Ada masanya, lulusan dengan predikat cumlaude itu jadi sesuatu yang sangat prestisius, istimewa, juga sangat sulit untuk didapat. Bisa dibilang bahwa cumlaude itu predikat yang sakral. Perlu ketekunan, keseriusan, dan konsistensi belajar yang ekstra selama berada di bangku perkuliahan. Itu mengapa, ketika ada orang yang dapat predikat cumlaude, bangganya tentu bukan main. Sebab pada masanya, predikat cumlaude ini punya banyak keuntungan.
Menyandang predikat cumlaude bukan hanya jadi bukti bahwa kita adalah salah satu lulusan terbaik. Predikat cumlaude juga bukan hanya berarti kita bisa mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,51 dalam waktu maksimal 4 tahun. Tapi, menyandang predikat cumlaude berarti kita akan lebih mudah ketika keluar dari kampus. Sederhananya, kita akan lebih mudah dapat pekerjaan yang baik dengan modal predikat cumlaude.
Namun itu dulu. Sekarang situasinya sudah jauh berbeda. Sekarang, cumlaude sudah nggak lagi jadi predikat yang prestisius, yang istimewa. Predikat cumlaude juga sudah nggak terdengar magis dan sakral lagi. Cumlaude sudah jadi predikat yang biasa saja. Toh, sekarang di sebagian besar kampus juga sudah gampang cari IPK di atas 3,5 dengan waktu kuliah maksimal 4 tahun. Nggak kayak dulu.
Baca juga Kampus di Bangkalan Madura Bakal Jadi “Pabrik” Pengangguran kalau Tidak Serius Berbenah
Inflasi Cumlaude
Perbincangan mengenai merosotnya marwah predikat cumlaude memang sedang hangat dalam beberapa waktu terakhir. Kalau kalian cari di mesin pencari Google dengan kata kunci “cumlaude sudah tidak istimewa”, kalian akan menemui banyak sekali pembahasan mengenai mengapa dan bagaimana predikat cumlaude ini sudah nggak istimewa.
Salah satu yang menarik dari pembicaraan mengenai hal ini adalah munculnya istilah “inflasi cumlaude”. Istilah ini mengacu kepada melonjaknya rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) para lulusan. Jumlah lulusan yang mendapatkan IPK di atas 3,51 dengan predikat cumlaude makin tahun makin banyak, bahkan terlalu banyak. Penyebabnya macam-macam. Mulai dari betapa mudahnya para dosen memberikan nilai, hingga kampus yang terlalu mengejar dan mempertahankan akreditasi serta reputasi.
Nah, inflasi cumlaude ini sebenarnya dilematis. Di satu sisi, kampus layak bangga kalau tiap tahun jumlah lulusan cumlaude naik. Nama kampusnya akan wangi, akreditasinya akan aman (mungkin bisa naik). Tapi, di sisi lain, predikat cumlaude akan kehilangan marwahnya. Selain itu, akan muncul pertanyaan, “Kok gampang banget dapat cumlaude di kampus itu?” Integritas kampus dalam memberi nilai justru akan dipertanyakan.
Dosen terlalu mudah memberi nilai, dan kampus ingin mengejar (menjaga) akreditasi
Seperti yang sudah saya singgung sedikit di atas, merosotnya marwah cumlaude dan munculnya “inflasi cumlaude” disebabkan oleh dua hal ini: dosen terlalu mudah memberi nilai, dan kampus yang ingin mengejar (menjaga) akreditasi.
Skemanya begini. Akreditasi (termasuk reputasi) sebuah kampus itu salah satunya dinilai dari prestasi mahasiswa. Prestasi mahasiswa ini sesederhana berapa tahun kuliahnya dan berapa IPK-nya ketika lulus. Kalau banyak mahasiswa yang IPK-nya bagus dan durasi kuliahnya tepat waktu, akreditasi kampus akan aman. Sebaliknya, kalau banyak yang IPK-nya jelek dan kuliahnya molor, bisa-bisa akreditasi kampus (fakultas, jurusan) bisa turun. Kalau akreditasi turun, reputasi kampus tersebut juga jadi jelek.
Itu mengapa, banyak kampus-kampus yang menganjurkan para dosen untuk lebih murah hati dalam memberikan nilai. Nilai A dan B jadi sesuatu yang terlalu mudah untuk didapat. Beberapa kampus dan dosen sekarang mikirnya gimana caranya mahasiswa biar dapat nilai yang bagus dan cepat lulus. Yang penting akreditasi dan reputasi kampus aman.
Hal ini juga terjadi ketika saya kuliah dulu. Di kampus saya (terutama di fakultas dan jurusan saya), bisa dapat nilai B, B+, bahkan A itu cenderung mudah. Dosen-dosen saya cukup dermawan dalam memberi nilai. Nggak perlu bikin sesuatu yang ‘wah’ atau keren. Asalkan absennya nggak jebol, tugas-tugas dikumpulkan (nggak peduli bagus atau jelek), ikut UTS dan UAS, dijamin dapat nilai minimal B atau B+. Paling hanya beberapa dosen yang masih “pelit” memberi nilai. Itu pun bisa dihitung jari.
Soal dosen yang “dermawan” nilai
Nah, soal cumlaude dan para dosen yang terlalu mudah memberi nilai, ini sudah disinggung oleh Komite Harvard lebih dari satu abad lalu, tepatnya di akhir 1800-an. Melansir The Harvard Crimson, Komite Harvard protes bahwa nilai A dan B terlalu mudah diberikan kepada mahasiswa. Nilai A diberikan untuk tugas (karya) yang kualitasnya nggak terlalu tinggi. Nilai B diberikan untuk tugas (karya) yang sangat biasa. Imbasnya, mahasiswa yang nggak tekun dan nggak begitu niat, bisa dapat nilai yang bagus.
Bayangkan, masalah ini sudah terjadi dan sudah diprotes oleh Komite Harvard sejak akhir abad 19. Satu abad lebih berselang, masalah ini nyatanya masih saja belum terselesaikan. Entahlah.
Predikat cumlaude sudah nggak jadi acuan di dunia kerja
Sekarang mari keluar dari lingkungan kampus dan masuk ke lingkungan atau dunia kerja. Ada masanya, predikat cumlaude itu jadi modal besar untuk dapat pekerjaan. Siapapun yang menyandang predikat cumlaude, akan lebih mudah dapat pekerjaan, terutama di perusahaan-perusahaan besar. Saat itu, predikat cumlaude masih dipandang di dunia kerja.
Sayangnya, sekarang sudah nggak seperti itu lagi. Predikat cumlaude sudah nyaris nggak ada artinya lagi di dunia kerja. Hampir semua perusahaan di berbagai bidang lebih mementingkan pengalaman dan portofolio ketimbang predikat cumlaude. Pengalaman dan portofolio terasa lebih nyata gitu.
Itu mengapa, kita sering lihat lowongan pekerjaan di beberapa perusahaan (apalagi di bidang industri kreatif), syarat minimal IPK sudah mulai nggak dicantumkan lagi. Penekanannya kini bukan lagi di minimal IPK, tapi pengalaman sekian tahun di bidang yang sama, dan portofolionya apa saja. Nggak peduli IPK di bawah 3, tapi kalau pengalamannya banyak dan portofolionya berjejer, tentu akan lebih dipilih oleh perusahaan.
Ini sudah jelas jadi bukti bahwa predikat cumlaude ini makin hari makin nggak punya marwah. Cumlaude cuma jadi predikat biasa saja. Di lingkungan kampus makin nggak istimewa dan makin kehilangan kesakralan, di dunia kerja juga mulai nggak ditengok lagi.
Akan tetapi, ya mau gimana lagi, iwong kalau kita telaah, penyebab utama merosotnya marwah dan keistimewaan predikat cumlaude ini juga dari dalam, kok. Institusi pendidikan sendiri yang bikin predikat cumlaude jadi nggak istimewa. Ya sudah.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
