti apa falsafah dan ideologinya.

Sama seperti kopi, meski pahit tapi pantas dinikmati. Dalam rokok juga ada beberapa sisi pahit berupa aroma-aroma asap yang tidak sedap. Bagi sebagian orang, benda ini dianggap dapat menimbulkan penyakit. Bisa juga berdampak pada pengeluaran ekonomi dan sebagainya. Tapi di balik itu semua, orang-orang masih banyak yang menikmatinya dengan begitu syahdu dan membahagiakan.

Bagi mereka, mungkin ada kebahagiaan tersendiri yang ada di atas segalanya—yang tidak terdefinisikan oleh rumus-rumus angka ekonomi dan teori-teori kesehatan. Kenikmatan batin tiada tara yang diperoleh dari sebatang rokok. Maka bukan kenapa rokok dan kopi selalu disandingkan—sebab di setiap kepahitan pasti ada rasa manis yang tiada tara.

Woy woy, serius amat bahasanya. Sini sini, ngopi-ngopi sambil rokokan dulu lah. Ok, sebenarnya saya tidak bermaksud nulis tentang filosofinya. Biarkan para perokok saja yang menemukan jalan ninjanya masing-masing. Hanya saja tulisan ini bermaksud memberi alasan-alasan idealisme bagi kegiatan merokok yang saya tekuni sendiri.

Anatar Rokok Instan dan Lintingan

Seperti apa kegiatan merokok saya? Emang beda sama yang lain? Sebenarnya nggak beda-beda amat sih. Cuma kalau orang-orang biasanya menghisap rokok instan—yaitu jenis rokok yang biasa dijual di toko-toko baik yang model filter atau yang model kretek. Tuh kayak Surya, Djarum, Dji Sam Soe, LA, Sampoerna, dan lain-lain. Sementara saya biasa menghisap jenis yang tingwe (ngeliting dhewe), atau litingan, atau lintingan, atau apalah namanya di daerah kalian masing-masing.

Fyi—bagi yang belum tahu—rokok litingan itu adalah jenis yang digulung sendiri oleh si perokok. Biasanya memang tidak diwadahi layaknya rokok pada umumnya. Kadang diwadahi tepak macam tupperware, ada yang mewadahinya dengan bekas kaleng Surya, bahkan ada pula yang mewadahihanya dengan kresek. Jadi perokok macam ini penampilannya akan sedikit mencolok. Bukan hanya karena wadahnya yang biasanya besar, tapi ketika merokok juga membutuhkan sejumlah ritual yang sedikit memakan waktu. Mulai dari menakar seberapa banyak tembakau yang akan digunakan, mengambil selembar atau dua lembar paper, lalu menggulungnya dengan penuh sahaja.

Kalian yang belum tahu seberapa besar perjuangan untuk bisa menghasilkan sebatang rokok untuk bisa dihisap dengan cara melinting—tolong jangan rendah-rendahkan kami yang berkerja keras untuk itu. Kalian tinggal buka bungkus kemasan, cari korek, habis itu hufff. Bukan mau mengatakan merokok dengan yang instan membunuh jiwa perjuanganmu, tapi telalu lama dimanjakan dengan yang instan-instan bisa membuat mentalmu lemah, bukan?

Ada berbagai macam alasan yang sudah saya siapkan bila semisal ada orang yang merendahkan atau ngece para perokok model lintingan ini—termasuk di dalamnya juga saya. Namun sebelum itu, biarkan saya menyebutkan beberapa jenis olokan yang biasa diterima ketika orang mengkonsumsi jenis lintingan.

Baca Juga:

Hal yang Biasa Dijumpai di Temanggung, Daerah Lain Nggak Punya. Salah Satunya Pemandangan Jaran Kepang di Jalan

Tulungagung, Kota yang Siap Bersaing dan Menggeser Kudus sebagai Pemilik Takhta Kota Kretek

Olokan saat mengkonsumsi rokok lintingan

Mulai dari yang paling pertama, aromanya memang lebih menyengat daripada rokok yang instan. Lumrahnya, orang akan langsung menutup hidung bila tidak terbiasa dengan asap rokok macam ini. Dua, sering dianggap rakyat jelata. Logis memang, ketika sesuatu yang murah dikaitkan dengan kemiskinan. Tapi jangan salah, membeli yang murah belum tentu tak mampu—tapi cuman mau menghemat. Berhemat dan tidak mampu beda dikit kan, hehe. Ketiga, ribet. Orang yang suka rokok instan akan menyebut para penikmat lintingan ini suka ribet. Padahal lho sudah ada yang enak tinggal pakai masih saja cari yang ribet. Keempat, bila yang menikmati rokok lintingan ini anak muda, biasanya banyak yang akan bilang, “Masih muda rokoknya lintingan, kesehatanmu lho.” Iya iya makasih perhatiannya. Mau rokok biasa atau yang lintingan sama-sama bahaya kok.

Itulah segenap cercaan yang sering saya peroleh selama mengkonsumsi rokok lintingan. Meski beberapa orang mengucapkannya dengan nada bercanda, tapi sensi dikit di hati pastilah ada bukan!? Sebagian ada yang disikapi dengan ‘masa bodo’ dan beberapa memang memerlukan bantahan rasional. Seperti ketika orang bilang mending rokok yang langsungan aja (instan) daripada ribet masih mau menggulung dan macem-macem. Ok, saya jelaskan saudara.

Merokok Juga Butuh Filosofi

Bagi saya, merokok pun butuh filosofi. Biar bernilai dan biar kelihatan idealis walau sekedar sok sok-an. Selain itu, macam rokok apa yang dinikmati juga perlu filosofi. Ketahuailah saudara, rokok instan itu adalah rokok kapitalis (menurut saya). Kalian mengerti sistem kapitalisme? Itu lho yang intinya hanya menguntungkan satu orang saja. Ya, hanya memberi keuntungan besar bagi para pemilik modal. Sebut saja bos, donatur, atau pemilik saham suatu perusahaan.

Di balik sebatang rokok instan, ada perputaran roda bisnis yang kong kali kong. Mulai dari petani, pengepul, para karyawan pabriknya, hingga bos dan jatuh ke tangan para pembeli. Di balik perputaran itu, siapa yang paling diuntungkan? Petanikah? Para pekerja pabrikkah? Saya rasa tidak. Mereka hanyalah roda penggerak sistem kapitalisme perdagangan dan pada intinya, semua perputaran barang dagang itu akan kembali pada pemilik modal dan mesin produksi. Dalam hal ini, siapa lagi kalau bukan pemilik perusahaannya. Orang-orang kecil mentok hanya bisa menggantungkan hidup pada pekerjaannya sebagai karyawan pabrik yang hidup dengan gaji serta kebutuhan yang pas-pasan. Para petani, kebingungan harus bagaimana memutar hasil taninya kalau bukan dijual ke pabrik. Sehingga kehidupan mereka terbatas hanya menanam setelah itu menjual, tak sempat memikirkan inovasi.

Kapitalisme Usaha Ekonomi Menengah

Bila terus menerus begini, bagaimana kita mau mengembangkan usaha ekonomi menengah? Birokrasi perdagangan yang berputar-putar tak terlawankan. Hanya menguntungkan segelintir pihak saja. Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap biasa saja. Bayangkan, dalam satu batang rokok instan itu, ada sekelumit sistem yang, aduh, perbudakan yang tersistematis dan begitu halus terstruktur. Tidak bekerja pada pabrik? Mau dapat dari mana penghasilan? Maka terpaksalah masyarakat bekerja untuk pabrik.

Selain itu, jenis yang instan diproduksi oleh mesin-mesin canggih. Ya, ciri-ciri produksi yang kapitalis banget lah. Oleh karena itu, di balik semua alasan itu, saya katakan bahwa rokok lintingan adalah rokok perjuangan. Perjuangan meminimalisir kapitalisme dengan membeli langsung produk dari para buruh tani tembakau. Dengan memangkas roda kapitalisme yang sudah diceritakan tadi, setidaknya perjuangan membangun ekonomi menengah ke bawah adalah tindakan yang penuh idealime pergerakan. Membeli tembakau untuk rokok lintingan berarti memangkas roda kapitalisme. Berarti juga sedang memperjuangan kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah.

Alasan Merokok Lintingan

Jangan kira alasan merokok lintingan hanya karena lebih murah dan agar bisa berhemat. Di balik semua itu, ada jiwa-jiwa perlawanan, perjuangan, dan idealisme anti sistem kapitalis. Selain itu, menikmati hasil sendiri akan terasa lebih wow bukan!? Beberapa kawan juga menyebut rokok lintingan sebagai ‘rokok pergerakan’. Bagaimana tidak, sebelum merokok kita masih perlu menggerakkan tangan lebih ekstra daripada merokok yang instan-instan. Bau yang lebih menyengat, rasa yang sudah pasti tidak seenak rokok instan bukanlah sesuatu yang berarti dalam sebuah perjuangan. Perjuangan butuh pengorbanan Bung!—ya anda paham sendiri lah.

Tapi di balik semua itu, kapitalisme bukan berarti tidaklah dibutuhkan dan harus benar-benar dilawan. Bila tiada pabrik rokok, maka akan ke mana para manusia itu menggantungkan pendapatannya. Akan bekerja apa mereka nantinya. Ya begitulah perjuangan. Kadang simalakama terjadi sehingga tak tahu harus berpihak ke mana. Seperti saya yang mengatakan rokok instan itu adalah rokok kapitalis dan sok-sokan bersikap menolak. Tapi ketika saya jenuh memperjuangkan pergerakan dengan cara merokok rokok lintingan, ketika itu pula saya akan membeli rokok instan dan tanpa panjang lebar saya akan menghirup asapnya sembari menghembuskan keluh atas lelahnya sebuah perjuangan. Ah, kapitalisme itu memang godaan.

Terakhir diperbarui pada 10 November 2025 oleh

Tags: Filosofi RokokKapitalisPergerakanRokokTembakau
M. Fakhruddin Al-Razi

M. Fakhruddin Al-Razi

ArtikelTerkait

Mengatasi Drama-Drama Curanrek di Tongkrongan

Mengatasi Drama-Drama Curanrek di Tongkrongan

29 Oktober 2019
Para Perokok di Dalam Ruangan Tertutup dan Ber-AC, Motivasinya Apa sih?

Kenapa Kebanyakan Perokok Lebih Memilih Membeli Rokok Dibanding Makanan saat Uangnya Pas-pasan?

28 Agustus 2020
Memberi Tempat Bagi Remaja untuk Bicara Soal Rokok (Unsplash)

Memberi Tempat Bagi Remaja untuk Bicara Soal Rokok

9 Desember 2022
ICJ satuan waktu sak ududan perokok anak kecil djarum super mojok mulut asbak

Kalau Kena Abu Rokok Pengendara di Jalanan Jogja, Sebaiknya Nggak Usah Lapor ke ICJ

27 September 2021
iklan rokok

Definisi Cowok Versi Iklan Rokok U-Mild

14 Mei 2019
Hal yang Biasa Dijumpai di Temanggung, Daerah Lain Nggak Punya. Salah Satunya Pemandangan Jaran Kepang di Jalan

Hal yang Biasa Dijumpai di Temanggung, Daerah Lain Nggak Punya. Salah Satunya Pemandangan Jaran Kepang di Jalan

19 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

12 Maret 2026
Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash) bandung

Kota Malang Mirip Bandung: Sama-Sama Adem dan Sejuk, tapi Lebih Rapi dan Terawat

8 Maret 2026
Penyesalan “Membuang” Yamaha F1ZR Marlboro yang Kini Harganya Naik Lebih dari 10 Kali Lipat Mojok.co

Penyesalan “Membuang” Yamaha F1ZR Marlboro yang Kini Harganya Naik Lebih dari 10 Kali Lipat

10 Maret 2026
All New Honda Vario 125 eSP 2018: Motor Matik Kencang, Nyaman, dan Paling Enak Dipakai Harian motor honda blade 110 honda vario 160 supra x 125 vario street

Vario Street Adalah Gebrakan Sia-Sia dari Honda: Niatnya Ingin Sporty, Malah Kelihatan Basi  

7 Maret 2026
Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah Mojok.co

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

11 Maret 2026
Inspektor Mobil Bekas, Orang yang Menentukan Nasib Mobilmu, Berakhir Masuk Neraka Bernama Bengkel, atau Hidup Bahagia Tanpa Onderdil Rusak

Inspektor Mobil Bekas, Orang yang Menentukan Nasib Mobilmu, Berakhir Masuk Neraka Bernama Bengkel, atau Hidup Bahagia Tanpa Onderdil Rusak

12 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto
  • Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah
  • Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata
  • Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”
  • Rangkaian Penderitaan Naik Travel dari Jogja Menuju Surabaya: Disiksa Selama Perjalanan oleh Sopir Amatiran, Nyawa Penumpang Jadi Taruhannya. Sialan!

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.