Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman (Unsplash.com)

Warga Jogja pada umumnya pasti sudah tidak asing dengan nama Ringroad Jogja. Ringroad Jogja merupakan jalan yang mengitari kota Jogja untuk mengakomodasi transportasi dari roda 2 hingga truk besar. Maka dari itu Ringroad ini termasuk jalanan tersibuk di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada umumnya Ringroad Jogja terbagi dalam 4 bagian, yaitu Ringroad Utara, Selatan, Barat, dan Timur, walaupun di beberapa bagian juga sebenarnya memiliki namanya sendiri, seperti Jalan Padjajaran, Jalan Siliwangi, dan lain sebagainya.

Jalan ini menjadi akses penting untuk warga Jogja, bukan hanya untuk mereka yang tinggal di sekitaran Ringroad, namun penting bagi mahasiswa, pedagang, dan transportasi umum. Di beberapa titik juga terdapat kampus, seperti UMY, UAD, UPN, AMIKOM, dan lain sebagainya. Dengan adanya mobilitas yang tinggi di titik-titk tersebut, kebutuhan fasilitas penyebrangan menjadi hal yang cukup penting dalam menjalankan rutinitas sehari-hari.

Tapi realitasnya yang terjadi saat ini, fasilitas penyeberangan hanya sedikit dan hanya beberapa titik saja, serta belum mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.

Maka dari itu, menurut analisis gembel saya sebagai pengguna ringroad dengan pertimbangan mobilitas di titik-titik yang ramai akan rutinitas harian masyarakat, ringroad ini harusnya dibangun JPO. Mengingat Ringroad ini bukan jalan biasa, melainkan jalanan dengan ukuran yang cukup lebar dengan rata-rata arus kendaraan dengan kecepatan yang cenderung tinggi dan volume lalu lintas yang cukup padat, apalagi di jam berangkat atau pulang kerja.

Dengan kondisi itu, riskan sekali jika pejalan kaki menyeberang langsung di jalanan, ditambah dengan minimnya penerangan jalan di beberapa titik. Risiko kecelakaan bagi pejalan kaki menjadi sangat tinggi.

JPO Ringroad Jogja jadi solusi yang ideal

JPO bisa jadi salah satu (bukan satu-satunya) solusi yang bisa diterapkan di titik-titik dengan mobilitas pejalan kaki yang cukup padat di Ringroad Jogja. Ingat, banyak kampus, pusat perbelanjaan, maupun permukiman warga di sekitaran Ringroad ini. Saat ini, fasilitas penyeberangan hanya bertumpu pada zebra cross yang hanya ada di persimpangan jalan utama. Itu pun hanya ada di beberapa titik di seputaran ringroad ini.

Hal itu jelas menyulitkan para pejalan kaki. Jika harus lewat zebra cross, jarak antar lampu merah di ringroad juga kelewat jauh. Sebagai contoh, lampu merah Concat dengan UPN saja jaraknya amat lumayan. JPO, jadi solusi yang bagus. Syaratnya, dibangunnya harus yang proper. Kalau nggak, malah jadi masalah baru.

Soalnya, jika JPO ini nantinya dibangun dengan “ngawur,” bisa berakhir sia-sia karena kurang diminati. Misal, dibangun dengan tak proper, atau malah di titik yang jauh dari keramaian. Selain itu pembangunannya juga harus mepertimbangkan fasilitas untuk disabilitas dan lansia.

Jika dilihat dari kebutuhan, Ringroad Jogja memang membutuhkan fasilitas penyeberangan yang aman. Juga, JPO bukan sekadar bangunan tambahan, melainkan kebutuhan nyata untuk menyeimbangkan kepentingan kendaraan dan pejalan kaki.

Jika dirancang dengan tepat, dibangun di lokasi strategis, dan didukung pemeliharaan yang baik, JPO dapat menjadi langkah penting untuk menciptakan Ringroad Jogja yang lebih aman, tertib, dan manusiawi. Fenomena ini menjadi penunjuk kesenjangan antara kebutuhan masyarakat dengan fasilitas yang ada.

Penulis: Yumna Aditya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version