Andai Spider-Man Adalah Orang Wakatobi – Terminal Mojok

Andai Spider-Man Adalah Orang Wakatobi

Artikel

Taufik

Sebagai fans tokoh Spider-Man milik Sony Pictures yang sekarang berkolaborasi dengan Marvel Cinematic Universe (MCU), mungkin saya tidak masuk kategori yang all out. Lha, mau dibilang tidak all out bagaimana, satu saja kenang-kenangan (entah apapun) sebagai penanda bahwa saya ngefans blio, saya tidak punya. Pernah punya selembar baju dengan lambang laba-laba yang ikonik di dadanya malah jadi rebutan ponakan-ponakan saya.

Cinta saya kepada tokoh Spider-Man memang tidak sebesar yang orang lain bayangkan. Namun, melalui tulisan ini, ijinkan saya memberi penghargaan kepada Sang Manusia Laba-Laba sebagai bentuk sendiko dawuh saya. Ya, saya selalu membayangkan, bagaimana jika pahlawan super Spider-Man yang tentu saja pujaan hati saya itu ada di Wakatobi?

Satu hal yang pasti, blio yang superkeren dengan berbagai ajian yang tanpa tanding itu akan tetap berangkat dari manusia yang digigit laba-laba super. Entah yang laba-labanya sudah dijampi-jampi oleh dukun lokal atau memang laba-laba dari dunia lain. Dunia lain lho, bukan universe lain macam di MCU itu.

Si Peter Parker, oleh orang di sana akan belibet kalo mangggil, dengan ketiga e-nya ditekan. Dia bisa siapa saja. Anak kecil, remaja atau orang dewasa. Tapi, di Wakatobi, nama macam Peter Parker ini punya kemungkinan yang amat kecil untuk ada yang punya, maka kita ganti dengan cara lokal saja. Sebut saja namanya La Moreppa.

La Moreppa, dengan kekuatan tiada tara yang diperoleh secara tidak sengaja itu awalnya tidak tahu harus diapakan. Tidak ada yang perlu diselamatkan, terutama dari serangan villain. Lha wong orang Wakatobi itu baik-baik semua kok.

Sebagai seorang pahlawan super yang punya suit superketat macam penyelam dan ada web shooter-nya yang keren, La Moreppa akan sedikit berbeda dengan Spider-Man biasa. Ia malah akan diajak untuk ikutan melaut. Lha wong suit-nya itu emang udah ciri khas penyelam banget dan sangat cocok dengan iklim nelayan seantero Wakatobi. Mau kamu dari pesisir atau gunung (bukit) keahlian menyelam adalah bukti sahih kamu adalah orang di Wakatobi.

Bicara masalah web shooter-nya Spider-Man, sepertinya akan jadi hal yang paling tidak berguna. Bagaimana tidak, jika Peter Parker menjadikan gedung-gedung tinggi New York sebagai tempat bergelantungan La Moreppa tidak. Ia tidak tahu mau bergelantungan di mana. Di gedung tinggi? Bisa aja kalo La Moreppa sedang bermimpi. Ia akan bisa menggunakan web shooter Spider-Mannya jika mau bergelantungan di rumah-rumah panggung, yang sudah mulai jarang dan sepertinya juga sudah mulai rapuh. Saya sih cuma takutnya La Moreppa tidak jadi bergelantungan malah disuruh perbaiki rumah yang hancur berantakan setelah percobaan bergelantungannya.

Bicara masalah fans, La Moreppa sebagai Spider-Man mungkin hanya akan punya satu saja fans, yaitu saya. Dia tidak akan mendapat atensi dari para pemudi di Wakatobi. Lah, jadi Spider-Man nggak ada keren-kerennya di mata cewek-cewek di sana. Yang keren itu ya pemain sepak bola. Walau hanya bintang tarkam, sudah lebih dari cukup.

Namun, bagaimanapun, saya tetap berharap La Moreppa punya MJ-nya sendiri. Tentu bukan Mary Jane macam di film aslinya. Kalo di Wakatobi, kita boleh mencarikan nama alias, Manuru Jana. Tetap MJ juga, tapi dengan kearifan lokal. Kisah cinta mereka juga tidak perlu seperti di filmnya, yang banyak putus nyambung-nya. Sekali putus ya putus aja. Tapi, menurut saya sih nggak bakal pernah putus. La Moreppa adalah tipe pahlawan super yang setia dan tabah sampai akhir. Paling restu orang tua yang menjadi sebab ikatan cinta mereka naik-turun macam roller coaster. Namun, bila perlu, sesekali La Moreppa akan menggunakan pelet turunan dari moyangnya yang ampuhnya tiada dua.

Sekali cerita Spider-Man di Wakatobi dengan La Moreppa sebagai alter egonya ini berakhir, tidak perlu dibuatkan serinya. Juga tidak perlu dibikin komik bahkan tidak perlu juga dibikinkan marchandise khusus. Walau tetap akan terkenal tapi tidak lantas jadi panutan. Lha wong kerjanya cuma bantu-bantu orang yang lagi susah. Yang sedang melaut, yang sedang panen jagung atau singkong, yang sedang bakar ikan, dan hal ramashok lainnya. Pekerjaan yang bahkan sebelum ada Spider-Man/La Moreppa juga orang-orang di sana sudah saling “poasa-asa pohamba-hamba”. Bersatu dan saling membantu.

Mungkin jasanya akan dikenang jika La Moreppa sesekali obrakan ke DPRD atau ke Bupati. Minta apa kek gitu. Pembangunan di pelosok Kaledupa dan Binongko misalnya. Jangan minta jabatan karena kalo udah dapet, takutnya Spider-Man/La Moreppa malah akan menindas, bukan membantu rakyat. Takutnya.

BACA JUGA Kisah Cinta Tak Sampai Pelaminan, Dituduh Pakai Pelet, dan Berakhir Platonis dan tulisan Taufik lainnya.

Baca Juga:  4 Olahan Singkong yang Hanya Ada di Wakatobi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
5


Komentar

Comments are closed.