Bioskop Karia: Bioskop Tertua di Padang yang Digulung Zaman

Artikel

Avatar

Padang adalah kota yang strategis. Dengan pelabuhan Emmahaven sebagai gerbangnya, Padang menjamu pedagang dan pendatang dari berbagai belahan dunia. Tak heran apabila Padang terhitung cepat dibanding dengan daerah lain di bagian barat Indonesia. Fonograf, atau mesin bicara yang diciptakan Thomas Alva Edison pada 1887, sudah ada di Padang pada tahun 1898.

Begitu juga dengan film. Pemutaran film sudah ada di Padang sejak 1905, walau sifatnya masih eksklusif untuk orang-orang Belanda. Pemutaran-pemutaran film belum berlangsung di bioskop, melainkan di gedung multifungsi tempat berkumpulnya imigran-imigran Eropa, seperti Edison’s Wereld Toneel, Royal, dan Ons Genoegen.

Bioskop-bioskop baru berdiri pada dekade 1920-an. Empat bioskop pertama di Padang, yakni Royal Excelsior Bioscope, Biograph Bioscope, Scalabio[scope], dan Cinema Theater, dimiliki oleh pengusaha Cina dan Eropa. Sampai sekarang belum diketahui letak persisnya keempat bioskop itu.

Pada masa itu, pengusaha Cina memang banyak menanam saham untuk membangun bioskop, karena usaha perbioskopan begitu menjanjikan kala itu. Selain itu, para pengusaha Cina juga menganggap pengusaha Eropa telah gagal dalam berbisnis bioskop.

Mereka yakin mereka bisa lebih baik dari orang-orang Eropa. Dalam berbisnis bioskop, pengusaha Cina cenderung mendirikan banyak bioskop dalam satu payung kepemilikan. Contohnya adalah Cinema Bioskop, yang dirintis pada 1921 oleh perusahan Maskapay Handle Industri. Ang Eng Kwan, pemimpinnya, kemudian mendirikan Appolo Bioscope pada 1926 dan Rio Bioskop pada 1936.

Cinema Bioskop adalah cikal bakal Bioskop Karia, sebab setelah peristiwa 30 September 1965, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengganti nama bioskop berbau asing ke nama yang lebih Indonesia. Cinema Bioscoop ganti nama jadi Bioskop Karia, Apollo Bioscoop jadi Bioskop Satria, Rio Bioscoop jadi Bioskop Mulia, Capitol Bioscoop jadi Bioskop Raya, dan New Rex jadi Bioskop Kencana.

Masa kejayaan bioskop berada pada tahun 70-an. Ratusan bioskop hadir untuk melepas dahaga penonton. Ya tentu, di masa itu film adalah primadonanya warga Indonesia. Coba saja tanya ke orang tua kita, pasti mereka mengatakan hal serupa.

Baca Juga:  Romantisme Mas Pur dan Mbak Rinjani Ketika Jakarta Memberlakukan PSBB

Masa kejayaan bioskop di Sumatra Barat tidak berlangsung lama. Tanda-tanda keruntuhan bioskop sudah terbaca sejak 1985, ketika teknologi video tape memungkinkan orang untuk menonton film di televisi.

Maraknya pembajakan film membuat orang-orang lebih memilih menonton film dengan video tape yang diputar di televisi mereka (jika ada) atau tetangga mereka (jika tidak ada). Orang-orang menonton film di rumah tetangga-tetangga mereka yang kaya. Walau rumah tetangga, mereka tetap membayar untuk listrik, namun tidak terlalu mahal. Tidak lebih dari 100 rupiah.

Orang-orang jadi jarang ke bioskop. Bioskop-bioskop kehilangan pemasukan, dan akibatnya sulit untuk merawat dan memperbaiki perangkat pemutaran film serta fasilitas bioskop. Satu per satu mulai gulung tikar. Beberapa di antaranya: Bioskop Buana I, II, III, THR Imam Bonjol, Bioskop President I, Bioskop Purnama, THR Siteba, THR Jati, THR Bungus, THR Serayu, dan THR Bahari. Semuanya tutup usaha pada dekade 90an.

Masa itu terus menggelayuti kami orang-orang Padang dan Sumatera Barat. Sampai tahun 2015, bioskop yang aktif hanya dua, yaitu Bioskop Karia dan Bioskop Raya. Mungkin di daerah lain di Indonesia, tahun 2000-an sudah muncul XXI, tapi di Padang XXI baru hadir di tahun 2016 akhir di pusat perbelanjaan Plaza Andalas.

Agar bisa bersaing dengan bioskop di luar Sumatera Barat, dua bioskop itu, Karia dan Raya,  mulai mengganti alat pemutarnya dari seluloid ke digital, sehingga film yang diputar bisa diupdate. Tapi itu hanya satu studio. Dan dua studio lain masih menggunakan seluloid dan film yang diputar itu-itu saja.

Jadi ada stigma aneh dari masyarakat kalau kita pacaran ke bioskop. Kalau dibilang mau nonton, ya nggak mungkin. Emang mau nonton apa? Toh pemutarnya masih pake seluloid. Jadi setiap pasangan yang pergi ke bioskop bukan untuk menonton, tapi untuk ehem, ehem….

Baca Juga:  Surat untuk Teman-teman yang Masih Berpikir kalau Padang Itu Adalah Keseluruhan Provinsi Sumatera Barat

Kebiasaan ngedate di bioskop itu mulai muncul dari tahun 2017 ke sini. Orang dari Bukittinggi, Padang Panjang, Solok, Dhamasraya, dan sebagainya pergi ke Padang untuk menonton di Bioskop. Ditambah lagi muncul XXI baru di Transmart, kemudian Bioskop Raya yang bertransformasi menjadi CGV. Dan tinggallah si Bioskop Karia dengan bentuk yang masih sama dengan puluhan tahun lalu.

Bioskop Karia masih aktif sampai sekarang, hal yang jarang saya temui dari bioskop-bioskop lama di daerah lain. Bentuk bangunannya masih gaya Belanda, dua studio masih menggunakan mesin pemutar seluloid. Dengan tekanan dari ketiga bioskop baru yang hadir, saya yakin sebentar lagi ia akan jatuh atau melepaskan dirinya ke perusahaan yang lebih kuat dan modern.

Dan benar saja, baru-baru ini saya mendengar kabar burung kalau Bioskop Karia akan ditransformasikan menjadi CGV. Walau CGV masih menggunakan bentuk bangunan yang sama, tapi nama Bioskop Karia tentu akan berubah.

Anggaplah tulisan ini sebagai cara mengenang atau obituari Bioskop Karia. Karena saya juga tidak yakin, masyarakat Sumatera Barat tahu kalau umur Bioskop Karia hampir mencapai satu abad.

BACA JUGA Surat untuk Teman-teman yang Masih Berpikir kalau Padang Itu Adalah Keseluruhan Provinsi Sumatera Barat dan tulisan Muhaimin Nurrizqy lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

---
4


Komentar

Comments are closed.