Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Jadi Penumpang Kapal yang Mogok di Tengah Laut

Taufik oleh Taufik
7 Desember 2020
A A
kapal mogok di tengah laut mojok

kapal mogok di tengah laut mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Saya memulai perjalanan merantau ke Pulau Jawa di hari yang walau oleh dukun desa dianggap sebagai hari baik, namun berjalan tidak sesuai dugaan. Pilihan-pilihan yang sepertinya memudahkan justru terlihat seperti tidak berpihak pada saya. Ada pilihan naik pesawat, eh saya malah takut tidak bisa sat set dan terlihat kampungan. Maklum saja, selama 19 tahun di kampung, melihat pesawat dari bandara perintis di kampung seberang saja sudah cukup bersyukur. Seringkali terlintas di doa-doa saya adalah hal mutlak, tapi kepikiran hal tersebut bakal kejadian di hidup saya, hanyalah utopia. Maka kapal laut adalah pilihan tersisa.

Saya berangkat menggunakan speedboat ke Wangi-Wangi (ibukota kabupaten). Tidak ada yang spesial. Toh saya sudah sering merasakan. Lalu ke Bau-Bau menggunakan kapal laut juga. Sudah biasa. Perjalanan yang semula bikin saya antusias, terlihat mulai membosankan.

Sampai di Bau-Bau, saya punya lagi pilihan lain. Jika naik pesawat bikin saya takut mabuk, kali ini ada pilihan naik kapal lebih besar (dan memang ini rencana sejak awal), Kapal Pelni. Namun, entah bagaimana ceritanya, saya keburu kehabisan tiket dan cita-cita naik kapal besar itu pun tertunda. Emang sepertinya terkutuk ini perjalanan.

Untungnya, ada sebuah kapal (barang) milik om saya yang searah perjalanan dengan saya. Sama-sama ke pulau Jawa. Eh, tapi tunggu dulu. “Itu beneran kapal barang, Fik?” Begitu celetukan teman kuliah ketika saya bercerita pengalaman pertama perjalanan jauh saya ke negeri antah berantah.

Ya, itu kapal kayu. Biasanya digunakan hanya untuk keperluan ngangkut barang. Manusia yang ada di situ hanya bisa diisi oleh kru kapal. Kalo ada manusia lain selain kru kapal, dan ketahuan Polisi Perairan atau TNI-AL yang sedang patroli, siapkan saja duitnya yang banyak sebagai “cap tangan”. Kalau Anda menganggap saya mengarang cerita perihal “cap tangan” ini,maaf, saya pernah mengalaminya, ditilang di tengah laut sekitar kepulauan Selayar bersama kapal yang dinahkodai abang saya sendiri.

Singkat cerita, perjalanan dengan kapal barang ini dimulai. Sehari, dua hari, rasanya seperti seminggu. Dengan kecepatan 10-15 knot per jam, setiap detik serasa penjara. Jika Anda kepikiran hal yang sama, untuk melakukan perjalanan sehari atau dua hari menggunakan kapal, saya sarankan bawalah buku. Satu atau dua sudah cukup untuk menghilangkan gelisah dan kesendirian.

Sampai di perbatasan Lombok dan Bali pada hari ketiga perjalanan. Terlihat tidak terlalu berat perjalanan perdana tersebut, sampai pada sebuah kejadian, mesin kapal tetiba saja mati. Perihal matinya masih jadi misteri. Katanya sih ada yang “mengirim sesuatu”. Semua kru kapal yang sedang asyik bersantai di pagi yang dingin itu seketika tegang. Hening, saling bertatapan. Udah macam film horor thriller psycho. Maka dimulailah drama terkatung-katung di perairan.

Hari pertama kapal mogok. Setelah ketegangan yang ditimbulkan akibat mesin mati tiba-tiba itu, kehidupan kembali normal. Kru kapal bagian koki, ya masak. Bagian mesin, ya berkutat dengan mesin agar bisa segera digunakan. Bagian nyantai, ya nyantai. Seperti tidak terjadi apa-apa. Saya berpikir, ternyata orang macam begini, di segala lini kehidupan selalu ada. Mereka yang selonya nauzubillah, padahal di balik keseloan yang ditampilkan itu, kita sedang berhadapan dengan maut.

Baca Juga:

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

Pengalaman Naik Kapal Pelni Menuju Banda Neira: Berkawan dengan Kecoa, dan Berakhir Memahaminya

Memperhatikan kondisi kapal yang sedang “sakit” ini, saya juga bisa memperhatikan tipe-tipe manusia (kru). Ada si pekerja, yang memang harus tetap bekerja walau dalam kondisi macam apapun. Koki adalah salah satu dari tipe ini. Mereka harus tetap bisa masak meski badai sebesar apa pun. Panci dan alat masak jatuh ke laut, ya sudah biarkan, ganti yang lain.

Ada tipe manusia yang selo, seperti yang saya sebutkan di atas, adalah manusia-manusia yang tetap terlihat santai. Ngajak main domino atau kartu remi teman-temannya, ngajakin main gunting-batu-kertas dengan disentil kupingnya untuk yang kalah. Bahkan mereka ini bisa dengan santainya tidur. Hellow, Bosquh, ini kita lagi sekarat nih, kok ente enak-enaknya tidur? Sellaw banget hidup ente?

Nah, tipe yang paling sangar menurut saya adalah nahkoda dan asistenya. Mereka adalah manusia yang sangat tegar. Banget. Mereka adalah role model mengapa kehidupan kapal menjadi normal kembali. Ketegangan sesaat yang terjadi saat kapal pertama kali mogok bisa segera cair karena si nahkoda memang mengisyaratkan agar semua tetap bisa tenang. Si koki bisa masak, ya karena melihat nahkoda yang matanya mengisyaratkan optimisme. Pun dengan si selo, mengapa bisa sesantai itu.

Terombang-ambingnya kapal karena mogok tidak seperti terombang-ambingnya hati ketika si doi tidak memberi kabar barang sehari. Jauh lebih buruk dari itu. Pikiran kita tidak stabil. Bisa sampai berhalusinasi. Kepala pusing, perut mual. Lama-lama muntah juga. Dan ini pengalaman pertama saya muntah di kapal. Walau saya pernah mengalami mogok di laut dengan perahu yang lebih kecil.

Pada akhirnya kami tetap bisa sampai di Probolinggo dengan selamat. Walau kami harus berjuang selama tiga hari terombang-ambing di tengah laut sampai kapal benar-benar bisa pelan-pelan kembali melaju. Benar-benar seperti tanpa harapan namun tetap menyenangkan. Saya tetap menikmatinya. Tapi, kalo ditanya, mau mogok di laut lagi? Sorry-sorry nih ya, mending jangan lagi deh.

BACA JUGA Kisah Cinta Tak Sampai Pelaminan, Dituduh Pakai Pelet, dan Berakhir Platonis dan tulisan Taufik lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Desember 2020 oleh

Tags: kapalLautLombokmogok
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

Perbedaan Mendasar Nahan Berak di Bis dan Kapal terminal mojok.co

Perbedaan Mendasar Nahan Berak di Bis dan Kapal

28 Desember 2020
Tips Wisata ke Lombok Budget Kere Hore Bagi Sobat Dompet Tipis Terminal Mojok

Tips Wisata ke Lombok Budget Kere Hore Bagi Sobat Dompet Tipis

9 Januari 2021
Makanan Khas Pulau Lombok yang Lombok Abis terminal mojok

Mengenal Ragam Makanan Khas Pulau Lombok yang Lombok Abis

24 Juni 2021
5 Film yang Jangan Kamu Tonton ketika Naik Kapal

5 Film yang Jangan Kamu Tonton Ketika Naik Kapal

4 Mei 2022
Bukan Kambing Guling, Makanan Khas Pesta Pernikahan di Lombok Justru Berbahan Batang Pisang

Bukan Kambing Guling, Makanan Khas Pesta Pernikahan di Lombok Justru Berbahan Batang Pisang

9 April 2020
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi Mojok.co

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi

21 Maret 2026
Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya Mojok.co

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

20 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
BEM Unesa Gerombolan Mahasiswa Malas Kerja, Cuma Cari Muka (Ardhan Febriansyah via Wikimedia Commons)

Kuliah di Unesa Surabaya Itu Sangat Menyenangkan, asal Dosennya Betul-betul Ngajar, Bukan Ngebet Jurnal

20 Maret 2026
Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.