Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pengalaman Bertahan Hidup Selama KKN dengan Iuran Rp300 Ribu: Proker Bisa Tetap Jalan meski Dompet Pas-pasan

Ifana Dewi oleh Ifana Dewi
25 Agustus 2025
A A
Pengalaman Bertahan Hidup Selama KKN dengan Iuran Rp300 Ribu: Proker Bisa Tetap Jalan meski Dompet Pas-pasan

Pengalaman Bertahan Hidup Selama KKN dengan Iuran Rp300 Ribu: Proker Bisa Tetap Jalan meski Dompet Pas-pasan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kemarin, selama empat tahun menjadi mahasiswa, setidaknya ada 3 hal yang paling saya takuti selama perkuliahan: skripsi, wisuda, dan… KKN (Kuliah Kerja Nyata). Ketiga etape tersebut membuat hati saya ciut, bahkan jauh sebelum dimulai.

Cerita KKN senior yang terdengar horor

KKN menjadi horor bukan karena diadakan di desa penari, atau posko KKN yang lama tak berpenghuni. Bukan juga karena takut nggak cocok dengan teman baru, apalagi khawatir hubungan jadi kandas karena orang baru. Ini soal pengeluaran KKN yang nggak menentu.

ADVERTISEMENT

Menurut cerita dari banyak senior, KKN adalah program kampus yang memakan biaya besar. Katanya, subsidi yang diberikan kampus tak ada apa-apanya. Itulah kenapa mahasiswa terpaksa harus iuran sekitar Rp1-2 juta, bahkan lebih. Bahkan nominal itu bisa membengkak tergantung proker yang disepakati.

“KKN itu butuh modal, Fan. Siapin aja minimal sejuta,” begitu wejangan para senior di kampus.

Biaya bikin saya resah

Sebagai mahasiswa “financial independent” (untuk tak menyebut mahasiswa kere), uang Rp1-2 juta bukan nominal kecil. Butuh waktu lama bagi saya untuk menyisihkan uang sebanyak itu.

Terlebih pekerjaan saya selama ini bisa dikatakan hanyalah buruh harian tanpa sistem cuti. Artinya, dua bulan KKN sama saja dengan dua bulan mogok kerja tanpa gaji. Pemasukan jelas jadi terhenti, sedangkan pengeluaran justru bertambah. Bagi saya itu sebuah nestapa.

Maka tak heran jika ketakutan dan keresahan itu lebih dulu hadir. Bahkan jauh sebelum KKN dimulai. Akibatnya, makan terasa hambar, tidur pun tak nyenyak. Persis kayak orang baru putus cinta. Segala perasaan tak nyaman ini menuntut saya untuk segera menemukan solusi.

Ikhtiar saya sebelum menjalani KKN

Begitu mendengar saran senior di awal, saya langsung banting setir cari job tambahan. Bak kerasukan setan, saya menyambar semua peluang yang bisa menghasilkan cuan.

Baca Juga:

Mahasiswa Politeknik Nggak Pernah KKN, Bukan Berarti Nggak Berjiwa Sosial, Pengabdian Kami Cuma Beda Gaya Saja

3 Pengalaman Menyebalkan yang Pasti Terjadi di KKN, Begini Cara Mengatasinya biar Tetap Waras

Tak disangka rezeki terus menyambangi saya. Nominal yang saya peroleh dari job sampingan itu ternyata cukup banyak. Rp800 ribu. Bukan main. Nyaris menutupi biaya yang disarankan senior saya kala itu. Maka sisanya, ringan saja bagi saya untuk menggenapkannya.

Selain itu, jika ada jamaah Mojok yang kebetulan bernasib serupa dengan saya, ada baiknya mempertimbangkan aspek geografis dan sosial-ekonomi lokasi KKN. Kalau bisa, pilih lokasi yang nggak terlalu jauh dari domisili tapi dengan living cost yang lebih minim. Kedua hal ini sering luput dari pertimbangan mahasiswa. Padahal keduanya memengaruhi sedikit banyak pengeluaran.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Pengalaman saya bertahan hidup selama KKN dengan iuran 300 ribu

Jika kalian mahasiswa KKN yang pas-pasan seperti saya, berikut saya bagikan pengalaman serta tips yang bisa kalian pertimbangkan.

Pertama, pilihlah bendahara yang pelit nan amanah. Satu dari ketakutan saya adalah mendapat bendahara yang hedon saat KKN, apalagi sampai nggak amanah. Kombinasi dua sifat itu jelas bikin dompet boncos.

Lantaran saat itu yang saya percaya hanya diri sendiri, maka saya nggak ragu mencalonkan diri sebagai bendahara KKN saat pembentukan struktural. Terlalu pede, tapi setidaknya saya punya kewenangan dan kontrol lebih banyak dalam masa depan keuangan kas.

Kedua, rajin cari tambahan kas. Dulu, untuk mencari tambahan kas, kami membuat poster donasi yang berisi ajakan menyumbang pakaian bekas hingga bahan logistik. Pakaian yang terkumpul kemudian kami jual di pasar. Hasilnya lumayan. Selama 3 hari penjualan, kami mendapat uang nyaris Rp600 ribu. Percayalah, semakin rajin berjualan, semakin banyak pula kas tambahan yang didapat.

Ketiga, menerapkan frugal living. Selama KKN, tak perlu gengsi dengan menu makan sederhana seperti sayur dan tahu tempe. Saya termasuk beruntung karena ditakdirkan sekelompok dengan teman-teman yang mau diajak sederhana.

Dalam sehari, kami hanya mengeluarkan uang Rp30 ribu-Rp40 ribu untuk makan dua kali. Jumlah kami saat itu 11 orang. Dengan bujet minimalis, tak jarang beberapa dari kami masih kelaparan. Solusinya ya masak telur atau mie instan.

Kami juga sering mencari info acara yang diadakan warga. Mulai dari maulidan, nujuh bulanan, hingga tahlilan. Apa pun acaranya, intinya ada makan-makan di ujungnya. Lumayan perbaikan gizi selama KKN.

Nasib baik benar-benar berpihak pada saya. Di desa KKN saya, tuan rumah juga biasanya memberikan berkat mentah sembako kepada tamu acara yang hadir. Hasilnya logistik di posko kami melimpah.

Proposal proker bawa berkah

Terakhir, mempertimbangkan proposal dalam pembuatan proker. Meski sudah riset sana-sini terkait proker yang ramah kantong tapi tetap bermanfaat, pada akhirnya kami tetap saja butuh biaya besar. Kalau hanya mengandalkan pemasukan kas, jelas tak akan cukup. Di sinilah proposal jadi penyelamat kami.

Dulu, kami membuat beberapa proposal yang melibatkan kerja sama ke instansi desa maupun daerah. Ada juga yang kami kirim ke ritel atau minimarket yang ada di kecamatan.

Di momen itu, yang diuji bukan hanya tenaga, tapi juga keberanian dan kepercayaan diri. Kalau dipikir-pikir, posisi kami persis pengemis pinggir jalan. Bedanya, kami mengemis dengan gaya. Berkemeja rapi, bersepatu klimis, sambil menjual ide-ide program kerja dengan penuh percaya diri.

Tak jarang kami hanya disambut senyum basa-basi, atau langsung ditolak halus. Tapi banyak juga yang berbuah manis. Misalnya, kantor desa menyediakan anggaran Rp800 ribu (termasuk biaya pembicara hingga konsumsi acara sosialisasi kenakalan remaja).

Dari Dinas Perhutani memberi 500 bibit tanaman untuk program penghijauan lingkungan. Polres pun tak ketinggalan memberi bantuan uang sebesar Rp300 ribu untuk mobilisasi. Pun dengan minimarket terdekat yang memberi donasi Rp300 ribu untuk memeriahkan acara lomba 17-an bareng warga. Dan paling besar, tentu saja saat acara penutupan KKN berupa salawatan. Waktu itu kami memberanikan diri bikin proposal ke pengusaha lokal.

Bantuan tanpa proposal juga berdatangan dari masyarakat sebagai bentuk partisipasi, terutama menjelang acara penutup. Bahkan ada yang menyumbang 50 kg beras dan 25 kg buah. Jika ditotal, donasi untuk acara itu saja mencapai sekitar Rp2 juta.

Kalau dihitung secara keseluruhan dari berbagai proposal kegiatan, total bantuan yang terkumpul menyentuh angka Rp5 juta rupiah. Artinya, proposal menekan pengeluaran kas KKN kami.

Bisa dibayangkan, iuran Rp300 ribu hanya hanya cukup untuk satu program kerja. Tapi dengan proposal, banyak kebutuhan kami yang tertutup oleh bantuan sponsor. Jadi kalau ditanya “mengapa harus bikin proposal?” Jawabannya jelas: kami mahasiswa kantong pas-pasan.

Pemerintah butuh belajar dari KKN kami

Meski awalnya penuh ketakutan, ternyata setelah dijalani tak semenyeramkan itu. Lagi-lagi selalu ada jalan dari Tuhan untuk mahasiswa kere seperti saya.

Dan soal efisiensi anggaran, agaknya DPR perlu belajar dari kelompok KKN kami. Bayangkan saja kalau mereka mau irit dan sedikit rendah hati. Mungkin tak perlu mahal-mahal menyewa mahal hotel bintang lima hanya untuk rapat. Cukup menyewa balai desa dengan kudapan sekresek nasi berkat. Insyallah APBN kita nggak perlu defisit seperti sekarang.

Penulis: Ifana Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 11 Kelakuan Buruk Warga Desa kepada Mahasiswa KKN yang Jarang Dibicarakan, Bikin Kesal!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Agustus 2025 oleh

Tags: cerita kknkisah kknKKNmahasiswa KKNpengalaman kknprogram kerjaprogram kerja kkn
Ifana Dewi

Ifana Dewi

Seorang hamba amatir yang sedang menekuni seni kehidupan. Satu-satunya hal yang ia kuasai dengan baik hanyalah cara menikmati secangkir kopi

ArtikelTerkait

KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash) mahasiswa KKN, KKN di kota

Pengalaman Saya Menjalani KKN Gaib, Sendirian Ngerjain Proker, Tau-tau Selesai

31 Juli 2024
3 Tipe Mahasiswa yang Nggak Cocok KKN di Gunungkidul

3 Tipe Mahasiswa yang Nggak Cocok KKN di Gunungkidul

20 Mei 2024
agribisnis menthek kafe tengah sawah KKN wabah corona pemandangan pagi sawah mojok

Tiga Tipe Alternatif KKN UINSA yang Tidak Sebatas Kuliah Kerja Maya

13 Juni 2020
KKN Dekat Kampus Punya Lebih Banyak Keunggulan Mojok.co

Tidak Perlu Jauh-jauh hingga Luar Pulau, KKN Dekat Kampus Lebih Enak

23 Oktober 2023
5 Hal yang Bikin Saya Kaget Waktu KKN di Madiun

5 Hal yang Bikin Saya Kaget Waktu KKN di Madiun

25 November 2025
KKN daring MOJOK.CO

KKN Daring yang Katanya Sebatas Fiksi dan Tidak Berguna untuk Mahasiswa

6 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sebagai Warga Jogja, Pantai Bantul Lebih Menarik untuk Dikunjungi Dibanding Pantai Gunungkidul

Sebagai warga Jogja, pantai Bantul lebih menarik untuk dikunjungi dibanding pantai Gunungkidul

9 Juli 2026
Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

9 Juli 2026
5 kuliner Jogja enak dan murah, bukti kota ini nggak mahal Brigitta Adelia/Mojok.co)

5 rekomendasi kuliner Jogja enak dan murah bukti kalau kota ini nggak mahal kalau soal makan

8 Juli 2026
Universitas Terbuka, Kampus Negeri yang UKT-nya Tidak Kenal Sistem Golongan, Banyak Beasiswa Pula! Mojok.co

Universitas Terbuka, kampus negeri yang UKT-nya tidak kenal sistem golongan, banyak beasiswa pula!

9 Juli 2026
5 Dosa Penjual Ketoprak Jakarta yang Membuat Pembeli Tidak Nafsu Makan Mojok.co cirebon

Jangan Asal Klaim, Ketoprak Itu Warisan Kuliner Betawi Jakarta, Bukan Cirebon

6 Juli 2026
5 Aturan Tidak tertulis AYCE yang Sebaiknya Ditulis Saja karena Banyak Pembeli Norak dan Nggak Peka Mojok.co

5 aturan tidak tertulis All You Can Eat yang sebaiknya ditulis saja karena banyak pembeli norak dan nggak peka

9 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.