Memang, perjalanan Semarang ke Solo itu hanya memakan waktu beberapa jam saja. Saking dekatnya, saya sempat merasa sudah sangat khatam dengan seluk-beluk kehidupan di Jawa Tengah.
Saya pun sempat menyangka kalau Solo nggak akan jauh beda dengan Semarang. Hanya sekadar destinasi singgah yang nuansanya bakal terasa familiar.
Namun, setelah kesekian kalinya berkunjung ke sana, saya akhirnya sadar. Ternyata, ada banyak hal asing yang nggak pernah saya temui di Kota Lumpia. Praktis, saya yang awalnya merasa sok paling tahu ini, mau nggak mau harus bertekuk lutut dan mulai belajar membaca ritme Kota Bengawan dengan cara yang sama sekali baru.
BACA JUGA: 6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga
Parkir mobil di pinggir jalan di Solo adalah ujian kesabaran
Sebagai orang Semarang yang sudah terbiasa dengan sistem parkir di kantong-kantong khusus yang tertata, parkir di pinggir jalan raya Solo sungguh bikin mumet. Infrastruktur jalan di sini yang memisahkan jalur lambat dan cepat justru bikin saya harus memeras otak saat ingin menepikan kendaraan sebentar saja.
Saya sering bingung. Kalau parkir di jalur lambat, saya takut menghambat laju kendaraan nggak bermotor. Tapi kalau nekat berhenti di pinggir jalur cepat, saya khawatir menyalahi aturan. Lebih bikin garuk-garuk kepala lagi ketika tukang parkir dengan santainya malah mengarahkan saya untuk menaruh mobil di atas trotoar.
Pemisah jalan raya yang nggak lazim bagi warga Semarang
Di Semarang, pemisah jalan biasanya berupa media jalan permanen. Entah itu pembatas beton yang kokoh atau jalur hijau yang rimbun dengan tanaman. Nah, begitu sampai di Solo, saya sering dibuat melongo karena desain pemisah jalannya yang terkesan nyeleneh dan bikin pendatang bingung.
Bayangkan saja, ada patung yang cuma diletakkan begitu saja di atas bangunan persegi tanpa lajur pembatas di depan atau belakangnya. Belum lagi soal jalan utama yang hanya dipisahkan oleh road barrier berbahan plastik oranye. Bahkan di titik persimpangan tengah kota yang paling ramai.
Kalau cuma mengandalkan Google Maps, bisa-bisa malah tersesat karena arah laju kendaraannya yang memusingkan. Butuh waktu lama bagi mata saya untuk bisa membaca alur jalan yang bagi warga lokal mungkin terasa sepele. Namun bagi saya, orang Semarang, pengaturan lalu lintas di Solo ini ibarat jebakan Batman yang bikin senewen.
Fenomena tong di tengah persimpangan jalan di Solo bikin kaget orang Semarang
Hal lain yang cukup absurd adalah keberadaan tong besar yang sengaja diletakkan tepat di tengah perempatan. Kalau di Jogja, titik tengahnya biasanya diisi monumen atau tugu kecil sebagai pemisah. Sementara di Semarang, area tersebut hampir pasti dikuasai “Pak Ogah” yang sibuk mengais recehan.
Di Solo, tong-tong ini berfungsi sebagai pembatas yang memaksa pengendara berbelok mengikuti alur yang sudah ditentukan. Awalnya, saya sempat merasa ini justru menghambat mobilitas. Namun, lambat laun saya mulai paham. Ini mungkin bentuk kearifan lokal yang efektif untuk menjaga lalu lintas biar nggak semrawut.
Nggak ada palang kereta uap Jaladara yang menyeberang di jalan utama
Pengalaman paling bikin kaget adalah saat pertama kali melihat kereta uap Jaladara melintas. Bukan hanya berjalan berdampingan dengan kendaraan umum lainnya tanpa pembatas. Tapi juga ketiadaan palang pintu ketika kereta Jaladara membelah jalan raya utama, Jalan Slamet Riyadi.
Barangkali, pemakai jalan di Solo harus punya inisiatif buat berhenti sendiri. Bagi orang Semarang, ini adalah pengalaman menegangkan. Sebab, fakta bahwa kereta besar berjalan di tengah kota tanpa penghalang fisik benar-benar adalah sebuah pemandangan yang mustahil di Semarang.
Terdapat bilik toilet umum gratis di trotoar
Terakhir, saya benar-benar dibuat takjub dengan keberadaan bilik toilet umum gratis khusus untuk buang air kecil di trotoar. Di tengah hiruk-pikuk kota, menemukan fasilitas sanitasi yang bisa diakses secara cuma-cuma dengan kondisi yang terawat adalah sebuah kemewahan tersendiri.
Saat saya coba buka, bilik berbahan plastik tebal itu ternyata sama sekali nggak menguarkan bau pesing yang biasanya jadi momok toilet umum.
Kontras sekali rasanya kalau ingat Semarang. Di sana, saya biasanya harus repot masuk ke SPBU atau mencari pusat perbelanjaan sekadar buat buang hajat. Bahkan toilet di Simpang Lima pun ada tarifnya. Jelas, kehadiran bilik ajaib di Solo ini benar-benar jadi penyelamat bagi pelancong seperti saya.
Deretan kejutan yang saya temui selama di Solo bukanlah soal mana yang lebih baik atau benar. Ini adalah tentang bagaimana saya masih harus rendah hati untuk banyak belajar kebiasaan dari kota tetangga. Bahkan, yang mungkin jaraknya hanya selemparan batu saja.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
