Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Radio yang Tidak Akan Pernah Terdisrupsi Oleh Podcast

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
13 September 2019
A A
podcast

podcast

Share on FacebookShare on Twitter

Pada zaman sekarang, sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah ketika sesuatu atau cara lama, digantikan oleh inovasi teranyar dengan cara yang paling baru pula. Efek dari era digital yang seringkali disebut sebagai era 4.0, katanya. Oleh karena itu, ada beberapa sesuatu dengan cara yang lama terdisrupsi dengan sendirinya oleh inovasi yang dianggap jauh lebih efisien dan menyesuaikan pangsa pasar terkini.

Beberapa diantaranya, pembayaran secara tunai dengan uang fisik terganti dengan uang elektronik atau dompet digital (cashless). Jika dulu ingin meminjam uang kita harus melalui layanan finansial dan harus secara langsung datang ke tempatnya, kini secara online pun bisa meminjam uang. Transportasi konvensional yang kini secara perlahan kalah saing dengan transportasi online. Lalu, sudah menjadi rahasia umum pula banyak orang kini lebih memilih menggunakan layanan musik streaming seperti Spotify dan JOOX.

Bersamaan dengan kehadiran Spotify dan JOOX, banyak pula podcast (percakapan atau obrolan dari beberapa orang yang direkam dengan pelbagai topik pembahasan) yang bermunculan dengan segala topik pembahasannya dan bisa diakses melalui aplikasi layanan musik streaming tersebut. Bahkan, di Twitter beberapa waktu lalu sempat ada pembahasan bahwa radio dianggap kurang menarik lagi bagi sebagian orang, akan kalah saing dengan podcast—terdisrupsi.

Harus diakui jika pembahasan podcast memang variatif, ada yang membahas cabang olahraga populer seperti sebak bola dan basket, tentang film box office terkini, kehidupan sosial sampai dengan curhat keseharian pun ada. Mirip-mirip radio, hanya saja bedanya direkam. Tak jarang pula pembahasan pada podcast mengundang gelak tawa.

Namun, radio yang memang mengawali itu semua sejak lama tentu tidak akan terdisrupsi begitu saja. Pertama, karena memang sudah ada peminatnya sejak dulu meski tetap ada peluang sebagian pendengarnya beralih ke podcast. Kedua, karena radio pun mengikuti perkembangan zaman dan melihat bagaimana pangsa pasar saat ini. Jika dulu radio hanya bisa didengar melalui radio tape, kini, pendengar setianya bisa mengakses radio melalui fitur langsung dari handphone, website, juga mengunduh aplikasinya di playstore atau applestore.

Banyak dari saluran radio pun sudah merambah dunia per-YouTube-an dengan segala kontennya. Hal tersebut menjadikan radio kian menarik dan variatif dari sisi konten.

Kemudian yang menjadi pembeda adalah, ada sensasi yang berbeda ketika mendengar pembahasan dan banyak lagu di radio. Rasanya, tidak ada kata bosan ketika mendengar lagu yang meski sudah diputar berkali-kali di radio. Padahal, lagu tersebut sudah seringkali didengar melalui playlist lagu pada aplikasi pemutar musik di handphone atau di Spotify.

Bagi saya, hal lain yang membedakan antara radio dengan podcast adalah dari sisi interaktif antara penyiar dan pendengar. Di radio, ketika membahas suatu topik juga peristiwa terkini hampir selalu ada sesi tanya-jawab atau sekadar memberi masukan dari sudut pandang lain yang didapat dari para pendengar—bisa melalui telepon langsung atau SMS. Wajar, karena radio sebagaimana diketahui disiarkan secara langsung. Sedangkan podcast berupa rekaman suara.

Baca Juga:

7 Rekomendasi Channel YouTube untuk Belajar Materi SKD CPNS secara Gratis

Bayar UKT Mahal, tapi Dosen Nyuruh Mahasiswa Belajar dari YouTube, Logikanya di Mana sih?

Di sisi lain, podcast seakan hadir sebagai penyeimbang dan dapat berjalan beriringan dengan radio dengan pembahasan up to date juga menarik bagi para pendengarnya. Saya sendiri masih mendengar podcast jika memang pembahasan atau beberapa lagu yang diputar di radio sedang kurang menarik. Tentunya, bagi diri saya sendiri, karena soal menarik atau tidak tentu menjadi selera masing-masing. Begitu pula sebaliknya.

Setiap orang boleh berpendapat, tapi memperdebatkan soal mana yang lebih baik antara radio dan podcast rasanya tidak perlu dilebih-lebihkan. Sebab, keduanya sama-sama menarik dan memiliki pendengar setianya masing-masing. Radio, dengan segala kenangan, nostalgia, dan kejayaannya hingga kini masih ada yang tetap menjadi pendengar setianya—termasuk saya.

Dan podcast hadir sebagai alternatif lain untuk mengisi waktu luang atau menghilangkan kebosanan. Bahkan seringkali banyak pengetahuan baru yang didapat. Paling tidak, dalam suatu topik permasalahan terkini ada sudut pandang lain yang diutarakan oleh para pegiat podcast.

Memasuki era disruptif seperti saat ini, saya selalu berharap ada beberapa hal yang tidak akan hilang karena tergerus oleh zaman. Sebab, ada beberapa kenangan yang sulit—atau bahkan mungkin tidak akan pernah bisa—tergantikan oleh inovasi terkini. Diantaranya, mendengar celotehan para penyiar radio dengan segala keceriaannya secara langsung, juga sesi kirim-kirim salam pada saat sebelum atau sesudah lagu diputar. (*)

BACA JUGA Kesempurnaan dalam Drama Korea dan Delusi Para Kpopers atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 September 2019 oleh

Tags: perkembangan zamanpodcastRadioRevolusi Industri 4.0Tren Masa KiniYoutube
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

lirik lagu tik tok

Meresapi Lirik Lagu Tik Tok: Maknanya Dalem, Cuy!

26 September 2019
film india

Memangnya Kenapa Kalau Saya Suka Menonton Film India?

8 Agustus 2019
7 Rekomendasi Channel YouTube untuk Belajar Materi SKD CPNS secara Gratis

7 Rekomendasi Channel YouTube untuk Belajar Materi SKD CPNS secara Gratis

21 September 2024
5 Rekomendasi Channel tentang Literasi Keuangan bagi Kalian yang Ingin Kaya di Masa Tua

5 Rekomendasi Channel tentang Literasi Keuangan bagi Kalian yang Ingin Kaya di Masa Tua

25 Maret 2022
Iklan Podcast Horor di Spotify Sukses Bikin Saya Langganan Spotify Premium

Iklan Podcast Horor Sukses Bikin Saya Langganan Spotify Premium

4 Desember 2023
Alip Ba Ta

Alip Ba Ta dan Dunia Fingerstyle

26 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja Mojok.co

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja

7 Juni 2026
Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras Mojok.co

Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras

3 Juni 2026
5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total Mojok.co

5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total

3 Juni 2026
Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

3 Juni 2026
5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung

Warung Madura Terlalu Percaya Diri, padahal Warung Tetangga Bisa Menggulingkannya Kapan Saja

6 Juni 2026
Kopi Klotok Tidak Lagi Menarik, Warga Jogja Pilih Menghindar (Wikimedia Commons)

Kopi Klotok: Kuliner Wajib bagi Wisatawan, tapi Semakin Banyak Warga Lokal Jogja yang Memilih Menjauh dan Mencari Tempat Lain

6 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.