Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pesantren Saya dan Keluarga Tak Kasat Mata yang Meneror tiap Malam Ganjil

Aly Reza oleh Aly Reza
27 Mei 2020
A A
Bahkan Deddy Corbuzier dan Romi Rafael pun Skeptis dengan Hal Gaib tidak percaya santet hipnotis gendam hantu penampakan horor terminal mojok.co

Bahkan Deddy Corbuzier dan Romi Rafael pun Skeptis dengan Hal Gaib tidak percaya santet hipnotis gendam hantu penampakan horor terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah menjadi rahasia umum kalau di balik nuansa pesantren yang agamis, terselip juga kisah-kisah mistis yang hampir semua penghuni pesantren pernah mengalaminya. Dalam hal ini, tentu saya bukan satu pengecualian. Cerita ini saya alami enam tahun yang lalu, menjelang memasuki tahun kedua di pesantren.

Sejak pertama kali mendaftar di pesantren, oleh pengurus saya ditempatkan di sebuah kamar yang letaknya paling pojok lantai dua. Untuk ukuran saya, ditambah tiga kawan lainnya, kamar tersebut rasa-rasanya terlalu luas. Dibanding dengan kamar-kamar lain yang tiga orang saja sudah berdesakan.

Dari semula saya menempati kamar tersebut, saya memang merasakan hawa-hawa yang nggak enak. Tapi saya mencoba menepis dengan berusaha berpikir positif, “Ah, paling-paling cuma aku aja yang parno,” begitu upaya saya menyugesti diri.

Desas-desus mengenai keangkeran kamar yang saya huni baru saya dengar beberapa minggu kemudian. Nggak secara gamblang, tapi saya mencoba mengait-ngaitkan sendiri kepingan puzzle dari beberapa alumni yang kebetulan singgah.

“Loh, ruang itu ada yang nempatin sekarang?” tanya salah seorang alumni kepada Kepala Pengurus yang tanpa sengaja saya curi dengar. “Iya, habis nggak ada kamar kosong layak huni lagi selain ruang itu. Lagi pula sejauh ini nggak ada hal-hal aneh, kok.” Mendengar jawaban Kepala Pengurus, mak tratap rasanya hati saya. Hal aneh apa yang Kepala Pengurus maksudkan?

Kali lain saya juga sempat mencuri dengar percakapan antara Kepala Pengurus dengan salah seorang pengajar di pesantren. “Kang, apa nggak sebaiknya dinetralisir dulu kamar pojokan itu?” desak si pengajar. Kamar pojokan yang dimaksud tidak lain adalah kamar yang selama ini saya tempati. “Hmmm, sudah kok, Kang. Sebelum dijadikan kamar, ruang itu sudah sempat saya ruqyah.” Seketika saya tercekat, tubuh saya mendadak panas dingin. Ya karena pada dasarnya saya emang cupu soal beginian.

Sampai tibalah masa liburan, dan kengerian itu untuk pertama kalinya saya sendiri yang mengalami.

Di masa-masa liburan, lebih dari separuh penghuni pesantren pasti lebih memilih pulang. Sementara sisanya, beberapa memilih tinggal dan beberapa lainnya biasanya bakal menghabiskan masa liburan mereka dengan melancong ke beberapa tempat.

Baca Juga:

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

Saya adalah satu dari sekian santri yang memilih bertahan di pesantren. Dari empat penghuni kamar, hanya saya saja yang tersisa. Dan itu artinya, selama masa liburan saya bakal mendiami kamar yang katanya “sudah di-ruqyah” itu seorang diri. Saya sebenarnya takut belaka. Tapi sebagai santri yang hampir setiap hari ngaji, masa iya sama lelembut aja takut? Harusnya si lelembut yang keder sama saya.

Malam pertama saya tidur di kamar sendirian berjalan biasa saja, nggak ada yang aneh. Begitu juga dengan malam kedua, ketiga, keempat, dan pada malam kelima inilah awal mula saya mendapat teror demi teror dari bangsa lelembut.

Pada malam kelima, saya tergeragap bangun oleh rintihan seorang perempuan. Saya sebisa mungkin mengusir jauh-jauh perasaan takut yang diam-diam sudah menyergap tubuh saya. Tubuh saya gemetar, keringat dingin mulai bercucuran.

Lantaran semakin ke sini rintihan itu semakin mengusik, saya pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka mata. Lantas apa yang saya saksikan? Sumpah saya melihat dengan mata kepala saya sendiri ada seorang perempuan dengan rambut panjang terurai tanpa lengan sedang berdiri terpekur di depan pintu kamar.

Tubuh saya seketika mati rasa, saya nggak bisa ngapa-ngapain selain cuma memejamkan mata sambil terus membaca ayat-ayat suci dalam hati. Nggak lama berselang, perempuan itu hilang dari pandangan. Entah raib ke mana saya nggak mau tahu.

Tadinya saya mengira itu hanyalah mimpi buruk, karena di malam keenam pun nyatanya nggak ada apa pun yang terjadi lagi. Nggak ada drama susulan.

Barulah di malam ketujuh, saya kembali mendapat teror. Namun, kali ini lain lagi sosoknya, bukan perempuan tanpa lengan yang merintih-rintih sebelumnya.

Tengah malam saya terbangun oleh suara bising yang aneh, perpaduan antara tawa anak kecil, cericit hewan, dan suara hentakan kaki. Perlahan  saya membuka mata, samar-samar di atas blandar (balok ring) saya melihat ada bayangan tubuh melompat-lompat.

Menyadari ada yang ganjil, saya langsung mengucek-ucek mata saya dengan kasar supaya saya bisa melihat sedikit lebih jernih. Dan benar saja, di atas blandar ada dua anak laki-laki tanpa busana berlompatan ke sana kemari. Nggak hanya itu, saya juga melihat ada seekor monyet kurus sedang bergelayut di sudut lain. Mereka kemudian menghilang begitu saja setelah melambaikan tangan ke arah saya dengan seringai yang mengerikan.

Merasa nggak nyaman, esok harinya saya pun memberanikan diri melapor kepada Kepala Pengurus. “Nanti saya urus. Kamu yang penting baca doa sebelum tidur,” respon Kepala Pengurus setelah panjang lebar saya menceritakan teror demi teror yang saya alami. “Dan coba sebelum tidur ambil wudu dulu. Insya Allah nggak ada yang ganggu.”

Barangkali benar apa kata Kepala Pengurus, harus rajin baca doa dan ambil wudu dulu sebelum tidur biar nggak diganggu lagi. Saya memang sering kelupaan untuk hal satu ini. Saya kalau tidur nggak pernah ada aba-aba. Pokoknya tiba-tiba tidur gitu aja. Nampaknya kebiasaan ini harus saya ubah kalau nggak mau ngulangin kejadian malam-malam ganjil sebelumnya.

Saran dari Kepala Pengurus saya laksanakan, dan setidaknya cukup membuahkan hasil karena di malam ke delapan ternyata saya nggak mengalami gangguan apa pun.

Namun doa dan wudu itu nggak bereaksi sama sekali ketika menginjak malam kesembilan. Di malam kesembilan jauh lebih ngeri lagi ceritanya. Saya yang tertidur lelap tiba-tiba terbangun karena mencium aroma busuk menguar di dalam kamar. Nggak hanya itu, saya juga merasakan hawa dingin yang sangat menusuk. Saya juga menangkap suara eraman pria dewasa dari pojok ruangan.

Karena sudah nggak tahan, saya akhirnya berinisatif bangun dan sekuat tenaga berlari keluar meninggalkan kamar. Nggak ada pilihan lain, setan-setan di kamar ini sudah sangat keterlaluan.

Namun tinggal beberapa jengkal saja sampai di pintu, saya merasakan sebuah lengan besar mencekeram kaos saya dari belakang. Sesaat kemudian tubuh saya dihempaskan begitu saja. Saya terbaring tanpa daya, tubuh saya lagi-lagi hanya membatu.

Selanjutnya, saya merasakan sesak luar biasa persis di bagian ulu hati. Kalian tahu kenapa? Ada sesosok hitam tinggi besar menginjakkan kaki kanannya di ulu hati saya. Sesaat saya kesulitan bernafas dan hanya mampu melafalkan surah-surah pendek yang saya hafal dalam hati, termasuk ayat kursi yang saya dengungkan berulang-ulang,

Tak berselang lama makhluk itu menghilang. Dan saya terbangun kembali saat hari sudah beranjak pagi.

Setelah kejadian malam-malam ganjil itu tanpa pikir panjang saya memutuskan pindah kamar. Tentu setelah sebelumnya berdiskusi dengan Kepala Pengurus. Dari pengakuan Kepala Pengurus saya memperoleh informasi, bahwa kamar yang sekarang saya huni dulunya adalah gudang yang sudah lama nggak terpakai.

Sampai suatu hari, salah seorang santri (sudah alumni) mencium aroma amis menyengat ketika melintas di depan gudang tersebut. Karena penasaran, dia bersama Kepala Pengurus dan beberapa ustaz yang lain lantas bergegas membuka gembok yang menyegel pintu.

“Kami melihat ada seorang perempuan ditemani lelaki tinggi besar sedang menggendong sepasang bayi kembar,” ungkap Kepala Pengurus. “Bau amis menyengat itu ternyata berasal dari leleran darah yang memenuhi lantai ruangan. Ya, sepertinya perempuan itu baru saja melahirkan.” Kesimpulannya, jauh sebelum saya, gudang yang sekarang dijadikan kamar tersebut sudah lebih dulu ditempati oleh keluarga besar bangsa lelembut. Mereka mungkin sedikit terganggu dengan keberadaan saya di kamar bekas gudang tersebut.

“Lalu Kang, kalau monyet itu, sampeyan tahu dari mana asalnya?” tanya saya penasaran. Kepala Pengurus mengernyitkan dahi untuk selanjutnya berujar, “Kalau itu, sepertinya anggota keluarga baru.”

Begitulah kemudian saya memutuskan untuk pindah kamar. Sampai suatu hari—satu bulan pasca kejadian—salah satu kawan saya yang masih jadi penghuni kamar bekas gudang tersebut mendatangi saya dengan wajah pias. “Aku tahu kenapa sampeyan pindah, Kang,” ucapnya datar. “Dua malam yang lalu, ketika saya tidur, saya didatangi sesosok pocong.” Saya terkejut, dan dalam hati saya membatin: ternyata tambah satu anggota keluarga lagi.

BACA JUGA Kok Bisa Sih Takut Sama Pocong? Dia Kan Cuma Hantu yang Pengin Dibukain Talinya Doang dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2020 oleh

Tags: cerita mistishantumalam jumatPesantren
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Kalau di Kota Ada Kirim Parsel, di Desa Ada Ater-ater Tipe-tipe Orang saat Menunggu Lebaran Datang Terima kasih kepada Tim Pencari Hilal! Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Bulan Syawal Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Lebaran Buku Turutan Legendaris dan Variasi Buku Belajar Huruf Hijaiyah dari Masa ke Masa Serba-serbi Belajar dan Mengamalkan Surah Alfatihah Pandemi dan Ikhtiar Zakat Menuju Manusia Saleh Sosial Inovasi Produk Mushaf Alquran, Mana yang Jadi Pilihanmu? Tahun 2020 dan Renungan ‘Amul Huzni Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita Nggak Takut Hantu, Cuma Pas Bulan Ramadan Doang? Saya Masih Penasaran dengan Sensasi Sahur On The Road Menuai Hikmah Nyanyian Pujian di Masjid Kampung Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Horornya Antrean Panjang di Pesantren Tiap Ramadan Menjadi Bucin Syar'i dengan Syair Kasidah Burdah Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Pandemi Corona Datang, Ngaji Daring Jadi Andalan Tips Buka Bersama Anti Kejang karena Kantong Kering Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Rebutan Nonton Acara Sahur yang Seru-seruan vs Tausiyah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Aduh, Lemah Amat Terlalu Ngeribetin Warung Makan yang Tetap Buka Saat Ramadan Tong Tek: Tradisi Bangunin Sahur yang Dirindukan Kolak: Santapan Legendaris Saat Ramadan

Horornya Antrean Panjang di Pesantren Tiap Ramadan

8 Mei 2020
pocong

Pocong Ternyata Bisa Bersuara, Bunyinya “Iuk Iuk”

18 Juni 2020
Sangkar burung kicau. (Unsplash.com)

Kisah Ayah Saya Menangkap Pencuri Burung Kicau Milik Tetangga

19 Juli 2022
Bahkan Deddy Corbuzier dan Romi Rafael pun Skeptis dengan Hal Gaib tidak percaya santet hipnotis gendam hantu penampakan horor terminal mojok.co

Teror Miss K yang Selalu Menghampiri Lewat Tengah Malam

22 Agustus 2019
gunung lawu mistis mapala mojok

Gunung Lawu Memang Beda, dan Kami Dipaksa Menyerah

3 September 2021
Masak Pengabdian Santri di Pesantren Nggak Dihitung sebagai Pengalaman Kerja? Nggak Adil, Rugi dong!

Kalau Punya Anak Bermasalah, Bawa Ke Psikolog, Jangan Dikirim ke Pesantren

3 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.