Plis deh, Jangan Bawa-bawa Kebiasaan di Aspal ke Gunung

Sewaktu naik gunung Gede pada pertengahan Juni lalu, saya tidak heran dengan keramaian yang ada sejak melapor di basecamp atau Sekretariat GPO.

Artikel

Avatar

Tulisan ini bermula gara-gara sindiran teman-teman pasca saya mengunggah foto pendakian pertengahan Juni 2019 di Instagram. Kebetulan, saya mem-posting foto Pos Selamat Datang Gunung Gede via jalur Gunung Putri yang sedang ramai oleh pendaki saat itu. Dari situlah saya direspons dengan komentar bernada sindiran. Beberapa komentar yang kampret ngangenin berkesan itu,“rame sekaliii kayak Margo city (salah satu mal di Depok—red) pas weekend” dan “rame be kek Kokas (Kota Kasablanka—red).” Saya jadi mangkel sendiri baca komentarnya. Memang apa yang salah dengan gunung yang ramai? Heee?

Menurut hemat saya, teman-teman tadi kurang tepat berkomentar nyindir begitu. Kalau mau menyindir kondisi ramai di gunung sekarang ini, akan lebih tepat menyasar film 5 cm yang berjasa membuat pemuda-pemudi tanpa skill dasar naik gunung berbondong-bondong meramaikan gunung-gunung di Indonesia. Peran film itu cukup besar memang, karena membuat citra wisata naik gunung yang semula kayaknya penuh rintangan dan bahaya, justru naik daun berkat adegan-adegan indah pemandangan Ranu Kumbolo dan lain-lain. Ditambah lagibeberapa pemeran dalam film itu seolah tidak lebih dulu melakukan persiapan fisik dan riset yang ketat sebelum naik gunungsampai ada yang bawa-bawa mie instan sekardus gitu deh buat bekal naik gunung.

Yang tadi itu baru satu faktor dari sekian banyak. Faktor lainnya, ya, apalagi kalau bukan kebutuhan pelarian melupakan mantan konten media sosial—hehe. Media sosial—khususnya Instagram—punya andil yang signifikan dalam menumbuh-suburkan niat perjalanan dengan puncak gunung sebagai tujuan utamanya. Bagi sebagian orang, Instagram telah menjadi mini jurnal kehidupan di era modern dan menjadi wadah pertunjukan kreativitas non stop. Di dalamnya terdapat juga penilaian atas hasil kreativitas itu, yang kalau beruntung bisa mendatangkan like, perubahan status sosial, endorsement hingga other-income. Atas alasan itu, bermunculanlah akun-akun bertema alam, traveling, influencer-influencer “keren” yang hobinya mengungkap pesona alam dan makin menginspirasi darah muda yang tenaganya berlebih untuk stalk mantan kalau nggak pergi ke sana-sini.

Namun apapun alasan dan motif naik gunungtoh itu semua sudah menjadi bagian hak setiap manusia. Bahkan dalam ayat Alquran telah disampaikan pentingnya menjelajah muka bumi untuk melihat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Jadi, sindiran-sindiran yang di awal saya paparkan mudah-mudahan tidak lagi keluar karena semua kalangan boleh kok naik gunung atas dasar apapundengan atau tanpa alasan yang kuat—horeee!

Titik yang perlu disorot dari kondisi di gunung justru perilaku pendakinya—alih-alih keramaiannya. Kalau bicara kondisi ramai, sejak hasrat naik gunung menjamur dan bikin padat jalur pendakian atau camp site sudah diantisipasi oleh pihak berwenang seperti taman nasional masing-masing gunung. Mulai dari pembatasan kuota pendaki, booking Simaksi (Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi) jauh-jauh hari, dan pelampiran surat keterangan sehat sudah menjadi sarana “penyaring” bagi siapa saja yang berniat selfie-selfie saat menjajal gunung.

Baca Juga:  Stop Menjelaskan Sensasi Naik Gunung pada Mereka yang Skeptis

Sewaktu naik gunung Gede pada pertengahan Juni lalu, saya tidak heran dengan keramaian yang ada sejak melapor di basecamp atau Sekretariat GPO (Gede Pangrango Operation), Jalur Gunung Putri. Karena waktu pendakian bertepatan dengan berakhirnya masa silaturahmi lebaran di kampung sekaligus dimulainya liburan “balas dendam” bagi aktivitas fisik yang tertunda akibat puasa. Saya malah heran dengan perilaku pendaki yang kurang bijak sepanjang pendakian. Maklum terakhir saya naik gunung itu 2017, jadi agak lupa dengan perilaku pendaki pada umumnya. Jujur, ada kelakuan yang bikin saya risih ketika melihatnya dengan seksama, yang kalau dimirip-miripin seperti perilaku menyimpang pengendara di jalan raya.

Merokok Sambil Tracking

Dua teman saya dalam tim pendakian paling vokal menolak perilaku pendaki yang merokok sambil tracking di jalur pendakian. Beruntung, saya—sebagai satu-satunya perokok dalam tim pendakian—bukan tipe pendaki yang “paspus-paspus” sambil tracking. Saya cukup tahu diri sih, sudah jarang olahraga karena kesibukan pekerjaan jadi nggak berani sering-sering merokok waktu mendaki—takut engap! Kalau terpaksa harus merokok, saya akan lebih tahu diri lagi untuk melipir agak jauh ke sisi jalur pendakian—kalau perlu membuat semacam smoking area dadakan—dan tentunya di saat tim sedang beristirahat.

Nah, teruuus? Saya cuma mau bilang kalo ada juga orang berparu-paru delapan yang secara sadar membakar dan mengisap rokok ketika sedang tracking atau antre di jalur pendakian. Perilaku ini nih yang bikin saya ingat dengan pengendara motor atau mobil yang membakar rokok sambil berkendara. Alhasil, kepulan asap dan abu dari rokok yang diisap tidak mungkin bisa dikontrol dan berpotensi mengganggu pengendara lain. Asapnya bisa mengganggu pernapasan, abunya bisa membahayakan penglihatan orang lain. Kalau hal ini dilakukan saat mendaki, bisa ditebak kan siapa yang akan dirugikan? :(((

Berhenti di Tengah Jalur

Inilah alasan saya sempat ngenyek beberapa pemeran film 5 cm yang memberikan contoh jeleknya persiapan riset dan fisik. Riset sebelum perjalanan akan membantu calon pendaki memperkirakan rute dan medan pendakian. Hasil riset itu akan berhubungan dengan porsi latihan fisik yang dilakukan pada masa persiapan pendakian. Misalnya, kalau naik Gunung Gede (via Gunung Putri) membutuhkan waktu pendakian normal tanpa istirahat selama 7,5 jama—kita perlu melatih fisik entah jogging, entah berenang. Pokoknya persiapan dilakukan secara terjadwal setidaknya dua minggu sebelum keberangkatan.

Baca Juga:  Naik Gunung, Jangan Pernah Melucu Dengan Melupakan Standar Keselamatan Pendakian

Lah, terus kalau nggak pakai acara persiapan langsung naik gunung gimana? Pernah lihat mesin yang jarang panas terus tiba-tiba mogok di jalan? Begitu kira-kira tubuh kita yang tanpa persiapan fisik itu saat diajak naik gunung sama kagetnya dengan mesin yang jarang dipanaskan.

Di hari pendakian, saya menyaksikan banyak pendaki yang tampak kelelahan di pertengahan jalur. Strategi kesiapan fisik dan mental yang asal-asalan adalah koentji untuk menjawab segalanya. Setelah memaksakan diri di awal pendakian dengan semangat menggebu, tiba gilirannya “mesin-mesin” itu kaget dengan kegiatan berat. Berhubung jarang-jarang dipanaskan, mereka melambat di pertengahan jalur. Ketika rasa lelah sudah memuncak, mereka berhenti tiba-tiba bikin antrean pendaki macet serta-merta. Padahal, sudah sepatutnya mereka minggir dari jalur utama pendakian sebelum memacu “mesin” mereka lagi. Kalau terpaksa berhenti di tengah jalur—mbok ya lampu hazard-nya dinyalakan, dong!!1!1! huehuehue

Ugal-ugalan Waktu Tracking Pulang

Terakhir ini adalah fenomena yang bikin kita jengkel setengah mati kalau lagi berkendara di jalanan. Siapa sih yang nggak kaget kalau lagi santai berkendara tiba-tiba ada yang menggeber mesinnya sambil salip zig-zag seenak jidat? Yang begini ini kita biasa mengistilahkannya “ugal-ugalan”, yes?

Ternyata model ugal-ugalan ala jalanan ini diadopsi juga oleh beberapa pendaki pemula hingga yang berpengalaman saat tracking turun gunung. Alasannya—yang paling bisa diterima ya, karena mengejar waktu supaya sampai di rumah nggak kemalaman. Tapi beberapa dari mereka mungkin karena pernah bercita-cita menjadi warga Konohagakure. Soalnya cara mereka lari-larian waktu turun gunung itu plek sama seperti adegan-adegan ninja berkelana di film Naruto.

Sama dengan di jalan raya, tindakan ugal-ugalan ini berpotensi menimbulkan kecelakaan di jalur pendakian. Bayangkan saja, kalau kamu lagi khusyuk tracking menuju pos terakhir sambil memberikan tatap perpisahan pada alam, tiba-tiba mendengar suara tapak kaki yang gaduh. Sejadi-jadinya kamu akan was-was untuk mengamankan diri dong—biar nggak ketubruk ‘Pendaki Ninja’ ini. Kalau sewaktu mengamankan diri dengan bergeser ke arah tertentu dan ternyata arah yang dituju sama dengan arah si ‘Pendaki Ninja’, ya ujung-ujungnya sama aja—nubruk! Udah gitu yang ada nanti malah salah-salahan pula, “Situ sih—mau nyalip nggak klakson dulu!”

Itu aja sih, pengalaman pendakian saya kemarin dan cara pandang terhadap perilaku-perilaku ‘norak’ yang sebenarnya semakin menambah kesal dari persoalan keramaian di gunung. Lagian kita semua ke gunung untuk mencari warna lain dari ketenangan lahir-batin, Kawan. Kalau mau mewarnai gunung dengan cara-cara tadi, mending kamu belajar taat berkendara dulu di aspal! huehuehue

---
9

Komentar

Comments are closed.