Percayalah, Putus Cinta Nggak Ada Apa-apanya Dibanding Pindah Rumah

Artikel

Nasrulloh Alif Suherman

Sedari kecil saya memang sudah diajarkan untuk kuat tinggal berpindah tempat. Saya dilahirkan di Magelang, lalu orang tua tinggal di Bekasi sampai saya balita. Kemudian sejak itu, kami pindah rumah lagi ke pinggiran Jakarta Timur hingga saat ini. Sejak lulus sekolah dasar, saya sudah disekolahkan jauh dari orang tua saya. Saya dimasukkan ke pondok pesantren di Bogor Barat. Di kampung kecil bernama Banyusuci yang sedikit lagi sudah berbatasan dengan Lebak, Banten.

Meskipun dari dulu sudah diajarkan untuk kuat berjauhan dengan orang tua, saya selalu memiliki tempat pulang dan kembali ke rumah yang sama. Rumah yang telah saya dan keluarga kami tempati dari saya masih kecil, di pinggiran Jakarta Timur. Sebelum tinggal di rumah yang sekarang, saya sempat berpindah-pindah. Walau pindahnya beda RT saja. Maklum, cuma ngontrak.

Namun, sejak saya berumur 6 tahun, orang tua saya sudah menempati rumah yang sama. Kira-kira, sudah 20 tahun lebih kami menempati rumah kami hari ini. Walaupun tanahnya ngontrak, rumah ini orang tua saya sendiri yang membangun. Sialnya, saat itu saya masih belum cukup nalar untuk memberikan masukan. Dalam perjanjian yang dibuat, mereka mengharuskan orang tua saya atau lebih tepatnya kami untuk angkat kaki sesuai kehendak yang punya tanah. Nasiiib.

Seperti yang saya katakan di paragraf sebelumnya. Kini, saya dan keluarga harus angkat kaki dari kontrakan kami. Setelah 20 tahun menempati tempat itu. Walaupun kami konsisten membayar kontrakan tanpa telat, tapi tetap mau dikata apa? Nasib yang ngontrak akan terus begitu saja.

Meski saya terbiasa hidup di mana-mana dan sempat berpindah domisili mengikuti orang tua, tapi pindah rumah itu rasanya tetap menyesakkan.

Orang-orang mungkin menganggap putus cinta adalah hal menyesakkan yang paling dalam. Namun, itu nggak ada apa-apanya dibandingkan meninggalkan tempat kalian tumbuh dari kecil sampai sudah besar dan sanggup bernalar. Bayangkan, bagaimana rasanya, kalian belajar hidup dan berkenalan dengan orang-orang baik di sekitar dari mulai kecil lalu tiba-tiba pindah? Percayalah, saat tahu kami akan pindah, memori masa-masa kecil saya terus terngiang dan mengulang di kepala saya. Saya hampir menangis.

Mungkin kalian menganggap saya terlalu berlebihan, “Yaelah, pindah rumah doang bukan pindah alam. Itu rumah juga nggak akan ke mana-mana. Namanya juga ngontrak. Makanya, kalau nggak mau pindah, ya, beli rumah sendiri.”

Baiklah kalau ada yang berpendapat seperti itu. Namun, tetap saja, ada beberapa hal yang membuat saya merasa sesak untuk meninggalkan rumah tempat saya tumbuh dan dewasa.

Baca Juga:  Nangis di Pernikahan Mantan Itu Sudah Usang

Pertama, saya harus bisa melepas dan ikhlas dengan memori dan pengalaman saya di rumah kontrakan ini. Bukan menghapus, lebih tepatnya menaruhnya ke dalam sela-sela memori ingatan saya yang bernama kenangan. Pasalnya, setelah pindah, kami adalah kenangan bagi tempat ini.

Kedua, saya sudah berkenalan dan mulai mengenal baik orang-orang di sekitar lingkungan rumah kami. Sebab, sebelumnya saya tinggal jauh di pesantren. Oleh karena itu, baru sekarang saya bisa mulai mengakrabkan diri. Layaknya baru sayang, eh, sudah ditinggal duluan. Kan, gimana gitu, ya.

Ketiga, saya takut kalau tidak cocok dengan tempat baru. Baik mulai dari lingkungan atau suasananya. Pasalnya, kalau kita salah memilih, ini berakibat fatal. Misalnya, kita tidak bisa beradaptasi, lantas terjebak dalam lingkungan tersebut dalam waktu yang cukup lama. Percayalah, itu sungguh menyiksa.

Ah, saya masih tidak menyangka bahwa ternyata pindah rumah rasanya bisa sepatah hati ini. Namun, saya tidak bisa terus meratapi keadaan yang sudah cukup bikin sesak. Saya harus kuat dan semoga saya mudah beradaptasi berada di rumah dan lingkungan yang baru nanti.

BACA JUGA Pindah Rumah Itu Berat, Biar Aku Saja dan artikel Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.