Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Profesi PNS Adalah Kebanggaan Orang Tua yang Masih Abadi

Hasanuddin Arbi oleh Hasanuddin Arbi
2 November 2020
A A
Akbar Faisal Profesi PNS Adalah Kebanggaan Orang Tua yang Masih Abadi terminal mojok.co

Profesi PNS Adalah Kebanggaan Orang Tua yang Masih Abadi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pekerjaan paling menjanjikan dan diidam-idamkan barangkali masihlah PNS. Walau digempur wabah atau bencana pengesahan RUU “cilaka”, profesi PNS tetap paling terjamin. Hingga di hari tua yang kelak dinikmati tanpa pergi ke kantor pun, negara harus menyisihkan pendapatannya untuk menghargai jasa para pengabdinya.

Musim nikahan yang sedang berlangsung saat ini menurut saya semakin parah karena bertepatan dengan pengumuman seleksi CPNS. Hal itu mendegradasi saya dari pribadi yang semula sudah merasa kecil makin merasa menjadi secuil Rinso di tengah lautan Downy. 

ADVERTISEMENT

Pengumuman seleksi CPNS tersebut menandai hari berkabung sekaligus senang, mengucap selamat sekaligus mengusap dada. Sebab, teman per-Story-an saya di WhatsApp, Instagram, maupun Facebook secara serentak mengunggah konten dengan caption yang menohok seperti merendah di hadapan Tuhan, tapi mengangkasa di lingkar pertemanan, “Alhamdulillah, semoga bisa amanah”, “Alhamdulillah usaha yang tidak sia-sia, terima kasih, Allah”, “Mission completed. Terima kasih, Tuhan” dan kalimat-kalimat syukur lainnya karena mereka lolos seleksi CPNS. Saya yang terlanjur lihat harus mengucap selamat dengan hati sedih dan emoticon gembira. Lalu dalam hati bertanya, “Saya kapan, Tuhan?”

Menjadi pengangguran dan belum nikah adalah problem kehidupan yang berat serta sangsi untuk saya jalani. Apalagi berada di tengah masyarakat yang mengagungkan profesi PNS sebagai pekerjaan mahatinggi yang paling ideal dan mapan. Sebab itu, ungkapan ini terasa sangat tepat, “Anda belum sukses kalau belum jadi PNS.”

Walau begitu, saya tahu beberapa kawan saya ada yang merelakan diri menjadi honorer asalkan tidak menganggur, ada juga alasan lainnya. Tujuannya agar mereka dapat prestise dengan baju dinas berwarna cokelat dan sepatu hitam necis. Soal gaji, itu urusan belakang. Yang penting, tidak seharian rebahan dan keluyuran malam sehingga menjadi bahan obrolan ibu-ibu dasteran. Begitulah mereka mengelak.

Mempertahankan predikat freshgraduate dengan minimnya pengalaman serta keahlian pas-pasan membuat saya teralienasi dalam lingkungan. Terlebih lagi, jurusan saya yang tidak keren-keren amat atau malah biasa banget di mata masyarakat. Hal ini mengharuskan saya untuk tahan banting. Ah, hidup ini pahit dan saya dipaksa mengecapnya.

Memang tak mudah melihat keberhasilan orang lain. Tentu lebih sangat tidak mudah kalau orang lain itu adalah orang yang kita kenal, seperti kawan atau kerabat seumuran. Auto jadi studi banding ke diri sendiri. Seandainya mereka tahu, profesi PNS memang menjanjikan secara finansial, tapi tidak pernah menjamin kebahagiaan. Kebahagiaan adalah nasib masing-masing dan pekerjaan tak bisa dibatasi hanya PNS.

Namun, profesi PNS tetaplah satu-satunya pekerjaan yang tak lekang oleh waktu. Sejarah telah menunjukkannya berulang. Mereka yang bekerja jadi PNS mampu melewati seleksi hidup yang pahit-asam-manis ini.

Baca Juga:

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

Bersyukur Tidak Lolos CPNS Setelah Lulus SMA karena Difitnah Teman Dekat kalau Saya Ikut Seleksi Pakai Ordal

Perkembangan zaman memiliki efek yang kecil di daerah saya tinggal. Di sini, di daerah tempat terbitnya matahari, kami hampir tak mengenal istilah UMR atau menjadikannya sebagai parameter pendapatan. Siklus hidup dalam lingkup pekerjaan secara hierarkis menempatkan profesi PNS sebagai urutan pertama, kemudian para pekerja tambang yang menebus tenaga dan pisah raga demi gaji yang tak sedikit, dilanjutkan para pekerja swasta yang begitu-begitu saja. 

Profesi PNS dijelmakan bagai napas hidup yang diharapkan oleh orang tua agar anak-anaknya sedikitnya dapat menghirup udaranya. Pola pikir ini dijaga turun-temurun. Walau banyak dari kita yang telah merantau dan menyadari kefanaannya, ketika kembali berpijak di rumah, lingkungan mengontrol penuh ideologi kita. Membuat kita mati kutu sebelum mampu bermutasi menjadi yang beda. Di sini, profesi PNS adalah keabadian. Tak bisa mati dibunuh oleh pikiran, tak lebam jua dihantam keengganan.

Hal pahit atau pelik kemudian membebani diri sesuai dengan yang telah diprediksikan. Ibu, ujug-ujug memasuki kamar saya, lalu berkata, “Si (anu) lulus CPNS lho!” Melihat ekspresi Ibu yang kadung gembira, saya menjawab spontan, “Wah syukurlah, saya ikut senang,” sambil senyum mesem. Saya sudah tahu percakapan selanjutnya mengarah ke mana dan betul sekali, Ibu bilang begini, “Kamu tahun depan ikut CPNS juga ya!”

Saya seketika diam tak menjawab hingga Ibu yang sudah melewati pintu, kembali memasukkan kepalanya menatap saya, “Iya Bu, akan saya usahakan.” Udara menipis, sesak, saya ingin tidur dan terbangun di belahan dunia lain. Tentunya dengan nasib yang lebih baik~

BACA JUGA Ketika Orang yang Biasa ke Angkringan Mengunjungi Kafe Kelas Menengah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2020 oleh

Tags: mencari pekerjaanpns
Hasanuddin Arbi

Hasanuddin Arbi

Penyintas yang percaya bahwa hidup akan baik-baik saja tanpa dirinya ada, tapi enggan punah. Sudah itu saja.

ArtikelTerkait

Nggak kayak Karyawan SCBD, 5 Alasan PNS Nggak Perlu Bikin Video Flexing Kantor Terminal Mojok.co

PNS Kaya Nggak Melulu karena Korupsi, Ini 5 Alasan PNS Bisa Kaya

26 November 2022
Benarkah PNS Nggak Ngapa-ngapain ketika WFH Terminal Mojok

Benarkah PNS Nggak Ngapa-ngapain ketika WFH?

24 Juli 2022
3 Hal yang Harus Disyukuri Menjadi PNS Daerah Terminal Mojok

3 Hal yang Harus Disyukuri Menjadi PNS Daerah

3 Mei 2022
Cara Gadai SK ke Bank: Syarat, Ketentuan, dan Produk-produk yang Harus Diketahui

Cara Gadai SK ke Bank: Syarat, Ketentuan, dan Produk-produk yang Harus Diketahui

1 Oktober 2022
Ciri-ciri Warung Makan yang Berikan Garansi Kelezatan terminal mojok.co

Ciri-ciri Warung Makan yang Berikan Garansi Kelezatan

28 Agustus 2021
4 Alasan PNS Enggan Mengambil Tugas Belajar Terminal Mojok

PNS Masih Bisa Berbisnis, tapi Pebisnis Belum Tentu Bisa Jadi PNS, Rumus dari Mana?

9 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026
Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Iuran wajib Hari Kemerdekaan Indonesia itu penjajahan gaya baru (Unsplash)

Tradisi iuran wajib untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di kampung itu nggak masuk akal karena nggak semua warga punya uang sisa cuma buat panggung hiburan yang bikin berisik

9 Agustus 2026
Takut ke Puskesmas karena malas hadepin antrean panjang (Unsplash)

Pergi ke Puskesmas itu tidak menakutkan, yang menakutkan menghadapi antrean panjang dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.