Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Pengalaman Naik Bus di Jepang, Satu Penumpang pun Pasti Diantar

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
9 Februari 2022
A A
Pengalaman Naik Bus di Jepang, Satu Penumpang pun Pasti Diantar

Pengalaman Naik Bus di Jepang, Satu Penumpang pun Pasti Diantar (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Hanya di Jepang, jalur kereta ditutup karena penumpang satu-satunya telah lulus SMA. Dan ini bukan mitos, atau plot manga. Hal tersebut sempat jadi berita yang viral. Meski begitu, sebenarnya hal tersebut umum di Jepang, terutama jika kita bicara tentang bus.

Sebelum sampai ke hal tersebut, ada baiknya kita mengetahui betapa pentingnya bus dan transportasi umum lainnya di Jepang.

Bus dan kereta di Jepang memang menjadi transportasi umum yang sangat diandalkan oleh warganya. Naik kereta kemudian lanjut naik bus terkadang menjadi rute perjalanan ke sekolah atau tempat kerja. Hal tersebut merupakan hal yang sangat biasa di Jepang.

Lantas, bagaimana keseruan naik bus di Jepang?

Cara naik bus di Jepang

Naik bus di Jepang bukanlah sesuatu yang sulit. Asal bawa duit atau kartu transportasi, seharusnya tidak akan ada masalah ya. Tinggal lihat biaya rute dari kita naik sampai turun bus dan bayar kan selesai. Sayangnya sama seperti di Korea Selatan, biasanya rutenya tidak tertulis dalam huruf latin, kecuali bus di daerah wisata ya. Jadi, sebenarnya tetap merasa kesulitan kalau tidak paham apa yang diucapkan sopir atau suara mbak-mbak speaker dari mesin otomatis. Baik bus Korea maupun Jepang, tidak ada kondektur bus ya. Hanya sopir saja.

Sayangnya lagi, biasanya rute bus juga tidak tertulis secara detail di Google Maps atau aplikasi map bawaan ponsel kita. Jadi ya mau tidak mau kita harus bertanya kepada sopir atau penumpang lain. Hafalkan saja nama tujuan kita dan bilang ke sopir kita mau turun di tempat tersebut. Tidak semua sopir, terlebih yang rute perdesaan, paham bahasa Inggris, lho. Jadi, ya kita yang harus mengalah, mengucap nama tempat itu dalam bahasa Jepang.

Biaya naik bus memang tidak semurah kalau naik kereta, tetapi tidak semahal taksi. Setidaknya ada dua tipe biaya naik bus, yakni jarak jauh-dekat biayanya sama (biasanya di daerah perkotaan maupun wisata) dan biaya sesuai jaraknya. Untuk membayar, sebenarnya ada dua cara, bayar di awal (biasanya untuk yang jarak jauh dekat biayanya sama) dan bayar di akhir berdasar jarak tempuh sesuai rute.

Bus di negara ini rata-rata berukuran besar dengan dua pintu. Biasanya kita naik dari pintu tengah dan harus mengambil semacam kertas bertuliskan nomor halte kita naik. Ketika turun, kertas itu dimasukkan ke dalam mesin di dekat sopir untuk dihitung berapa biaya bus kita. Kalau sudah ketahuan harus bayar berapa, barulah kita bayar dengan uang cash maupun dengan menge-tap kartu transportasi kita. Jangan khawatir soal uang kembalian, uang 10 yen pun akan dikembalikan oleh sopirnya, kok.

Baca Juga:

Pertama Kali Naik Bus Harapan Jaya dari Semarang ke Blitar: AC Bocor, Ban Pecah, tapi Snack Melimpah

3 Kekurangan Bus Hasti yang Bikin Tersingkir dari Jalanan Kediri

Bus sebagai alat transportasi

Meski kereta menjadi moda transportasi utama di Jepang, banyak daerah di pedesaan yang tak terjamah kereta sehingga sangat mengandalkan bus untuk pergi ke mana-mana. Kadang jarak rumah ke stasiun terdekat bisa setengah jam naik bus, lho. Jadwal busnya pun tak selalu ada. Ada yang sejam sekali, dua jam sekali pada hari kerja dan sehari sekali pada hari libur. Kalau ketinggalan bus tersebut, ya mau tidak mau harus menggunakan moda transportasi lain atau menunggu jadwal selanjutnya kalau ada. Untungnya jadwal bus tidak pernah ngaret sih, sesuai yang tertulis di papan halte bus. Keren sih bagian ini.

Teman saya pernah bercerita kalau tempat tinggalnya dulu sewaktu di Jepang sangat jauh dari pusat kota. Jarak asrama ke supermarket terdekat saja setengah jam naik sepeda. Tidak ada minimarket maupun restoran di sekitar asramanya.

Kalau belanja mingguan, ia kadang malas nyepeda karena harus bawa beras 10 kilogram, telor satu pak, sayur buah beraneka rupa di keranjang sepedanya. Jauh, berat, capek gowes, hujan pula ya? Waduh berasa ini Jepang atau bukan ya, ndeso amat. Kadang kalau tak mau repot, ia memilih beli melalui e-commerce. Diantar sampai depan pintu, lho.

Kalau mau pergi ke stasiun, ia pernah sampai harus telepon bus centernya untuk menanyakan apakah hari tersebut busnya beroperasi atau tidak, kalau iya barulah ia naik bus. Kadang malah tak ada penumpang lain, lho. Berasa naik bus pribadi ya. Tonari no Totoro, dong.

Saya pernah melihat salah satu acara televisi Jepang yang membahas soal penghuni daerah terpencil. Di Jepang juga ada kok orang yang tetap tinggal di pucuk gunung meski pemerintah sudah menyarankannya untuk berpindah tempat saja. Kalau sakit, ia akan sangat kerepotan dengan akses jalannya. Ada juga adegan di mana bus beroperasi seminggu sekali hanya saat nenek itu pergi ke klinik untuk berobat dan sopir bus tersebut menunggunya sampai selesai periksa, lho, untuk mengantarnya kembali ke rumah.

Pengalaman naik bus di desa

Saya juga pernah merasakan betapa repotnya tinggal di desa tanpa bus sewaktu melakukan penelitian ke luar kota. Jadwal bus sehari itu hanya tiga kali, pagi siang sore. Untungnya belum sampai tertinggal jadwal, jadi saya masih bisa naik bus. Jarak dari halte dekat tempat wawancara saya sampai stasiun sekitar setengah jam. Kanan kiri kebanyakan kehijauan, kalaupun ada rumah jarak tiap rumahnya sangat jauh.

Awalnya ramai, tetapi satu per satu penumpang turun. Saya jadi perempuan satu-satunya di situ, orang asing, pakai jilbab pula. Sopir dan beberapa penumpang lainnya adalah laki-laki. Mana daerah pedesaan, sinyal provider saya tidak mendukung. Meski katanya Jepang aman, saya tetap waswas sambil mengingat jurus Aikido yang dulu saya pelajari. Tangan tak lepas dari ponsel. Saya takut kalau ada yang Islamophobia atau yang tiba-tiba teriak tidak jelas mengatai saya lalu saya diminta turun karena dianggap mengganggu. Beneran ampun deg-degan naik bus kala itu.

Endingnya? Sebelum sampai stasiun, ada nenek-nenek yang naik, jadinya saya berdua perempuan di bus itu. Agak tenang, meski tetap saja saya masih jadi satu-satunya orang asing di situ. Kalau bukan demi tesis, ogah juga ke situ lagi. Fyuh. Oh iya, hampir tak ada jadwal bus di desa itu pada malam hari, lho. Bahaya juga, kan.

Dari uraian panjang dan pengalaman saya di atas, ada satu hal unik yang berkaitan dengan paragraf pertama tulisan saya ini. Yaitu, meski hanya satu penumpang, bus akan tetap mengantarkannya sampai tujuan. Dan ini bisa terjadi karena dukungan pemerintah yang menghargai rakyatnya, tak terkecuali.

Saya yakin setelah membaca ini, Anda akan membandingkannya dengan Indonesia. Well, sepertinya tidak perlu. 

Penulis: Primasari N Dewi
Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: Busjepang
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

Tim Mendang-Mending_ Surabaya-Jakarta PP Mending Naik Bus Atau Kereta Api_ terminal mojok

Tim Mendang-Mending: Surabaya-Jakarta PP Mending Naik Bus Atau Kereta Api?

6 Oktober 2021
Habis Rosalia Indah, Terbitlah Gunung Harta: Bus dengan Fasilitas Elite, tapi Atasi Masalah Sulit

Habis Rosalia Indah, Terbitlah Gunung Harta: Bus dengan Fasilitas Elite, tapi Atasi Masalah Sulit

13 Agustus 2025
4 Fakta tentang Ijime, Perenggut Kebahagiaan Anak-anak di Jepang

4 Fakta tentang Ijime, Perenggut Kebahagiaan Anak-anak di Jepang

21 Maret 2022
3 Alasan Orang Jepang Betah Kerja di Indonesia

3 Alasan Orang Jepang Betah Kerja di Indonesia

2 Januari 2023
taekwondo korea kata edo mojok

Salah Kaprah tentang Bela Diri Taekwondo yang Dipercayai Banyak Orang

20 Januari 2021
Jangan Salah Kaprah, Liburan ke Jepang Memang Bebas Visa, tapi Bukan Berarti Kalian Cukup Bawa Paspor Saja Mojok.co

Jangan Salah Kaprah, Liburan ke Jepang Memang Bebas Visa, tapi Bukan Berarti Cukup Bawa Paspor Saja

8 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
3 Alasan Mitsubishi Outlander Sport Tidak Pantas Disuntik Mati dan Harus Diproduksi Kembali Mojok.co

3 Alasan Mitsubishi Outlander Sport Tidak Pantas Disuntik Mati dan Harus Diproduksi Kembali

19 Januari 2026
Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

13 Januari 2026
8 Istilah Bahasa Jawa yang Orang Jawa Sendiri Salah Paham (Unsplash)

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

18 Januari 2026
KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

Pengalaman Naik Kereta Sri Tanjung Surabaya-Jogja: Kursi Tegaknya Menyiksa Fisik, Penumpangnya Menyiksa Psikis

13 Januari 2026
Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.