Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Plis deh, Stop Jadi Dokter dan Apoteker Dadakan!

Vivi Wasriani oleh Vivi Wasriani
19 Oktober 2020
A A
fakultas kedokteran dokter apoteker diagnosis dadakan mojok

fakultas kedokteran dokter apoteker diagnosis dadakan mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Pagi ini ketika saya bangun dan mengecek ponsel, ada pesan masuk dari salah satu teman saya. Isinya foto dia yang sedang dirawat di salah satu klinik dekat rumahnya. Lantas saya kaget. Memang beberapa hari yang lalu dia sempat mengabari saya bahwa dia pingsan di rumah. Sudah saya suruh untuk periksa ke dokter, tapi nanti saja katanya. Eh, tahu-tahu dia malah dirawat inap. Ternyata, dia overdosis obat.

Saya tahu dia adalah orang yang sakit sedikit minum obat. Berbeda dengan saya yang nggak akan mau menyentuh obat kecuali saya sudah nggak mampu mengangkat kepala. Kalau sakit perut sedikit, dia bakal self diagnosis maag kambuh dan minum Promag. Kalau sakit gigi, dia bakal mencoba semua obat yang kata orang ampuh untuk sakit gigi. Kalau sakit kepala, dia minum paracetamol atau Antalgin.

Padahal saya sudah sering bilang lebih baik ke dokter daripada asal menenggak obat. Benar saja, malah overdosis kan. Sebelum dia pingsan, beberapa minggu yang lalu dia memang sedang sakit gigi dan sudah mencoba semua jenis obat sakit gigi, tapi tetap tidak berefek katanya. Entah obat apa lagi yang dia minum kali ini. Katanya lagi, dia overdosis karena dosis obat yang dia minum terlalu besar sampai badannya nggak mampu menanggung. Saya jadi nggak tahu mau menyebut dia ngeyel atau bodoh. Tapi, kasihan juga kalau ngatain orang yang lagi sakit.

Saya yakin yang begini banyak sekali terjadi di sekitar kita. Kalau ada tetangga yang cerita kalau lututnya sakit, langsung saja bilang bahwa itu rematik atau asam urat dan menyarankan minum obat ini itu, tidak lupa disertai testimoni, “Saya minum obat itu sembuh lho Mbak sakit dengkulnya. Coba deh.” Saya yakin para dokter dan apoteker menangis melihat hal ini.

Lah, gimana nggak menangis, wong para dokter dan apoteker itu perlu sekolah yang lamanya bukan main dan mahal untuk bisa mendiagnosa dan memberi resep obat. Orang-orang yang nggak punya latar pendidikan kesehatan kok bisa ngasih tips obat sembarangan begitu. Sebenarnya saya juga nggak punya latar pendidikan di bidang kesehatan, tapi saya nggak mau sembrono. Saya kalau minum obat bisa dihitung paling banter setahun dua atau tiga kali saja. Kalau nggak sakit parah, saya nggak mau minum obat. Dan yang pasti, saya nggak menyarankan orang minum sembarang obat tanpa anjuran dokter.

Ada lagi contoh yang saya lihat beberapa waktu lalu. Kakak saya yang sedang punya keluhan seputar usus tiba-tiba kedatangan tamu di pagi hari. Ternyata yang datang adalah saudara jauh yang entah dari mana mendengar kabar bahwa kakak saya sedang sakit. Beliau datang mempromosikan obat yang katanya obat herbal. Yang saya dengar dari caranya menawarkan sih mirip bisnis MLM gitu hahaha.

Dengan disertai testimoni bahwa segala penyakit dan racun yang ada di tubuh beliau sudah hilang akibat rutin minum obat herbal tersebut. Duh, kok sepertinya tidak meyakinkan. Mana mungkin kan satu jenis obat bisa dipakai untuk mengobati semua penyakit. Kalau memang bisa, kenapa saya harus menenggak tiga atau empat jenis obat sekaligus saat demam? Dan yang saya minum juga resep dari puskesmas, tidak mungkin abal-abal dong.

Dan lagi, yang menawarkan obat ini tidak memiliki latar pendidikan di bidang kesehatan. Terlepas dari komposisi herbal-herbalan itu, tetap saja tidak meyakinkan. Masak sih racun di tubuh hilang semua? Apa sudah cek darah, cek paru, cek semuanya sampai bisa memastikan racun tersebut hilang? Miris sekali saya melihat maraknya self diagnosis yang terjadi di masyarakat.

Baca Juga:

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

Mungkin hal ini terjadi juga karena kebiasaan orang-orang zaman dahulu yang hobi memberi tips obat herbal, karena seperti yang semua orang tahu Indonesia kaya akan tanaman herbal. Ya sebenarnya nggak apa-apa kok ngasih tips, hitung-hitung membantu orang sakit. Nggak apa-apa dengan syarat obat itu tidak diminum. Kalau sebatas dioles nggak akan bermasalah karena nggak bikin keracunan. Lah kalau sembarangan diminum, orang awam mana tahu dosis yang tepat untuk tubuh?

Orang Indonesia juga minim sekali yang melakukan medical check-up secara rutin (saya juga sih, hehe.) Selain ketidaktahuan akan seberapa dosis yang diperlukan, kita juga nggak tahu tubuh kita punya alergi terhadap apa. Kalau masih saja sembarangan self diagnosis dan jadi apoteker serta dokter dadakan, efek buruknya adalah sesuatu yang mengerikan. Jadi, mending stop deh budaya memberi tips-tips obat kepada orang lain. Kalau ketemu orang sakit, suruh periksakan ke dokter saja, jangan malah kita yang sok jadi dokter dadakan.

BACA JUGA Pengalaman Saya Bersahabat dengan Orang dengan Kecenderungan Bunuh Diri dan tulisan Vivi Wasriani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2020 oleh

Tags: apotekerdiagnosisDokterObat
Vivi Wasriani

Vivi Wasriani

Hobi bernapas dan suka makan.

ArtikelTerkait

Aturan Tidak Tertulis Apotek, Sebaiknya Pelanggan Tahu supaya Tidak Merepotkan Apoteker Mojok.co jogja

3 Aturan Tidak Tertulis Apotek, Sebaiknya Pelanggan Tahu supaya Tidak Merepotkan Apoteker

4 Januari 2024
Ranitidin

Ranitidin: Obat Asam Lambung yang Ditarik dari Pasaran Karena Diduga Memicu Kanker

14 Oktober 2019
4 Hal Menyebalkan saat Periksa di Puskesmas, Saya Tulis karena Banyak Orang Nggak Peka Mojok.co

4 Hal Menyebalkan saat Periksa di Puskesmas, Saya Tulis karena Banyak Orang Nggak Peka

24 Oktober 2024
Apoteker: Dituntut Sat-Set dan Multitalenta, tapi Minim Apresiasi jurusan farmasi

Apoteker: Dituntut Sat-Set dan Multitalenta, tapi Minim Apresiasi

27 Oktober 2023
Pembodohan Masyarakat dalam Obat Tanpa Kemasan terminal mojok.co

Pembodohan Masyarakat dalam Obat Tanpa Kemasan

6 November 2020
5 Tipe Konsumen Apotek yang Menghiasi Hidup Apoteker (Unsplash.com)

5 Tipe Konsumen Apotek yang Menghiasi Hidup Apoteker

20 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026
Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah  Mojok.co

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah 

7 Agustus 2026
Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.