Preman Pensiun Episode 30, Musim 1: Jamal Tiba-tiba Jadi Pengajar Bahasa Indonesia

Artikel

Avatar

Pada bagian awal Preman Pensiun episode 30, cerita berganti antara Kang Bahar dengan statusnya sebagai seorang (mantan) preman dan persoalan percintaan Kinanti.

Hari itu Kang Bahar datang ke rumah Pak Bagja. Ngobrol-ngobrol tentang kehidupan masing-masing. Tentang Kang Bahar yang sudah pensiun, kegiatan Kang Bahar setelah pensiun, dan kehidupan anak-anak Kang Bahar dan Pak Bagja. Kang Bahar juga cerita ke Pak Bagja kalau dia mulai salat lagi. Pak Bagja senang mendengarnya.

Di rumah bapaknya, Kinanti curhat kepada Kirani tentang persoalan restu dari orang tua Adit. Kinanti khawatir, status atau pekerjaan bapaknya menjadi halangan atas keseriusan hubungannya dengan Adit.

Yah, memang benar, orang tua Adit memang nggak setuju dengan hubungan Adit dan Kinanti setelah mereka tahu bahwa Kinanti adalah anaknya Kang Bahar yang adalah seorang preman.

Sementara itu, di markas dekat pasar, ada Kang Mus dan Komar. Komar juga lagi galau karena belum berhasil diterima sama istrinya di rumah. Lagi asyik-asyik ngobrol, Kang Mus heran sekaligus geli melihat Joni yang baru datang dengan memakai seragam security. Joni mengaku disuruh Komar, Komar pun ditegur sama Kang Mus. Padahal kan pada beberapa episode sebelumnya, Kang Mus sendiri yang kasih ide/perintah ke Komar supaya Joni bertugas dengan memakai seragam security. Kang Mus gimana, sih?

Di dunia percopetan, Junaedi sudah muncul di markas meski belum benar-benar pulih (katanya). Berhubung hasil nyopet Saep habis  karena ditodong orang, Junaedi pun minta tolong kepada Ubed agar Ubed mau nyopet lagi. Tujuannya untuk membantu membayar utangnya Junaedi waktu dia masuk rumah sakit. Ubed (sempat) menolak permintaan tersebut. Junaedi yang masih (kelihatan) susah payah berdiri itu ngambek lalu meninggalkan Ubed di markas.

Ubed kelihatan sedih dan dilema. Belum bisa ketahuan apakah dia mau memenuhi permintaan Junaedi, cerita sudah kembali pada kisah cinta Kinanti dan Adit. Adit ngajak Kinanti ketemu dan makan siang, tapi Kinanti menolak. Yang bikin tersentuh adalah ketika Kinanti dengan perasaan sedihnya, cerita ke Kirani bahwa dia sayang, tapi kadang-kadang benci pada bapaknya yang punya pekerjaan itu (preman). Seperti yang terjadi pada awal cerita, orang tuanya Adit memang tidak setuju dengan Kinanti yang adalah anak seorang preman.

Setelah Adit menelepon Kinanti, Adit dapat telepon dari Rosita yang menyamar sebagai sales developer property karena ditugaskan oleh Kang Mus untuk memantau pergerakan Adit. Rencana Rosita janjian dengan Adit, dilaporkan oleh Rosita kepada Kang Mus.

Di rumah Kang Bahar, untuk menghibur Kinanti yang lagi galau, Kirani mengajak Kinanti membeli oleh-oleh yang akan dia bawa ke Jakarta.

Ubed yang memang lugu ternyata luluh juga. Ubed kembali nyopet dan berhasil dapat uang satu juta rupiah dari korbannya. Junaedi senang sekali dapat kabar dari Ubed, mereka pun janjian ketemu di markas.

Kembali lagi nih ke Kang Bahar. Pulang dari rumah Pak Bagja, ketika Kang Bahar sampai di rumah, Kirani pamit ke Kang Bahar. Kirani yang mengajak Imas beli oleh-oleh, sama Kang Bahar malah disangka mau diajak ke Jakarta. Kepada Kirani, Kang Bahar nitip dibelikan wajit Cililin.

Kejadian lucu terjadi di markas copet. Sudah senang karena dapat bantuan uang dari Ubed, Junaedi harus kecewa lagi karena dapat telepon dari seorang perempuan yang nangis karena duit hasil pinjaman ke temannya, baru saja diambil sama copet di angkot. Junaedi pun langsung ngelihatin Ubed, dari ejspresinya sih bisa ditangkap bahwa Junaedi tahu siapa korbannya Ubed, hahaha.

Setelah dihibur dari cerita Ubed dan Junaedi, cerita berlanjut ke pelajaran bahasa Indonesia dari Jamal.

Murad: “Lapor, Bos. Semua warga yang tidak mau menjual tanah dan rumahnya, sudah saya beri peringatkan.”
Jamal: “Salah.”
Murad: “Apanya yang salah, Bos?”
Jamal: “Bukan peringatkan, tapi peringatan.”
Murad: ”Semua warga yang tidak mau menjual tanah dan rumahnya sudah saya peringatan.”
Jamal: “Salah.”
Murad: “Apanya lagi yang salah, Bos?”
Jamal: “Pilihan kalimat yang benar cuma dua. Pertama, semua warga yang tidak mau menjual tanah dan rumahnya, sudah saya peringatkan. Kedua, semua warga yang tidak mau menjual tanah dan rumahnya, sudah saya beri peringatan.”
Murad: “Biar saya nggak salah, silakan si Bos pilih sendiri aja.”

Baca Juga:  Presiden Kita Perlu Mengenal Raja Amangkurat yang Jangan-jangan Adalah Dirinya Sendiri

Ngakak dong saya dengarnya, hahaha.

Sayangnya nggak berlangsung lama ngakaknya, karena langsung jijik pas ngeliat Jamal lepehin permen karet ke mukanya Murad. Jatuh ke tanah lalu dipungut sama Pipit. Jamal ditegur nggak boleh buang sampah sembarangan karena nanti dimarahin Ridwan Kamil. Eh, Pipit malah disuruh masukin permen karet tersebut ke mulutnya. Pipit sempat menolak karena merasa mulutnya bukan tempat sampah, tapi Jamal tetap ngotot, bukan cuma disuruh masukin ke mulut, tapi juga dikunyah. Saya merasa jijik, Pipit malah senyum-senyum karena permen karet itu terasa manis katanya. Iiuuuhhh….

Sekarang Rosita sudah ketemu sama Adit. Rosita nanyain calon istrinya Adit, Adit mengaku calon istrinya nggak bisa datang karena lagi sibuk.

Di tempat beli oleh-oleh, Kirani yang mau beli peuyeum Bandung untuk tetangganya, diingatkan oleh Imas untuk beli wajit Cililin pesanan Kang Bahar, sekalian sama rengginang yang juga adalah makanan favorit Kang Bahar. Imas ditanya mau beli apa, jawabnya nggak usah, katanya nanti nyicip rengginang punya Kang Bahar. Imas sepertinya malu untuk ngomong mau rengginang. Untung Kinanti peka, wqwqwq.

Kang Bahar yang jaga rumah sama Amin, memilih untuk mengisi waktu dengan ngurusin bonsainya. Waktu lagi ngurusin bonsai inilah Kang Bahar cerita tentang pertemanannya dengan Pak Bagja yang sudah terjalin sejak mereka masih kecil. Teman sekampung, teman ngaji, teman belajar silat. Sama-sama merantau dari Garut. Bedanya, Kang Bagja mau ngelanjutin kuliah, sementara Kang Bahar jualan di terminal.

Lalu, cerita sedikit bergeser ke Adit dan Rosita (terkait Adit yang berencana membeli rumah) sebelum akhirnya kembali ke cerita Kinanti, Kirani, dan Imas di warung makan. Imas duduk terpisah dari Kinanti dan Kirani. Sama Kirani, Imas disuruh gabung, tapi Imas nggak mau. Akan tetapi, saat Kinanti yang nyuruh, Imas langsung mau, pas ditanya sama Kirani, kenapa Imas nggak mau waktu disuruh Kirani tapi mau waktu disuruh sama Kinanti, dengan wajah tampak segan bercampur takut, Imas menjawab bahwa Kinanti galak, hahaha.

Waktu ditanyain sama Kirani mau makan apa, Imas juga sempat bilangg nggak usah. Sekalinya ditawarin batagor sama Kinanti, Imas langsung mau. Ditawarin teh tawar, mintanya malah es campur. Dih, Imas mah, wqwqwq.

Tinggalkan sejenak Kinanti, Kirani, dan Imas, sekarang kita diajak ke penjual buku di Palasari. Agus dan Sunarya (iparnya) lagi ngebahas tentang teror dari preman yang terjadi di daerah tempat tinggal mereka karena nggak mau menjual tanah dan rumah. Darmaji yang kebetulan lewat dan mendengar percakapan mereka, menyarankan untuk melapor ke Kang Bahar, tapi Agus menolak, dia lebih memilih melapor ke wali kota lewat twitter.

Di warung makan, Kinanti dan Kirani yang sudah selesai makan, nungguin Imas yang belum selesai. Lucunya, Imas malah nggak sadar kalau lagi ditungguin.

Untuk cerita tentang masalah rumah tangga Komar, Kang Mus akhirnya turun tangan. Dia datang ke rumahnya Komar, ketemu sama istrinya Komar. Itu pun sempat susah masuk ke rumah Komar karena terhalang badan istrinya Komar.

Kepada Kang Mus, istrinya Komar cerita kalau dia minta cerai karena nggak tahan dengan sikapnya Komar yang suka mendua hati, mentiga, kadang-kadang mengempat. Istrinya Komar tekanan batin, badannya sampai habis (maksudnya berat badan berkurang) katanya. Segede gitu dibilang habis? Kang Mus jelas terkejut, wqwqwq.

Kang Mus pun ngebujuk istrinya Komar biar mau menerima Komar lagi. Pertimbangannya adalah soal anak, si Mick Jagger (buseeettt namanya). Istrinya Komar setuju. Mendapat kabar dari Kang Mus bahwa istrinya sudah nggak marah lagi, Komar merasa senang bukan main.

Baca Juga:  Si Doel Anak Sekolahan Episode 12, Musim 2: Babe Dilabrak Mak Nyak di Pangkalan Opelet

Dalam perjalanan setelah pulang dari rumah Komar, Kang Mus dapat telepon dari Dikdik yang sudah ada di markas dan ngajak Kang Mus ketemu. Sambil menunggu Kang Mus sampai ke markas, kita diajak menyimak perkembangan laporan Agus si penjual buku. Agus cerita ke Darmaji tentang tweet-nya yang di-reply sama Ridwan Kamil, di-follow, di-DM, dan dimintai nomor handphone karena nanti akan ada staf Ridwan Kamil yang menghubungi. Darmaji sendiri nggak ngerti apa artinya tweet, follow, dan DM. Agus menjelaskan, bahwa intinya laporannya sudah dapat respons.

Nah, sekarang Kang Mus sudah sampai di markas, ketemu sama Dikdik yang baru pulang dari Cimandey setelah dihajar sama Murad. Di sini Dikdik menyatakan bahwa dia masih tetap mau bekerja di bisnisnya Kang Bahar meskipun risikonya besar. Dikdik pun diperintahkan untuk kembali jadi anak buah Jamal.

Di rumah Kang Bahar, Kinanti, Kirani, dan Imas baru saja sampai. Barang belanjaan dibawa sama Amin, Imas ke dapur, sementara Kinanti dan Kirani langsung menemui Kang Bahar. Kang Bahar sempat menanyakan perihal wajit Cililin pesanannya sekalian minta teh tawar panas. Kirani ngejawab kalau pesanannya Kang Bahar lagi disiapin sama Imas.

Setelah ketemu Dikdik, Kang Mus langsung pulang ke rumah, minta minum sama istrinya, sedangkan Dikdik menemui Jamal, sesuai perintah Kang Mus. Setelah menjelaskan tentang teror kepada warga yang sudah dilakukan oleh Murad dan Pipit, Jamal pun memberi tanggung jawab kepada Dikdik untuk ikut dalam tugas Murad dan Pipit. Kembalinya Dikdik ini kemudian dirayakan dengan minum es teh lemon yang kata Jamal jauh lebih hebat daripada minuman beralkohol. Minuman beralkohol bisa bikin mabuk, sedangkan es teh lemon, nggak. Selain itu, es teh lemon mengandung vitamin c yang bisa membuat buang air besar jadi lancar.

Ini Jamal sebenarnya mau jadi bos preman atau jadi tokoh palugada sih sebenarnya? Tadi ngajarin bahasa Indonesia, sekarang bahas minuman dan kesehatan, hmm. Di sini juga lagi-lagi saya dibuat kasihan ke si Pipit, tapi Pipitnya malah biasa aja. Dia disiram es teh lemon sama Jamal, bukannya sedih atau gimana gitu, dia malah ngejilat es teh lemon yang ada di bibirnya, hadehhh.

Di rumahnya, Kang Mus lagi curhat ke istrinya tentang kesibukannya yang beberapa hari belakangan cuma ngurusin masalah pribadi orang lain. Tentang Kinanti yang baru pacaran dan Komar yang hampir cerai sama istrinya. Selesai curhat, Kang Mus ngajakin istrinya nostalgia. Istrinya sempat menanggapi sebelum akhirnya memilih nyeterika aja, wqwqwq.

Di rumah Kang Bahar, Imas dan Amin lagi ngegosipin Kinanti yang galau. Sementara di teras ada Kinanti dan Kirani. Kirani sudah mau balik ke Jakarta dan meminta Kinanti untuk jagain dan temenin Kang Bahar. Kinanti sendiri masih sedih dan galau. Di satu sisi dia sadar Kang Bahar adalah suami dan bapak yang baik, setia, dan hebat, tapi di sisi lain, Kinanti merasa sedih dengan pekerjaan bapaknya.

Dari sisi Adit sendiri, saat baru sampai rumah, dia langsung diajak ngobrol sama kedua orang tuanya. Sempat berniat mengenalkan Kinanti ke bapaknya, tapi bapaknya Adit menolak. Secara tegas bapaknya Adit ngomong bahwa dia dan mamanya Adit nggak setuju kalau Adit pacaran apalagi sampai menikah dengan Kinanti yang adalah anak seorang preman.

Preman Pensiun episode 30 pun berakhir dengan cerita Komar yang bahagia karena sudah diterima kembali oleh istrinya.

Baca sinopsis semua episode Preman Pensiun musim 1 di sini.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
2


Komentar

Comments are closed.