Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pengalaman Sales Platform Pendidikan Menjadi Guru Dadakan: kalau Keadaannya Begini, Nggak Kaget kalau Guru Mengeluh dan Stres

Zainul Fikri oleh Zainul Fikri
1 September 2024
A A
Pengalaman Sales Platform Pendidikan Menjadi Guru Dadakan: kalau Keadaannya Begini, Nggak Kaget kalau Guru Mengeluh dan Stres

Pengalaman Sales Platform Pendidikan Menjadi Guru Dadakan: kalau Keadaannya Begini, Nggak Kaget kalau Guru Mengeluh dan Stres

Share on FacebookShare on Twitter

Saya adalah sales di salah satu platform pendidikan, bahasa kerennnya adalah konsultan pendidikan. Tugas saya adalah mengunjungi sekolah-sekolah yang ada di Jakarta Utara untuk melakukan sharing session mengenai strategi belajar kepada siswa-siswi SMA dan SMP.

Oleh karena pekerjaan inilah akhirnya saya sedikit bisa membedakan karakter siswa di sekolah yang menengah ke bawah. Mari kita sebut sebagai sekolah 1 dan menengah ke atas atau sekolah 2 di Jakarta Utara. Sebagaimana yang kita tahu bahwa daerah Jakarta Utara dikenal dengan area dengan kesenjangan sosial yang amat tinggi.

Selama menjalankan tugas saya menyadari bahwa pendidikan formal dari SD-SMA/SMK amat perlu diperhatikan. Dan perhatian saya tertuju pada karakter siswa. Karakter siswa perlu digaris bawahi karena di beberapa sekolah 1 saya seringkali tersenyum tipis dan mengelus dada. Saya merasa kewalahan dalam mengontrol mereka, padahal hanya satu kali pertemuan.

Saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya menjadi seorang guru dengan keharusan untuk mendidik murid yang sulit dikontrol. Bayangkan saja, saat saya melakukan presentasi terkait pentingnya pendidikan, para murid sibuk sendiri focus memiringkan gadget masing-masing. Bahkan ada yang membawa sound speaker besar dan mereka izin untuk menyetel lagu.

Sekali lagi, sebagai seorang yang hanya mampir sekali ke sana, saya hanya bisa mengizinkan daripada saya harus berkonflik dengan mereka.

Bingung memilih, karena tak punya pilihan

Selain itu, mereka juga asik ngobrol dengan teman lainnya seolah tidak ada yang berbicara. Namun saya sempatkan untuk mengahampiri mereka satu per satu sebagai jalan terakhir untuk menanyakan rencana mereka perihal pilihan mereka untuk kuliah atau kerja di masa depan.

Saya memang lebih sering mengunjungi sekolah-sekolah SMA. Dan mayoritas sekolah yang berlokasi di daerah padat penduduk, mereka memang memilih untuk bekerja dengan alasan ketidakmampuan ekonomi meski mereka mau kuliah dan sudah malas untuk belajar. Ada beberapa juga yang masih bingung memilih.

Namun, masih ada beberapa siswa yang memiliki motivasi tinggi untuk belajar di sekolah 1. Tetapi, mereka terlihat pendiam dan cenderung menyendiri. Dia hanya bisa pasrah dengan kondisi kelas yang tidak kondusif, berisik, dan panas. Hal tersebut ia sampaikan melalui kertas yang saya bagikan di kelas dan kebanyakan dari mereka memilih untuk mengikuti kelas tambahan atau les di luar sekolah untuk meningkatkan pemahaman.

Baca Juga:

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

Lantas apa yang menyebabkan mereka memiliki karakter dan perilaku tersebut? Dan tanggung jawab siapa?

Mereka yang bertanggung jawab

Selain sistem pendidikan atau kurikulum yang selalu berubah-ubah setiap pergantian kepemimpinan menteri, sekolah, guru, lingkungan sekitar sekolah dan rumah mencakup teman bermain, dan yang terpenting adalah diri sendiri, harus bertanggung jawab atas keruwetan pendidikan di Indonesia terkhusus di daerah-daerah padat penduduk.

Belumlah sekolah memahami detail K-13 dan melihat hasil dari kurikulum tersebut, pemerintah dengan tak berdosanya mengganti begitu saja dengan Kurikulum Merdeka. Butuh proses yang amat lama bagi sekolah di seluruh negeri ini untuk mencerna secara merata kurikulum yang diterapkan. Alhasil, sekolah mengalami kebingungan untuk menjelaskan kepada wali murid tentang kurikulum yang baru. Sekolah yang merupakan lembaga pendidikan disibukkan dengan hal-hal administratif daripada mendidik muridnya.

Guru hanya sibuk “menasihati” murid nakal dan pemberontak dibanding membina dan mendidik siswa. Lebih dari itu, guru memposisikan dirinya sebagai manusia yang tak perlu belajar dan murid adalah manusia yang harus belajar demi meningkatkan nilai, mendapatkan prestasi, dan bisa bekerja di masa depan. Padahal, guru juga harus bisa memposisikan dirinya sebagai pelajar yang belajar dari murid-muridnya.

Pada akhirnya, guru menjadi pesimis dan merasa apa yang mereka lakukan menjadi sia-sia dan tidak penting. Guru menjadi sadar bahwa beratnya profesi ini tidak diimbangi dengan upah yang ia dapatkan, alih-alih menjadi semangat mengajar, guru menjadi kehilangan minat menjadi seorang pendidik. Menjadi guru hanyalah untuk bertahan hidup semata daripada menganggur di tengah sulitnya mencari pekerjaan.

Fokusnya pada perut pejabat, bukan pendidikan

Kritik besar diarahkan kepada negara yang memiliki cita-cita besar untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Ironisnya, pada saat ini fokus mereka malah memperkaya pejabat-pejabatnya dan menghamburkan uang untuk hal-hal yang tak perlu. Seperti menyewa mobil senilai jutaan demi menghebohkan upacara kemerdekaan di IKN, memotong anggaran pendidikan untuk proyek infrastruktur daripada mengalokasikan anggarannya untuk gaji guru dan fasilitas sekolah yang rusak.

Negara juga tidak mampu menciptakan lingkungan yang aman di daerah marjinal sehingga anak-anak terlibat dalam kekerasan dan narkoba. Budaya yang tercipta dalam lingkungan tersebut akhirnya terbawa ke sekolah. Otomatis, itu memengaruhi yang lain sehingga membentuk karakter pemberontak, perusuh, dan nakal yang mengakibatkan sekolah dan guru kesulitan untuk memberikan treatment yang pas untuk menghilangkan gejala-gejala tersebut.

Fenomena ini bagaikan benang kusut yang amat sulit untuk diperbaiki. Bahkan butuh waktu yang lama untuk memperbaiki situasi pendidikan di daerah padat seperti Jakarta Utara. Yang jadi mengerikan adalah, jika Jakarta, yang merupakan pusatnya Indonesia saja kesusahan, bayangkan yang lain, yang jauh dari jangkauan pemerintah pusat?

Membayangkan saja tak mampu.

Penulis: Zainul Fikri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tak Ada yang Lebih Tabah dari para Pejuang KRL

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 September 2024 oleh

Tags: gurukurikulumPendidikansistem pendidikan
Zainul Fikri

Zainul Fikri

Konsultan Pendidikan.

ArtikelTerkait

google

Google yang Serba Tahu dan Kemalasan Manusia Untuk Berpikir

10 Agustus 2019
5 Hal Nggak Enaknya Jadi Guru di Desa terminal mojok

5 Hal Nggak Enaknya Jadi Guru di Desa

17 Desember 2021
Sisi Gelap Jadi Guru Honorer yang Tidak Diketahui Banyak Orang sekolah swasta

5 Skill Dasar yang Seharusnya Dikuasai Guru, tapi Kurang Diajarkan di Jurusan Pendidikan

15 Agustus 2024
Beban Menjadi Salah Satu dari Segelintir Sarjana di Kampung Terminal mojok

Beban Berat Menjadi Sarjana di Kampung

26 Januari 2021
smart shaming

Smart Shaming, Perundungan terhadap Orang Pintar yang Blas Ra Mashok!

11 Oktober 2021
Tujuan P5 Adalah Penanaman Nilai Pancasila, Bukan Bikin Pentas!

Tujuan P5 Adalah Penanaman Nilai Pancasila, Bukan Bikin Pentas!

28 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.