Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Proker KKN Tidak Tepat Sasaran Itu Bukan Salah Mahasiswa Saja, tapi Sistem Pendidikan yang Kacau Adalah Penyebab Utamanya!

Miftakhul Huda Arrofi oleh Miftakhul Huda Arrofi
8 September 2025
A A
KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash) mahasiswa KKN, KKN di kota

KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika membaca berbagai tulisan di Mojok tentang KKN, kita dapat melihat program seakan-akan memang menjadi program kampus terkesan sia-sia. Walaupun ada juga sih yang menulis tentang hal positif, tapi tetap saja kegagalannya lah yang melekat dalam ingatan.

Mengenai kegagalan program ini, juga datang kata pakar pendidikan Darmaningtyas (2004) dalam buku Pendidikan yang Memiskinkan menjelaskan, “KKN kurang relevan, karena saat ini terdapat perbedaan kondisi dan situasi dengan pertama adanya KKN.”

KKN ini niatnya baik: menyelesaikan masalah desa dengan bantuan dari mahasiswa yang memelajari teorinya. Tapi, yang terjadi justru programnya kurang tepat, bahkan kadang merugikan. Programnya pun template: mengerjakan program kelompok sebelumnya atau yang di daerah lain, padahal bisa jadi situasi sudah berubah dan tiap daerah punya masalah yang berbeda.

Ini masih belum ngomongin masalah internal kelompok yang kadang penuh drama.

Masalah-masalah tersebut bikin KKN seakan-akan tak punya dampak entah bagi pelaku atau penerima program. Tak mengagetkan kalau kini banyak sekali usulan untuk menghapuskan program ini, mengingat efeknya dirasa hampir tak ada.

Di balik masalah-masalah KKN

Saya lebih tertarik melihat masalah KKN sebagai refleksi dari pendidikan kita. Oleh karena KKN jadi program yang dijalankan hampir semua universitas di Indonesia, ini bisa jadi cerminan yang bagus. Refleksi pada program ini, pada dasarnya, bisa jadi refleksi sistem pendidikan Indonesia.

Kita sering menyalahkan mahasiswa jika kita bicara tentang KKN. Mulai dari mahasiswa yang dianggap tak inovatif, malas, atau kurang memahami esensi program itu sendiri. Masalahnya, yang terjadi tak sesederhana itu. Yang sebenarnya terjadi, kelewat kompleks.

Ingat, mahasiswa adalah produk pendidikan. Maka dari itu, pertanyaannya bisa jadi begini: apa yang sebenarnya salah dengan sistem pendidikan, hingga tiap KKN, yang terjadi masalahnya itu-itu saja?

Baca Juga:

Bantul Itu Maju ya, Gaes, Bukan Desa Tertinggal dan Tak Tersentuh Peradaban seperti yang Ada di Pikiran Kalian!

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya

Jangan-jangan, mahasiswa selama ini memang diajari hal-hal yang sama, dan tidak dilibatkan dalam realitas. Maksudnya, bisa jadi pendidikan hanya mendidik dalam hal teori, tapi tidak menunjukkan realitas hidup seperti apa, hingga akhirnya mahasiswa tersebut seakan-akan hidup dalam menara gading.

Perlu kita pahami KKN adalah kegiatan yang memerlukan proses analisis sosial yang mendalam. Artinya, mahasiswa dituntut untuk peka, mendapat informasi yang dalam dan lengkap. Proses mencari tersebut menuntut mahasiswa untuk berbaur.

Tapi realitasnya, mahasiswa seakan-akan terasing dari realitas masyarakat desa. Seakan-akan, mereka tak tahu bahwa dunia berjalan seperti itu. Pendidikan yang mereka tempuh seakan-akan tak memberikan pelajaran hidup. Jauh-jauh menempuh pendidikan tinggi, tapi tak paham yang terjadi di sekitar diri.

Saya bertanya pada Riski (21), salah satu mahasiswa yang KKN di Klaten. Lokasinya sebenarnya tidak jauh dari keberadaan kampus, tapi dia tetap kebingungan untuk beradaptasi.

“Saya merasa kaget dengan berbagai hal di sini. Banyak hal yang baru saya tahu. Meskipun saya belajar banyak, tapi kami sekelompok juga bingung merancang program kerja KKN. Sehingga, kami mengadakan proker yang template dari tahun ke tahun.”

Pendidikan yang terasing dari kehidupan

Ini bukan masalah hanya sebatas perbedaan yang budaya setiap daerah. Sebenarnya wajar jika mereka belajar hal-hal baru dan beradaptasi. Tapi, kok rasanya mereka malah belajar dari dasar banget dan sebegitu terasingnya dengan daerah yang seharusnya mereka juga sudah pelajari itu.

Hal ini menjadi aneh karena sudah seharusnya mahasiswa sebagai bagian dari kaum terpelajar sudah memiliki informasi memahami guna memajukan ketertinggalan yang ada di desa itu.

Saya juga mewawancarai Supri (53), warga di desa sekaligus pemilik posko KKN. Beliau juga menyampaikan kegelisahannya pada mahasiswa.

“Iya to. Anak sekarang ini, sama budaya kok udah pada tidak kenal, dan harus dikenalkan. Kalau tidak jadi tidak tahu. Begitu juga harus diajarkan arti sosial dalam masyarakat desa”.

“Kalo di sekolah sama kampus kayak gini tidak diajarkan to?”, tambahnya.

Begitulah kira-kira yag disampaikan masyarakat, sampai-sampai mereka tahu bahwasanya sekolah begitu jauh dengan kehidupan masyarakat. Mereka percaya sekolah, tapi tetap tidak seutuhnya. Bagaimana mungkin ingin melakukan perubahan atau perbaikan dalam desa, jika mengenali saja juga belum bisa?

Pendidikan perlu mengajarkan keutuhan kehidupan

Pendidikan kita hari ini perlu berbenah dalam mendidik sesuai kebudayaan. Sebagaimana Jerome Bruner (1996) dalam The Culture of Education menjelaskan, “Pendidikan bukan sekedar persoal teknis pengolahan informasi, akan tetapi usaha untuk menyesuaikan kebudayaan dengan kebutuhan anggotanya, dan menyesuaikan anggotanya dengan cara mereka mengetahui kebutuhan kebudyaan.”

Bung Hatta juga menyampaikan tentang pendidikan berkebudayaan, sebagaimana dikutip Yudi Latif (2020) dalam buku Pendidikan yang Berkebudayaan, menyatakan “proses pendidikan adalah kebudayaan; pendidikan itu sendiri adalah proses pembudayaan.”

Keterasingan mahasiswa KKN menjadi menjadi peringatan akan sistem pendidikan kita saat ini. Khususnya pada ranah kebudayaan itu sendiri.  Berbagai komponen pendidikan, satu sama lain perlu mengarahkan pada pendidikan yang berbudaya, agar dapat efektif bagi peserta didik dalam memanfaatkan yang diajarkan di sekolahan atau kampus. Sehingga, diharapkan KKN dapat membawa perubahan.

Oleh karena itu, pendidikan perlu memperhatikan dan berbenah dalam pendidikan yang berkebudayaan. Jangan sampai pendidikan kita menjadi terasingkan dengan kebudayaan masyarakat.  Sebab, tidak hanya KKN yang tidak berguna, tapi pendidikan itu sendiri juga nanti menjadi tidak berguna.

Penulis: Miftakhul Huda Arrofi’
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA KKN Sudah Usang. Tidak Mendapat Pengalaman, Tidak Juga Membangun Desa, Mending Diganti Magang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 September 2025 oleh

Tags: kehidupan desaKKNmahasiswa KKNprogram KKN
Miftakhul Huda Arrofi

Miftakhul Huda Arrofi

Bergiat di Lembaga Penelitian Mahasiswa Dinamika, memiliki minat pada kajian pendidikan dan keislaman

ArtikelTerkait

mantan pacar

Pacarku Dapat Pacar Baru di Lokasi KKN

10 Juni 2019
Detail Kecil tentang KKN yang Luput di Film KKN di Desa Penari Terminal Mojok

Detail Kecil tentang KKN yang Luput dalam Film KKN di Desa Penari

25 Mei 2022
Proker KKN Bikin Jamu, Program Mahasiswa KKN Paling Nggak Berguna di Gunungkidul Mojok.co

Proker KKN Bikin Jamu, Program Mahasiswa KKN Paling Nggak Berguna di Gunungkidul

13 Januari 2024
Senangnya KKN Bareng Mahasiswa “Sultan”, Program Lancar Tanpa Keluar Banyak Uang Mojok.co

Senangnya KKN Bareng Mahasiswa “Sultan”, Program Lancar Tanpa Keluar Banyak Uang

3 Juni 2025
Sudah Berkali-kali Mahasiswa KKN ke Desa Saya, tapi yang Berubah Hanya Patok Pembatas Desa

Sudah Berkali-kali Mahasiswa KKN ke Desa Saya, tapi yang Berubah Hanya Patok Pembatas Desa

5 September 2025
suasana kuliah kerja nyata kkn offline uns 2020 wabah corona mojok.co

Bagaimana KKN Mahasiswa UNS Tetap Offline di Masa Pandemi

8 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat  Mojok.co

Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat 

18 April 2026
Bangkalan dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia Mojok

Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia

21 April 2026
Honda Supra X 125 Motor Terbaik? Ngawur, yang Terbaik Tetap Karisma (Unsplash)

Tak Hanya Supra, Honda Karisma Juga Jadi Tulang Punggung Keluarga Kelas Menengah di Indonesia

16 April 2026
Konten Tutorial Naik Pesawat Nggak Norak Sama Sekali, Justru Amat Penting buat Mayoritas Rakyat Indonesia

Konten Tutorial Naik Pesawat Nggak Norak Sama Sekali, Justru Amat Penting buat Mayoritas Rakyat Indonesia

20 April 2026
Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup (Unsplash)

Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup

19 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

16 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • WNA Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Kontrak di Indonesia dan Mengabdi untuk Anak Pekerja Migran di Sana
  • WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”
  • Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga
  • Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!
  • Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran
  • Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.