Review Film Her, Isu Posthuman yang Menyentil dalam Seni Perfilman Dunia – Terminal Mojok

Review Film Her, Isu Posthuman yang Menyentil dalam Seni Perfilman Dunia

Artikel

Dapatkah logika anda menerima jika ada manusia yang jatuh cinta—dalam arti sesungguhnya— dengan sebuah barang, layaknya seperti cintanya seorang pria kepada wanita? Pasalnya inilah yang menjadi premis film Her.

Mungkin ada tiga cara untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, iya. Sebab, apa saja dapat terjadi, bahkan untuk masalah asmara. Kedua, tentu tidak masuk di akal. Sebab apa yang diharapkan dari sebuah barang? Sementara Tuhan sudah memberi pasangan dari jenisnya masing-masing. Manusia dan manusia, hewan dengan hewan, dst. dst..

Jawaban ketiga? Nah, akan kita bahas dengan ditemani hasil ulasan pribadi saya tentang film Her karya sutradara kondang Hollywood, Spike Jonze. 

Secara garis besar, film ini mengisahkan tentang seorang pria bernama Theodore Twombly yang bekerja di perusahaan jasa penulisan surat cinta. Sosok Theo yang diperankan oleh sang ‘Joker’ Joaquin Phoenix ini berhasil menggambarkan seorang pria yang kesepian.

Latar waktu film Her adalah masa depan di mana teknologi sudah sangat canggih. Gadget termutakhir digambarkan sangat realistis seperti airpods yang menjamur, gim futuristik dengan konsep Augmented Reality, dan gedung-gedung tinggi dengan gaya arsitektur modern.

Si Theo yang kesepian ini mencoba membeli sistem operasi kecerdasan buatan macam Google Assistant atau Siri yang mampu membantunya dalam mengerjakan tugas sehari-hari bermerk OS1. Ia menamakannya Samantha, yang suaranya diperankan oleh mbak Scarlett “Black Widow” Johansson.

Pribadi Theo yang introvert dan kecerdasan luar biasa dari Samantha mampu membuat Theo memiliki perasaan terhadap AI (artificial intelligent) tersebut, serta membuat Samantha lambat laun ‘mempelajari’ dan ‘mencoba menjadi’ manusia. Aneh memang, tetapi Spike Jonze dengan cerdik mampu menggiring opini sebegitu dalamnya jauh ke dalam pemikiran filosofis manusia, “Siapakah dirimu?”, “mau menjadi apa dirimu?”, hingga “ke mana tujuanmu?”

Film Her dikemas dengan color grading pastel yang memanjakan mata. Dengan tone utama jingga membuat mata seakan direlaksasi menyaksikannya, dan juga tone pastel memang cenderung bersifat futuristik, berkelas dan modern. Cocok dengan konsep kota utopis yang membuat kita bertanya-tanya di kota mana atau pada tahun berapa cerita ini terjadi.

Jujur, cerita ini sangat segar karena mengambil tema yang out of the box. Film romansa dengan subjek yang di luar standar. Didukung dengan naskah yang solid serta aktor yang kompatibel, yang nggak usah diragukan lagi kemampuan berlakonnya. Tak lupa scorring musik yang mengalun romance-able, yang menggunakan lagu-lagu dari Arcade Fire dan Owen Pallett, tak lupa tembang The Moon Song-nya Karen O yang masuk nominasi Best Song di Academy Award (Oscar) 2014.

Berbicara mengenai isu yang dibahas, Spike Jonze memang terkenal selalu membuat film-fim dengan premis yang unik dan film ini merupakan salah satunya membahas tentang isu posthuman di mana teknologi terus maju hingga di titik mampu melampaui manusia. Hal ini yang membuat film ini memiliki kenikmatan fantasi dan filosofi tersendiri saat ditonton.

Posthuman adalah suatu konsep yang berasal dari bidang fiksi ilmiah, futurologi, dan seni kontemporer, atau filsafat yang mendiskusikan entitas yang lahir ketika manusia menggabungkan dirinya dengan teknologi yang notabene ciptaan manusia itu sendiri.

Di film Her, manusia sudah dikelilingi dengan teknologi sebegitu dekatnya. Definisi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat sangat terlihat dan digambarkan secara detail. Mulai dari pekerjaan Theo sebagai penulis surat dengan komputer berteknologi tinggi, menggambarkan bahwa saking tak percaya dirinya seorang manusia, ia bahkan mempekerjakan orang lain untuk menyampaikan pesannya.

Selanjutnya adalah momen di mana Theo yang anti-sosial, disebabkan karena kegalauannya semenjak memutuskan bercerai dengan mantan istrinya, atau lebih tepatnya digugat cerai. Tentu hal itu membuat dia membatasi diri dengan orang lain karena kesedihannya. Hal itu juga membuatnya menjadi pribadi yang depresif. Theo adalah gambaran nyata orang-orang yang kehilangan kepercayaan terhadap eksistensi manusia.

Terlebih di saat pertama kali Theo dan Samantha “bertemu”, awalnya Theo ragu akan kemampuan Samantha, dan Samantha membuktikan dirinya sebagai sistem operasi yang cerdas. Hal itu seolah menjadi simbol manusia yang awalnya superior, tetapi perlahan-lahan tergeserkan oleh teknologi yang notabene ciptaan manusia itu sendiri.

Dengan demikian, menurut Robert Pepperell dalam bukunya Posthuman Condition, teknologi kini tidak lagi dapat ditempatkan di bawah manusia, melainkan sejajar dengan manusia atau bahkan melampauinya. Hal ini menjadi alasan manusia tidak lagi dapat dipercaya sepenuhnya, karena kehadiran ‘mesin yang memiliki kesadaran’.

Setelah itu, hubungan mereka terus mengalami pembaharuan, layaknya sistem yang terus update. Theo yang semakin merasa nyaman akan kehadiran Samantha, serta Samantha yang terus menggali informasi, semakin cerdas, semakin mencoba mencari jati dirinya. Agak aneh memang, sebuah Artificial Intelligent mencoba mencari tahu jati diri, mengetahui hakikat kehidupan, serta selalu berpikir filosofis tentang penciptaan.

Dan tentu, inti permasalahan di film Her ada pada Theo yang dinilai tidak bisa menerima kenyataan serta Samantha yang ‘kelewat cerdas’. Lucu jika melihat ada orang yang bertengkar adu mulut dengan sebuah mesin, terlebih melihat Theo yang fitrahnya sebagai lelaki depresif tentu saja kalah debat, ini menjadi ironi di mana di adegan inilah gambaran manusia yang kalah oleh mesin.

Lantas, apakah semua akan berakhir dengan kekalahan manusia terhadap teknologi? Tak dapat dimungkiri bahwa teknologi memang sudah melampaui kita, jika melihat kenyataan orang yang hendak bepergian saat ini lebih mempercayakan perjalanannya kepada sistem aplikasi peta digital daripada bertanya pada orang lain. Meski begitu, hal ini menunjukkan bahwa setidaknya, manusia percaya bahwa dengan bantuan teknologi ia dapat mencapai harapannya.

Spike Jonze juga memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Di mana saat terakhir Samantha ‘dimatikan’, Theo melepasnya dengan tulus, menjadi bukti bahwa manusia akan tetap menjadi manusia, yang memiliki perasaan, serta memiliki kesempatan untuk meng-upgrade dirinya. Theo belajar banyak dari Samantha, begitu pula Samantha belajar banyak dari Theo. Sebuah kenyamanan yang dapat dinikmati oleh penonton. Hal ini merupakan puncak keromantisan hubungan tersebut.

Jadi, akhirnya film Her mengajarkan kita bahwa sejatinya cinta tak memandang apapun, bahkan dapat membuatnya berani melewati batas-batas eksistensi. Lebih jauh dari itu, ini merupakan karya film romansa terbaik yang pernah saya tonton, yang tak hanya menyajikan cerita romansa, tetapi juga makna filosofis.

“Siapakah dirimu?”
“Mau menjadi apa dirimu?”
“Ke mana tujuanmu?”

Sumber gambar: YouTube Warner Bros. Pictures

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.