Bertaruh Nyawa saat Mengendarai Mobil Niaga

Featured

Avatar

Apa saja merek mobil niaga yang Anda kenal? Mungkin sebagian besar dari Anda akan menyebutkan Daihatsu Gran Max, Suzuki Carry, Mitsubishi Colt, L300, dan semacamnya. Bagaimana dengan Toyota Town Ace? Anda mungkin asing dengan namanya, tetapi jika mencarinya di Google, Anda pasti langsung mengenali bentuknya. Mobil ini adalah kembaran Daihatsu Gran Max yang dijual untuk pasar Jepang.

Meski tampangnya 11-12, spesifikasi Toyota Town Ace lebih spesial dibanding Gran Max maupun mobil niaga lainnya. Mobil ini menggunakan mesin berkode NR yang serupa dengan duo Avanza-Xenia dan Rush-Terios serta lampu depannya menggunakan teknologi LED. Selain itu, tersedia juga opsi penggerak 4WD layaknya Toyota Hilux atau Mitsubishi Triton.

Tak hanya sampai di situ, fitur safety mobil ini juga bejibun. Perangkat dual airbag, ABS dan EBD, stability control, dan traction control tersedia sebagai standar. Toyota Jepang juga menyediakan paket Toyota Safety Sense yang saking banyak fiturnya, saya sampai malas menulisnya di sini. Paket ini bahkan tidak ada di Toyota Fortuner versi Indonesia.

Bikin ngiler? Anda hanya bisa mengelus dada. Mengharapkan mobil niaga di Indonesia punya fitur sebanyak itu sama saja dengan angan-angan kosong. Bukannya pabrikan tidak mau memberikannya, hanya saja jika fitur-fitur itu terpasang, harga mobilnya bisa melonjak tajam dan membuat mobilnya tidak laku. Padahal, orang kan cari mobil niaga yang harganya terjangkau dan biaya operasionalnya murah. Maklum, namanya juga pengusaha cari cuan.

Kalau mobil niaga entry-level di sini tidak dapat mesin baru, lampu LED, dan penggerak 4WD sih masih bisa dimaklumi. Masalah sebenarnya ada di minimnya fitur keselamatan standar. Okelah kalau Toyota Safety Sense tidak ada, toh kurang cocok juga kalau digunakan di habitat mobil niaga Indonesia. Akan tetapi, masak iya sekadar dual airbag, ABS, dan EBD saja tidak ada? Perangkat keamanan yang ada hanya sabuk pengaman yang ngampleh karena tidak retractable dan rasanya hanya dipakai pengemudi kalau di perempatan depan ada polisi.

Baca Juga:  Pilihan Boruto Sudah Tepat, Bahwa Jadi Hokage Itu Tidak Enak

Alhasil ya menyetir hanya berbekal doa naik kendaraan, ngerem pakai iman, dan impact tabrakan diredam dengan amal perbuatan.

Hal ini menjadi potret lemahnya kesadaran Indonesia akan pentingnya fitur keselamatan berkendara, khususnya pada mobil niaga. Para pengusaha (yang menjadi target pasar mobil niaga ini) menginginkan mobil yang tidak macam-macam, yang penting bisa jalan, daya angkut besar, dan harga serta biaya operasionalnya semurah mungkin. Tak heran jika banyak mobil niaga dijejali beban lebih dari standar demi mengefisienkan biaya (bahkan terlalu efisien).

Di sisi lain, pabrikan mobil mau tidak mau harus menuruti target pasar dan menekan harga jual jika ingin produknya laku, meski hal tersebut berarti menyunat fitur keselamatan dan meningkatkan potensi bahaya kecelakaan bagi pengemudinya.

Keadaan ini bertahan lama karena kurangnya ketegasan pemerintah mengatur regulasi terkait fitur keselamatan standar kendaraan. Mobil niaga semacam Toyota Town Ace di Jepang bisa memiliki fitur keamanan sebegitu banyak demi memenuhi standar pemerintah Jepang. Sementara itu di Indonesia, bahkan airbag, ABS, dan EBD saja tidak jadi standar. Padahal fitur tersebut sangat berguna saat mengerem mendadak agar rem tidak mengunci. Anda pasti ngeh betapa pentingnya fitur ini kalau pernah mengalami kasus rem mengunci seperti saya.

Ayolah pemerintah, sudah lama standar industri otomotif Indonesia tertinggal jauh dari negara lain, salah satunya perkara safety ini (selain masalah emisi juga). Mestinya ada ketegasan terkait perangkat safety macam apa yang diterapkan sebagai standar dalam semua mobil yang dipasarkan di Indonesia, tidak hanya tergantung kepada kemauan pasar dan kemurahan hati pabrikan.

Akan tetapi, tampaknya memang di industri otomotif kepentingan cuan masih sangat dominan sehingga masalah seperti ini terabaikan tak hanya oleh konsumen dan pabrikan, tetapi juga oleh pemangku kepentingan terkait regulasi. Memang banyak orang yang belum sadar pentingnya fitur keselamatan kalau belum pernah mengalami insiden. Apa perlu semua orang mengalami kecelakaan dahulu baru bisa sadar akan pentingnya fitur keselamatan?

Baca Juga:  Viral Video Keluarga Pasien Covid-19 Marah: Strategi Menghilangkan Salah Paham

Saran saya, minimal dual airbag, ABS, dan EBD dijadikan fitur keselamatan standar bagi semua kendaraan roda empat. Hal tersebut dapat membuat mobil dapat mengerem dengan lebih optimal dan mencegah kecelakaan. Kalau apes-apesnya tetap terjadi kecelakaan, adanya airbag dapat meminimalkan kemungkinan kepala orang-orang di dalam kabin menjadi tempe penyet.

Adanya standardisasi taraf keselamatan mobil di Indonesia juga cukup penting untuk menjadi prasyarat agar suatu mobil dapat dijual umum. Sudah pernah ada kabar burung bahwa pemerintah akan membuat sarana tes keselamatan mobil, tetapi hilang ditelan waktu. Mungkin nggak ada duitnya, maklum mahal.

Saya tidak habis pikir, mengapa tidak menggunakan ASEAN NCAP? Padahal program semacam NCAP telah diakui secara global sebagai program penilaian keselamatan mobil yang mumpuni. Pemerintah tinggal mengatur agar mobil yang dapat dijual di sini harus telah menjalani tes tabrak NCAP dan memenuhi standar yang ditetapkan. Syukur-syukur jika traction control dan stability control di masa depan turut menjadi standar.

Dengan adanya regulasi yang tegas terkait standar keselamatan minimal, pabrikan mau tidak mau menurutinya dan membuat mobil yang lebih aman serta benar-benar mobil, bukan kaleng Khong Guan yang diberi mesin dan roda. Meski harganya lebih mahal, pastinya akan tetap laku karena tidak ada lagi mobil murah dengan standar keamanan yang disunat sehingga tampak ngenes. Dengan itu, mestinya potensi dan angka kecelakaan dapat ditekan karena mobil yang dikemudikan sudah berisi fitur keselamatan yang memadai, tidak hanya berbekal iman dan takwa.

BACA JUGA Sesempurna-sempurnanya Innova Diesel, Tetap Ada Bagian Menyebalkannya dan ulasan otomotif Rafie Mohammad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.