Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Repotnya Orang Paninggaran Pekalongan di Perantauan karena Kerap Disalahpahami Orang-orang yang Nggak Paham Geografi

Vina Vinesta oleh Vina Vinesta
15 Februari 2024
A A
Repotnya Orang Paninggaran Pekalongan di Perantauan karena Kerap Disalahpahami Orang-orang yang Nggak Paham Geografi

Repotnya Orang Paninggaran Pekalongan di Perantauan karena Kerap Disalahpahami Orang-orang yang Nggak Paham Geografi (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah 6 tahun saya pergi merantau, 4 tahun kuliah di Semarang dan 2 tahun bekerja di Jakarta. Dan sudah selama itu pula saya harus berhadapan dengan pertanyaan tempate, “Kamu asli mana?” dari orang-orang yang baru saya temui. Pertanyaan itu sebenarnya biasa saja, tapi sebagai orang Paninggaran Pekalongan, pertanyaan itu bisa jadi merepotkan bagi saya.

Kecamatan Paninggaran Pekalongan memang terletak di pegunungan yang jauh dari kota. Untuk bisa sampai ke sana, kita harus melewati hutan karet dan pinus dengan jalan menanjak dan berkelok-kelok. Wajar saja kalau nggak banyak orang tahu keberadaan kecamatan ini. Makanya tiap saya ditanya berasal dari mana, saya akan menjawab Pekalongan saja alih-alih Paninggaran.

Akan tetapi ternyata repons orang-orang setelah itu justru membuat saya semakin frustrasi. Menjelaskan Pekalongan saja sudah bikin mumet, ditambah harus menjelaskan Paninggaran.

“Oh, Pekalongan. Deket, dong. Kok jarang pulang kampung?”

Ini adalah respons terbanyak yang saya dapatkan ketika tinggal di Semarang dulu. Ya memang nggak salah. Semarang-Pekalongan cuma 1 jam perjalanan naik kereta api. Kalau naik mobil lewat tol butuh waktu sekitar 1,5-2 jam, sementara kalau naik motor butuh waktu kurang lebih 3 jam.

Masalahnya, kalau saya memilih naik kereta api, saya masih harus menempuh perjalanan sekurang-kurangnya 2 jam lagi dari stasiun ke rumah saya di Kecamatan Paninggaran Pekalongan. Dari stasiun Pekalongan, saya naik ojek online sampai terminal bus di Kajen. Dari sana, lanjut naik bus sampai Pasar Paninggaran, lalu turun naik ojek konvensional sampai rumah.

Tapi perlu diingat, tadi saya bilang sekurang-kurangnya. Saya pernah baru sampai rumah pada keesokan harinya. Lantaran jalanan curam dan berkabut, bus dari Terminal Kajen menuju Paninggaran hanya beroperasi sampai pukul 16.00 WIB. Itu pun armadanya terbatas dan nggak selalu beroperasi setiap hari. Kalau sedang ramai, jam 3 sore pun sudah nggak ada bus lagi.

Padahal tiket kereta pagi Semarang-Pekalongan nggak selalu tersedia. Untuk pesan ojek online sampai terminal pun kadang harus menunggu lama. Dan sebelum kalian bertanya, “Kenapa nggak langsung naik ojol sampai rumah?” Jawabannya, di Kecamatan Paninggaran Pekalongan belum tersedia layanan ojek online. Bahkan Google Maps pun belum menjangkau semua areanya. Jadi, opsi utama saya ya berdesak-desakkan dengan pedagang pasar lengkap dengan barang belanjaan mereka di dalam bus.

Jika terpaksa nggak dapat bus, upaya terakhir yang bisa saya lakukan adalah mencari sembarang kendaraan lewat yang mau ditumpangi. Saya pernah suatu kali ketinggalan bus dan terjebak hujan sampai malam. Akhirnya saya menelepon ayah saya untuk minta dijemput. Makanya kalau ditanya kenapa tiap weekend saya nggak pernah pulang seperti teman-teman Pekalongan yang lain, mohon maaf, Pekalongan kami berbeda.

Baca Juga:

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

“Oh, di Banjarnegara. Deket Dieng itu, ya?”

Nah, ini juga respons yang lumayan bikin mangkel orang Paninggaran Pekalongan kayak saya di perantauan. Biasanya, orang-orang yang pernah tinggal di Pekalongan atau punya kenalan dari Kota Batik akan mengulik daerah asal saya lebih jauh. “Oh, Pekalongannya sebelah mana? Pakde saya di Pekalongan utara.”

Sudah hampir bisa dipastikan saya harus menjelaskan panjang lebar jika tanggapannya demikian. Mulai dari menjelaskan bahwa Pekalongan terbagi dua, ada Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Lalu menjelaskan bahwa rumah saya di kabupaten, bukan kota. Kecamatan tempat tinggal saya namanya Paninggaran, letaknya dari Kedungwuni dan Kajen masih jauh. Iya, melewati hutan. Bukan Kandangserang, tapi Paninggaran Pekalongan. Hutannya yang belok kiri, bukan kanan. Sehabis tempat wisata Linggo Asri. Betul, ada di gunung. Tepat sekali, berbatasan langsung dengan Banjarnegara.

Namun apalah daya, setelah semua petunjuk yang saya katakan, hanya bagian Banjarnegara yang mereka dengar. Ujung-ujungnya mereka cuma akan membuat kesimpulan sendiri bahwa saya orang Banjarnegara. Dekat dengan Dieng pula. Ya sudahlah.

Sekarang jika menjumpai situasi serupa, saya akan langsung menegaskan, “Saya dari Pekalongan, tapi yang daerah gunung, perbatasan Banjarnegara.”

“Wah, orang pantura. Pejuang banjir juga, nih!”

Mau mengakui atau nggak, banjir Pekalongan memang cukup terkenal. Sekitar 3 tahun lalu bahkan sempat heboh banjir “darah” di Pekalongan karena warna air yang menjadi merah akibat kontaminasi pewarna batik. Kota Pekalongan memang dekat dengan laut, sehingga pada musim-musim tertentu banjir rob bisa saja terjadi.

Tapi lagi-lagi, saya harus menjelaskan ke orang-orang yang seenaknya saja memberi tanggapan ini. Saya memang orang Pekalongan, tapi rumah saya di gunung, tepatnya di Kecamatan Paninggaran. Bayangkan kalau Paninggaran banjir, bagaimana nasib daerah-daerah lain di bawahnya?

Bukannya saya ingin sombong karena belum pernah kebanjiran seumur hidup. Hanya saja, saya berharap orang-orang mau lebih memahami, bahwa Pekalongan bukan cuma secuplik daerah perkotaan itu saja. Hanya karena saya orang Pekalongan, bukan juga saya harus bisa atau pernah membuat batik.

Ya, begitulah repotnya jadi warga Paninggaran Pekalongan ketika merantau. Baru senang merasakan kehidupan kota, eh, malah dibikin frustrasi sama pertanyaan orang-orang yang nggak paham geografi.

Penulis: Vina Vinesta
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Hidup di Kota Pekalongan Itu Menyenangkan, Saya Lagi Nggak Bercanda, Semenyenangkan Itu!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Februari 2024 oleh

Tags: jawa tengahKabupaten PekalonganKecamatan PaninggaranmerantauPaninggaran Pekalonganpekalonganperantauperantauan
Vina Vinesta

Vina Vinesta

Ngakunya feminis. Hobinya halu menjelma siapa saja yang ditemuinya lewat kata.

ArtikelTerkait

8 Alasan Kebumen Pantas Jadi Kiblat Slow Living di Jawa Tengah (Unsplash)

8 Alasan Kebumen Pantas Jadi Kiblat Slow Living di Jawa Tengah

3 Desember 2025
Asem-asem Koh Liem Kuliner Legendaris Semarang yang Sayang untuk Dilewatkan Terminal Mojok

Asem-asem Koh Liem: Kuliner Legendaris Semarang yang Sayang untuk Dilewatkan

29 Juli 2022
Kabupaten Cilacap Bercahaya Slogan yang Penuh Kebohongan (Unsplash)

Jalur Selatan Kabupaten Cilacap: Bukti Julukan Cilacap Bercahaya Nggak Sesuai dengan Kondisi Jalan yang Gelap Gulita

9 September 2023
Sidoarjo Ramah untuk Pebisnis, tapi Tidak Ramah untuk Perantau

Sidoarjo Ramah untuk Pebisnis, tapi Tidak Ramah untuk Perantau

14 Maret 2023
Masalah Purwokerto Terminal Bulupitu Menyusahkan Warga (Unsplash)

Masalah Purwokerto: Terminal Bulupitu yang Berpotensi Menyusahkan Mahasiswa dan Warga

8 Juli 2023
Culture Shock Orang Sidoarjo yang Merantau ke Tulungagung: Kopi kok Ijo?

Culture Shock Orang Sidoarjo yang Merantau ke Tulungagung: Kopi kok Ijo?

17 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons)

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

19 Maret 2026
5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Sulit Ditemukan Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota Mojok.co

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

20 Maret 2026
5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.