Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

5 Alasan Anak Muda Jepang dan Korea Selatan Menunda Pernikahan

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
17 Februari 2022
A A
5 Alasan Anak Muda Jepang dan Korea Selatan Menunda Pernikahan terminal mojok.co

5 Alasan Anak Muda Jepang dan Korea Selatan Menunda Pernikahan (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Menikah dan membangun keluarga bersama orang terkasih adalah impian semua orang. Namun, tak bisa dimungkiri, banyak anak muda yang menunda pernikahan. Di Korea Selatan, rata-rata pada usia 31,1 tahun mereka menikah, laki-laki pada usia 32,6 tahun dan perempuan pada usia 30 tahun. Di Jepang, rata-rata usia menikahnya adalah 29,7 tahun, laki-laki pada usia 30,9 tahun, dan perempuan pada usia 29,3 tahun. Anak muda negara Eropa juga rata-rata menikah pada usia 30 tahun-an. Kalau di Indonesia sih rata-ratanya masih usia 24 tahun. Wow, di sini muda juga, ya.

Lantas, apa yang menyebabkan anak muda Jepang dan Korea Selatan memilih menunda pernikahan?

#1 Belum menemukan pasangan yang tepat

Mencari dan menemukan pasangan yang tepat memang menjadi kesulitan tersendiri, ya. Di Jepang dan Korea Selatan sendiri, karyawan muda sudah sangat disibukkan dengan pekerjaan. Setiap hari berangkat pagi dan pulang larut malam karena lembur. Di akhir pekan, terkadang mereka masih direpotkan dengan pekerjaan, atau disibukkan dengan teman atau keluarga. Yang jelas, sulit mendapatkan kesempatan dan waktu berkenalan dengan lawan jenis.

Dulu perempuan Jepang mendamba laki-laki dengan kriteria san-kou, yakni kou-gakureki (tinggi pendidikannya), kou-shuunyuu (tinggi penghasilannya), dan kou-shinchou (tinggi badannya). Kemudian berubah menjadi santei, yakni tei-shison (menghargai perempuan), tei-risuku (pekerjaan mapan), tei-izon (bisa bekerja sama). Terakhir sempat san-te, yaikni te o toriau (saling mengerti dan bekerja sama), te o tsunagu (mencintai), dan te-tsudau (membantu pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak). Kriteria itu berubah karena perempuan sendiri sekarang banyak yang bekerja dan berpenghasilan sendiri, sehingga sekarang pun banyak yang mendamba laki-laki yang lebih pengertian dan mau bekerja sama mengurusi rumah tangga juga pengasuhan anak.

Kalau dulu perjodohan ditinggalkan karena orang cenderung ingin mencari pasangan hidupnya sendiri, sekarang orang kembali menggunakan sistem perjodohan. Selain aplikasi perjodohan yang marak di kalangan muda seluruh dunia, banyak biro jodoh yang mengadakan pertemuan atau tur perjodohan. Dengan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi, semua orang bisa bergabung ke acara seperti ini. Ada juga yang secara mandiri mengadakan pertemuan kecil-kecilan dengan teman di lingkungannya saja. Saling memperkenalkan teman adalah cara yang paling mudah untuk menemukan pasangan. Siapa tahu jodoh, kan?

#2 Faktor ekonomi

Rata-rata gaji anak muda Jepang dan Korea di awal kariernya adalah 25-30 juta rupiah. Dengan biaya hidup di Tokyo dan Seoul yang tak murah, gaji segitu sebenarnya cukup untuk bertahan hidup. Bayangkan saja kalau setiap bulan mereka harus mengeluarkan sekitar 10-15 juta rupiah untuk menyewa tempat tinggal saja. Belum pula kebutuhan lainnnya seperti gas, air, listrik, makan, transportasi, dll. Kalaupun bisa menabung, ada kemungkinan besar mereka akan gunakan untuk membeli mobil dan barang-barang untuk menghibur diri sendiri.

Terutama di Seoul, Korea, memiliki rumah petak apartemen adalah hal yang sangat mahal. Dengan gaji segitu saja, mereka harus mencicilnya beratus bulan. Di Jepang pun sama, memiliki rumah itu sangat mahal. Di kota kecil saja, harga rumah baru itu sekitar ratusan juta bahkan hampir 1 miliar rupiah. Wow.

Mengapa rumah menjadi hal penting? Di Korea, kalau ingin menikah biasanya yang paling diributkan oleh calon mertua adalah tempat tinggal. Hal ini menjadi tolok ukur kemampuan calon menantu untuk membahagiakan putri kesayangannya. Lagipula, kalau menikah dan punya anak, tentunya diharapkan mereka bisa tinggal di tempat yang layak.

Baca Juga:

Anak Muda Muak Hidup di Wonogiri, Cari Kerja Susah apalagi yang Memberi Upah Layak

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

#3 Ingin fokus bekerja dan kenaikan karier

Persaingan kerja di Jepang dan Korea Selatan itu sangat ketat. Di Jepang sendiri ada sistem di mana karyawan harus mau dipindah tugaskan ke anak perusahaan atau cabang lainnya kalau ingin kariernya meningkat. Di Korea pun sama, kenaikan kariernya sangatlah susah. Biasanya anak muda akan memilih kariernya naik dulu, baru menikah. Pasalnya, ada kesan kalau sudah menikah tidak bisa lebih leluasa dibanding saat masih single.

#4 Lebih asyik sendiri dan belum membutuhkan pernikahan

Alasan ini sebenarnya sangat bisa dipahami. Ketika pekerjaan sudah sangat menguras tenaga dan waktu, ia akan merasa bahwa gaji yang ia terima layak untuk ia habiskan sendiri. Setidaknya ada sekitar 31,2 % laki-laki dan 30,4% perempuan muda Jepang yang belum merasa perlu untuk menikah. Mereka juga tidak ingin kebebasan dan kesenangannya terganggu karena harus mengurus anak suami.

Yang jelas, banyak anak muda Korea yang kalau punya uang banyak akan memilih untuk membeli barang branded dan bersenang-senang untuk diri sendiri ketimbang repot berpacaran dengan orang lain. Mereka juga memilih untuk memberikan sebagian gajinya  untuk orang tuanya sebagai bentuk bakti.

Alasan lain menunda pernikahan yang lain karena tidak ingin kehilangan kebebasan dan kesenangannya saat sendiri. Setidaknya, ada 31,1% perempuan Jepang yang mengatakan hal ini. Bagi mereka, pernikahan bukanlah segalanya dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan selain menikah dan membangun rumah tangga. Banyak sekali pemikiran seperti ini yang berkembang di kalangan anak muda kedua negara tersebut.

#5 Membesarkan anak itu tidak murah

Selain urusan rumah, biasanya yang menjadi pertimbangan saat ingin memiliki anak adalah biaya yang dikeluarkan untuk membesarkannya. Orang Jepang dan Korea Selatan sangat perhitungan soal ini, bahkan di Jepang ada omongan kalau membesarkan satu orang anak dengan layak itu setidaknya membutuhkan uang sekitar 10 juta yen (atau sekitar 1 miliar rupiah).

Tidak hanya biaya, tetapi banyak perempuan Jepang dan Korea Selatan yang mengaku kalau membutuhkan bantuan saat membesarkan anak, termasuk support system dari pemerintah berupa daycare yang memadai. Kalau pasangannya saja tidak mau diajak bekerja sama, tentu hal ini akan menjadi permasalahan tersendiri. Terlebih kalau dua-duanya bekerja, tentunya banyak perempuan yang menuntut adanya kesetaraan dalam melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak. Kebetulan Jepang dan Korea Selatan merupakan negara yang nilai patriarkinya sangat kental.

Apakah di Jepang dan Korea Selatan juga ada mulut julid yang bertanya kapan nikah, kapan punya anak? Sebagian besar, tidak ada. Pemerintah yang sangat bawel saja, tidak diindahkan, kok. Iming-iming tunjangan anak juga tak membuat mereka ingin punya anak meski sudah menikah. Padahal kedua negara ini adalah negara yang tingkat kelahiran anaknya sangat rendah di Asia dan penduduk manulanya sangat banyak sehingga piramida penduduknya terbalik. Walaupun begitu, tetap saja menikah dan memiliki anak merupakan hak pribadi setiap orang dan pasangannya.

Penulis: Primasari N. Dewi
Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2022 oleh

Tags: anak mudajepangKorea SelatanMenunda pernikahan
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

Pengemis di Jepang: Sudah Jatuh Tertimpa Pidana

Pengemis di Jepang: Sudah Jatuh Tertimpa Pidana

9 Juni 2022
3 Alasan Orang Jepang Betah Kerja di Indonesia

3 Alasan Orang Jepang Betah Kerja di Indonesia

2 Januari 2023
Punya Tato di Korea: Hukuman di Zaman Dinasti, Sekarang Dilarang Masuk TV terminal mojok.co

Punya Tato di Korea: Hukuman di Zaman Dinasti, Sekarang Dilarang Masuk TV

6 Maret 2021
meminjam

Perkara Meminjam: Seperti Apa Pun Bentuknya, Kembalikan

30 Agustus 2019
Samsung Udah Mulai Tobat, Udah Nggak Overprice dan Bergantung Sama Nama Besar Doang

Samsung Udah Mulai Tobat, Udah Nggak Overpriced dan Bergantung sama Nama Besar doang

30 Juli 2024
Drama Crash Landing on You, Bukti Kuasa Kapitalis untuk Meromantisasi Segala Hal

Drama Crash Landing on You, Bukti Kuasa Kapitalis untuk Meromantisasi Segala Hal

26 Maret 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Sekolah swasta yang melarang gurunya mendaftar ASN itu aneh, ngasih gaji layak nggak mau, tapi seenaknya menghentikan impian seseorang

15 Agustus 2026
Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura Mojok.co

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura

20 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

16 Agustus 2026
Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.