Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Pengalaman Saya Hidup Bertetangga dengan Pengedar Narkoba

Muhammad Farih Fanani oleh Muhammad Farih Fanani
7 Desember 2020
A A
Pengalaman Saya Hidup Bertetangga dengan Pengedar Narkoba terminal mojok.co

Pengalaman Saya Hidup Bertetangga dengan Pengedar Narkoba terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

“Mas, ini ada bancaan dari mas Awan.” Suara itu terdengar merdu. Sehingga mampu membuat saya bangkit kasur yang nyaman. Segera saya menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Awan (tentu bukan nama sebenarnya) adalah salah satu pengedar narkoba yang masyhur di desa kami. Saya sebut salah satu karena di desa saya, masih ada satu lagi pengedar narkoba yang memiliki segmen pasar yang berbeda.

Rumah saya dan Mas Awan terbilang cukup dekat. Tidak ada objek yang menghalangi kalau sewaktu-waktu saya ingin berteriak memanggilnya dari teras depan rumah.

Desa kami mayoritas masyarakatnya adalah agamis. Sangat menjunjung tinggi moral dan nilai agama. Jadi, kalau ada masalah yang bertentangan dengan nilai agama biasanya akan jadi bahan cibiran warga. Warga kami tidak mengenal kekerasan. Jadi, kalau ada yang dirasa kurang tepat, masalah biasanya akan diselesaikan dengan rasan-rasan.

Sekitar lima tahun silam, bertetangga dengan pengedar narkoba adalah pengalaman yang mengasyikkan. Mas Awan bukan pengedar narkoba seperti di film-film yang memiliki misi dan tantangan yang cukup mencekam. Ia adalah seorang pedagang dan pebisnis barang haram yang humanis.

Sebagaimana masyarakat pada umumnya, tampaknya Mas Awan cukup mengerti etika-etika dan tata krama menjadi seorang tetangga yang kaya. Dia sering membagikan bingkisan atau makanan kepada kami-kami, tetangganya.

Mungkin dia sedang syukuran. Entah itu bisa disebut syukuran atau tidak. Akan tetapi yang pasti, dia sedang berusaha untuk menjadi orang yang saleh di lingkungan sosial.

Orang tua saya biasanya enggan memakan makanan yang didapat dari Mas Awan. Katanya, “Itu kan didapat dari uang haram, mbok ya jangan dimakan, buang wae!”

“Hambok ben,” sahut saya. Saya sangat lahap dan selalu bersuka cita menyantap makanan atau jajanan yang saya dapatkan dari siapa pun.

Baca Juga:

Derita 3 Tahun Bertetangga dengan Pemilik Sound Horeg, Rasanya seperti Ada Hajatan Tiap Hari

Derita Punya Tetangga yang Pelihara Ayam: Bau Tidak Sedap Jadi Musuh Sehari-hari, Sudah Diingatkan Malah Ngeyel

Tidak ada yang tidak tahu kalau Mas Awan adalah pengedar narkoba. Hampir semua orang di desa menyadari itu. Namun, apa bisa dikata, berpuluh-puluh kali masyarakat dan perangkat desa mengingatkannya. Bahkan tokoh agama di desa kami pun kerap kali memperingatkan untuk segera menutup praktik obatnya. Tapi, peringatan demi peringatan tidak pernah ia iyakan.

Saya tidak tahu pasti, narkoba jenis apa yang ia jual. Akan tetapi, yang saya dengar dari orang-orang, Mas Awan meracik pil oplosan yang dijual dengan harga yang cukup merakyat.

Setiap hari, jalan kecil di depan rumah saya tidak pernah absen dari motor-motor “pasien” Mas Awan yang berseliweran. Semua pasiennya variatif. Mulai dari bapak-bapak tua, hingga anak remaja yang mungkin kalau nongkrong, masih kerap bercerita seputar sakitnya disunat. Terkadang, saya menjumpai kawan saya yang lewat. Akan tetapi, seringnya, pasiennya adalah orang-orang asing yang datang jauh dari luar desa, atau bahkan luar kecamatan.

Sebetulnya, dari data demografi yang saya dan bapak saya amati, mereka (pasien mas Awan) sebenarnya memiliki rasa malu untuk membeli dan menggunakan narkoba. Tapi mungkin, mereka juga tak berdaya, kecanduan memang sangat sulit dicarikan obatnya.

Mas Awan sangat jarang membuat kerusuhan di lingkungan kami. Bahkan, para pasiennya tidak jarang kami omeli ketika salah satu dari mereka membawa motor yang bunyinya terlalu berisik dan sangat mengganggu di telinga.

Sebagai “dokter”, Mas Awan biasanya akan menegur pasiennya yang mengganggu warga sekitar. Tidak ada pilihan lain bagi pasien selain tunduk terhadap perintah dokternya. Biasanya keesokan harinya, kami akan menjumpai seorang pemuda dengan baju preman, berotot, dan berkulit hitam, lewat depan rumah kami sambil berjalan kaki menuntun motornya dan menyapa, “Monggo, Pak,” sembari menampakkan wajah sumringahnya.

Itu di hari biasa. Ketika lebaran, tamu di rumah saya dan tamu di rumahnya sangat jauh berbeda dari segi kuantitasnya. Lebaran hari pertama, di rumah Mas Awan biasanya akan dijejali dengan pasien-pasiennya yang berkulit hitam, berotot, dan berpakaian ala akhi-akhi.

Mungkin mereka hendak bersilaturahmi dan berterima kasih ke Mas Awan. Lantaran berkat dia, para pasiennya bisa hidup mengikuti passion mereka. Tidak mengintil dan membebek pada kemajuan zaman. Mungkin lho, ya.

Kami, tetangganya, jarang sekali membela atau menghakimi. Kami semua tahu bahwa itu adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Selain karena bertentangan dengan nilai agama, praktik Mas Awan juga tentu melanggar hukum. Namun, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Mengingatkan tentu sudah sering kami lakukan, entah dengan cara tersirat maupun tersurat.

Akan tetapi, menghentikan praktik narkoba tentu sepenuhnya adalah kewenangan aparat. Kami tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menghentikannya secara sepihak. Kami tidak sedigdaya itu.

Sejauh ingatan yang bisa saya jangkau, pernah beberapa kali Mas Awan keluar masuk penjara. Kadang, ia tidak pernah menampakkan diri. Begitu pula dengan pasiennya. Motornya tidak lagi berseliweran di jalan depan rumah saya selama berbulan-bulan. Namun, tidak lama kemudian, pemandangan jual beli barang haram tersebut akan kembali beroperasi.

Akan tetapi, kini semua praktik itu sudah berhenti. Beberapa bulan yang lalu ketika saya pulang kampung, sudah tidak tampak lagi pemandangan seperti dulu. Mungkin blio sudah sadar dan taubat. Atau bisa jadi, tingkat kecaman, ancaman, dan hukuman yang diterima Mas Awan akhir-akhir ini sudah semakin gencar. Tidak seperti kami dahulu yang terlalu santai menyikapi praktik haram yang menjerumuskan tersebut.

Pungkasnya, ada dua hal yang hendak saya garis bawahi. Pertama, sesuatu yang terlihat batil, tidak selalu harus diselesaikan dengan kerusuhan dan kekerasan. Kedua, kalau Anda berniat berdagang narkoba, pikirkan juga unsur-unsur kemanusiaannya. Itu penting sekali demi menunjang keberhasilan dan kelanggengan bisnis Anda. Eh.

BACA JUGA Mau Pakai Narkoba? Jangan Coba-Coba Deh atau tulisan Muhammad Farih Fanani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Desember 2020 oleh

Tags: narkobapengedartetangga
Muhammad Farih Fanani

Muhammad Farih Fanani

Muhammad Farih Fanani, full time berpikir, part time menulis. Instagram @mfarihf.

ArtikelTerkait

main ke rumah tetangga sungkan canggung perumahan wabah corona mojok

Solusi ‘Gerakan Menengok Tetangga’ bagi Warga Kompleks yang Biasa Diem di Rumah Bae

7 Mei 2020
Motor Honda ADV 160 Paling Cocok untuk Membungkam Mulut Tetangga yang Suka Nyinyir

Motor Honda ADV 160 Paling Cocok untuk Membungkam Mulut Tetangga yang Suka Nyinyir

20 April 2024
coki pardede breaking bad crystal meth mojok

Kok Bisa Pasal Dakwaan Kasus Coki Pardede Berbeda dengan Kasus Nia Ramadhani?

5 September 2021
Sisi Gelap Gangnam, Daerah Paling Glamor di Korea Selatan  

Sisi Gelap Gangnam, Daerah Paling Glamor di Korea Selatan  

11 Oktober 2023
jamu

Kalau Para Artis Rajin Mengonsumsi Jamu, Tentu Tak Ada Alasan Menggunakan Sabu Untuk Stamina Lagi

25 Juli 2019
Privilese Jadi Anak Ketua RT yang Tidak Dirasakan Warga Biasa

Privilese Jadi Anak Ketua RT yang Tidak Dirasakan Warga Biasa

22 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Bangga Setengah Mati Lahir dan Besar di Kebumen (Unsplash)

Dulu Malu Bilang Orang Kebumen, Sekarang Malah Bangga: Transformasi Kota yang Bikin Kaget

10 Desember 2025
Sisi Lain Tamansari Jogja yang Membuatnya Misterius (Unsplash)

Pengalaman Mengunjungi Tamansari Jogja, Istana Air di Mana Sejarah Kerajaan Berpadu dengan Kehidupan Sosial Masyarakat

8 Desember 2025
Indomaret Tidak Bunuh UMKM, tapi Parkir Liar dan Pungli (Pixabay)

Yang Membunuh UMKM Itu Bukan Indomaret atau Alfamart, Tapi Parkir Liar dan Pungli

6 Desember 2025
Saya Sudah Menyerah Recook Resep Viral TikTok dan Instagram. Mending Beli, Jelas Lebih Murah dan Enak!

Saya Sudah Menyerah Recook Resep Viral TikTok dan Instagram. Mending Beli, Jelas Lebih Murah dan Enak!

6 Desember 2025
Ilustrasi Banjir Malang Naik 500% di 2025 Bukti Busuknya Pemerintah (Unsplash)

Kejadian Banjir Malang Naik 500% di 2025, Bukti Pemerintah Memang Nggak Becus Bekerja

6 Desember 2025
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir

Jangan-jangan, Kita Ini Sebenarnya Butuh Tukang Parkir dan Nggak Benci sama Mereka

8 Desember 2025

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=HZ0GdSP_c1s

DARI MOJOK

  • Putus Asa usai Ditolak Kerja Ratusan Kali, Sampai Dihina Saudara karena Hanya Jadi Sarjana Nganggur
  • Dalil Al-Qur’an-Hadis agar Tak Merusak Alam buat Gus Ulil, Menjaga Alam bukan Wahabi Lingkungan tapi Perintah Allah dan Rasulullah
  • Alumnus ITB Rela Tinggalkan Gaji Puluhan Juta di Jakarta demi Buka Lapangan Kerja dan Gaungkan Isu Lingkungan
  • Keresahan Warga Jogja di Balik Kabar Kenaikan Harga Olive Chicken di Januari 2026
  • Pulang dari Perantauan: Dulu Habiskan Waktu Nongkrong bareng Teman, Kini Menghindar dan Lebih Banyak di Rumah karena Takut Menyesal
  • Innova Reborn Menolak Mati, Toyota Belum Siap Kehilangan Mobil Kesayangan yang Nggak Pernah Bikin Malu


Summer Sale Banner
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.