Pengalaman Selingkuh dan Rasa Bersalah yang Menghantui

Artikel

Pengalaman selingkuh itu dimulai ketika saya duduk di kelas dua SMA. Saat itu saya punya pacar. Hubungan kami sudah berjalan satu tahun lebih. Masalahnya macam-macam dan rumit, tapi itu nggak perlu diceritakan. Entah pacaran itu namanya cinta monyet atau bukan, tapi bukan itu poinnya. Hubungan selama satu tahun itu begitu banyak masalahnya, tapi kami mencoba sebisa mungkin bertahan. Saya sempat membaca penelitian psikologi yang bilang kalau break dengan pasangan bisa bikin hubungan makin erat. Itu yang kami lakukan.

Memang, beberapa kali break bisa membuat kami kembali mengeratkan hubungan, sebab saat break kami bisa rasakan betapa pentingnya keberadaan satu sama lain. Tapi, sial juga karena bertahun-tahun kemudian kami malah sering melakukan ritual break macam begitu. Tiap ada masalah, break adalah jawabannya. Padahal, opsi itu seharusnya jadi pilihan terakhir setelah diskusi dan ngobrol tidak juga dapat membereskan permasalahan.

Waktu itu, ada masalah dalam hubungan kami yang tak bisa saya ceritakan di sini. Intinya pasangan saya dulu yang meminta break karena masalahnya yang juga tak bisa diceritakan pada saya. Itu sudah break yang kesekian kali dalam hubungan kami, dan saya jengah. Belum lagi saya nggak tahu ada masalah apa hingga pasangan saya dulu minta break. Saya merasa dipermainkan dan rasanya saya pengin juga sekali-kali mempermainkan dia. Bisikan setan pacaran yang menguji kesetiaan mulai menggoda, Saudara-saudara!

Sial memang, entah bagaimana ceritanya, saat saya punya pacar, rasanya kok jadi banyak sekali cewek yang mendekati saya. Padahal, waktu saya jomlo, mana ada cewek yang deketin. Justru pas saya deketin cewek-cewek pada kabur, euh! Oleh sebab keadaan (ini saya lagi denial dengan cara klasik: nyalahin keadaan) dan pas juga ada cewek yang agak dekat dan kelihatannya kasih sinyal bisa saya pacarin, muncullah niat busuk itu: selingkuh.

Baca Juga:  Orang Jelek Emang Berhak Jatuh Cinta, tapi Harus Tahu Diri Dong

Kalau saja niat itu dulu saya urungkan, mungkin malaikat batal menambah daftar dosa saya di catatannya, tapi faktanya nggak begitu. Saya akhirnya melancarkan aksi bodoh yang bikin bertahun-tahun hidup saya penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah. Masalahnya bukan cuma ke pacar saya yang pertama, tapi juga ke selingkuhan saya. Bangsat, jijik banget rasanya nulis kata “selingkuhan”. Pasalnya, selingkuhan saya waktu itu juga nggak tahu saya masih pacaran sama orang lain. Dia wanita baik dan saya cowok brengsek yang mencoba masuk ke dalam hidupnya.

Setelah itu, rasa cinta yang saya rasakan dulu menggebu-gebu mulai berubah jadi rasa khawatir yang teramat sangat. Selain takut ketahuan, saya juga takut kehilangan. Lebih jauh lagi saya merasa bersalah besar karena terlalu menggugu hasrat bangsat untuk balas dendam ke pasangan saya dulu dengan cara selingkuh. Kiranya benar kenapa orang bilang jangan ambil keputusan waktu kita marah, sebab saat itu selain kita sudah menyingkirkan akal sehat, perasaan pun ikut raib entah ke mana.

Tak seperti pepatah yang mengatakan sejauh apa pun bangkai disembunyikan akan tercium juga baunya, pengalaman selingkuh itu nggak pernah menimbulkan masalah dalam hubungan saya berikutnya. Mungkin kamu perlu tahu fakta ini biar nggak terlalu nganggap saya fakboi, walaupun bodo amat sih, sejak memutuskan untuk nulis ini saya sudah siap dengan risikonya. Tapi yang pasti, waktu dulu break, pasangan saya (lewat temannya) bilang kalau saya boleh cari pacar lain kalau mau. Begitulah. Walau begitu, saya tetap ngerasa bersalah.

Saya nggak akan cerita lebih jauh lagi, cukup sampai situ. Namun yang pasti, meski hubungan saya sudah baik-baik saja dengan kedua perempuam tersebut, rasa bersalah kepada mereka terus menghantui walau semuanya sudah berlalu. Pada akhirnya saya paham dengan kejadian tersebut. Bahwa ada banyak di dunia ini yang sejak semula perlu kita geluti meski tanpa cinta. Sebab hidup ini bukan hanya tentang cinta, dan saya tetap harus mencoba menikmatinya. Beberapa kadang perlu tetap kita jalani karena tanggung jawab, kesetiaan, dsb.

Baca Juga:  Berterima Kasih pada Mantannya Pacar, Bukan Mencemburuinya

Saya jadi ingat dengan omongan guru dulu, bahwa berbuat buruk dan jahat itu nggak mudah dan nggak enak. Begitu pun dengan perbuatan buruk saya dulu, itu nggak mudah dan nggak enak. Sekarang, buntutnya bahkan saya mesti tetap merasakan khawatirnya, rasa bersalahnya, takut ketahuannya, dan rasa nggak enak lainnya, meski semua sudah lalu.

Pada akhirnya, tulisan ini cuma ingin membagi pelajaran dari pengalaman selingkuh yang saya sesali itu. Bahwa, saat ada kesempatan berbuat bangsat seperti yang saya lakukan dulu, orang perlu memikirkannya kembali. Sebab, itu nggak enak sama sekali. Ada banyak faktor orang selingkuh, selain karena cinta, pasti ada juga karena tak puas dengan pasangannya yang sekarang. Tapi, sekali lagi, bukankah hidup ini bukan hanya tentang cinta?

BACA JUGA Alasan Kenapa Selingkuh Selalu Lebih Menggairahkan dan tulisan Tazkia Royyan Hikmatiar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
2


Komentar

Comments are closed.